Elvan

Elvan
029


__ADS_3

029


Terungkap


"Jadi, ini alesan lo larang gue ke sini?"


.....


Hari ini, malam ini, dan detik ini juga lapangan voli SMA Cempaka Raya sangat ramai. Pasti kalian ingat dong soal turnamen kedua antara Angkasa Raya dengan Cempaka Raya?


Ups, sayangnya Aleta dilarang keras oleh Elvan untuk menonton turnamen ini. Mirip seperti turnamen sebelumnya kan? Bedanya ini Elvan yang melarang bukan Aksa.


Cewek itu sempat ngambek dan tidak mau bicara sama sekali saat Elvan sedang duduk dan mengajaknya ngobrol.


"Aku mau nonton, Van," rengek Aleta dengan mata yang dibuat seimut mungkin.


Elvan tersenyum lembut sambil merapikan rambut Aleta. "Gak bisa sayang. Di sana aku main, aku gak mau kamu kenapa-apa karena gak ada yang jagain."


Bohong.


Elvan berbohong. Alasan sebenernya dia tidak boleh menonton adalah taruhan itu. Alasan yang Elvan jamin akan membuat Aleta membencinya setengah mati.


"Ayolah, kali ini aja!" pintanya dengan wajah lucu karena bibirnya telah manyun lebih dari tiga senti.


Elvan menyentil bibir Aleta lembut. "Sekali dari mana? Orang kamu diturnamen yang kemarin muncul, waktu turnamen senjata juga muncul," cibir Elvan yang berhasil membuat Aleta tertegun.


Benar juga, dia kan selalu nekat untuk datang walaupun dilarang. Jadi ... ah dia ada ide!


"Terserah," kata Aleta ngambek.


"Ngambek aja gak apa-apa. Asal inget, jangan ke sana!" kata Elvan datar, tapi kedua tangannya telah memeluk erat Aleta.


"Aku lakuin ini demi kamu, Ta," lirih Elvan lembut sembari mengecup pucuk kepala Aleta berkali-kali. Seolah tidak akan ada kesemoatan seperti ini lagi.


Aletanya sih sebenarnya dibuat dag dig dug sendiri, tapi dia kan lagi mode ngambek. Jadinya dia hanya diam berpura-pura biasa saja.


Elvan melepas pelukan mereka lalu memandang Aleta lekat, walaupun Aletanya memilih membuang muka.


"Aku tau kamu ngambek. Tapi inget, Ta. Jangan tinggalin aku," kata Elvan dan kembali memeluk Aleta.


Bagi Aleta ucapan Elvan sedikit membuatnya khawatir. Ia jadi semakin ingin pergi ke turnamen itu. Karena ucapan Elvan barusan pasti meyiratkan sesuatu. Pasti.


.......


The Charmer sudah tiba dari setengah jam yang lalu. Mereka telah berkumpul di kubu kanan. Pertandingan akan dimulai sekitar 45 menit lagi. Dan semua peserta baik cadangan maupun inti diberi waktu 30 menit untuk berdiskusi dan 15 untuk latihan.


"Van, lo yakin kita menang, kan?" tanya Alam yang wajahnya bersimbah keringat, padahal dia belum melakukan gerakan berat sama sekali.


"Gue yakin," kata Elvan santai sambil melirik Gavin dan Aksa yang tengah sibuk menata papan seperti papan catur, namun berbentuk lapangan voli dengan miniatur orang. Mereka berdua dikelilingi anggota The Charmer yang lain agar musuh tidak dapat melihat yang Aksa dan Gavin lakukan.


"Gimana, Vin, Sa?" tanya Elvan tenang dan santai.


"Beres, bos!" kata Gavin mengacungkan jempol kanannya.


"Semuanya dengerin!" perintah Elvan yang langsung dipatuhi anggota lainnya.


"Semua udah lengkap?" tanya Aksa sedikit khawatir.


"Udah," sahut Rio.


