
Kami menempati homestay milik pak agus , kamar ku dan kamar dimas berhadapan,
kami sedang menikmati makan malam ketika dimas bertanya kepadaku,
“ Besok kan minggu dan office tutup, aku mau jalan- jalan sekitar sini , ikut ya ? “
dimas mengajak ku sebelum kami sama- sama masuk ke kamar,
“ hmmm boleh deh, sekalian kita survey sekitar. “ jawab ku , lalu
kami sama- sama masuk ke kamar masing- masing untuk beristirahat.
Pagi di tarakan, aku dan dimas sedang di meja makan menikmati sepiring nasi goreng
dan teh hangat, tidak selezat bikinan ibu tapi sudah lumayan untuk menu sarapan
pagiku dan dimas.
Sebenarnya aku agak heran kenapa fasilitas yang disediakan untuk kami begitu mewah,
penginapan yang kami tempati sudah paling bagus di daerah malinau sini,
satu rumah untuk kami berdua meskipun tersedia beberapa kamar kosong lagi,
kuanggap ini mess kami selama disini, tetapi sepertinya rumah ini disediakan untuk petinggi di perusahaan.
Belum selesai heranku dengan fasilitas penginapan yang kudapatkan,
tiba- tiba dimas sudah bertengger diatas mobil jeep land rover keluaran terbaru,
katanya mobil itu khusus untuk transportasi kita selama di malinau,
ah sebodo amat dengan fasilitas- fasilitas itu terpenting
adalah segera menyelesaikan pekerjaan dan pulang kembali ke Jakarta.
Dimas membawa ku ke desa wisata setulang
__ADS_1
yang menyuguhkan kebudayaan khas suku dayak kenyah,
dengan begitu wisatawan mendapatkan edukasi kebudayaan Kabupaten Malinau
dengan cara menyenangkan. Apalagi disekitar desa memiliki pemandangan
yang indah sehingga membuat wisatawan betah berlibur ke desa wisata Setulang,
kita juga dapat melihat tarian adat maupun segala pertunjukan yang berhubungan
dengan Malinau, banyak juga rumah adat suku Kenyah yang sudah tua namun masih
terjaga dengan baik sehingga menjadi spot menarik bagi wisatawan.
Dimas asyik membidik setiap obyek dengan kamera DSLR nya, sepertinya itu memang hobinya,
“ Bu fay jadi model ku dong. “ dimas berseloroh,
sambil membidikkan lensa kameranya ke arah ku,
“ nggak ah, kamu cari model yang lebih muda dan cantik aja sana. “ ujarku sambil berjalan mendahului dimas.
tersedia. “ dimas menyusul langkah ku setelah diam- diam mengambil gambar ku.
Dimas mengulurkan botol air mineral kepada ku, ku sambut dan langsung ku minum sampai tandas ,
kering sekali rasanya tenggorokan ini, desa wisata ini lumayan luas dan kami tidak
terasa hampir menyapu seluruh sudut desa ini, “ kalau memang capek istirahat
dulu aja , gak usah dipaksa jalan terus, nanti besok tugas kita masih panjang. “
dimas berulang kali mengingatkan ku untuk berhenti rehat, aku memang suka
mengamati hal yang berbau tradisional, buat ku antropologi sangat menarik, aku
suka tempat ini. Tanpa kusadari dimas menarik tangan ku untuk berdiri aku yang
__ADS_1
tidak siap kaget dan terjerembab ke depan untungnya dimas cukup kuat untuk
menjadi benteng tubuh ku , dia memeluk ku sambil menahan tubuhnya supaya tidak
limbung ke bawah. aku sekejap merasakan sensasi damai dalam dekapan dimas,
“ ops sorry dim. ", aku segera membebaskan diri dari pelukan dimas yang menghanyutkan.
Dimas masih bengong dengan sensasi tadi, dan segera tersadar,
“ oh its okay, kamu gak pa-pa kan ? “ ujarnya seraya membenarkan letak kamera DSLR nya,
“ aku gak pa-pa makasih ya. “ sela ku.
Awal minggu ini adalah permulaan perjalanan pekerjaan kami di malinau, dimas cepat
sekali beradaptasi dengan pekerjaannya, dia paham arahan ku dan
menyelesaikannya dengan baik.
Malam ini kami pulang larut dari lapangan, kami masih memantau laporan
barang- barang pendukung untuk proses setting alat.
Sebelum sampai mess dimas mengajak ku makan malam di pinggiran kaki lima, aku
ingin segera menyelesaikan makan malam ini dan secepatnya merebahkan badan ku
di kasur, lelah sekali hari ini.
Tidak terasa perjalanan dari tempat makan ke mess ku isi dengan tidur
sangat lelap, aku terbangun karena usapan dimas di pelipis ku,
aku kaget karena begitu membuka mata sedekat itu wajahnya
menyeruak ke wajah ku, segera ku tarik wajahku kebelakang supaya bisa menjauh dari
__ADS_1
wajah dimas, “ sorry , ku pikir masih susah untuk bangun. “, aku membuka pintu
mobil dan bergegas melangkah agak limbung menuju kamarku.