Elvan

Elvan
016


__ADS_3

016


Pendekatan 3


"Tutup telinga lo, abaikan mereka."


.....


Suasana pada jam istirahat di Angkasa Raya tak jauh beda dengan sekolah lainnya. Kantin tetaplah menjadi buruan utama para siswa. Dan disinilah sekarang Aleta berada, duduk di antara para teman Elvan termasuk juga Aksa. Cowok itu menatapnya dengan sedikit tidak enak, sepertinya ia tidak setuju Aleta berada di sekeliling mereka.


Elvan datang dengan semangkuk bakso dan juga satu gelas es teh. Tanpa banyak bicara, cowok itu menyerahkan makanannya untuk Aleta.


"Dimakan ya, biar tambah tembem," kata Elvan sambil mencabut pipi Aleta gemas.


Kelakuan Elvan berhasil membuat wajah Aleta memerah dan juga berhasil menciptakan suara riuh beberapa siswa dan juga teman-temannya.


"Ganjen bangt sih."


"Katanya siswa teladan, tetep aja gabung sama Elvan."


"Gila, bentar lagi nembak di tengah lapangan itu."


"Elvan semanis itu di tempat umum?"


"Sok cantik deh dia."


"Tutup telinga lo, abaikan mereka." Elvan berkata sambil tangannya menutup kedua telinga Aleta. Oh, jangan lupa ka senyum manis di ujung bibirnya.


"Gila ya si boss, gercep banget!" seru Alam yang berhasil membuat semua mengangguk setuju kecuali Aksa.


"Manis di depan doang," kata Aksa dengan senyum sinis.


"Maksudnya apa, Sa?" tanya Aleta heran diiringi tatapan tajam milik Elvan yang mengarah tepat di mata Aksa.


"Tanya sendiri sama orangnya," katanya dingin memilih berlalu dari meja tersebut.


Hening seketika setelah kepergian Aksa. Tak ada satupun teman Elvan yang bersuara maupun Elvan sendiri. Semuanya sibuk memikirkan jawaban untuk pertanyaan Aleta. Dan juga sikap aneh Aksa.


"Jadi, Van. Bisa jelasin maksud Aksa?" tanya Aleta dengan nada dingin. Bahkan bakso dan juga es tehnya belum tersentuh sama sekali.


"Buat apa? Gue ngelakuin semuanya bener-bener dari hati," jawab Elvan sambil melirik semua temannya untuk membantu menjawab.


"Masa sih?" tanya Aleta tidak percaya.

__ADS_1


"Iya bener tuh, Ta. Mungkin Aksa cuma sensi aja gara-gara lo salahin semalem," bela Gavin dengan nada begitu meyakinkan. Ya walaupun dia tidak setuju dengan taruhan itu tetap saja dia harus membela Elvan.


Menurut Gavin, Elvan tidak akan melakukan taruhan itu cuma-cuma. Pasti ada rasa. tunggu saja waktu berjalan, pasti keyakinannya akan terwujud.


"Udah dilanjut makan. Gue mau temui Aksa bentar. Jagain Aleta, jangan direbut!" Setelah mengucapkan kalimat tersebut, Elvan berlalu berniat mendatangi Aksa yang begitu sinis dan marah jika Aleta ia dekati demi taruhan.


......


"Maksud lo apa, Sa?" tanya Elvan saat kakinya menginjak lantai rooftop. Tatapannya menusuk, menatap tidak suka pada cowok yang kini duduk di sofa rooftop.


"Semalem 'kan gue udah bilang, gue gak suka lo jadiin cewek taruhan," jawab Aksa santai.


Elvan mendekat dengan derap kaki terdengar keras. Cowok itu memilih berdiri tepat di depan Aksa yang sedang duduk di sofa.


"Tapi nada dan sikap lo beda. Lo suka dia?" kini Elvan menatap Aksa penuh selidik. Entah kenapa dia tidak suka dengan kalimatnya sendiri. Dia seperti risih saat sedikit kepo dengan perasaan Aksa untuk Aleta atau justru dia risih jika sampai Aksa menjawab iya.


"Mana ada. Emang salah lindungin cewek?" elak Aksa dengan sedikit gugup, namun tersamarkan oleh suara angin yang cukup kencang.


Elvan masih belum percaya, cowok itu memilih menundukkan sedikit badannya hingga matanya tepat bertemu dengan milik Aksa. "Tapi biasanya lo gak gini. Kalau cewek gue pertaruhin lo diem aja," balas Elvan datar.


Cowok itu kembali menegakkan badannya. Kedua tangannya dimasukkan ke dalam saku celana.


"Jujur lo suka dia kan?" tanya lagi dengan wajah enggan menatap Aksa. Tiba-tiba detak aneh itu muncul di dadanya, detak dengan sedikit rasa sesak.


