
Dari TL memberikan beberapa informasi dan instruksi kepada peserta sebelum kami
melakukan pendakian “ saya harap kita bisa terus berkelompok , tidak mencar supaya saya juga lebih mudah untuk pengawasannya, jika ada keperluan yang memang harus menjauh dari kelompok , misal ke toilet atau lainnya harap ijin atau minimal info ke teman sampingnya atau dekatnya ya teman- teman “.
Jam 1 dinihari kami mulai pendakian, jalurnya ke atas lumayan tapi karena banyak juga yang melakukan pendakian jadi tidak terasa, sesekali rombongan kami berhenti untuk istirahat, dimas selalu berjalan tepat di belakangku,
agak jengah tapi aku merasa aman. Pikiran usilku muncul, saat selesai beristirahat, diam- diam tanpa sepengetahuan dimas aku merubah posisi duduk mendekati TL ku , namanya mas harun kusapa dia
“ hai mas “ , mas harun menggeser duduknya dan memberi tempatnya untuk ku, aku melirik dimas, ternyata
dia sedang ngobrol dengan peserta lainnya, aku merapatkan jaket dan menaikkan syalku hingga menutupi hidung,hanya terlihat mataku, kurapatkan lagi penutup telingaku, kulihat dimas celingak
celinguk mencariku dan menangkap ku dengan matanya, Mas harun memberi intruksi kepada kami untuk
melanjutkan pendakian, aku memilih berjalan tepat dibelakang mas harun.
Hampir sampai diatas jalan mulai datar tetapi dingin semakin menusuk, langkah ku melemah,
mas harun memberi instruksi agar rombongan mendekat ke api unggun , di atas ada beberapa api unggun yang menyala, karena memang hanya itu yang saat ini bisa menolong untuk menghangatkan,
aku mencari posisi duduk di pinggir api unggun, ku ulurkan tangan ku ke depan supaya hangat, badanku sedikit menggigil, aku merasa dibelakangku ada yang merapatkan badannya dibelakangku, ku tengok ternyata dimas, aku membiarkan saja dia merapatkan tubuhnya, karena dengan begitu aku merasa lebih hangat,
dia duduk tepat dibelakangku, aku dalam rengkuhan lengan kokohnya, dia mengulurkan
tangannya ke arah api unggun juga, kami sangat dekat tetapi kami sama- sama membisu,
aku agak geli apakah hubungan ini tidak perlu banyak kata, hahaha, aku bahagia.
Aku menyandarkan kepalaku ke dada dimas, aku sedang menikmati sensasi ini , itu saja
Ku lirik jam tangan ku, waktu masih menunjukkan jam 03.30 dinihari,
mas harun tadi sudah memberi informasi untuk peserta yang ingin lanjut ke bluefire bisa berangkat jam 04.00 , untuk ke lokasi bluefire jaraknya sekitar 800 m dan menurun agak curam, tepat jam 04.00 mas harun mengajak kami untuk turun ke lokasi blue fire, dimas membantuku berdiri, dan aku langsung
menghadap ke tubuhnya, kami berhadapan, ku tatap matanya aku tersenyum dari balik syalku yang menutupi separuh wajahku , semoga dia bisa melihat rona bahagia dari mataku,
kemudian aku melangkah mengikuti mas harun dan diikuti dimas, yang tetap setia dibelakangku,
dengan tongkat yang kubawa cukup membantu menahan tubuhku ketika kami harus turun ditempat agak licin, setelah menempuh 20 menit perjalanan sampai juga kami di lokasi blue fire,
waahhh mataku berbinar melihat keindahan sang pencipta, mas harun menawari kami untuk berpoto
dia akan membantu untuk mengambil gambarnya, dimas menggandeng tanganku,
kami sudah menghadap ke mas harun, dia melingkarkan tangannya ke bahuku,
aku manut saja dan pose, tak terhitung berapa kali mas harun mengambil gambar kami,
dan terakhir aku meminta mas harun mengambil gambar ku sendirian,
ku dorong dimas ke pinggir untuk tidak ikut poto disampingku.
Puas menikmati blue fire, kami kembali ke atas untuk melihat sunrise.
