FAY, CINTA YANG KEMBALI

FAY, CINTA YANG KEMBALI
the next project with dimas


__ADS_3

Selesai laporan, kami keluar, dimas menghentikan langkah ku ketika kami hampir masuk


lift, di lantai 7 ini hanya terdapat ruangan direksi, jadi memang sepi. “


sorry, aku belum bilang terimakasih dan maaf sama kamu, so so sorry and thank


you so much for guidance me, really appreciate it , aku harap kamu bisa


ngelupain apa yang sudah aku lakukan ketika hari terakhir kita disana, dan


please jangan hindari aku, aku ingin kita bisa bekerjasama dengan baik disini “.


Ungkapnya dengan mata yang memohon, kulihat sekilas, sepertinya dia ikhlas


mengungkapkannya, ku jawab “ baik pak dimas, saya haya akan berhubungan dengan


bapak secara professional kerja , tidak lebih, terimakasih” aku masuk ke lift


dan menekan tombol sekenanya, untungnya dimas tidak mengikutiku.setelah pintu


lift menutup dan bayangan dimas tak terlihat ku lihat lagi tombol yang ku


tekan, ternyata aku menekan basement, ku rubah tombol sesuai ruangan ku, aku


sudah berusaha menata hati, tetapi kenapa kalau berdekatan dengannya aku masih


gugup, aarrghhhh aku benci dimas.


Aku harus lembur hari ini, aku sudah mengabari orang rumah jika pulang agak malam


hari ini, banyak dokumen yang harus aku cek ulang, 20 hari kutinggal kerjaan


yang disini ternyata membentuk tumpukan yang menjulang, aku harus selesaikan


hari ini juga, aku terbiasa tidak menunda pekerjaan. Lama tenggelam dengan


dokumen, akhirnya rampung juga semuanya, aku melihat sekeliling sudah sepi,


tinggal aku saja disini, aku melihat dimejaku ada secangkir kopi dan sekotak


cake, ku pegang masih hangat siapa yang meletakkan ini, ada notes tertera “


terimakasih atas bimbingannya - Dimas “.  Ku pegang cangkir kopi dan cake yang nampaknya lezat,


tapi entah aku tidak langsung menikmatinya, apa maksudnya memberi seperti ini, aku sudah


bilang kalau aku mau hubungan kita sebatas professional kerja, tidak lebih .


Ku minum juga kopi ini, dan sedikit kunikmati cheese cake dari dimas, dia tahu


aku suka keju, pengalaman selama kita di tarakan, aku selalu bilang keju kalau


dia tanya mau rasa apa ketika kami di toko roti, seterusnya dimas tidak pernah


bertanya dia selalu membelikan aku roti atau cake yang keju.


Sampai di basement, ternyata dimas baru keluar dari pintu lift sebelahku, sepertinya


dia turun dari lantai 7. Menyapa dan mengucapkan terimakasih sekedarnya saja


“ malam pak terimakasih kopi dan cakenya tapi lainkali tidak perlu diulangi lagi”


aku langsung melangkah maju mendekati mobil ku. Dimas memotong  jalanku, “ boleh ngajak makan malam nggak ?” ,

__ADS_1


“ pak dimas saya sudah sampaikan tolong hubungan hanya sebatas professional


kerja, jadi tolong jangan ganggu saya diluar jam kerja “ aku melewatinya, masuk


ke mobil ku dan melaju meninggalkan dimas yang masih berdiri memperhatikan laju mobil ku.


Keesokannya aku sudah menerima email dari direksi untuk cek lapangan besok di bogor, memang


project kami beberapa juga ada di sekitaran dekat- dekat Jakarta sini, hari ini


aku harus mengkoordinir team yang disini karena besok aku tidak dikantor


seharian, sekretaris pak agus menelpon ku untuk jadwal besok “ bu fay besok


driver akan jemput ibu dirumah jam 08,00 ya bu dan langsung ke bogor “ infonya.


Keesokan harinya Jam 08.00 kurang aku sudah standby menunggu driver datang, klakson


berbunyi 2 kali, aku keluar rumah setelah pamitan dengan ibu,karena ayah masih


diluar kota mengurus dagangannya, bapak ku adalah distributor ATK, jadi


terkadang beliau harus datang sendiri untuk melihat barang atau negosiasi langsung


dengan pemasok.


Aku bergegas menuju mobil, kulihat didepan sudah terisi , aku membukan pintu


tengah, setelah duduk aku baru tahu kalau yang disamping driver adalah dimas,


' kenapa harus sama dia ya, salahku memang tidak tanya siapa yang akan bergabung


dengan ku ke bogor hari ini, sebodo amat kalau untuk urusan kerja , aku harus


juga “.


