
Kami makan dalam diam, dan cepat- cepat
menyelesaikannya, ku biarkan dimas yang ke kasir, kan dia bosnya, kami
melanjutkan perjalanan dan ketika sampai team disana masih rehat, jadi kami
menunggu dahulu. Aku dan dimas duduk di satu ruangan yang disediakan, untungnya
aku membawa laptop jadi bisa kusambi bekerja daripada salah aku berusaha untuk
bersikap senormal mungkin di depan dimas. Dimas asyik dengan gawainya, dan
kurang ajarnya dia berpindah duduk dari samping ku ke depan ku, dia sengaja
menggeser kursinya ke sebrang meja ku, aku yang berlagak cuek akhirnya
mengangkat wajahku untuk melihatnya, dimas agak gelagapan ketika aku menangkap
basah dia sedang menatapku, “ kenapa pak ngeliatin saya, kalau bapak nggak
sibuk mungkin bapak bisa keluar ruangan saja daripada mengganggu kinerja staff
bapak yang sedang bekerja “ ujar ku, dimas cengengesan masih tetap memandang ku
“ sorry ya aku agak capek nyupir 3 jam lebih tadi dan anehnya kalau aku lihat
kamu seperti ini capek ku seperti berkurang “ , dimas bener- bener kurang aja
“ dim, apa sih maksud kamu, bisa nggak sih kamu nggak usah bertingkah aneh- aneh kaya gitu, aku nggak suka, dan gak usah ngegombal dengan ku, aku bukan gadis seusiamu yang mungkin masih bisa kamu
kasih gombalan- gombalan mu, usia ku jauh diatas mu, kamu bahkan lebih layak
jadi anak ku “ cerocosku dengan marah. Dimas melongo atas ucapan ku, aku hanya
ingin dimas realistis bahwa usia kita memang selisih jauh. “ hai, apa ada yang
salah dengan usia dan perasaan ? apa salah kalau ada manula yang menikahi
seorang gadis yang usianya beda puluhan tahun bahkan ? salah yang seperti itu ?
kamu nggak bisa bicara seperti itu , ..” ucapan dimas terhenti karena pintu
diketuk dari luar dan masuk beberapa team yang akan meeting dengan kami. Dengan
sikap professional seolah- olah tidak terjadi apa- apa dengan kami aku dan
dimas langsung memimpin meeting dan berdiskusi, setelahnya kami menuju lapangan
untuk memantau progress pekerjaan mereka, tidak terasa malam berlalu dan jam 10
malam kami baru selesai dengan team di lapangan, ku lihat dimas sudah sangat
lelah, ketika masuk ke ruang meeting kembali dia merebahkan tubuhnya di kursi
panjang yang ada disitu “ aku kayanya nggak sanggup buat nyetir sampai ke
Jakarta dan aku juga gak akan bolehin kamu nyetir, kita menginap aja dulu di
sini, besok kita masih bisa short meeting untuk final project dan siangnya
kembali ke Jakarta, how ?” dia meminta persetujuan ku. “ oke “ kujawab singkat.
Kulihat dia menelpon seseorang untuk mengaturkan hotel untuk kami berdua. Setelahnya
ku dengar dengkuran halus dari dimas , dia tertidur, aku tahu hari ini sangat
menguras tenaga dan pikiran, dimas workaholic jadi dia maunya selesai sekaligus
tidak ada yang tertunda. Ku pandangi ketika dia tertidur, aku punya kesempatan
menatapnya lebih lama, mencoba memahami pertengkaran kita siang tadi yang belum
terselesaikan “ kenapa ngeliatin saya bu , kalau ibu nggak sibuk bisa keluar
ruangan jangan ganggu tidur saya “ tiba- tiba dimas berbicara masih dengan mata
terpejam , sialan!! Bathinku. Reflex ku lempar dia dengan pulpen yang sedang
kupegang. Dimas bangun dan tersenyum menatap hangat kepadaku , jangan Tanya
wajahku sudah seperti kepiting rebus , jika ada lubang untuk sembunyi aku akan
__ADS_1
berlari ke bagian terdalam lubang itu “ hayuk kita ke hotel , aku terlalu lelah
untuk membahasnya malam ini “ ajaknya , sampai di hotel dimas ke resepsionist,
aku masih mengekor dibelakangnya seperti anak yang mengikuti langkah ayahnya,
aku terlalu malu untuk berhadapan dengan dimas. “ bad news, kita cuma dapat 1
kamar double bed, linda pikir Cuma aku yang stay dan kamu pulang, dia cuma
pesen 1 kamar saja, dan full booked saat ini “ , “ aku akan cari hotel lain
saja via aplikasi “ jawab ku sambil membuka aplikasi pemesanan hotel, dimas
menyela ku “ kamu tahu ini sudah jam berapa, waktu kamu untuk search, ke hotel tujuan itu pun klo dapat , akan habis sampai dinihari, padahal kita cuma ada waktu 5 jam saja untuk rehat, hayolah make it easy, aku juga gak bakalan ngapa2in kamu , atau kamu ikat saja aku di bed kalau kamu takut “ dia memaksa ku dengan
menarik tangan ku ke arah lift, kami sudah sama- sama lelah untuk berdebat, aku
seperti sudah tak bertenaga, di dalam lift kami seperti 2 orang manuasia yang
kekurangan darah, lusuh kuyu dan tak bertenaga.