Dimas banyak membantuku ketika naik, menarik dan mendorong ku supaya lebih mudah ketika
menemui tanjakan yang agak curam dan licin.
sampai diatas aku duduk menempati posisi yang mudah untuk melihat sunrise, dimas duduk disampingku , aku melirik dimas aku tak bisa menahan untuk bertanya padanya “ kamu sudah selesai sembunyi dari ku dim ?, kenapa chat ku Cuma kamu baca ? kenapa kamu selalu menghindar dariku, padahal kita satu gedung tak sekalipun dalam 2 bulan ini aku ketemu sama kamu , kenapa ? “ aku hampir tak bisa membendung tangis ku, untung hanya
berkaca- kaca dan dimas tidak melihatnya, kulihat dimas menghela nafas berat dan menjawab ku sambil tetap memandang kedepan “ aku sengaja menghindari kamu, aku sakit hati karena ditolak, dalam sejarah ku sama cewek baru kali ini aku ditolak, I hate it “ dia kemudian memandangku sekilas, aku melihat rona kesedihan dari wajahnya tapi aku juga bisa melihat tatapan hangatnya, ada rinduyang t ersimpan, sama sepertiku yang menyimpannya dengan rapi,
__ADS_1
“ dim, aku gak pernah nolak kamu, aku cuma kasih saran ke kamu , cari yang sepantaran sama
kamu, kita nggak menikah hanya berdua dim, keluarga mu, keluargaku, mereka juga
harus bisa menerima, kita beda bukan hanya dari usia, tetapi juga strata,
realistis dim, meskipun cinta itu buta tapi setidakny aku tidak mau logika ku
juga buta “, dimas melihatku.
“ cinta kadang gak perlu logika, aku suka kamu, kamu menerima aku, that’s simple, right ?, kenapa kamu membuatnya jadi rumit ? “ dimas berdiri dari duduknya dan berpindah duduk didepan ku,
dia memandangku lekat , kubalas tatapan matanya, dibelakang dimas kulihat matahari mulai muncul
dengan malu- malu seperti ingin menyempurnakan keindahan pagi ini, ya Tuhan
wajah dimas dan matahari itu bersanding dengan indahnya, aku cepat mengambil
kamera poketku, “ dim, diam jangan bergerak “ , ckrek ckrek, aku mengambil
beberapa gambar dimas dan matahari, “ dim, berbaliklah, lihat matahari itu “,
dimas mengikuti arahanku, saat ini posisi dimas lebih pendek dariku, jadi aku
bisa melihat dari atas kepala dimas proses munculnya matahari itu, ku letakkan
tanganku di pundak dimas, kuletakkan daguku diatas kepalanya, dimas
menyandarkan kepalanya di dadaku, kupikir ini adalah sunrise terindah yang
kulihat sepanjang hidupku,aku dan dimas menikmati sunrise, kami sama- sama
ku kecup atas kepala dimas, hati kami berbunga- bunga, “ dim, koq kamu bisa
ikut tour ini ? “ Tanya ku , “ kamu pikir aku tidak memantaumu, kamu ngapain
aja selama 2 bulan ini aku tahu, puas? Kamu pikir aku nggak tersiksa menghindar
dari kamu ? “ jawabnya, aku diam, ku kecup sekali lagi rambut dimas, kuanggapsebagai permintaan maafku. Sampai perjalanan turun, dimas tidak melepas pegangan tangannya, oh ya setelah terang
dan suasana bisa terlihat jangan ditanya pemandangan yang disuguhkan oleh
kawasan ijen ini, Indah sekali, gugusan bukit yang menghijau memanjakan mata
kita, ah ini sangat sempurna.
Dari ijen kami bertolak ke baluran , yang terkenal dengan afrikanya indonesia, masuk kedalam hutan baluran disana ada juga hidden island , pantai boma yang banyak ditumbuhi oleh bakau, banyak beberapa jenis bakau
langka disini, dimas antusias sekali untuk explore hutan bakau dan mengambil
gambarnya, terkadang dia mencuri- curi untuk mengambil gambar ku, aku pura-
pura tidak tahu saja, aku terlampau asyik dengan bunga- bunga dihatiku.
Dimas berseloroh disampingku “aku mau manggil kamu fay saja , boleh ? “ , ku hentikan
langkah ku dan melihatnya “ kamu kualat loh nanti dim !” lalu aku terkekeh dan berlalu dari dimas ,
dia memanggil sambil menyusul langkahku “ fayana nandita , tunggu aku “
terdengan aneh tapi aku suka.
__ADS_1
Hari terakhir dibanyuwangi adalah hunting buah tangan, aku membeli beberapa buah tangan untuk orang rumah, team hore dan office, kulihat dimas sibuk melihat- lihat di toko kerajinan perak, cowok mana mau beli- beli yang merepotkan. Dimas keluar kemudian menarik tangan ku ke toko itu, “ ini pak ukuran tangannya “ dia menjulurkan tangan ku ke penjaga toko, pramuniaga nampak bepikir sambil melihat jariku, aku masih belum paham maksud dimas, ku pandang dimas penuh pertanyaan “ aku cuma mau membelikan cincin untuk saudaraku dan ukuran tangannya sepertinya sama kaya kamu, jadi pinjam tangannya ya “,
tidak lama kemudian pramuniaga memberikan cincinnya ke dimas, dimas memasukkannya ke jari ku, “ pas nggak, nyaman nggak ?” tanyanya , “ pas koq, ini pasti pas juga buat saudaramu “ jawabku. Kemudian dimas menyerahkan cincin itu kembali ke pramuniaga,
“ nanti di kirim ke alamat ini ya mas, sesuai design yang saya pilih tadi “ .