"Nah, jadi gini strategi kita. Seperti biasa Elvan sebagai toser-"


"EH!" teriak Gavin memotong ucapan Aksa.


"Kenapa?" tanya mereka serempak kepada Gavin.


"Roy ke mana, katanya lengkap kok dia gak ada?"


Seketika semuanya memasang wajah masam. Antara marah, gemas, dan juga kesal.


"Kok diem sih lo pada? Ini Leo mana?" tanya Gavin lagi dengan wajah yang lebih panik.


Alam berdecak kesal. "Makanya kalo Elvan ngomong didengerin, kang!" katanya menyentil kuping kanan Gavin.


"Apaan sih? Ini Roy mana?" Ternyata Gavin masih belum paham maksud ucapan Alam.


Alam seketika langsung menjewer kedua kuping Gavin dengan gemas dan kesal. "Roy kan bagian konsumsi, Vin! Ah ini kuping, nih, harusnya lo lepas aja!" katanya dengan jengkel.


"Aduh-duh! Maap deh, maap!"


"Lanjut, guys! Alam Gavin diem dulu," kata Elvan datar karena menyadari waktu mereka terbuang beberapa menit.


"Jadi lanjut ya, pemain inti diisi Elvan, gue dan Gavin, Alam dan Rio, sama Kavin." ucap Aksa melanjutkan yang tadi.


"Yah kok sama lagi sih, Sa?" tanya Jack yang tidak terima hanya sebagai cadangan.


"Gini bro, awal babak pertama kita pakai strategi ini biar musuh kira kita masih sama kayak yang kemarin. Nah pas waktu istirahat lo sama Rey masuk gantiin gue sama Rio. Dan lo, Vin ... Sorry, karena setelah istirahat gue bakalan di posisi lo," ucap Gavin menjelaskan itu dan berucap maaf kepada Kavin.


"Trus yang lain?"


"Itu kita bebas mau minta gantian gak apa-apa asal kalian tau waktu ganti yang pas biar tim kita menang. Soalnya kalian tahu sendiri, ini Aleta yang jadi taruhannya. Gue gak mau kita kalah," lanjut Elvan menengahi.


"Gimana udah setuju?" tanya Aksa kepada anggota yang lain. Semuanya secara bersamaan berkata setuju.

__ADS_1


"Gue percaya strategi kalian," ucap Jack dengan senyuman tulus.


..........


Pertandingan segera dimulai. Semua telah bersiap di posisi masing-masing.


Elvan dan Herman telah bersiap di tengah bersama wasit.


"Silahkan berjabat tangan terlebih dahulu," kata wasit yang telah Elvan dan Hendra sewa. Wasit itu sudah dipastikan adil.


"Oke, pilih sisi koin yang saya bawa."


"Gue depan," jawab Elvan cepat.


"Gue belakang kalau gitu," sahut Hendra.


Wasit mulai melempar koin ke udara dan membiarkan koin terjatuh ke tanah lalu diinjak.


"Belakang," kata si wasit setelah memindahkan kakinya.


Herman tersenyum menang, sedangkan Elvan tersenyum tipis, lebih tepatnya menyeringai.


"Strategi lo busuk. Kemarin sama sekarang sama. Gue jamin, gue menang," sombong Hendra dengan rasa percaya diri penuh.


"Cih, lo gak tau siapa The Charmer dan siapa pengatur strategi terbaik turnamen. Tiati mulut lo kalau sombong," balas Elvan tak kalah sengit.


Keduanya mundur bersiap diposisi masing-masing. Bola mulai dilempar dan berhasil ditangani oleh Gavin. Kemudian bola itu terlempar kembali dan jatuh tepat di depan garis belakang Kavin.


1 poin untuk SMA Cempaka.


Wasit kembali meniup peluit tanda bola kembali dimainkan. Kali ini bola jatuh di tengah kubu Cempaka karena smash dari Aksa.


1 : 1 untuk SMA Angkasa.


