
Sesampainya di Jakarta aku mengambil cuti 2 hari , pak agus langsung acc dia malah
memberiku bonus untuk 2 hari itu karena berhasil menyelesaikan pekerjaan dengan
baik di Kalimantan.
Sore hari ini team hore ke rumah ku, dan bisa dibayangkan pulang kerja mereka
langsung ke rumahku dengan muka- muka kelaparan, untung aku dan ibu sudah masak
dan beberapa aku pesan via online, stock harus banyak mengingat mereka adalah
manusia- manusia yang doyan makan.
“ halooo Ibu, Ayah “ sapa Indah yang langsung menyalami takzim ibu dan ayah ku,
dan berhambur memeluk ku, “ kangeeeeeennnn “. Ita dan rosi juga melakukan hal yang sama, tanpa intruksi
dari tuan rumah mereka sudah menuju meja makan dan mengagumi serta menikmati
hidangan, mereka juga sudah sangat paham dimana letak alat makan tersedia,
pokoknya kalau untuk urusan makan mereka seperti punya insting tajam, hahahaha
tapi aku sangat menyayangi mereka.
Selepas makan, kami semua kumpul di kamar ku, karena kami akan lebih lepas bercerita
supaya ibu bapak tidak mendengarnya. “ hai fay gimana project mu disana, lancar
? “ Tanya rosi, dan aku tahu ini adalah pertnyaan basa- basi karena selepas ini
temen2 ku ini akan bertanya hal- hal yang lebih private, “ project lancar, kami
bisa kelarin sebelum target yg di kasih sama bos “ jawabku. “ hhhmmm terus kamu
sama dimas gimana , apa yang terjadi dengan kalian ? , lu nggak ada update sih
selama disana, sok sibuk banget sih lu “ ita berseloroh, “ signal nggak banget
disana, klo dimas….galau nih gue….” Gumam ku .” kenapa galau , lu mulai ada
rasa sama dia ya ? atau bertepuk sebelah tangan ?” Indah sudah menyimpulkan
__ADS_1
dengan amat kejam. “ jujur iya gue mulai ada rasa sama dia, tp yang lebih bikin
gue shock , kalian tau nggak sih , dimas itu ternyata anak presdir, dia
menyamar jadi staff biasa dengan alasan supaya bisa belajar dari basic, konyol
nggak sih ?, dan dia itu ya selama disana, ini yang gue sebel, care banget sama
gue, kan bikin gue salah paham, tapi begitu tau dia anak presdir dan pewaris
perusahaan bokapnya, gue langsung tahu diri lah, tapi gue nggak suka dia bohong
kan , nyembunyiin identitasnya “ cerocosku dengan berapi- api, Indah , ita rosi
agak melongo dengan penjelasanku. “ hah!! Dia anak presdir ? omaygat huhuhu
masa depan cerah sekali…” Indah bergumam tak jelas sembari memegang tangan ku,
“ apaan sih lu, lebay ah, tahu diri lah gue, umur kita selisih belasan tahun
coy, dia bisa dapat yang lebih muda dengan modalnya, nggak lah belum tentu juga
dia suka sama gue, realistis aja lah coy” jawab ku. Perbincangan hangat kami
berlangsung 2 jaman dan terhenti dengan panggilan telpon dari vico , anaknya rosi
setelah melepas kepulangan mereka, aku kembali masuk ke kamar ku, membersihkan
kamarku dari huru hara team hore, dan menyiapkan beberapa berkas yang harus
kubawa besok, cuti telah usai, lumayan lah 2 hari ini untuk melepas penat dan menata hati.
Masuk kantor, aku langsung menuju meja kerjaku, ku lirik meja dimas kosong “ hai bu
fay, kapan kembali , mana oleh- oleh kami ? “ dwy sudah berdiri dibelakangku,
aku menyerahkan 1 paperbag besar ke arahnya, “ nih sharing ya “ ujarku,
” yuhuuuuuu, teman- teman ada buah tangan dari bu bos nih, yuk lah diserbu, rest
room ya “ teriaknya sambil membawa paperbag ku ke ruang dapur yang biasa kami
sebut rest room. Dimas muncul diruangan , dia melirik ku sekilas sambil menuju
__ADS_1
ke meja kerjanya. Aku sudah menata hati untuk tampil biasa saja seperti tidak
terjadi apa- apa dengan kami.
Aku dan dimas harus membuat laporan hasil project kami, aku memanggilnya, dan
menanyakan laporan yang sudah dia buat, dengan santai aku menuju mejanya,
“ Dimas laporan project sudah jadi ? kalau sudah kirim ke aku ya ,
nanti aku cek dan tambahkan dengan punya ku ", aku berdiri di depan mejanya, dimas
memandangku sambil tersenyum memamerkan lesungnya,
entah kenapa aku menangkap rindu dimatanya “ baik bu, nanti saya kirim “ jawabnya.
“ oke, aku tunggu, terimakasih “ jawabku sambil meninggalkan mejanya
dan berlalu ke rest room, aku butuh kopi.
Setelah jam makan siang pak agus memanggil kami, aku sudah menyiapkan laporannya, dan
dengan percaya diri melangkah ke ruangan direksi, dimas ternyata sudah berdiri
di meja sekretaris, dia melihatku sembari tersenyum, ku balas sekenanya saja.
Kami masuk ke ruang direksi, dimas tidak seperti sebelumnya yang hanya diam, saat
ini dia lebih mendominasi “ halo pah, bu fay sudah tahu aku siapa, jadi its okay pah, kita bisa discuss
seperti biasa saja “ dimas memberi informasi ke pak agus,
“ oh begitu, baiklah, fay tolong bantu dimas ya, kalau perlu kamu tegur , tegur saja tidak usah
sungkan, dia perlu belajar banyak hal dari mu “ pak agus berbicara sambil melihat ku dengan serius,
“ baik pak, pak dimas cepat adaptasi pak, dan saya yakin beliau sudah banyak bekal teorinya , tinggal dipraktekan saja “ jawab ku jujur,
memang yang aku lihat dimas cerdas dan cepat menguasai lapangan, dimas
memandangku lekat ketika aku memberikan penilaian padanya, lalu kami terlibat
diskusi panjang mengenai project di Kalimantan, dimas kuberi kesempatan mempresentasikan
__ADS_1
project kami, pak agus menyimak dengan puas, beliau sepertinya bangga sekali
dengan dimas.