
Kami sama- sama membisu di mobil, aku enggan berbicara dengan dimas, aku marah karena tadi mencegat perjalanan pulangku dengan pak albert, sudah jelas- jelas dia sepertinya tidak mau pulang tadi.
Dimas mampir ke warung langganan kami untuk membeli 2 bungkus nasi goreng untuk dibawa
pulang, dia tidak menawari ku, mungkin dia akan tahu kalau aku pasti menolaknya,
aku sedang tidak mood meladeni dimas.
Sampai di mess aku langsung masuk ke kamar, ku kunci kamar ku ,
ku rebahkan badan ini yang sedari tadi aku agak menahan pusing ,
mugkin karena efek sakitku yang belum terlalu pulih,
kan dokter bilang kemungkinan efeknya akan berangsur hilang dalam 3 hari,
pintu kamar ku di ketok- ketok dari luar, agak malas aku beranjak untuk membukanya,
ku lihat petugas penginapan yang biasa jaga malam “ kenapa pak ? “ Tanya ku,
“ pak dimas bilang ibu disuruh makan, sudah disiapkan di meja makan. “ ,
“ oh ya pak, nanti saya akan keluar, terimakasih pak. “ jawabku sambil tersenyum ramah.
Tiba- tiba gawai ku berbunyi , ada chat dari team hore , oh ya selama di malinau sini
signal hp ku agak lemah, jadi kami jarang sekali berhubungan karena chat akan
masuk delay dan agak sulit melakukan panggilan telpon.
“ Woiiiii yang nun jauuhhh disana bersama pria idaman, kapan pulang luu, kangen nih. “ Indah bertanya,
sudah kubayangkan wajah innocentnya, aku senyum- senyum sendiri sambil
membalas chatnya, ku tinggal mandi setelah membalas karena aku yakin chat ku
akan masuk ke gawai mereka besok pagi.
Selesai mandi dan berganti pakaian, aku keluar kamar,
kulihat meja makan kosong dan hanya menyisakan sebungkus nasi goreng yang dibeli dimas tadi dan teh hangat, aku lihat kamar dimas agak terbuka, aku paksakan untuk makan, aku tidak mau berdebat dengan dimas jika
menolak makanan yang sudah dibelinya, selesai makan aku masuk ke kamar,
__ADS_1
minum obat ku dan tertidur tidak lama kemudian.
Keesokan paginya, aku sengaja memilih sarapan yang singkat, roti tawar dan segelas susu low fat,
dimas sepertinya masih membisu, kubiarkan saja, toh project akan segera kelar
dan aku tidak perlu berlama- lama berduaan dengan dia.
Seperti kemarin setelah morning meeting hari ini dimas langsung melesat ke lapangan,
khusus hari ini aku juga terjun ke lapangan, aku harus memastikan finishing
selesai dengan baik, beberapa staff lain mendampingi ku sembari masing- masing
memberi penjelasan, aku cukup puas dengan kinerja mereka.
Kulihat dimas sedang berbicara dengan pak albert tidak lama kemudian dia pergi meninggalkan pak
albert, aku menghampiri pak albert, aku masih penasaran dengan sikap pak albert
yang sepertinya sangat hormat dengan dimas.
" hHalo pak albert, bagaimana untuk finshingnya ? , apakah sudah sempurna ? “,
laporan dari teamnya, beliau tersenyum kepadaku sambil menjawab
“ 99% saya pikir sudah sempurna bu, team kali ini yang diterjunkan sangat compatible
semua, tidak salah pak agus mengirim ibu dan pak dimas, dan saya pikir ini
project awal yang bagus untuk pak dimas bisa belajar sebelum dia memegang
secara penuh perusahaan ini, “ , aku terkaget- kaget dengan jawaban dan
informasi yang meluncur dari pak albert, hah!!! sebelum dimas memegang secara
penuh perusahaan ini ?? kusembunyikan rasa kaget ku, supaya bisa bertanya lebih
jauh ke pak albert , “ Pak albert sudah lama ya ikut pak agus, saya mendapat
info bapak adalah orang paling lama yang bekerja untuk penempatan disini. “ Tanya ku
“ iya sejak pak dimas masih usia 10 tahun, saya sudah ikut pak agus. “ ,
__ADS_1
what ?? kalau dari penjelasan pak albert, jelas bahwa dimas adalah anak pak agus, ya
kan ??? what ??? aku harus tetap stay cool untuk tetap bisa mendapatkan
informasi yang lengkap, “ pak dimas itu anak yang keberapa pak ?” tanya ku
sambil menjaga raut wajahku agak terlihat tidak shock dengan penuturannya,
“ dia anak ke 3 , lelaki satu- satunya, selama ini dia lebih banyak di luar negeri ,
dan baru beberapa bulan ini kembali untuk membantu ayahnya meneruskan
perusahaan ini, itu kenapa dia dikirim kesini. ”, oohh jadi begitu alasannya, hah
aku harus membikin perhitungan dengan dimas, sambil menelaah semua penuturan
pak albert aku permisi pergi menuju ruangan ku kembali. Aku masih shock dengan
apa yang baru saja kudengar, kata- kata" pantesan dia sewaktu ketemu paka agus seperti acuh tak acuh …..,
pantesan fasilitas yang didapatkan disini sangat baik….pantesan…..pantesan……”
bermain- main di pikiran ku, ingin rasanya chat team hore, tapi signal di project sini lebih parah,
itulah kenapa kami menggunakan handy takly disiniuntuk berkomunikasi jarak jauh.
Dimas masuk ke ruangan , aku melihatnya dengan tatapan tajam, dia melihat ku sebentar
kemudian kembali membuang pandangannya, dari tatapan matanya sepertinya dia
kaget dengan tatapan tajam ku yang tidak seperti biasanya,
aku benar- benar harus menjaga jarak dengan makhluk satu ini, dia adalah putra satu- satunya pak
Agus brata pemilik beberapa perusahaan di indonesia,
kenapa dia menyembunyikan identitas aslinya, apa saja yang sudah dia serap selama berpura- pura menjadi admin di kantor, adakah staff lain yang ghibahin perusahaan, dan kebetulan dimas
mendengarnya, hwaaaa apakah dwy harus kuberitahu masalah ini? Oh tidak aku tidak boleh gegabah dulu soal ini.
__ADS_1