Pertandingan mendapat jeda istirahat setelah point 15 : 12 untuk SMA Cempaka.


"Gila, kita ketinggalan 3 point bray!" kata Rey sedikit kesal.


Elvan yang tengah mengguyurkan air ke kepalanya mendapat sorakan histeris dari beberapa perempuan baik dari Cempaka maupun Angkasa.


"Gil* gil* gil*! Baru kali ini gue liat Elvan gitu. Kerennn!"


"Aaa ... itu gak dingin apa ya? Gue angetin pake handuk, bang!"


"Elvan!"


"Eh, pacar gue itu!"


The Charmer hanya mampu geleng-geleng kepala mendengar teriakan untuk Elvan. Tak hanya Elvan sebenarnya, Aksa, Gavin, Kavin, Rio, Alam, ah hampir semua anggota mendapat teriakan histeris. Hanya saja, fans Elvan memang juaranya. Juara ngalahin toa masjid.


"Sial!" maki Herman saat cowok itu telah bersiap di lapangan. "Strategi mereka berubah. Gue gak bayangin ini. Mana posisi mereka berbeda!"


Elvan tersenyum miring. "Sesuai omongan gue. Ahli strategi itu tim gue. Tim gue!"


Tepat saat Elvan selesai berbicara, peluit ditiup. Bola mulai beraksi. Pindah ke sana pindah ke sini.


Babak pertama selesai. Kemenangan digenggam erat Tim Elvan.


"Kita atur ulang!" ucap Hendra murka.


"Gue jadi posisi 2. Dan balablabla."


Alhasil posisi tim Hendra berubah drastis. Hampir semua tim inti mengeluh karena ditempatkan pada posisi yang tidak seharusnya.


Prittt


Semua memasuki lapangan kembali. Kali ini posisi pemain Angkasa berganti lagi. Pemainnya kembali diatur bahkan jauh berbeda.


Pertandingan di mulai sengit. Saat ini point untuk babak kedua sudah mencapai 18 : 14 untuk SMA Angkasa.


Hendra mengumpan bola agar di-smash oleh anak buahnya. Semua tim Elvan telah bersiap.


Smash yang dilakukan tim Herman berhasil melumpuhkan tim Elvan. Akibatnya Aksa dan Rio bertabrakan saat akan menangkap bola. Keduanya terjatuh. Dan pertandingan dihentikan untuk menangani keduanya.


Pemain cadangan masuk dan anak PMR dari Angkasa telah bersiap mengobati luka Aksa dan Rio.


Aksa terluka tepat dibagian siku, pelipis dan betis semua bagian tubuh kiri. Sedangkan Rio terluka pada lengan kanan, dahi, hidung, mulut, dan juga betis kanan.


Ambaikan Aksa dan Rio. Kita kembali fokus ke pertandingan. Poin telah meletakkan 22 : 20 untuk SMA Angkasa. Tinggal 3 poin mereka menang.


Tepat saat luka Aksa dan Rio selesai ditangani, tim Elvan mencetak angka yang membuat mereka menang!!


Semua bersorak riang. Jika boleh Elvan ingin bersombong diri kalau mereka mengalahkan SMA Cempaka Raya lagi. Ingat, lagi!


Hendra berjalan ke arah Elvan mengikuti seluruh anggota timnya. Mereka berjabat tangan satu persatu. Hingga akhirnya ia sampai tepat di depan Elvan.


"Selamat. Lo menang lagi," katanya dengan ekspresi marah dan kesal. Namun, sedetik kemudian ekspresi Hendra berubah menyeringai tipis.


"Dan selamat karena lo berhasil dapetin Aleta," Semua anggota The Charmer langsung menghadap Elvan dengan pandangan was-was. Mata mereka tak ada yang teralihkan sama sekali dari Elvan dan Herman yang masih berjabat tangan.


Mereka tak menyadari sosok yang akan mereka bahas ada di sana, kecuali Herman. Tepat 5 meter dari tempat Elvan.


