
Hari ini aku ditugaskan merangkap sebagai marketing untuk melakukan visit ke supplier
dan itu adalah kantor ku yang dulu, bos bilang aku pasti akan lebih paham
strategi untuk memenangkan tender ini, aku harus mendemokan product ku dengan mereka.
Dan sekarang aku sudah di Panca Brata, perusahaan dimana aku bekerja selama 5 tahun.
Aku melangkah ke ruang meeting besar untuk menemui client,
ketika aku masuk, aku sudah melihat team purchasing, team pelaksana lapangan
yang pastinya ada arka dan direktur yang pastinya adalah dimas, aku sudah
filling akan bertemu mereka dan karena posisiku adalah marketing maka
penampilanku hari ini memang diharuskan menarik, aku tampil cantik hari ini,
rekan- rekan yang ikut dalam demo ini berbinar- binar melihat ku,
“ Hai halo selamat pagi bapak dan ibu semua “ sapaku kepada mereka, aku membungkuk memberi
hormat kepada mereka semua, ketika sampai di arka, dia tersenyum manis sekali,
aku sedikit berdebar, dimas hanya melihat ku sekilas membalas anggukan ku.
Aku menyelesaikan prosentasiku dengan sesi tanya jawab, disini dimas sangat kritis
sekali bertanya dan untungnya aku bisa menjawab semua yang ditanyakan sampai dengan selesai.
Aku masih mengemas tas ku ketika ku lihat dimas dan arka tidak beranjak dari tempat
duduknya, dimas tiba- tiba mengintruksikan arka untuk keluar terlebih dahulu
karena ada yang ingin dibicarakan dengan ku, “ aku minta waktunya sebentar ya,
kita ketemu di ruanganku, bisa ?” Tanya dimas kepadaku, aku meliriknya hatiku
masih ada debaran , dimas agak kurusan sekarang, “ bukannya tadi sudah semua
pertanyaan disampaikan pak ? atau bapak mau langsung open PO ?” tanyaku ke dimas dengan pandangan menggoda khas marketing, aku tidak mau dimas mengajak diskusi diluar pekerjaan,
dimas menatapku nanar, dia seperti ingin membaca pikiran ku,
aku sendiri tidak mau terjebak dengan hubungan ini, aku balas menatap dimas,
“ mohon maaf sebelumnya saya hanya melayani diskusi masalah pekerjaan pak dimas, karena
saya harus secepatnya kembali ke kantor, pekerjaan saya menunggu, bagaimana?”,
aku telah selesai mengemas barang- barangku dan bersiap pergi,
“ oke kelihatannya anda sibuk, nanti malam saja saya ke rumah anda bu “, aku menoleh kaget ke
dimas “ ngapain ke rumah ku dim ? kamu mau membicarakan apa ? “ , aku menatap
tajam ke dimas “, " kenapa ? aku nggak boleh main ke rumah kamu, cuma arka yang
boleh main ya ? kalian ada hubungan apa sampai arka sering ke rumah mu ?”, aku
kaget demi mendengar perkataan dimas “ kamu jadi penguntit ku sekarang, dan kamu kenapa ngurusin orang yang datang ke rumah ku dim ? mau kamu tuh apa sih dim ? “, aku mencoba mengontrol emosiku,
“ dim, aku sedang tidak banyak waktu hari ini untuk membahas ini, lagi pula aku
pikir hubungan kita sudah selesai dim , terimakasih, permisi".
Aku keluar meninggalkan ruang meeting dan segera melangkah memasuki lift menuju tempat
parkir, dimas benar- benar sudah membuatku marah, untung aku memakai supir ,
kalau tidak bisa tidak focus nyetir aku. Kenapa dimas seperti ini, dia tidak
fair, apa haknya melarang- larang siapapun yang mau datang ke rumah ku, dan
untuk apa dia mengawasi ku.
__ADS_1
Hari ini sehabis bertemu dengan dimas aku tidak bisa konsen, aku memutuskan untuk pulang
on time, sebelum magrib aku sudah sampai rumah, baru selesai mandi ibu menemui
ku di kamar “ faya, ada tamu katanya mau ketemu kamu, namanya dimas , dia uda
nunggu sejak kamu masuk mandi tadi loh, tumbenan kamu mandi lama banget, sana
temuin dulu .” ibu melangkah keluar dari kamarku, hhmmm dimas beneran datang,
aku malas dandan, ku temui saja ala kadarnya, aku berlalu menemui dimas,
kulihat dia masih pakai pakaian kerja yang tadi dikenakan, dia menatapku dari
bawah sampai atas, aku mengernyitkan dahi melihatnya “ kenapa dim, koq aneh
gitu lihatnya “ , “ nggak apa- apa baru lihat kamu pakai pakaian rumahan gini,
lebih relaks lihatnya” aku memang hanya menggunakan kaos oblong yang
kelonggaran dan celana santai selutut. “ ada apa kamu kemari ? mau ngelanjutin
yang tadi ?” cecarku ke dimas, dimas membuang nafas “ iya, kamu uda makan? Aku
lapar makan yuk ? gak usah jauh- jauh pinggir jalan juga gak apa- apa.” ,
kasihan juga lihat dimas kelaparan dan anak satu ini paling nggak betah
kelaparan , masa- masa bersama di malinau aku tahu kebiasaannya yang gak kuat
nahan lapar “ sebentar aku pamit ibu dulu “ tak lama kemudian aku keluar dengan
membawa tas kecil, dimas membukakan pintu untuk ku, ku tunjukkan pedagang kaki
lima yang kurasa dimas bisa menikmatinya, pecel ayam, dimas suka itu.
