
Tidurku lelap sekali , menjelang magrib aku baru terbangun,
aku melangkahkan kaki ke kamar mandi, selesai mandi aku keluar kamar
menuju restaurant hotel untuk makan malam, aku melihat dimas sudah selesai
makan dan sedang menikmati kopinya, aku memilih makanan dan menempati meja
kosong menjauhi dimas, aku membuka gawaiku yang sudah 2 hari tidak aku
aktifkan, banyak sekali chat dan panggilan masuk.
Kubuka satu persatu sambil menikmati makan malamku,
sampai aku tidak sadar jika dimas sudah duduk manis didepanku,
masih belum selesai memeriksa chat ku ada panggilan masuk,
nomertidak dikenal dan aku tidak pernah mengangkat nomer yang tidak dikenal,
aku mengabaikan panggilan tersebut dan meneruskan melihat list chatku,
aku menengadahkan pandanganku dan baru tersadar jika dimas duduk didepanku, “ Hai “
dia menyapaku, kujawab “ hai “ aku diam kembali,
“ bagaiman cara supaya kamu ada waktu buat melihatku ?” ,
aku mendongak melihat dimas, hatiku bergetar, aku selalu bergetar jika ketemu
dimas, “ ada apa dim ? aku sedang tidak mau diganggu dan ingat aku sudah
bersuami” Ujarku .
Ku habiskan segera makan malam ku dan segera beranjak dari
duduk ku, dimas mengejarku, tapi dia tertinggal ketika aku sudah buru- buru
menekan tombol lift, aku membuang nafas lega karena tidak harus satu lift dengan dimas,
pintu lift terbuka , aku melangkah menuju kamarku, belum sempurna aku menutup pintu,
seseorang sudah ikut masuk ke kamarku, dimas berdiri membelakangi pintu sambil mengambil nafas,
“ kamu tega sekali membiarkan aku naik tangga darurat buat ngejar kamu “ ,
aku masih terpaku dengan keberadaan dimas, dimas maju mendekatiku dan reflek aku
mundur sampai tubuhku bertemu dengan dinding dan tidak bisa lagi mundur,
dimas semakin maju dan bibirnya sudah menyentuh bibirku, aku berontak tapi tenaga
dimas lebih kuat, dia begitu liar “ dim, kamu kenapa, lepasin nggak , atau aku
teriak .” , dimas sepertinya tidak memperdulikan ancamanku ,
“ dim, tolong jangan seperti ini….” Aku melemah dan mulai menikmati cumbuan dimas,
aku merindukannya, perlahan dimas meregangkan pegangannya,
aku membalas ciumannya, tangan dimas sudah mulai bergerilya
menyentuh ke bagian sensitifku.
Sampai dimas membawaku ke ranjang tempat tidur,
aku pasrah malam ini karena aku juga meninginkanya,
kami bergumul dengan kerinduan dan kesedihan yang mendalam,
aku ingin memiliki dimas seutuhnya malam ini, ku raba semua tubuh dimas,
begitupun dengan dimas, kami melakukannya sampai beberapa kali, dan terlelap karena
kelelahan.
Pagi hari aku terbangun, dimas sedang menatapku sambil menopangkan
kepalanya dengan sebelah tangannya. Aku menatap dimas, dimas tersenyum menatap
ku, dan meraih ku ke dalam pelukannya, “ Dim, kenapa menyusulku ?”, tanyaku
sambil memeluknya erat, “ entah ya , aku seperti di tuntun untuk mengikutimu
kesini, padahal seharusnya aku sedang sibuk mengurus persiapan pernikahanku,
__ADS_1
keinginan kuat untuk mengikutimu terjadi begitu saja.”, dimas memeluk ku erat,
dan mulai menyusuri bibirku lagi, kami terbuai kembali dalam hubungan
terlarang, aku dan dimas tidak melanjutkan trip dari tour and travel ,
kami melakukan trip sendiri, aku dan dimas terbuai 2 hari di banyuwangi,
“ Dim, apa yang sudah kita perbuat 2 hari ini salah, salah besar, ketika ada masalah
dengan suamiku bukan seperti ini pelariannya, kamu juga ketika akan menikah
seharusnya tidak melakukan ini dim “ aku menatap dimas, “ ini hanya akan
menyakiti kita berdua kan dim .” meskipun tidak ku pungkiri aku menikmatinya
dan tidak merasa menyesal, dimas menggenggam tanganku menariknya di bibirnya,
mengecupnya sekilas sambil berujar ,
“ aku pun menikmati 2 hari ini bersamamu, aku tidak menyesalinya, jika kedepannya
ada resiko yang harus aku tanggung aku akan menanggungnya dan aku akan
bertanggung jawab fay, kamu jangan takut, aku bertanggung jawab penuh atas apa yang nanti akan terjadi ",
dimas meyakinkanku. “ jalani pernikahan mu ya dim, semoga kamu bisa mendapatkan
kebahagiaan yang lebih lagi “. kami mengakhirinya dengan kusuruh dimas kembali ke kamarnya,
kami sepakat seolah- olah ini tidak pernah terjadi,
dalam hatiku berkata jika kelak ada masalah karena hubungan ini aku tidak akan mengganggu dimas.
Keesokannya kami berpisah di bandara, dimas memelukku sebelum kami berpisah,
“ I love you…” dimas mengucapkan kata perpisahannya.
Aku melangkah pergi meninggalkan dimas.
Aku pulang kembali ke rumah, arka belum pulang kerja ketika
aku sampai dirumah.
tidak seperti sebelumnya.