"Jelas. Karena gue gak rela Aleta lo dapetin. Anak SMA Angkasa Raya gak boleh ada yang deket sama anak Cempaka!" tegas Elvan yang membuat hati Aleta sedikit bergemuruh menandakan hal buruk akan ia dengar.

__ADS_1


"Wooo, gue gak ada niat buat taruhan itu, man. Lo yang buat kan?" tanya Herman kembali memancing Elvan.


Deg.


Jantung Aleta terasa berhenti sebentar saat mendengar kata taruhan. Ini bukan dia kan barangnya? Iya sih dia sering dengar kalau Elvan suka taruhan, taruhin cewek tepatnya. Tapi, Elvan tidak mungkin setega itu bukan? Elvan mencintainya kan?


"Taruhan pertama memang gue yang buat! Tapi buat taruhan kedua, lo yang bikin. Jadi, jauhin Aleta dan jangan deketin dia. Karena lo udah kalah!" kata Elvan penuh penekanan dikalimat terakhirnya.


Tepat saat Hendra bertepuk tangan, suara isakan terluka terdengar nyaring di telinga Elvan dan Aksa. Mereka sangat hafal suara ini.


Badan keduanya menegang sempurna. Terutama Elvan. Cowok itu semakin gemetar dengan hati terasa nyeri. Jantungnya mulai melemah saat menyadari isak tangis itu semakin kencang dan semakin dekat.


"Bagus," kata Aleta disela isakannya. Cewek itu mengusap kasar air matanya. Mengabaikan padangan semua orang yang tertuju kepada dirinya. Mengabaikan suara bisik-bisik para perempuan di sana. Dan mengabaikan tatapan penuh permohonan dari Elvan.


"Jadi, ini alesan lo larang gue ke sini?" tanya Aleta sengit.


Aleta bertepuk tangan keras saat air matanya telah berhasil ia seka lagi dan lagi, ya walaupun akan kembali mengalir lagi.


"Hebat, Van. Hebat," katanya parau sambil bertepuk tangan.


"Ta, Aku-"


"Gak perlu, Van. Gak perlu," kata Aleta mengangkat tangan kanannya.


"Kok gue beg*, ya, Van?" tanyanya dengan air mata yang masih mengalir deras. "gue beg* banget percaya sama mulut buaya lo! Gue beg*, sampai-sampai gue jatuhin hati gue ke elo. Gue beg* karena gue gak sadar kalau gue cuma barang taruhan di mata lo?"


Aleta tak membentak Elvan sama sekali. Cewek itu berkata santai dengan nada bergetar dan suara paraunya. Tak ada makian yang ingin Aleta sampaikan, setidaknya untuk kalimat tadi.


" Tapi Ta, kamu harus denger aku-"


"Aku gak butuh, Van. Aku gak butuh mulut buaya kamu jelasin apa-apa ke aku," katanya sambil menunjuk sengit wajah Elvan. "akh, sial! Aku salah ternyata ya?" lanjutnya sambil menjebikan bibirnya.


"Ta-"


"Diam! Aku bilang diam, Van! Hiks ..." bentak Aleta yang kini telah menangkup wajahnya dengan tapak tangannya.


Aksa yang menyaksikan itu ingin sekali merengkuh tubuh rapuhnya. Namun sayang, Gavin menghalanginya. "Jangan, nanti malah tambah runyam."


Elvan melangkah mendekati Aleta yang hanya berjarak satu meter darinya. Namun, baru langkah ketiga, Aleta lebih dulu membentaknya lagi.


"STOP! Jangan deket-deket gue, Van."


"Ta, dengerin aku. Kamu salah paham," katanya sambil mengulurkan tangan seolah ingin meraih Aleta.


"Aku paham banget, Van. Hiks ... paham. Jadi, sampai disini, Van. Kita putus," kata Aleta yang berhasil membuat tangan Elvan kembali turun. Dada Elvan seperti diremas tangan yang tak terlihat menjadi lebih kencang daripada yang tadi. Sakit.


