
Akhir pekan ini aku ingin dirumah saja menikmati kebersamaan ku dengan ayah dan ibu,
ibu tadi memberitahu ku kalau temannya masa SD akan datang berkunjung dan
beliau sibuk mempersiapkan makanan untuk menyambut kawan lamanya.
Jam 2 sore yang dinanti datang, tante hartin, begitulah ibu memperkenalkannya kepadaku,
tante hartin datang tidak sendiri dia membawa serta putranya yang mengantarkan
beliau, dan tebak siapa putranya itu, dia arka team bogor yang satu kerjaan denganku sebelumnya,
aku tertawa terbahak- bahak karena tidak menyangka akan bertemu arka di rumahku sendiri,
setelah makan siang yang telat aku dan arka memisahkan diri ke halaman belakang karena ibu dan tante hartin berbicara dengan topic masalalu mereka, aku dan arka roaming mendengarkannya.
“ gimana kabar nya kakak ? kayanya nyaman nih di tempat kerja baru ?” arka membuka
obrolan kami, “ ya lumayan lah, dapat pengalaman baru yang lebih menantang, gimana
kabar disana ?” tanyaku ke arka “ dari pak agus sakit sedikit drop , karena tapuk pimpinan ada di Singapore dua- duanya kan, sekarang pak dimas udah comeback, semoga menggeliat kembali , dia kan masih muda semangat masih tinggi jadi kita harapkan bisa lebih maju lagi perusahaannya.”, ku tatap arka , d
ia tidak kalah manis dari dimas, mungkin usia mereka sama, arka ini pembawaannya kalem, kalau
sudah mau ngomong kadang konyol dan kocak juga, orang yang menyenangkan.
Setelah pertemuan di rumahku arka jadi sering chat dan ngajak ketemuan,
sesekali aku sanggupi untuk bertemu sekedar makan malam bersama,
seperti hari ini dia menjemput ku dan mengajak makan malam di sebuah restaurant bersama- sama dengan rio team bogor lainnya, ketika memasuki restaurant aku secara random melihat sekeliling
untuk membantu arka mencari tempat, secara tidak sengaja ku lihat sosok dimas bersama seorang gadis,
dia tidak melihatku, tiba- tiba arka sudah menarik tangan ku ke table yang sudah ditunjuk oleh seorang waitress, mau tidak mau aku menuruti ajakannya, untungnya posisi kami bertiga saat ini tidak hanya ada aku dan arka, meskipun kadar cintaku ke dimas sudah berkurang tetap saja hati ini sakit melihat dia berduaan dengan wanita lain, dan sialnya rio melihat dimas , “ loh itu pak dimas kan, sama siapa itu, pacarnya kali ya, eh dia lihat kita loh .” duuhh rio ini emang bener- bener deh, aku pura- pura cuek sambil menikmati minuman didepanku sampai
aku tak sadar jika aku menyeruputnya sampai tandas dan menimbulkan bunyi,
arka dan rio seketika melihat ku , “ haus banget keliatannya bu fay “ mereka tertawa
bersamaan, aku ikut tertawa bersama mereka, mencoba berpura- pura baik- baiksaja.
Dan dimas pasti juga melihat jika aku ada disana, kami menyelesaikan makan malam kami dan bergegas pulang,
aku pura- pura tidak melihat ketika arka dan rio melambai ke arah dimas, akuhanya melirik sekilas ke arahnya, dimas menatapku.
Ku pikir kisah cintaku dengan dimas telah usai, aku akan menjalani hari- hari
seperti biasa kembali, terkadang weekend kuhabiskan dengan team hore, berkumpul
dengan mereka membuatku terhibur. Arka semakin gencar mendekatiku, apalagi dia
tahu rumah ku ada saja alasannya untuk datang ke rumah dengan dikaitkan dengan
mamahnya, yang mengantar makanan lah, mengantar mamahnya ke rumahku, aku
__ADS_1
sendiri masih belum mau membuka diri, aku sedang tidak berselera menjalin hubungan.