Selama perjalanan aku sibuk dengan laptop ku, ku sambi mengecek kerjaan, supaya besok


tidak terlalu padat, aku sengaja duduk tepat dibelakang dimas, bukan dibelakang


driver, meminimalisir untuk melihat dimas.


Tiba-tiba mobil berhenti dan driver turun, dimas bertukar tempat dengan driver,


“ kita kekurangan driver, jadi driver harus mengirim barang keluar kota, jadi aku yang


bawa mobil ini “ dimas menjelaskan. “ oh begitu, oke “ jawabku. “ dan aku bukan


driver ya “ tegas dimas yang secara tidak langsung menginstruksikan aku untuk


pindah ke sampingnya, aku beringsut membuka pintu mobil dan pindah ke depan,


begitu aku duduk disampingnya mobil melaju, seperti dejavu, memori ku terlempar


sebentar ke tarakan, kami biasa seperti ini setiap hari pulang pergi ke tempat


kerja, sambil bercerita dan tergelak berdua, aku merindukan suasana itu, dan


sekarang posisi kami sama seperti waktu itu hanya saja suasana hati kami


berbeda, aku dan dimas seperti sedang tenggelam dengan pikiran masing- masing.


Bau parfume dimas menyeruak masuk ke hidungku, aku suka bau parfumenya, masih

__ADS_1


sama ketika dia diam- diam mendekati wajahku kemudian menyentuh bibir ku, tanpa


kusadari aku memegang bibirku dan mengusapnya, aku terhenyak dari lamunanku


ketika dimas bicara “ sorry bisa ambilkan botol minum ku disebelah mu “ aku


ambilkan botol itu dan memberikan padanya, dia ambil dan menjepitnya


dipangkuannya sambil berusaha membukan penutup botolnya, manuver yang berbahaya


ketika sedang menyetir, aku ambil tanpa permisi dari pangkuannya membuka tutup


botolnya kemudian menyerahkan padanya kembali, dia menerimannya “ thanks “


kemudian menenggak isi nya sampai ludes kemudian dia memberikan botol yang


telah kosong itu kepadaku, itu yang biasa dia lakukan ketika kami masih di


Kalimantan. Aku memakai kacamata hitamku untuk menutupi kesilauan dan


menghindari tatapan mata langsung dengan dimas. Setelah hampir 3 jam perjalanan


kami memasuki kota bogor seperti selogannya bogor kota hujan dan kami memang


disambut hujan setibanya disana, ku copot kacamataku, dimas pun melakukan hal


yang sama. “ coba buka GPS alamat itu, kita pakai gps saja, bantu aku untuk


mengarahkannya “ ujar dimas, “ aku menurut dan membuka GPS yang tersedia di mobil


dan mengaktipkannya, volume suara ku besarkan supaya dimas bisa menyimak tanpa


aku harus mengarahkannya. Dimas memperhatikan layar sambil melajukan pelan


mobilnya “ ini jam nanggung kita makan dulu saja, sampai sana juga paling


mereka rehat “ info dimas kepadaku, aku tak menjawabnya. Dimas menghentikan


mobilnya di RM Padang, paforit ku, apa dia sengaja memilihnya karena dia tahu


padang adalah paforitku, jangan Geer fay, dimas hanya berhenti ditempat yang


dia anggap mudah dan sejalan. Aku turun dan mengikuti dimas dibelakannya, dimas


menarik kursi untuk ku, aku mendudukinya dan dia memilih duduk disebrang ku,


kenapa dia tidak duduk disampingku saja, sebenarnya aku tidak sanggup berlama-


lama jika berhadapan dengan dimas, jantungku pasti berdebar- debar. Makanan


kami telah datang, dimas memberikan piringnya kepadaku, aku reflex mengambilkan


nasi untuknya, aku tahu porsinya, aku kaget ketika tanpa sadar memberikan


kembali piringnya, kami saling menatap, buru- buru ku alihkan  mata ku dan menyendok nasi untuk ku sendiri,


dimas menyodorkan lauk otak sapi kesukaan ku yang memang letaknya lebih dekat


dengan dia, aku terpaksa menerimanya “ thanks “, dia tahu makanan paforitku,


sebbeeelll ada debar- debar halus yang berbunga- bunga diujung relung hati


sana, dan ini akan sering muncul selama aku berdekatan dengan dimas, aku belum

__ADS_1


tahu caranya untuk menghilangkannya.


__ADS_2