Sambil menunggu arka pulang, aku memasak untuk makanm malam,
tidak lama kemudian kudengar mobil arka masuk.
Seminggu tidak ketemu arka, kulihat tubuhnya kurus, dan kusut,
arka menatapku, aku balas menatapnya.
Arka datang dan memelukku, kubiarkan dia memelukku karena memang hanya dia yang
berhak atas aku, arka tahu aku tidak membalas memeluknya,
dia meregangkan pelukannya dan menatap ku,
“ mandi ar, makan malam sudah siap, nanti kita baru bicara.”, arka melangkah pergi,
aku merasa sedikit bersalah dengannya karena telah berselingkuh dengan dimas 2 hari
kemarin, itu sangat tidak dibenarkan, tapi apa yang dilakukan dimas juga tidak
benar, hal krusial dalam sebuah hubungan suami istri dia simpan sampai selama ini,
dan membiarkan aku selama setahun seperti orang bodoh yang berharap keturunan,
ketika dia menggauliku hanya itu harapanku.
Aku menemani arka makan, aku menjalankan kewajibanku sebagai istri,
arka selalu menikmati masakanku, dia seharusnya menjadi suami yang sempurna,
orang yang setahun ini telah membantu merubah statusku dan membantuku terhindar
dari pertanyaan- pertanyaan saudara- saudara ketika berkumpul, apakah semua itu
harus tertutup hanya karena arka mandul ?, aku terus berpikir sampai tidak mendengar
arka memanggilku , aku mendongak dan menatap arka yang berada di sebrang ku, “
hhmm, kenapa ?”, tanyaku, “ kamu ngelamun ya ? maaf ya, kamu harus melewati situasi
__ADS_1
seperti saat ini ", arka membuka pembicaraan, aku menatap arka,
“ ar, maaf ya kemarin aku pergi, aku kaget dengan pegakuan kamu,
memang itu bikin aku bingung dengan perasaanku,
aku kecewa, aku seperti membuang waktu selama setahun ini ketika kamu menggauliku,
karena setiap kita melakukan itu harapanku adalah keturunan, kamu tahu itu
ar.”, arka menunduk, dia seperti tidak punya daya dihadapanku,
kami berbincang santai di teras belakang, deep talk ini memang yang sedang kami butuhkan saat ini,
“ Maafkan aku, aku hanya takut kalau kamu tahu kamu pasti akan ninggalin aku kak,
tapi ketika batas mu telah mentok, aku rasa aku harus berkata jujur.” , aku menghela nafas
mendengar penjelasan arka, perlahan aku menjelaskan ke arka tentang perasaan dan
kegundahanku, akupun harus jujur tentang hal ini,
“ Ar...aku sebelum menikah denganmu sebenarnya aku pernah
berhubungan dengan dimas, kami pernah dekat walaupun tidak lama, sampai
akhirnya kami putus,” aku lihat arka agak kaget tetapi kemudian menyuruhku
untuk meneruskan ceritaku,
“ aku tidak pernah berhubungan lagi sampai akhirnya
ketemu di acara gathering kantor mu, kemarin aku pergi ke banyuwangi,
aku ingin menenangkan diri kesana, aku ikut tour ke ijen,
dan tidak disengaja aku ketemu dengan dimas, dia juga mengikuti tour yang sama,
kondisiku yang sedang tidak stabil mudah sekali dimasuki oleh dimas,
kami menghabiskan hari- hari kami disana ar, dan kami juga tidur bersama….”
Lirih aku mengakhiri ceritaku, arka memandangku sedih,
tatapannya sungguh menusuk, “ aku tahu ar, aku sudah menghianati hubungan kita, dengan alasan
apapun tetap aku salah, ar….dan aku menerima konsekuensinya…”,
arka menatapku kaget, tangannya saling mencengkeram,
menahan marah dan sedih, aku belum pernah melihat arka seperti ini,
“ kamu membalasku dengan berselingkuh?! “, arka bertanya dengan sorot mata yang sulit aku terjemahkan,
“ nggak ar, itu bukan balas dendam, aku sudah mengakui aku salah,
aku terima konsekuensinya, kalau kita melanjutkan ini, kita hanya akan saling
menyakti ar, aku tahu konsekuensinya, kamu tahu dimas juga akan menikah kan,
aku bahkan sudah berpikir jika nanti karena hubungan itu akan ada janin di rahimku dan dia
harus lahir tanpa seorang ayah, aku pun sudah siap ar….”, arka terkesiap mendengar penjelasanku,
“ aku tidak akan menceraikan mu, jika kamu hamil, aku yang akan bertanggung jawab,
aku pernah salah dan kamu juga pernah salah, kita perbaiki bersama,
aku mencintai kamu dan tidak akan melepaskan mu. “ arka menggengam tangan ku,
“ ar, kamu yakin keluarga mu ,keluargaku bisa menerima keputusan ini ? “ Tanya ku ,
“ kita yang menjalaninya, asal kita bahagia mereka harus bisa menerima,
aku rasa sudah tidak perlu ada yang harus kita bahas lagi masalah ini.” Arka pergi meninggalkan ku,
ku lihat dia berjalan ke kamar tamu.
Biarlah dia sendiri dulu, kami butuh berpikir sendiri ,
pembicaraan ini sungguh berat, tapi kami belum pernah seterbuka ini selama ini.
Aku pergi ke kamar, lelah sekali rasanya, ingin kurebahkan tubuh ini,
dan aku terlelap sampai pagi.
__ADS_1