Dimas pesan 3 porsi, 2 untuknya dan 1 untukku, kami sedikit nostalgia sewaktu di
malinau itu adalah porsi yang biasa kami pesan.
pernah jajan seperti ini, dimas makan dengan lahapnya, sesekali dia menatapku
dan tersenyum “ aku jadi ingat jaman kita di malinau, tapi sambelnya masih enak
ini ya, ya nggak sih ? “ aku refleks menjawab “ iya lah di malinau kan kita
sampai bingung dengan sambal yang kita rasain, jenis sambal apa itu , untung
ayamnya enak bumbunya khas dan meresap sampai dalam “, seperti tidak pernah
terjadi apa- apa dengan kami, kami sejenak melupakan hubungan kami dan
menikmati makan pecel ayam, selesai makan dimas membelikanku eskrim dan kita
duduk- duduk santai di taman dekat rumah, “ dim, langsung ke intinya aja , kamu
mau njelasin apa ke aku ? kamu selama ini nguntit aku ? “ dimas menikmati
eskrimnya sebelum menatap ku “ entah ya , aku gak bisa lepas dari kamu, tapi
aku juga sadar kalau aku tidak bisa memberikan kepastian ke kamu, hidup ku
sedikit crowded setelah kepergian ayah, mungkin aku egois tapi aku nggak mau
kehilangan kamu, hhmm…kamu berhubungan dengan arka ?” tanya dimas,
“ kemarin arka dan orangtuanya datang nembak aku, mama arka adalah teman ibuku itu kenapa
arka jadi sering kerumahku, cuma dia saat ini yang serius dengan ku, aku minta
waktu seminggu ke arka buat jawab dia ”, dimas mendekati ku,
“ kamu cinta sama arka ?”, aku tahu dia ingin melihat kejujuran dimataku, “ cinta….aku tidak tahu
arti cinta sekarang dim, bukannya dicintai akan lebih baik , arka mencintaiku,
__ADS_1
mungkin aku bisa belajar mencintainya/', jelasku ke dimas dan dia harus tahu
jika aku telah menjawab dengan jujur. “ aku juga bingung dengan perasaanku, aku
gak bisa sehari aja nggak ingat kamu, makanya aku suruh orangku buat ngikutin
kamu, setidaknya kamu nggak kasih kabar ke aku tapi aku tahu kamu dimana dan
baik- baik saja, maaf ya aku terpaksa melakukan itu, tapi di lain sisi aku pun tidak
bisa memberi kepastian kepadamu, kondisi ku saat ini belum bisa untuk berpikir
menikah, ternyata aku tidak tahu kalau perusahaan rintisan ayah banyak, mau
pecah kepalaku rasanya, aku belum bisa menunjuk perwakilan yang menurutku bagus,
jadi sehari terkadang aku cuma tidur 2-3 jam, karena malamnya aku melayani
perusahaan rintisan ayah yang lain, aku minta maaf…aku harus belajar merelakan
mu dan tidak cemburu kepadamu, tapi kenyataannya sulit kamu tahu wanita yang
dinner dengan ku waktu kamu dinner dengan teman- teman, dia adalah sepupuku jauh
yang baru pulang dari Amsterdam, mamah berusaha menjodohkan ku dengan dia, tapi
aku tidak bisa dan tidak mau, jadi malam itu aku jelaskan ke dia posisiku saat
ini dan menunjuk ke arahmu kalau itu adalah wanita yang aku cinta tapi sulit
aku miliki…” , dimas mencoba menjelaskan tentang wanita yang saat itu bersamanya.
Aku beranjak dari duduk ku “ sudah malam dim, pulang yuk, kamu masih banyak
pekerjaan kan, kamu berusaha lah dim lupakan aku, aku juga sedang berusaha
melupakanmu.”, dimas ikut beranjak “ kenapa rumit urusan cintaku ya, aku harus
memilih diantara karir dan urusan cinta, aku takut jadi gak ada gairah untuk
menikah karena aku uda capek dengan urusan kerjaan ".
Dimas mengikuti langahku, kami sama- sama terdiam berdua berjalan menjauhi taman menuju mobil, jika
berdekatan dengan dimas seperti ini aku lemah dan merindukannya,
aku harus menahannya, supaya dimas juga tidak goyah.
Karena dekat lima menit mobil sudah sampai di depan rumah, aku menoleh ke dimas, dimas memandangku,
“ terimakasih ya, sudah mau meluangkan waktu buat aku, mulai besok aku tidak akan menyuruh
orang untuk mengikutimu, mulai besok aku akan belajar tidak memikirkanmu, tolong terima ini, disimpan buat kenang-kenangan , aku nggak pernah kasih kamu apa- apa karena kamu selalu menolak,
tapi yang ini tolong diterima ya dan maaf kalau selama ini aku yang tidak bisa tegas, egois,
aku hanya bisa mencintai mu dengan caraku tapi belum bisa dengan caramu”, aku tersenyum , terharu dengan kata- kata dimas, ku peluk dimas, dimas memeluk ku erat , aku melonggarkan pelukanku dan berpaling darinya
untuk membuka pintu mobil dan keluar melangkah ke dalam rumah, aku tidak
menoleh lagi.
Aku menutup pintu rumah, dan menarik nafas dalam, ada sesuatu didalam
dada ini, seperti ingin meledak, aku tahu aku masih mencintai dimas.
Keesokannya aku seperti merasa ada yang hilang, tak bergairah, apakah harus
kupaksakan menerima arka dan menyudahi drama ini ?, bingkisan dari dimas aku
buka, ternyata cincin yang dulu pernah di pesannya sewaktu kami berlibur ke
banyuwangi, ternyata cincin ini buat aku, bukan untuk sepupunya, kutaruh lagi
ditempatnya dan kusimpan.
__ADS_1