
Aku memaksa arka untuk sama- sama memeriksakan diri ke dokter
kandungan, aku juga heran kenapa dari keluarga arka tidak ada yang
menyinggung masalah keturunan kepadakami,
biasanya orang tua akan menantikan kehadiran cucu ketika anaknya menikah.
Kalau dari keluarga ku bapak ibu tidak menuntut , karena memang bapak ibu
menyadari usiaku, dan posisi mereka adalah orangtua ku.
Sudah setahun arka selalu ngeles jika aku ajak periksa,
membuatku penasaran, kenapa, apakah ada
yang di takutkan, apa dia hanya menjaga perasaanku saja , begitu banyak
pertanyaan berkecamuk di kepalaku.
Malam ini ketika selesai makan malam,
akumengajak arka untuk ngobrol di beranda belakang rumah,
kusiapkan teh dan cemilan untuknya,
“ ar, besok aku sudah boking jadwal periksa ke dokter kandungan, sengaja aku pilih besok
yang kamu juga libur.”, arka terlihat kaget,
“ loh kamu koq gak konfirmasi ke aku dulu mau boking ? aku besok ada lembur .”,
arka sampai melotot kepadaku, “ ar, sudah setahun ini kalau ku ajak periksa kamu selalu menghindar, kenapa ?
aku tahu kamu tidak ada lembur hari ini, kemarin aku sudah tanya sama kamu,
kamu nggak sadar kan ? ketika aku ajak periksa ke dokter kandungan kamu bilang
ada lembur, apa yang kamu takutkan ? ada yang kamu sembuyikan dariku ?”,
arka diam, dia menatapku “ maksud kamu apa sih yank, kamu koq jadi berpikiran aneh
ke aku , sudah nggak usa dibahas, besok sebelum periksa kita ke rumah ku dulu,
mama papa mau ketemu kita.” Arka menutup obrolan kami dengan meninggalkan
tempat, aku menarik nafas panjang, apa yang sedang aku jalani saat ini,
hubungan tanpa ikatan kah, cinta satu pihak, entahlah.
Hari ini aku dan arka ke rumah mama papa,
tumben- tumbenan juga mereka memanggil kami berdua melalui arka,
biasanya kalau mereka kangen justru mereka akan menghubungiku untuk
datang ke rumah.
Tiba dirumah , mama papa sedang duduk di ruang keluarga,
mereka selalu menyambut hangat ketika kami datang dan pasti memasak makanan
kesukaanku, aku senang berada di tengah- tengah keluarga ini,
ketika datang mama selalu memeluk ku, sama seperti ibu.
“ ayo kalian makan dulu, setelah itu kita ngobrol- ngobrol ya .”,
aku dan arka menuju meja makan, ku layani arka seperti biasa,
arka hari ini agak berbeda, dia sedikit lebih tegang sejak pagi tadi.
Selesai makan kami menghampiri mama papa, situasinya agak formil,
aku tidak tahu kenapa, sepertinya mereka akan menyampaikan sesuatu yang penting.
Arka membuka omongan ,
__ADS_1
“ sayang, mama, papa, aku rasa sudah saatnya kita membuka
ini sekarang, karena akan lebih baik untuk fay dan keluarga…”,
ada apa sebenarnya ini, apa yang akan dsampaikan arka, kenapa ?,
“ sayang, aku mama dan papa meminta maaf yang amat besar dengan mu,
karena menutupi hal ini, 3 bulan setelah pernikahan kita sebenarnya aku sudah memeriksakan diriku ke dokter
kandungan, aku salah karena tidak langsung membicarakan ini kepadamu,
aku malah menyampaikannya ke mama papa,
mereka berdua selalu mendesakku untuk terbuka sama kamu,
tapi aku yang takut, aku takut kamu pergi ketika tahu bahwa aku …..mandul…” ,
aku mendelik kaget menatap arka, tubuhku terasa melayang,
,aku menatap bingung “ kamu lagi nggak bercanda kan ar ?” tanya ku ke arka,
“ tidak sayang, aku mandul, dan aku minta maaf tidak langsung memberitahukan ke kamu….” ,
aku gantian menatap mama dan papa, mereka terdiam ada kesedihan di raut wajah
mereka, terutama mama, aku bingung dengan kenyataan ini, aku tidak tahu harus
bicara apa,
“ arka, mama, papa, boleh aku minta waktu untuk sendiri ?’, tanyaku kepada mereka,
mama mengangguk, aku mengambil tas ku dan pergi keluar,
aku menyetop taksi yang kebetulan lewat dan kosong.
Aku terdiam tak tahu harus kemana , aku menghubungi team hore,
siapa dari mereka yang saat ini bisa aku ajak bicara, dan mereka kompak free buat aku ajak bicara,
aku memberi alamat rosi ke supir taksi.