"Gue gak suka dia," jawab Aksa mantap. Jelas Aksa tidak suka dengan Aleta, melainkan sayang. Itulah yang Aksa pikirkan.


"Kalau sampai lo ketahuan bohong, awas!" katanya tajam sambil menunjuk wajah Aksa. Elvan tidak tahu, dia benar-benar bingung sendiri dengan dirinya. Kenapa dia harus mengancam Aksa?


"Gue gak akan bohong. Lo santai aja.l," yakin Aksa, setelah itu ia berlalu meninggalkan Elvan yang dilanda geram dan juga rasa penasaran.


.....


Suasana rumah Aleta masih sama seperti sebelumnya. Sepi. Rumah yang cukup mewah dan mampu dihuni sepuluh sampai lima belas orang itu justru terkesan dingin. Tak ada kehangatan yang terpancar dari sana.


Kaki jenjang Aleta berderap memasuki rumah. Kedua tangannya setia bertengger pada tali tasnya. Dengan senyum manis cewek itu memasuki ruang kerja sang ayah.


"Sore, yah," sapanya seriang mungkin.


"Hmm."


Hanya dehaman yang ia dapat, seperti biasa. Namun Aleta tak ambil hati, cewek itu memilih melangkah menjauh dari sana. Sudah cukup formalitas yang ia tunjukan kepada sang ayah.


"Aleta," suara berat milik sang ayah berhasil menghentikan langkah kakinya.

__ADS_1


"Dari mana kamu? Ini sudah jam 5 sore?" tanya sang ayah tanpa melihat lawan bicaranya. Tangannya masih sibuk berkutat dengan beberapa laporan di mejanya.


Aleta menghela nafas gusar. Tidak mungkinkan jika dia jujur habis mengerjakan hukuman? Ayahnya pasti marah.


"Aleta ada rapat ayah," cicit Aleta takut.


Herman, ayah Aleta menutup dokumen yang sedang ia baca. Ia beranjak mendekati putri semata wayangnya yang sedang terlihat ketakutan. Entah kenapa setiap menatap wajah putrinya, dia merasa geram.


"Hmm.. Tapi ayah dengar dari Bik Mah, kamu sering pulang sore selama 2 minggu ini?" tanyanya menyelidik.


"Ma-maaf ayah. Ta-tapi Aleta memang sedang disibukan ra-rapat." Aleta menjawab dengan tubuh sedikit gemetar.


Herman tidak percaya dengan alasan yang diberikan oleh putrinya. Dengan geram dicengkramnya rahang Aleta. "Sejak kapan putri ayah pintar berbohong?"


"Al-leta ti-dak bohong a-ayah," kata Aleta dengan sedikit terbata.


Herman memicing marah. Kali ini Herman semakin menguatkan cengkramannya, membuat Aleta sedikit sesak saat bernafas.


"Kamu kira ayahmu ini bodoh heh?" Kali ini Herman semakin menguatkan cengkramannya, membuat Aleta sedikit sesak saat bernafas.


"Ti-tidak ayah."


"Kamu membuat masalah putriku?" tanya Herman dengan aura yang semakin dingin. Aleta semakin bergetar takut.


"Jawab Aleta! Kamu membuat masalah heh?" bentak Herman melepas cengkramannya kasar.


Aleta sedikit terdorong, bahkan hampir jatuh akibat ulang sang ayah. Matanya mulai memanas. Andai saja ibunya masih di sini, pasti ayahnya tidak akan sekasar sekarang.


Herman kembali mendekati Aleta, derap sepatunya terdengar nyaring dalam ruang yang begitu sepi. Sedangkan Aleta hanya mampu diam dengan badan gemetar dan air mata yang telah menetes.


"Ayah tidak suka kamu berbohong!"


"Jadi kamu benar mendapat masalah putriku?"


"Ma-af a-yah ... Aleta ha-nya tidak sengaja ber-kelahi dengan sis-wi ke-las IPS," katanya sambil sedikit sesegukan.


"Membuat malu!" bentak Herman menunjuk Aleta tajam.


"Ayah hukum kamu, selama dua minggu uang sakumu ayah potong separuh!"


Setelah mengucapkan kalimatnya, Herman memilih keluar ruangan penuh emosi. Bahkan pintu ruangan itu terbanting keras. Meninggalkan Aleta yang telah sesegukan dengan air mata berurai. Bukan karena uang sakunya dia menangis, tapi karena sikap sang ayah yang begitu dingin.


Aleta sendiri memilih meringkuk, menangis pilu merata nasibnya. Andai ibunya masih di sini, andai dulu ia tak perlu menyuruh ibunya membelikan permen kapas, pasti kejadian itu tidak pernah ada. Pasti sang ayah tidak akan sekeras ini kepadanya.

__ADS_1


"Ibu ... Aleta rindu. Aleta mohon bu, sandarkan ayah. Aleta tersiksa. Hiks, hiks."


.....


__ADS_2