
Selesai laporan, kami keluar, dimas menghentikan langkah ku ketika kami hampir masuk
lift, di lantai 7 ini hanya terdapat ruangan direksi, jadi memang sepi. “
sorry, aku belum bilang terimakasih dan maaf sama kamu, so so sorry and thank
you so much for guidance me, really appreciate it , aku harap kamu bisa
ngelupain apa yang sudah aku lakukan ketika hari terakhir kita disana, dan
please jangan hindari aku, aku ingin kita bisa bekerjasama dengan baik disini “.
Ungkapnya dengan mata yang memohon, kulihat sekilas, sepertinya dia ikhlas
mengungkapkannya, ku jawab “ baik pak dimas, saya haya akan berhubungan dengan
bapak secara professional kerja , tidak lebih, terimakasih” aku masuk ke lift
dan menekan tombol sekenanya, untungnya dimas tidak mengikutiku.setelah pintu
lift menutup dan bayangan dimas tak terlihat ku lihat lagi tombol yang ku
tekan, ternyata aku menekan basement, ku rubah tombol sesuai ruangan ku, aku
sudah berusaha menata hati, tetapi kenapa kalau berdekatan dengannya aku masih
gugup, aarrghhhh aku benci dimas.
Aku harus lembur hari ini, aku sudah mengabari orang rumah jika pulang agak malam
hari ini, banyak dokumen yang harus aku cek ulang, 20 hari kutinggal kerjaan
yang disini ternyata membentuk tumpukan yang menjulang, aku harus selesaikan
hari ini juga, aku terbiasa tidak menunda pekerjaan. Lama tenggelam dengan
dokumen, akhirnya rampung juga semuanya, aku melihat sekeliling sudah sepi,
tinggal aku saja disini, aku melihat dimejaku ada secangkir kopi dan sekotak
cake, ku pegang masih hangat siapa yang meletakkan ini, ada notes tertera “
terimakasih atas bimbingannya - Dimas “. Ku pegang cangkir kopi dan cake yang nampaknya lezat,
tapi entah aku tidak langsung menikmatinya, apa maksudnya memberi seperti ini, aku sudah
bilang kalau aku mau hubungan kita sebatas professional kerja, tidak lebih .
Ku minum juga kopi ini, dan sedikit kunikmati cheese cake dari dimas, dia tahu
aku suka keju, pengalaman selama kita di tarakan, aku selalu bilang keju kalau
dia tanya mau rasa apa ketika kami di toko roti, seterusnya dimas tidak pernah
bertanya dia selalu membelikan aku roti atau cake yang keju.
Sampai di basement, ternyata dimas baru keluar dari pintu lift sebelahku, sepertinya
dia turun dari lantai 7. Menyapa dan mengucapkan terimakasih sekedarnya saja
“ malam pak terimakasih kopi dan cakenya tapi lainkali tidak perlu diulangi lagi”
aku langsung melangkah maju mendekati mobil ku. Dimas memotong jalanku, “ boleh ngajak makan malam nggak ?” ,
__ADS_1
“ pak dimas saya sudah sampaikan tolong hubungan hanya sebatas professional
kerja, jadi tolong jangan ganggu saya diluar jam kerja “ aku melewatinya, masuk
ke mobil ku dan melaju meninggalkan dimas yang masih berdiri memperhatikan laju mobil ku.
Keesokannya aku sudah menerima email dari direksi untuk cek lapangan besok di bogor, memang
project kami beberapa juga ada di sekitaran dekat- dekat Jakarta sini, hari ini
aku harus mengkoordinir team yang disini karena besok aku tidak dikantor
seharian, sekretaris pak agus menelpon ku untuk jadwal besok “ bu fay besok
driver akan jemput ibu dirumah jam 08,00 ya bu dan langsung ke bogor “ infonya.
Keesokan harinya Jam 08.00 kurang aku sudah standby menunggu driver datang, klakson
berbunyi 2 kali, aku keluar rumah setelah pamitan dengan ibu,karena ayah masih
diluar kota mengurus dagangannya, bapak ku adalah distributor ATK, jadi
terkadang beliau harus datang sendiri untuk melihat barang atau negosiasi langsung
dengan pemasok.
Aku bergegas menuju mobil, kulihat didepan sudah terisi , aku membukan pintu
tengah, setelah duduk aku baru tahu kalau yang disamping driver adalah dimas,
' kenapa harus sama dia ya, salahku memang tidak tanya siapa yang akan bergabung
dengan ku ke bogor hari ini, sebodo amat kalau untuk urusan kerja , aku harus
juga “.
