
Keesokan paginya kami checkout dari hotel dan langsung menuju lokasi proyek,
mesin telah terpasang dan trial sudah dilakukan, kami langsung mengawasi 1st trial,
setelah yakin mesin sudah berjalan dengan baik kemi kembali ke Jakarta.
Direktur meminta kami langsung ke office untuk mendengarkan laporan kami.
Sore jam 4 kami tiba di kantor dan langsung menuju lantai direksi, dimas meghampiri
ruangan dan duduk pada posisinya, dia melihat kami satu persatu,
ketika melihatku matanya kurang bersahabat, aku menunduk mengalihkan pandanganku dari
matanya, “ sore team, good job ya, siapa leadernya saya mau tahu progressnya “ , aku menatap arka ,
memohon agar dia bisa angkat suara “ saya pak “ arka paham maksudku,
karena memang kita tidak memilih leader dalam trip kemarin,
arka menjelaskan secara detil project di bogor, kulihat dimas puas dengan hasil kerja kami,
“ terimakasih atas kerja keras kalian, saya traktir makan malam ya, jam 18.30 saya tunggu di parkiran “ tutup dimas. Dia segera berdiri dan kembali ke ruangannya, aku menatap dimas dari belakang,
ada rindu yang ku pendam, tapi ada keraguan juga yang masih kusimpan.
Kami ber-5 sudah menunggu dimas di parkiran,
ketika dimas datang arka tidak sengaja sedang membersihkan rambutku yang kejatuhan sarang laba- laba,
dimas mendelik melihatnya. Kami memakai 1mobil menuju restaurant,
posisi tempat duduk di restaurant pun sangat tidak memihak ku, arka memilih duduk disampingku,
aku diapit oleh arka dan iwan, aku melihat d imas , dia sama sekali tidak melihatku,
menu makan ku pun arka yang memilihkan, ini pertanda tidak baik.
Selesai makan malam dimas mengintruksikan kaum laki- laki untuk pulang sendiri dan aku diantar oleh dimas, pertanda tidak baik lagi, aku masuk dan duduk disebelah dimas,
aku pikir ini memang sudah direncanakan oleh dimas, mobil menuju ke daerah ancol,
di tepi pantai ancol dimas menghentikan mobilnya dan keluar,
ku ikuti langkahnya, sepi sekali disini sepertinya hanya kami berdua, karena memang ini sudah malam, dimas tiba-tiba membalikkan badan, “ beri aku penjelasan, kenapa kamu nggak ngabari aku seharian kemarin,
kenapa sepertinya arka sangat perhatian sama kamu ? “ ,
aku menatap dimas, menghampirinya, ku pegang wajahnya, ku berjinjit demi bisa
menggapai bibirnya, aku mengecupnya sedikit lama, kemudian melepaskannya,
aku memeluknya, aku bersyukur dimas tidak menolaknya, meskipun dia tidak membalas
ciuman dan pelukan ku, “ terimakasih ya dim, nyaman sekali bisa memeluk mu ,
sebelum berangkat ke bogor , malam sewaktu pulang kerja aku lihat mobil mu dan
didalamnya ada kamu dan Jennifer, kalian dekat sekali dan aku cemburu, jadi
pada saat di bogor aku kerja habis- habisan supaya gak mikir itu, itu kenapa
__ADS_1
aku gak hubungi kamu karena memang aku marah, soal arka, ya aku nggak tahu
kenapa dia jadi perhatian gitu, aku merasanya biasa aja, kebetulan sewaktu
split dilapangan aku memang 1 team dengan arka, kamu bisa terima penjelasan ku
? kalau iya aku juga butuh penjelasan mu “ dimas menarik tubuhku dari pelukannya,
dipegang wajahku dan mencium kening ku, “ sorry malam itu aku memang harus
mengantar jennifer pulang, dan jenni memang seperti itu, ya aku tahu itu tidak
cocok buat di indo...” jelas dimas, “ dim kamu berani mengenalkan aku ke jenni
kalau kita sedang berhubungan ? “ aku menatap mata dimas, aku ingin melihat
kesungguhan dimatanya. Dimas diam saja dan aku tahu jawabannya apa,
“ pulang yuk dim, kasihan bapak ibu ku sedang menunggu ku, karena tadi aku bilang
kemungkinan sampai rumah jam 9 malam, aku melepas pelukan dimas dan melangkah
ke menuju mobilnya, udara pantai sangat dingin, sama seperti dinginnya perasaan aku ke dimas,
aku agak kecewa karena dimas tidak bisa memberikan jawaban,
dia ragu untuk hubungan ini, dan aku tidak bisa menjalani suatu hubungan yang
tujuannya tidak pasti.