Hari ini arka dan keluarganya datang ke rumah ku, mungkin ibu memang mengundang seluruh sedikit banyak keluarga arka hari ini. Ibu menghampiri ku ke kamar, aku sedang asyik membaca novel pearl s buck pavorit ku,
“ fay, ibu mau bicara serius sama kamu…” aku beringsut melihat ibu yang ku lihat memang sedang
serius. “ kenapa sih bu, serius amat, ibu hamil ?” ibu melempar bantal ke arah ku sambil tertawa,
kami kadang agak susah untuk saling serius. “ arka dan keluarganya mau datang, kamu tahu nggak mereka mau apa ? “ “ ya nggak lah bu, emang fay cenayang, kan temen ibu, emang ibu ngadain apa sih ? koq sampe harus
keluarganya ikut semua ?” Tanya ku ke ibu,
“ mereka tuh mau ngelamar kamu fay ?” “ WHAT??!!! , ini beneran ? kenapa mereka nggak tanya fay dulu,
kenapa langsung gini sih bu ? fay gak mau gini caranya , apa- apan sih arka nih , aku telpon dia dulu .” ,
ku raih gawai untuk menelpon arka. “ halo “ arka menjawab telpon ku,
“ arka ini ibu koq kasih tahu aku kalau kamu mau datang ke rumah ngelamar ? bener nggak ya ? “,
Tanya ku ke arka, arka terdiam, tak lama kemudian aku dengar helaan nafas dari sebrang sana,
“ hmm….. sebenernya bukan ngelamar sih kak, cuma mau tahu lebih dekat dan nembak kamu, aku mau kamu tahu keseriusan ku , jadi aku gak main- main untuk nembak aja aku bawa mama papa, kamu keberatan ya, aku
minta maaf kalau tidak discuss dulu di awal, soalnya aku juga bingung mau ngomongnya,
maaf ya…ini kita belum berangkat koq, kalau kamu keberatan aku bisa cancel dan bicara baik- baik dengan mama papa, gak ada masalah, how ? “ arka mencoba menjelaskan “ tapi ar, ini mendadak banget, kamu juga aneh deh, kenapa juga nggak ngomong dulu sih, kemarin- kemarin kan kita ketemu., hhm….aku gak enak
juga sama tante hartin kalau ujug- ujug di cancel, ya udalah kamu kesini aja, nanti kita lihat gimananya, tapi ingat ya bukan lamaran ya.” Aku sedikit mengancam arka “ iya- iya , gak ada lamaran, ini istilahnya di naikin aja sama
mama ku , kamu tenang aja, aman , gak usah takut aku uda siap dengan semua keputusan koq, namanya juga usaha kan.” Arka mencoba menenangkan ku.
“ ibu nih sama tante hartin yang istilahnya gak bener ….” Ku hampiri ibu dan mencubit sayang pipi ibu,
“ laahh tante hartin bilangnya gitu koq sama ibu, makanya ibu heran koq kamu
santai- santai aja, gak persiapan gimana gitu, tapi fay coba dipikirkan….jangan
terlalu keras dengan dirimu sendiri ya sayang.” Ibu mencium pucuk rambutku sambil berlalu keluar dari kamar ku.
Aku terdiam membayangkan arka, jadi memang benar arka suka sama aku,
filling ku bener ternyata. Aku gamang , karena aku nyaman dengan arka tapi aku nggak ada perasaan sama sekali, tapi arka berani untuk mendatangkan orang tuanya , dia serius.