“ hai fay, sini duduk sini, pucat amat sih muka lu, bentar gue ambilin minum.” G
ak lama kemudian indah datang bersamaan rosi yang datang dengan minuman dan kue,
ku mengambilgelas dan minum sampai tandas,
tenggorokanku kering sekali rasanya.
Aku masih tertegun dengan kejadian tadi, pandanganku kosong,
ketiga sahabatku melihatkudengan prihatin,
“ ada apa sih fay, nakutin banget sih lu sampe bengong gitu ?”
indah menggoyang tubuh ku, aku tersadar dan beralih memandangnya,
air mata tak bisa ku bendung, aku menangis memeluk mereka,
mereka membiarkan sampai tangis ku mereda,
aku menatap mereka sambil menghela nafas untuk melegakan dadaku yang
sesak sedari tadi.
“ hhmm….aku tuh takut kalau nggak bisa kasih keturunan ke
arka, makanya aku selalu ajak dia ke dokter kandungan buat sama- sama periksa,
buat program kehamilan, karena aku juga menginginkan hadirnya seorang anak,
sudah setahun ini dia selalu menolak kalau ku ajak, sampai aku berpikir pasti
ada sesuatu kenapa arka selallu menolak.” Aku menghela nafas sebentar sebelum
melanjutkan, “ sampai pada akhirnya kemarin aku tanpa konfirmasi dia, boking
__ADS_1
jadwal visit ke dokter, dan aku sudah pastikan hari ini dia nggak ada lembur
atau pun kerjaan jadi gak ada alasan dia buat menolakkan, dia marah, aku
sampai kaget, setahun lebih menikah dengan arka belum pernah aku dibentaknya,
sampai tadi mama papa arka memanggil kami, kalian tahu apa yang disampaikan
arka didepanku dihadapan mama papanya ?”.
aku menatap nanar sahabat- sahabatku,
“ dia sebelumnya sudah pernah periksa ke dokter kandungan sewaktu usia 3 bulan
pernikahan kami, dan hasilnya dia mandul….”.
“ HAH!!!” rosi, ita, indah bebarengan teriak saking kagetnya mereka.
Kami berempat terdiam, tidak bisa berkata- kata rosi memecah kebisuan kami,
“ fay, yuk keluarin uneg- uneg kamu, kami siap jadi pendengar mu “ ,
“ aku bingung, sejak awal kalian tahu kan aku menerima arka tanpa cinta,
hanya karena dia adalah lelaki yang mendekatiku dan serius,
aku menerimanya dengan menghargai itu, aku melepas dimas,
yang aku gak bisa terima adalah kenapa arka menyembunyikan hal yang begitu penting untuk sebuah hubungan pernikahan, ini seperti dia selingkuh dan aku diberitahu, iya nggak sih ?,
aku bingung dengan kondisi seperti ini, gakkepi kiran
sama sekali kalau arka akan melakukan hal seperti ini,
aku kecewa dengan dia, marah, bagaiman aku harus menjelaskan ini ke ayah ibu ku,
bagaimana hubunganku dengan arka setelah ini….
apakah aku harus menerima saja, aku harus bagaimana…” tangisku pecah.
Rosi, ita dan indah cukup paham dengan aku, mereka membiarkan
aku menghabiskan tangis ku, tangan- tangan mereka yang mengusap- usap ku sangat
membantu untuk menguatkan, memang hanya di depan mereka aku bisa menjadi diriku
sepenuhnya, aku bisa lepas menangis dan bercerita.
“ take your time fay, lu butuh sendiri dulu, kalau lu nggak nyaman pulang ke rumah,
lu bisa pake noh apartmen gue, kebetulan uda seminggu kosong,
yang sewa uda selesai belum gue sewain lagi, lu tinggal bawa diri perabotan lengkap .”
ita menawarkan apartment studionya, good idea sih, tapi masak iya aku harus lari dari
kenyataan sih, atau memang aku butuh sendiri dulu ?,
“ ntar gue pikirin lagi aja deh ya, gue masih bingung mau gimananya,
lu bisa bayangin gak sih jadi gue ? gue harus gimana gaes ?’,
“ fay, ini adalah hal yang bukan kita harapkan, pasti lu bingung, gue aja belum tentu bisa
sekuat lu fay, uda mending lu nenangin diri dulu, ambil cuti lah, lu kan kerja
rodi mulu gak pernah cuti tuh.”, rosi menimpali ,
“ pergi fay 3 hari kemana gitu atau kalau nggak ada tujuan yaudah lu ngendon tuh di apartmentnya ita.” ,
“ iya kayanya gue butuh sendiri dulu".
Aku memutuskan untuk pulang ke rumah ibu dan bapak,
aku menjelaskan kepada mereka apa yang telah terjadi dan seperti
dugaanku mereka menyerahkan semuanya kepadaku, bapak ibu moderat sekali,
__ADS_1
prinsip mereka hanya jika anaknya bahagia mereka juga akan bahagia asal prosesnya harus bener dan jujur, orangtuaku sangat menjunjung tinggi kejujuran.