
Aku sudah 1 bulan ini menjalani hubungan dengan arka, dan baru 2 kali kami keluar
untuk ngedate, pertama sewaktu aku memberikan keputusanku, dan ini yang kedua
kalinya kami ngedate, sisanya komunikasi kami melalui chat,
aku sibuk dan arka juga sibuk, entah kenapa akhir- akhir ini arka sering ditugaskan keluar kota
menggarap project, semoga ini bukan karena dimas yang mengintruksi.
Arka menjemputku di kantor, seperti biasa dia selalu rapi dan wangi “ halo sayang,
mau kemana kita hari ini? “ Tanya arka kepadaku, aku sedikit geli dia
memanggilku dengan sayang, arka membukakan pintu mobil untuk ku.
“ kamu mau makan apa ar ? aku ngikut aja, aku bisa koq menyesuaikan.” Jawabku,
“ okelah aku yang pilihkan tempat makannya ya, janji jangan complain .” , arka memilih
restaurant di pinggiran pantai ancol, tempat dulu aku pernah kesini bersama dimas…
kenapa harus tempat ini dan aku nggak sampai hati untuk menolak,
keluar dari mobil arka menggandeng tanganku, aku agak kaget kubiarkan dia menggenggam
tangan ku, arka sangat perhatian, dia berusaha membuatku nyaman meskipun sedikit dipaksakan,
aku tidak mau menerima arka karena kasihan.
Selesai makan arka mengajakku untuk berjalan- jalan di pinggir pantai, “ kak, aku boleh ngebahas
hubungan kita ?” Tanya arka kepadaku, “ boleh…” , arka berhenti dan mengajakku
berhadap- hadapan “ aku merasa kamu belum membuka hati untuk aku, bener nggak
perasaanku ?”, aku nanar menatap arka, aku tidak tega untuk berkata jujur,
“ arka, aku sedang menjalani proses itu, memang tidak mudah buat aku, tapi aku
tidak mau mencintaimu karena terpaksa dan karena kasihan,
aku yakin kamu juga nggak mau kan ar ?” tanyaku pada arka,
aku tahu kegelisahan arka, arka adalah tipe laki- laki yang peka perasaannya,
usiaku dan arka terpaut belasan tahun,
usia arka sama dengan usia dimas, itu yang membuat aku insecure.
Arka mendekatkan dirinya padaku dan meraihku kedalam pelukannya,
aku masih canggung berada dipelukan arka.
Sebentar kemudian arka mengantarku pulang, sepanjang perjalanan pulang kami
__ADS_1
terdiam, bermain dengan pikiran masing- masing.
“ lusa aku ditugaskan ke Pontianak, untuk check project yang disana,
mungkin aku bakalan stay sebulanan disana.” Arka memecah kebisuan kami,
aku kaget arka akan pergi selama itu,
“ loh koq lama sekali dan kenapa akhir- akhir ini kamu sering dikirim ke luar kota
bahkan pulau ya ?” agak kesal aku menanyakannya ke arka,
“ ya karena memang aku kan masuk ke team lapangan sudah sejak sebulan lalu,
jadi mau tidak mau memang kami yang harus berangkat, kamu kan juga pernah di posisiku kan ?”
penjelasan arka masuk akal tapi bagiku tidak masuk akal karena sebulan lalu arka di
masukan ke team lapangan dan itu bertepatan aku jadian dengan arka,
ini pasti ada campur tangan dimas, dan aku tidak suka dimas mengorbankan arka.
Arka tidak langsung keluar mobil untuk membukakan pintu ku,
“ kak, aku sabar koq nunggu, enjor ur time and see u next
month ya, jaga diri dan hati ya .” arka menggenggam tanganku dan mendekatkan
tangan ku ke bibirnya, aku tersenyum menatap arka,
“ hati- hati dan kabarin ya kalau sudah sampai disana.” ,
aku membuka sendiri pintu mobil untuk keluar,
dadaku sesak jika terlalu lama dekat arka,
karena rasa kasihan yang selalu muncul bukan cinta,
aku melepas kepergiannya sampai mobil arka lepas dari pandanganku,
apakah aku akan merindukannya, laki- laki yang berani menemui keluargaku untuk memintaku
api aku belum mencintainya, cinta ku masih terjebak pada sosok lain.
Hari ini aku harus kembali ke PT Barata
untuk membahas layout mesin yang akan mereka beli,
aku bersama team lapangan yang akan mengeksekusi di lapangan nanti,
aku berharap ini adalah pertemuanku yang terakhir dengan dimas karena sudah tidak
ada alasan lagi yang mengharuskan aku datang ke PT Barata ini,
team lapangan yang akan meneruskan pekerjaan selanjutnya sampai selesai dan habis masa
__ADS_1
garansi.
Sementara team lapangan masih berdiskusi dengan team lapangan PT Barata,
linda memintaku untuk langsung ke ruangan dimas, enggan rasanya aku kembali ke
ruangan itu, aku takut terjebak di masa lalu.
Ketika aku masuk ke ruangan dimas,
kulihat dia sedang menerima telpon dan dengan anggukan serta isyarat
tangan dia mempersilahkan aku duduk, ruangan ini belum banyak berubah,
dimas hanya menambah beberapa lukisan dan sound system di ruangan ini,
ternyata dimas lumayan masih lama menerima telpon,
bosan aku beranjak mendekati jendela ,
aku paling senang melihat pemandangan dari ketinggian ruangan dimas ini,
menurutku sudut yang pas dan lepas untuk memandang dari ketinggian.
Tanpa aku sadar ada seseorang yang memelukku dari belakang,
tangan kokoh dimas merengkuhku,
aku sedikit berontak tapi dimas terlalu kuat “ sstt…please sebentar aja , biarkan
aku memelukmu saat ini.” .
Kami sama- sama terdiam, biarkan aku juga ikut
menikmati saat ini, dimas melonggarkan pelukannya dan membalikkan badanku,
dia melihatku nanar dan kulihat matanya berkaca- kaca,
aku memandang dimas dengan sedih, kami tahu jika kami masih saling mencintai tapi seperti ada
tembok besar yang menghalangi kami untuk bersama, dimas perlahan mengecup
bibirku, sampai aku sadar dan melepas kecupan itu, aku bergegas meringkesi tas
ku dan berlalu keluar dari ruangan dimas, kami tidak berkata sepatah katapun
dari mulai aku masuk hingga aku keluar,
karena memang sudah tidak ada yang harus kami bicarakan.
Aku menelpon team lapangan jika aku harus pulang duluan,
aku memesan taksi online untuk kembali ke kantor, sepanjang perjalanan aku
terdiam, merenung sambil memegangi bibirku, ada pesan masuk, kubuka dan itu
__ADS_1
dari arka seperi biasa menanyakan apakah aku sudah makan, bunyi pesan kedua
dari dimas , hanya 4 hurup tertera “ MAAF “.