Jam yang dinanti tiba, arka datang dengan kakak perempuan dan mama papanya,
aku sedikit berdandan dan berpakaian rapi untuk menyambut mereka. Arka kelihatan berbeda hari ini,
dia mencukur rapi rambutnya, tertata dengan apik , klimis sekali dan pakainnya
tidak kalah rapi dengan ku, dia tersenyum kepadaku, manis sekali senyumnya, aku
membalas sekenanya, aku membiarkan 2 keluarga tersebut berbincang- bincang,
sampai ibu memanggil ku untuk bergabung, aku duduk di samping ibu dan sialnya
__ADS_1
di sebrangku arka, “ jadi begini ibu dan bapak harto kedatangan kami disini untuk menemani arka menemui nak fay, katanya sih kita disuruh jadi saksi kalau arka mau nembak nak fay, gitu istilah anak sekarang untuk mengungkapkan suka , bukan begitu ya ar ?” , papa mengedipkan mata ke arah arka, sepertinya keluarga
mereka sangat kompak dan aku mulai menyukainya.
Aku membuka omongan sebelum arka menyampaikan keinginannya,
“ sebelum saya minta maaf menyela arka om dan tante juga kakak, ijinkan saya memperkenalkan diri saya sebelum arka melangkah lebih jauh, kalau menurut istilah tak kenal maka tak sayang, nama saya fayana nandita harto, biasa di panggil fay, usia saya dan arka ini terpaut jauh, mohon untuk dapat digaris bawahi usia saya,
saya anak ke 3 dari 5 bersaudara, adik saya paling kecil sudah meninggal, dan saat ini adik dan kakak
yang masih ada sudah menikah dan tinggal diluar kota semua, dan ibu bapak saya adalah beliau,
mungkin itu yang dapat saya sampaikan, saya harap bisa menjadi refrensi keluarga om dan tante dan arka khususnya, demikian waktu saya kembalikan ke arka ".
Aku lega telah menyampaikan semua itu, aku tidak mau mereka tidak tahu latar belakang terutama usiaku yang terpaut jauh dengan arka. Arka tersenyum sebelum berkata, “ saya arka ingin berterimakasih dengan keluarga
om dan tante harto yang sudah menerima kami dengan baik hari ini,
memang seperti yang sudah disampaikan papa kalau beliau ini menemani saya kesini,
dan saya juga mencatat apa yang sudah di sampaikan oleh fay,
sebelumnya saya juga sudah mencari tahu latar belakang yang sudah disampaikan tadi dan sudah
mendiskusikan dengan keluarga jadi sudah menjadi bahan pertimbangan saya juga,
tapi saya tetap dengan tujuan saya yaitu nembak istilahnya , fay saya suka sama
kamu, dan orang tua kita adalah saksinya saya menyatakan ini, semoga kamu
terima perasaan saya ini dan semoga saya tidak bertepuk sebelah tangan, aku
nggak minta kamu menjawab sekarang , setidaknya jangan biarkan saya menunggu
lama.” Arka menutup ucapannya, aku sebenarnya geli dengan situasi ini,
tapi aku tidak memungkiri kalau aku juga bahagia. Aku menjawab arka “ beri aku waktu 7
hari ya ar…” arka tersenyum mengangguk, aku tersipu melihatnya, yang lain ikut
tersipu, kami mengakhiri pertemuan ini dengan makan bersama,
masakan ibu ku danaku juga ikut membantu tadi, semua proses pertemuan berlangsung hangat dan lancar.
Setelah mereka pulang, ibu dan bapak memberi ku petuah singkat yang selalu berakhir dengan kata- kata,
“ jangan terlalu keras dengan dirimu sendiri, berdamailah.”, aku tersenyum dan meminta undur diri ke kamar.
Di dalam kamar aku seperti mimpi, masih belum percaya kalau arka menembak ku bersama keluarganya,
ini belum pernah terjadi di hidupku, ada laki-laki yang belum masuk ke hatiku berani menembaku dengan keluarganya, ini tidak main- main, arka serius dengan ku, apalagi yang aku tunggu,
bukankah ini yang aku mau, yang jelas dan pasti- pasti saja, apalagi yang harus kupertimbangkan?.
Aargghhh arka terlalu cepat , kenapa dimas tidak bisa seperti arka.
__ADS_1
Aku masih punya waktu 7 hari, aku harus mencari jawaban pada Tuhan, hanya Dia yang mampu
membantuku.