Selama perjalanan aku sibuk dengan laptop ku, ku sambi mengecek kerjaan, supaya besok
tidak terlalu padat, aku sengaja duduk tepat dibelakang dimas, bukan dibelakang
driver, meminimalisir untuk melihat dimas.
Tiba-tiba mobil berhenti dan driver turun, dimas bertukar tempat dengan driver,
“ kita kekurangan driver, jadi driver harus mengirim barang keluar kota, jadi aku yang
bawa mobil ini “ dimas menjelaskan. “ oh begitu, oke “ jawabku. “ dan aku bukan
driver ya “ tegas dimas yang secara tidak langsung menginstruksikan aku untuk
pindah ke sampingnya, aku beringsut membuka pintu mobil dan pindah ke depan,
begitu aku duduk disampingnya mobil melaju, seperti dejavu, memori ku terlempar
sebentar ke tarakan, kami biasa seperti ini setiap hari pulang pergi ke tempat
kerja, sambil bercerita dan tergelak berdua, aku merindukan suasana itu, dan
sekarang posisi kami sama seperti waktu itu hanya saja suasana hati kami
berbeda, aku dan dimas seperti sedang tenggelam dengan pikiran masing- masing.
Bau parfume dimas menyeruak masuk ke hidungku, aku suka bau parfumenya, masih
__ADS_1
sama ketika dia diam- diam mendekati wajahku kemudian menyentuh bibir ku, tanpa
kusadari aku memegang bibirku dan mengusapnya, aku terhenyak dari lamunanku
ketika dimas bicara “ sorry bisa ambilkan botol minum ku disebelah mu “ aku
ambilkan botol itu dan memberikan padanya, dia ambil dan menjepitnya
dipangkuannya sambil berusaha membukan penutup botolnya, manuver yang berbahaya
ketika sedang menyetir, aku ambil tanpa permisi dari pangkuannya membuka tutup
botolnya kemudian menyerahkan padanya kembali, dia menerimannya “ thanks “
kemudian menenggak isi nya sampai ludes kemudian dia memberikan botol yang
telah kosong itu kepadaku, itu yang biasa dia lakukan ketika kami masih di
Kalimantan. Aku memakai kacamata hitamku untuk menutupi kesilauan dan
menghindari tatapan mata langsung dengan dimas. Setelah hampir 3 jam perjalanan
kami memasuki kota bogor seperti selogannya bogor kota hujan dan kami memang
disambut hujan setibanya disana, ku copot kacamataku, dimas pun melakukan hal
yang sama. “ coba buka GPS alamat itu, kita pakai gps saja, bantu aku untuk
mengarahkannya “ ujar dimas, “ aku menurut dan membuka GPS yang tersedia di mobil
dan mengaktipkannya, volume suara ku besarkan supaya dimas bisa menyimak tanpa
aku harus mengarahkannya. Dimas memperhatikan layar sambil melajukan pelan
mobilnya “ ini jam nanggung kita makan dulu saja, sampai sana juga paling
mereka rehat “ info dimas kepadaku, aku tak menjawabnya. Dimas menghentikan
mobilnya di RM Padang, paforit ku, apa dia sengaja memilihnya karena dia tahu
padang adalah paforitku, jangan Geer fay, dimas hanya berhenti ditempat yang
dia anggap mudah dan sejalan. Aku turun dan mengikuti dimas dibelakannya, dimas
menarik kursi untuk ku, aku mendudukinya dan dia memilih duduk disebrang ku,
kenapa dia tidak duduk disampingku saja, sebenarnya aku tidak sanggup berlama-
lama jika berhadapan dengan dimas, jantungku pasti berdebar- debar. Makanan
kami telah datang, dimas memberikan piringnya kepadaku, aku reflex mengambilkan
nasi untuknya, aku tahu porsinya, aku kaget ketika tanpa sadar memberikan
kembali piringnya, kami saling menatap, buru- buru ku alihkan mata ku dan menyendok nasi untuk ku sendiri,
dimas menyodorkan lauk otak sapi kesukaan ku yang memang letaknya lebih dekat
dengan dia, aku terpaksa menerimanya “ thanks “, dia tahu makanan paforitku,
sebbeeelll ada debar- debar halus yang berbunga- bunga diujung relung hati
sana, dan ini akan sering muncul selama aku berdekatan dengan dimas, aku belum
__ADS_1
tahu caranya untuk menghilangkannya.