FAY, CINTA YANG KEMBALI

FAY, CINTA YANG KEMBALI
Dim kembali , jangan seperti ini, please...


__ADS_3

Keesokannya aku  memutuskan  pergi ke grogol ditemani ita, kami membawa


supir supaya lebih leluasa ngobrol di belakang supir,  “ fay, kenapa rumit amat


ya hubungan percintaan lu, gue kirain gue tuh uda rumit ternyata ada yang lebih


rumit, tapi lu ikutin aja deh kata hati lu fay…” , aku terdiam, aku tak sanggup


melihat dimas, tapi aku harus kesana untuk membantunya,


untuk sedikit menata hati dimas yang berserakan.


Kami sampai di depan rumah sakit, aku sudah mendapatkan nomer  kamar


dan beberapa informasi supaya bisa masuk ke kamar dimana dimas dirawat,


dan benar saja bekal informasi tersebut memudahkan ku untuk mendapat akses masuk.


Sampailah aku di depan kamar dimas, ita yang menemani disebelah ku membantu


mengetuk pintu, tak lama ada seseorang membuka pintu, kulihat mama dimas ,


dia bingung melihatku seperti sedang mengingat, memang aku beberapa kali bertemu mama dimas ketika di kantor sewaktu belia megunjungi suaminya.


“ Maaf ini siapa ya ?” , “ maaf  ibu saya fay, boleh saya bertemu dimas ?”,


mama dimas yang lebih ku kenal dengan sebutan bu agus terlihat kaget


dan melihat ku lebih lama “ oh kamu fay…, dimas selalu menyebut nama mu di sela- sela ceritanya,


masuklah mungkin memang kamu yang dinantikan dimas .”


bu agus membukakan pintu untuk ku dan membiarkan aku masuk sendirian,


bu agus dan ita menunggu diluar, sepertinya beliau sengaja memberikan ruang untuk aku


bertemu dengan dimas.


Aku mendapatkan sosok dimas yang sedang duduk menghadap


jendela besar dengan pemandangan yang indah , karena ini kamar VVVIP jadi aku


tidak kaget dengan fasilitas yang ada, ku hampiri tubuh yang sedang mengandung  jiwa yang sakit itu,


dimas sepertinya tidak menyadari kedatanganku, ku hampiri dan ku sentuh pundaknya perlahan,


entah kenapa dimas meraih tanganku, ku letakkan kembali tangan ku dipundak satunya,


dimas menarik tangan ku sehingga aku sudah posisi memeluk leher dimas dari


belakang, ku taruh keningku di kepalanya, aku bisa mencium wangi aroma rambut dimas ,


aroma yang masih sama sejak dulu, aku tidak bisa menahan  tangis ku, aku memeluknya erat,


dimas membiarkan aku memeluknya lama, sampai aku perlahan mengendurkan pelukanku


dan berpindah kehadapan dimas, aku menurunkan tubuh ku dengan posisi bersimpuh


supaya bisa sejajar dengan dimas yang sedang duduk, aku  menatap dimas dengan  tatapan sedih,


pandangan dimas kosong, dia menatap ku tapi mata itu seperti tidak bernyawa , ku genggam tangannya,


“ Dim, lihat aku, mana mata mu yang dulu selalu kurindukan, kembali dim…


kembali jangan seperti ini,please….”,  aku melihat seperti ada bayangan ku dimata dimas,

__ADS_1


dimas bergeming dan memindahkan tangannya ke rambutku, dia membelai rambutku,


“ sayang…, kenapa lama sekali kamu baru datang, aku hampir putus asa kehilangan


mu…” , dimas berdiri membangunkan ku, setelah kami sama- sama berdiri,


dimas memeluk ku, erat sekali.


Tapi tiba- tiba dia berteriak kesakitan sambilmemegangi kepalanya, aku kaget,


“ dim, kamu kenapa ?” ,  aku menuntun dimas ke tempat tidur,


ku baringkan dia, bu agus datang dan langsung menekan tombol untuk memanggil


dokter, dimas masih memegangi kepalanya, aku ikut memegangi kepalanya,


sampai dokter datang dan menyuntikan sesuatu di tangan dimas,


dimas mengenggam tanganku kuat- kuat seakan ingin membagi kesakitannya kepadaku,


dokter refleks melihat ku, aku tak memperdulikannya, aku hanya fokus kepada dimas.


Tak lama kemudian dimas sudah mulai tenang, dan  menguap tapi tangan ku tak dilepasnya,


aku duduk di kursi yang disediakan di samping  bed , ku tatap dimas, ku elus- elus rambutnya,


tidak lama kemudian dimas tertidur.