"Gak. Tapi, aku gak-"


"Makasih. Makasih buat hari lo sama gue selama ini. Dan makasih tiga bulan kurang udah pacaran sama gue. Oh, atau pura-pura pacaran? Ah intinya. Makasih, Van. Gue gak akan lupa."


Setelah itu Aleta berlari tanpa berniat mendengar pembelaan Elvan. Dia tak ada selera untuk membuang waktunya. Hatinya terlanjur terluka. Egonya terlanjur tergores. Intinya dia kecewa kepada Elvan. Pacar sekaligus mantan pertamanya.


Aleta mengabaikan teriakan Elvan yang kencang disertai langkah kaki Elvan yang berlari berusaha meraihnya.


Aleta mengabaikannya. Meski dalam hati ia ingin mendengar, tapi dia tak sebodoh itu untuk masuk lagi keperangkap buaya milik Elvan.


Dengan air mata yang berlinang, Aleta memasuki mobilnya. Cewek itu mengabaikan Elvan yang kini berdiri dan mengetuk kacanya berkali-kali. Aleta mengabaikan wajah khawatir penuh penyesalan dan terluka milik Elvan. Ia, tak lagi memerdulikan cowok itu. Cowok pertama yang berhasil meluluhkan prinsipnya. Cowok pertama yang berhasil membuatnya jatuh cinta. Dan cowok pertama yang membuatnya diperlakukan seperti barang murahan.


Aleta menurunkan kaca mobilnya sedikit, membiarkan suara Elvan terdengar di telinganya.


"Ta, keluar! Kita harus bicara. Kamu salah paham!" ucap Elvan berkali-kali sambil mengetuk kaca mobil Aleta.


Dengan wajah datar, namun bersimbah air mata Aleta menjawab, "Tidak ada lagi, Van, lo dengar itu."


"Ta-"


"Udah. Lo cuma buang waktu gue. Nyesel gue kabur dari ayah."


"Enggak, Ta. Lo harus turun dulu!"


"Gue gak butuh!" kata Aleta menaikkan nada suaranya. "Gue gak butuh, Van," ucapnya lagi dengan nada lebih rendah disertai isakan kecil.


"Makasih buat pengalamannya. Lo pacar pertama gue dan lo cowok pertama yang mainan gue. Selamat. Lo berhasil," kata Aleta telak. Cewek itu tanpa pikir panjang mengegas mobilnya, membiarkan Elvan terjatuh di aspal dengan wajah dan hati penuh penyesalan.


"Harusnya gak gini, Ta. Lo udah gue bilangin jangan tinggalin gue," lirih Elvan meninju aspal dengan lemah.


Gavin dan yang lain langsung menghampiri Elvan. Belum pernah melihat keadaan Elvan yang sekacau ini. Elvan itu terkenal garang, pecicilan, dan tidak kenal takut. Bukan cengeng dan lemah seperti sekarang.


"Bos. Lo gak boleh gini," ucap Gavin berusaha menyemangati Elvan.


Elvan menatap Gavin lekat cowok itu kembali menundukkan kepala dan bergumam, "Harusnya gue ikutin saran lo. Harusnya gue secepatnya kasih tau dia. Gue tol*l! Bangs*t!"


"Lo jelasin ke Aleta saat kalian udah saling tenang, bos. Gue dan yang lain akan bantu," kata Gavin masih berusaha menenangkan Elvan.


"Ada telpon, bos," kata Leo yang memang membawa seluruh hp anggota mereka tadi.


Elvan mengernyit bingung saat nomor tak dikenal tertera sebagai penelpon.


"Halo?" ucap Elvan dengan nada setengah mungkin saat mengangkat telpon.


"Maaf, mas. Ini saya Jeni. Saya menemukan teman anda pingsan di Jl. Anggrek Selatan 3. Dan ini sepertinya karena teman anda menabra-"


Tut tut tut

__ADS_1


......


__ADS_2