Entah kenapa hari ini aku bersemangat sekali berangkat kerja, aku ingin meyibukkan
diriku dan berusaha cuek dengan dimas, aku pikir setelah berjalan 2 bulan
mengakhirinya, toh dimas sudah tahu tujuanku pacaran mungkin tidak sama dengan
dia, kita sudah membicarakan ini di awal.
Sesekali saja aku bertemu dimas ketika meeting, itu pun aku usahakan untuk tidak bertemu pandang dengannya.
Dimas seperti tahu akan sikap ku, beberapa chatnya aku balas seperlunya saja.
Sudah 2 minggu ini ajakan dimas bertemu aku tolak, dimas juga sedang sibuk
dengan projectnya, dia memimpin sendiri project di batam, untungnya dia tidak
memasukkan ku ke teamnya, kami semakin jarang ketemu dan komunikasi, hanya
terkadang jika ingat kebiasaan yang aku lakukan dengan dimas , aku mengingat
dan merindukannya. Dan aku sesekali meet up dengan team bogor,arka lebih intens
menghubungi ku akhir- akhir ini hanya untuk sekedar tanya pekerjaan atau
mengajak makan keluar, dan selalu ku tolak dengan halus, aku tidak mau pada
akhirnya dimas menuduhku selingkuh karena hubungan kami belum berakhir secara resmi.
Siang ini aku dikagetkan dengan kedatangan dimas diruangan kami,
“ saya terima laporan dari divisi kalian untuk bulan lalu, kenapa cost yang dikeluarkan
__ADS_1
increase, sedangkan inputnya decrease, why ? mana support kalian untuk
efisiensi ? leader please detil laporan kesaya dalam minggu ini dan
presentasikan kenapa increase ?” tutupnya dan berlalu dari ruangan kami,
kami saling memandang dan melotot “ hei gaes, ini kenapa sih ? “ team leader yuk ke
meeting room kita bahas masalah ini” intruksi ku, karena dimas menunjuk leader
buat laporan detil dan presentasikan, 30 menit meeting dengan team ku, aku
sudah mendapatkan pointnya dan membuat power point untuk segera ku presentasikan,
aku menelfon lisa sekretarisnya untuk meminta waktu presentasi ke dimas dan
lisa memberitahukan ku dimas akan available di jam 17.30, kenapa sore sekali,
itu pertanda aku akan pulang larut hari ini, dan akan terjebak berdua saja dengan dimas dalam waktu yang lama. Sesuai waktu yang ditentukan aku sudah menunggu di ruang meeting direksi, 1 menit kemudian dimas datang,
dia langsung menempatkan diri di kursi kebesarannya, jasnya sudah dilepas dan dia menggulung
kemejanya sampai ke siku, macho sekali. Aku cepat- cepat mengalihkan pandangan ku,
“ petang pak, boleh saya mulai ?” Tanya ku “ ya silahkan “ dimas menjawab singkat,
dalam penjelasan ku dimas beberapa kali menanyakan hal yang kritis mengenai cost,
tapi aku telah siap dengan data yang dibutuhkan dan semua bisa ku jelaskan dan dapat dipertanggung
jawabkan, sampai dimas sudah tidak punya sela untuk bertanya lagi,
aku menyudahi sesi ini “ saya rasa cukup ya pak dimas, kami sudah menjelaskan dan
pada intinya input akan increase dibulan depan karena penyelesaian project rata-
rata awal bulan, terimakasih “ aku meringkasi file ku , dimas sedang mengamati
ku, dia menekan remote untuk menutup seluruh ruang meeting ini, aku bergegas
untuk meninggalkan ruangan, dimas beranjak mencegah ku,
“ duduk aku perlu bicara “, aku menurut saja, kami duduk bersebrangan,
“ ada apa dengan kamu hampir 3 minggu ini ? , aku sibuk dengan project ku dan kamu nggak kalah
sibuknya, why ?” dimas sedang meminta penjelasan ku,
“ aku menatap wajahnya,wajah yang terkadang ku rindukan tetapi semakin jauh ku gapai ,
“ dim, sejak awal aku sudah mendiskusikan tujuanku menjalin hubungan ku kan, tujuan kita
tidak sama , dan kita akan menikmati dengan versi kita masing- masing,
ketika hubungan kita tidak ada progress dan kamu tidak ada ketegasan aku nggak bisa
meneruskan hubungan ini dim, sorry.” Dimas mendelik mendengar penjelasanku
“ hah, kenapa kamu sepihak saja, kita kurang komunikasi jadinya seperti ini, kamu
membalas chatku cuma sekedarnya aja “ , “ dim, gini aja make it simple kalau
__ADS_1
kamu serius sama aku, dalam bulan ini aku tunggu kamu dan orangtua mu kerumah,
kalau tidak kita putus , oke ? , cukup aku mau pulang, aku lelah dim .” ujarku meminta pengertian dimas untuk tidak menahan ku lebih lama, dimas hanya terdiam melihat kepergian ku.