FAY, CINTA YANG KEMBALI

FAY, CINTA YANG KEMBALI
kembali ke laptop


__ADS_3

Sesampainya di Jakarta aku mengambil cuti 2 hari , pak agus langsung acc dia malah


memberiku bonus untuk 2 hari itu karena berhasil menyelesaikan pekerjaan dengan


baik di Kalimantan.


Sore hari ini team hore ke rumah ku, dan bisa dibayangkan pulang kerja mereka


langsung ke rumahku dengan muka- muka kelaparan, untung aku dan ibu sudah masak


dan beberapa aku pesan via online, stock harus banyak mengingat mereka adalah


manusia- manusia yang doyan makan.


“ halooo Ibu, Ayah  “ sapa Indah yang langsung menyalami takzim ibu dan ayah ku,


dan berhambur memeluk ku, “ kangeeeeeennnn “. Ita dan rosi juga melakukan hal yang sama, tanpa intruksi


dari tuan rumah mereka sudah menuju meja makan dan mengagumi serta menikmati


hidangan, mereka juga sudah sangat paham dimana letak alat makan tersedia,


pokoknya kalau untuk urusan makan mereka seperti punya insting tajam, hahahaha


tapi aku sangat menyayangi mereka.


Selepas makan, kami semua kumpul di kamar ku, karena kami akan lebih lepas bercerita


supaya ibu bapak tidak mendengarnya. “ hai fay gimana project mu disana, lancar


? “ Tanya rosi, dan aku tahu ini adalah pertnyaan basa- basi karena selepas ini


temen2 ku ini akan bertanya hal- hal yang lebih private, “ project lancar, kami


bisa kelarin sebelum target yg di kasih sama bos “ jawabku. “ hhhmmm terus kamu


sama dimas gimana , apa yang terjadi dengan kalian ? , lu nggak ada update sih


selama disana, sok sibuk banget sih lu “ ita berseloroh, “ signal nggak banget


disana, klo dimas….galau nih gue….” Gumam ku .” kenapa galau , lu mulai ada


rasa sama dia ya ? atau bertepuk sebelah tangan ?” Indah sudah menyimpulkan

__ADS_1


dengan amat kejam. “ jujur iya gue mulai ada rasa sama dia, tp yang lebih bikin


gue shock , kalian tau nggak sih , dimas itu ternyata anak presdir, dia


menyamar jadi staff biasa dengan alasan supaya bisa belajar dari basic, konyol


nggak sih ?, dan dia itu ya selama disana, ini yang gue sebel, care banget sama


gue, kan bikin gue salah paham, tapi begitu tau dia anak presdir dan pewaris


perusahaan bokapnya, gue langsung tahu diri lah, tapi gue nggak suka dia bohong


kan , nyembunyiin identitasnya “ cerocosku dengan berapi- api, Indah , ita rosi


agak melongo dengan penjelasanku. “ hah!! Dia anak presdir ? omaygat huhuhu


masa depan cerah sekali…” Indah bergumam tak jelas sembari memegang tangan ku,


“ apaan sih lu, lebay ah, tahu diri lah gue, umur kita selisih belasan tahun


coy, dia bisa dapat yang lebih muda dengan modalnya, nggak lah belum tentu juga


dia suka sama gue, realistis aja lah coy” jawab ku. Perbincangan hangat kami


berlangsung 2 jaman dan terhenti dengan panggilan telpon dari vico , anaknya rosi


setelah melepas kepulangan mereka, aku kembali masuk ke kamar ku, membersihkan


kamarku dari huru hara team hore, dan menyiapkan beberapa berkas yang harus


kubawa besok, cuti telah usai, lumayan lah 2 hari ini untuk melepas penat dan menata hati.


Masuk kantor, aku langsung menuju meja kerjaku, ku lirik meja dimas kosong “ hai bu


fay, kapan kembali , mana oleh- oleh kami ? “ dwy sudah berdiri dibelakangku,


aku menyerahkan 1 paperbag besar ke arahnya, “ nih sharing ya “ ujarku,


” yuhuuuuuu, teman- teman ada buah tangan dari bu bos nih, yuk lah diserbu, rest


room ya “ teriaknya sambil membawa paperbag ku ke ruang dapur yang biasa kami


sebut rest room. Dimas muncul diruangan , dia melirik ku sekilas sambil menuju

__ADS_1


ke meja kerjanya. Aku sudah menata hati untuk tampil biasa saja seperti tidak


terjadi apa- apa dengan kami.


Aku dan dimas harus membuat laporan hasil project kami, aku memanggilnya, dan


menanyakan laporan yang sudah dia buat, dengan santai aku menuju mejanya,


“ Dimas laporan project sudah jadi ? kalau sudah kirim ke aku ya ,


nanti aku cek dan tambahkan dengan punya ku ",  aku berdiri di depan mejanya,  dimas


memandangku sambil tersenyum memamerkan lesungnya,


entah kenapa aku  menangkap rindu dimatanya “ baik bu, nanti saya kirim “ jawabnya.


“  oke, aku tunggu, terimakasih “ jawabku sambil meninggalkan mejanya


dan berlalu ke rest room, aku butuh kopi.


Setelah jam makan siang pak agus memanggil kami, aku sudah menyiapkan laporannya, dan


dengan percaya diri melangkah ke ruangan direksi, dimas ternyata sudah berdiri


di meja sekretaris, dia melihatku sembari tersenyum, ku balas sekenanya saja.


Kami masuk ke ruang direksi, dimas tidak seperti sebelumnya yang hanya diam, saat


ini dia lebih mendominasi “ halo pah, bu fay sudah tahu aku  siapa, jadi its okay pah, kita bisa discuss


seperti biasa saja “ dimas memberi informasi ke pak agus,


“ oh begitu, baiklah, fay tolong bantu dimas ya, kalau perlu kamu tegur , tegur saja tidak usah


sungkan, dia perlu belajar banyak hal dari mu “ pak agus berbicara sambil melihat ku dengan serius,


“ baik pak, pak dimas cepat adaptasi pak, dan saya yakin beliau sudah banyak bekal teorinya , tinggal dipraktekan saja “ jawab ku jujur,


memang yang aku lihat dimas cerdas dan cepat menguasai lapangan, dimas


memandangku lekat ketika aku memberikan penilaian padanya, lalu kami terlibat


diskusi panjang mengenai project di Kalimantan, dimas kuberi kesempatan mempresentasikan

__ADS_1


project kami, pak agus menyimak dengan puas, beliau sepertinya bangga sekali


dengan dimas.


__ADS_2