
Arka baru pulang menjelang isya, aku sedang menonton tipi ketika arka datang dan
tiba- tiba memelukku leherku dari belakang,
“ hai ar, kenapa ? dimas gimana tadi ? sini duduk aku mau cerita sama kamu .”
arka menurut dia duduk di sebelahku ,
aku menceritakan pertemuanku dengan dimas tadi,
“ kamu lihatkan penampilannya, dia seperti orang depresi ar…” arka menatapku,
“ tadi aku mengantar pak dimas kerumahnya, sepanjang perjalanan dia diam saja,
aku ajak sebentar ke coffee shop,ku pesankan dia kopi ku ajak ngobrol,
hanya sepatah kata yang keluar dari mulutnya ....
aku ingin menghabiskan sisa hidupku dengan fay..” ,arka mengucapkan
sembari menatapku nanar.
Aku balas menatapnya, kemudian membuang pandangan ku ke samping,
aku menahan tangis, aku tidak menyangka dimas deperesi hanya karena ingin bersamaku,
lalu kenapa dia dulu tidak memperjuangkan ku,
dimas….kamu sudah terlambat, meskipun janin dalam rahimku adalah sebagianmu.
Sekarang ini aku agak khawatir dengan dimas, aku ingin tahu kondisi dimas terkini,
bagaimana cara aku mendapatkan informasi itu, ah ya aku bisa bertanya ke dwy,
__ADS_1
teman sedivisiku dulu, aku meraih gawai ku untuk chat dwy,
setelah sapaan basa basi aku langsung menanyakan kabar dimas,
“ eh dwy pak dimas apa kabar sekarang? masih aktif kan disana “,
tanya ku ke dwy meskipun aku tahu sudah setahun dimas stay di tarakan,
“ pak dimas uda setahun nggak di sini bu , sehabis menikah pak
dimas seperti ditelan bumi, perusahaan agak goyah, kami butuh sosok pak dimas disini,
tapi denger- denger dia lagi balik ke Jakarta,tapi sakit gitu katanya,
tapi belum jelas sakit apa dan dirawat dimana ?” , dwy menjelaskan panjang lebar,
“ dwy kamu bisa bantu aku nggak cari tahu pak dimas dirawat
dimana? , “ oke bu nanti aku update deh ya kalau uda dapat informasi .”,
jika dia dapat informasi yang valid.
Dimas sakit, ah dim kamu sakit apa, kamu kenapa,
aku mulai cemas, janin diperutku ikut bergerak gelisah
seakan bisa merasakan kalau ayahnya sedang dalam keadaan tidak baik-baik saja.
Sehari kemudian dwy sudah mendapatkan informasi yang kubutuhkan,
“ bu, pak dimas….ah aku nggak tega ngomongnya…pak dimas di rawat di RS grogol,
tahu kan bu RS grogol untuk sakit apa, katanya beliau depresi…”,
__ADS_1
aku melongo dan tidak bisa berkata apa- apa,
mataku berkaca- kaca aku tidak bisa menyembunyikan
kesedihan, laki- laki calaon ayah biologis anak ku, laki- laki yang sampai saat
ini kenangannya masih tersimpan rapi di sudut hatiku, dalam kondisi jiwa yang
tidak baik- baik saja, apakah aku harus diam saja membiarkannya, meskipun aku
tahu dimas depresi hanya karena impiannya bersamaku tidak bisa dicapainya.
Malam ketika aku dan arka sedang bersantai, aku pelan- pelan mengajak arka
bicara “ ar, aku mau bicara…”, arka yang sedang asyik dengan gawainya
mengalihkan pandangannya kepadaku “ hm…ada apa ?”, “ aku mau minta ijin sama
kamu buat menjenguk dimas…dia sakit “, arka sedikit kaget dengan perkataan ku,
“ loh sakit apa dia? “, nada bicara arka mulai kurang enak,
aku tahu ini tidak mudah buatnya, “ dimas dirawat di RS Grogol ar, karena depresinya itu…”,
“ what ? dia gila ?” arka seakan ingin memperjelas kondisi dimas
dan aku kurang suka itu, “ bisa nggak sih ar, kamu pakai bahasa yang lebih halus,
apakah semua yang dirawat disana adalah orang gila ?”, aku mulai menyolot dan aku tahu arka
paling tidak suka ketika aku mulai nyolot apalagi untuk membela laki- laki lain,
“ terserah kamu, kamu bisa memutuskan sendiri, dan kamu juga tahu jawaban aku
__ADS_1
apa .” arka pergi meninggalkan ku.