Ku coba melepaskan tanganku darinya, tapi masih belum berhasil,


dimas masih kuat memeganginya, dia seperti anak kecil yang takut ditinggal ibunya,


kubiarkan dimas sampai tertidur, mamanya dan ita melihat kami dari sofa ruangan dimas,


mungkin memang di setting seperti itu supaya penghuninya merasa tenang.


Aku merasa ada yang menggyang- goyang pundak ku ternyata aku ketiduran di bed


dimas, ku lihat dimas masih tertidur ternyata ita yang membangunkan ku,


“ pulang yuk fay, kamu juga harus beristirahat, ingat kamu masih ada arka di rumah


dan jaga kandungan mu juga, jangan terlalu capek dan stress tidak baik buat janin “,


dia lirih berbisik di telingaku supaya bu agus tidak mendengarnya,


aku mengangguk mengerti, ku lihat dimas pulas sekali tidurnya,


tangannya sudah bisa ku lepas, ku pandangi sebentar wajahnya,


aku beranjak menghampiribu agus,  yang sekarang sudah ingat bahwa aku adalah mantan karyawannya dulu,


“ Bu Agus, kami pulang dulu “, bu agus berdiri,


“  Fay, boleh saya minta waktunya bicara sebentar ?” ,


permintaan yang tak mungkin ku tolak, Ita mengangguk paham.


kami berdua keluar meninggalkan ruangan,


“ Fay, ibu tahu kalau mungkin sedikit tidak nyaman yang akan ibu tanyakan ini,


tapi ibu butuh penjelasan juga dari kamu, selain dari dimas “,  kami duduk di bangku taman sambil memandangi kolam ikan yang indah sekali, aku memandang bu agus, dia melanjutkan pembicaraannya,


“ ibu telah melakukan kesalahan kepada dimas dengan terlalu ikut campur mengatur masa depan dimas,

__ADS_1


dimas yang sedang semangat membangun dan mengembangkan perusahaan langsung done ketika ibu


menjodohkannya dengan putri sahabat ayahnya karena perjanjian bisnis yang


terlanjur mereka lakukan dulu, dimas sudah menolak dan menyampaikan bahwa dia


telah mencintai seseorang dia tidak bisa hidup tanpa wanita itu, ibu tidak


perduli dan tetap memaksanya karena kami juga tidak mungkin menolak perjodohan


itu, dengan tameng bahwa ini adalah wasiat ayahnya, dimas menjalaninya,


tapi kami melupakan perasaan dimas, karena yang  ibu tahu dimas kuat dan pasti bisa menjalaninya…


tapi ternyata dimas rapuh untuk soal perasaan, dimas tidak mau cerita siapa yang dicintainya,


sampai hari ini ibu baru ngeh yang dia selalu sebut fay itu adalah kamu…kamu


sedang hamil pasti kamu sudah menikah, ibu harus bagaimana untuk menyelamatkan


dimas, dia bisa tidur begitu pulasnya ketika ada kamu...”,


aku hanya terdiam menunduk, aku bingung kata- kata apa yang harus ku utarakan ke seorang ibu yang


sedang bersedih karena kehilangan jiwa normal anak laki- laki kebanggaannya,


Bu agus mengambil tangan ku dan menggenggamnya,


ku pandang wajahnya yang berkaca- kaca dan mengakhiri pembicaraan kami,


bu agus mengantarkan kami sampai pos penjagaan yang berada dekat kamar dimas,


“ fay jika suami mu mengijinkan dan ada waktu datanglah kembali.” ,


aku tersenyum dan mengangguk sambil mencium tangannya.


Kami melangkah keluar meninggal rumah sakit ini , dimana jiwa- jiwa yang sakit membutuhkan


pertolongan, ita merangkulku, mencoba memberi kekuatan kepadaku.


Aku mengantarkan ita dulu ke apartmennya baru kemudian aku pulang,


sudah lumayan larut aku baru sampai rumah, kulihat mobil arka sudah di garasi,


ketika aku masuk rumah, arka masih di ruang santai, sedang menonton acara olahraga


favoritnya.


“ Sudah makan ar ?” tanyaku begitu masuk rumah dan melihat arka,


arka sebentar melihatku kemudian berpaling ke layar tv kembali, dia tidak mau menjawab,


kuanggap dia sedang marah karena aku menjenguk dimas, aku berlalu menuju  kamar,


lelah rasanya, kandunganku semakin membesar, dan aku menjadi cepat lelah.


Aku dan arka seperti anak kos dalam satu bangunan saja,


hubungan suami istri macam apa yang sedang aku jalani,


kami hanya menjadi suami istri sungguhan ketika mama papa atau orangtua ku


berkunjung, mau sampai kapan akupun tak tahu, tapi yang jelas anak ku kelak


butuh figure ayahnya, apakah arka bisa menerima kehadirannya.

__ADS_1


__ADS_2