“ baik pak, lama pengerjaan 7 hari ya pak, nanti setelah selesai kami akan hubungi bapak terlebih dahulu
sebelum mengirimkannya “ jelas pramuniaga, sambil memberikan surat pemesanan
untuk dimas tandatangani, selesai menandatangani dimas mengajak ku ke parkiran,
dia menemui mas harun , kulihat dia bercakap- cakap dengan mas harun, dimas menghampiriku setelahnya. “ yuk balik ke hotel, kita akan misah dengan rombongan dari sini.” ,
“ heh? Maksudnya ? “ tanya ku , “ iya kita pulang bareng besok, so kita masih ada 1 hari lagi
disini, aku mau ajak kamu ke Taman Nasional alas purwo , sebentar lagi ada mobil
yg akan jemput kita di hotel”. Jelas dimas.
Kami kembali dengan menggunakan grab yang telah dipesan oleh dimas. 30 menit setelah sampai di hotel, kami
dijemput oleh mobil yang telah dipesan dimas, dan membawa kami pedalaman taman nasional alas purwo, aku agak takut ketika memasuki alas purwo ini, karena benar- benar hutan ini seperti menyimpan misteri, aura mistis sangat terasa disini, aku menemukan beberapa candi didalam hutan ini, mobil berbelok menuju penangkaran penyu, akhirnya kami menemukan destinasi setelah lama menyusuri hutan ini, aku dan dimas
melepas beberapa penyu yang siap dilepaskan ke lautan lepas, ku beri nama penyu yang kulepas dimdim
“ dimdim kamu harus kuat ya dilautan sana, hiduplah yangpanjang “ ujarku sambil melepasnya. Dimas melepas penyunya tanpa seremoniseperti ku .
Selepas dari penangkaran penyu kami menuju ke penangkaran banteng jawa, ketiba tida disana lokasi sepi,
hanya ada aku dan dimas dan beberapa penjaga yang memang tinggal disekitar situ.
Kami duduk di kursi kayu yang disediakan pengelola untuk menunggu munculnya banteng- banteng tersebut, karena banteng akan muncul pada saat- saat tertentu saja, tidak setiap saat, jadi pengunjung yang beruntung bisa melihatnya jika tidak ya tidak akan melihatnya.
Beberapa ekor burung merak berseliweran di sekitar kami, karena alas purwo adalah hutan yang besar menempati lahan sekitar 44,037 hektar dan konon katanya merupakan tanah tertua di pulau jawa.
Beberapa hewan liar terkadang juga berseliweran di taman nasional ini.
Dimas asyik mengambil gambar beberapa hewan yang berseliweran sambil menunggu momen banteng- banteng itu akan muncul, setelah 30 menit penantian segerombolan banteng muncul,
mereka keluar dari rerimbunan menuju tanah lapang terbuka untuk minum,
kami asyik mengambil gambar dan mempelajari gerakan- gerakan mereka, dimas menantangku
untuk menghitung jumlah banteng tersebut, agak sulit karena memang jarak kami
untuk melihat mereka dibatas pagar dan cukup jauh sekitar 100 m, kita bisa menyebut juga lokasi ini dengan savana sadeng.
“ kayanya mereka 22 ekor , ya ngga sih ?” Tanya ku sambil melirik ke dimas , dimas keliatan macho sekali dengan kaos kutung, memperlihatkan otot lengannya, ah tak mau berlama- lama menatapnya aku langsung membuang jauh pandangan ku kembali ke banteng- banteng itu.
“ loh aku juga menghitung sama jumlahnya kaya kamu, berarti memang ada 22 ekor, pinter sayangnya aku, nanti aku traktir eskrim ya “ jawab dimas sambil meraih pundak ku dan mencium rambutku, dan aku suka,
hatiku memang sedang berbunga- bunga, perasaan ku meluap- luap bahagia, aku ingin menikmati saat –saat berdua dengan dimas, karena ketika kami kembali ke Jakarta aku tidak tahu apakah kami masih bisa berduaan, apakah hubungan ini akan berlanjut , aku tidak mau banyak berharap.
Dimas masih merengkuh pundak ku ketika kami masih sama- sama menikmati gerakan banteng-
banteng yang berlarian.
Menjelang siang kami masih explore TN alas purwo, kamimenuju ke pantai pancur, di sekitar pantai ini juga disediakan camping ground, kami hanya sebentar explore di pantai ini, kemudian kami pulang untuk kembali
ke hotel.
__ADS_1