Masuk ke dalam kamar, dimas sudah menghempaskan tubuhnya ke ranjang dan tidak lama
kemudian terdengar dengkuran halus dari mulutnya, dia sudah tertidur. Aku masuk
ke kamar mandi untuk sekedar membersihkan tubuhku yang seharian ini berkutat
dilapangan yang penuh debu. Masih dengan pakaian kerja yang kupakai aku
merebahkan tubuh ku, risih sebenarnya tidak bisa berganti pakaian, tapi mau
bagaimana, kami tidak tahu jika harus menginap dan tidak ada waktu buat membeli
pakaian ganti, mungkin karena terlalu lelah aku pun tertidur.
Aku membuka mata perlahan, masih belum dengan kesadaran penuh,
sepertinya sudah terang sekali,masih berat mata ini untuk ku ajak melek, samar di bed sebelah
aku menangkap sosok dimas yang menghadap ke arah ku sepertinya dia masih
tertidur, ku buka mataku dan apa ??? dimas sudah terbangun dan kami sama- sama
membelakanginya, aku tak sanggup berlama- lama untuk menatap dimas, dan badan
ini masih belum mau ku ajak bangun. Tiba- tiba dari belakang ada yang memeluk
ku “ sssttt, aku gak mau ngapa- ngapain, please begini saja beberapa menit, I need it “
bisik dimas di telingaku, aneh nya aku tidak menolak, aku diam dan menikmati pelukannya,
apakah aku juga membutuhkannya ? aarrgghhh , biarlah aku melawan ego ku saat ini,
aku bisa merasakan hembusan nafas dimas di tengkuk ku, aku menahan diriku mati- matian
untuk tidak bergerak, mencoba rileks dari ketegangan ini, 10 menit dalam
dekapan dimas, dimas melepas pelukannya sambil berbisik “thanks “, dia berlalu
ke kamar mandi, tidak lama kemudia dia sudah keluar hanya dengan berbalut
handuk dan membiarkan dada telanjangnya, aku menelan saliva melihatnya dan
buru- buru berlalu ke kamar mandi. Di dalam kamar mandi aku terbengong- bengong
dengan situasi yang aku alami saat ini, ingin rasanya tidak beranjak dari kamar
ini, ku tepuk pelan pipi ku , sadar fay sadar, kamu gak boleh terlena, kamu harus
focus, dimas hanya membutuhkan pelukan untuk melepas penatnya, tidak lebih.
Keluar dari kamar mandi dimas sudah rapi hanya dengan menggunakan kaosnya, dia
terlihat lebih santai dan kasual, aku yang masih mengeringakan rambut ku,
mencoba untuk meraih hair dryer disampingnya, “ biar aku bantu mengeringkan rambut
mu “ tawar dimas “ gak perlu, aku bisa sendiri dim “ tolak ku , sembari merebut
hair dryer dari tangannya, tapi karena aku terlalu bernafsu aku gagal menjaga
__ADS_1
keseimbangan tubuhku, aku terjerembab di depan dimas dan dia reflex menangkap
tubuh ku, setelah berhasil berdiri aku mencoba untuk melepaskan diri dari
dimas, tapi lengan kokoh dimas terlalu kuat untuk tidak melepaskan pelukannya,”
dimas, lepasin, maksud kamu apa ? “ dimas semakin erat memeluk ku “ aku…..aku….cinta sama kamu fay…” lirih
dimas berbisik ditelingaku, aku mencoba menahan air mataku dan bertindak tegas
dengan dimas, aku dorong tubuhnya sekuat tenaga, dimas sempoyongan kebelakang
karena dorongan kuat ku, “ dim, aku anggap aku tidak mendengar apa yang kamu
katakan barusan, dan tolong jangan ganggu aku lagi, hubungan kita sebatas
dalam urusan pekerjaan, dimas kamu masih muda, kamu bisa mencari yang sepadan
dengan kamu, fokus saja pada perusahaan yang akan kamu pegang nanti dim! “ teriak
ku ke dimas. Aku bergegas merapikan rambut ku yang masih basah meraih tas ku
dan bergegas keluar dari kamar yang membuatku sesak napas.
Aku menuju ke restaurant untuk sarapan, aku butuh asupan untuk meredam emosiku.
Tidak lama dimas kulihat berdiri di lobi mencariku, aku diamkan dia mencariku,
aku masih malas dengan dia. Selesai sarapan ku susul dimas di lobi, dia melihat
ku kemudian berdiri dan melangkah ke parkiran, dia melewatkan sarapannya, kami
tidak jadi kembali ke proyek lagi , dimas memacu mobilnya menuju Jakarta
melalui tol dengan kecepatan yang tinggi, aku agak ngeri tapi ku tahan untuk
diam saja meskipun aku tidak mau mati konyol. Dimas menurunkan ku di depan
rumah, dia tidak menurunkan ku di kantor , padahal jam masih menunjukkan jam
14.00, jam kerja ku masih belum selesai, tapi sudahlah toh dia bosnya, dia
lebih berhak mengatur jam kerjaku.
Aku masuk ke kamarku , bergegas mandi dan berganti pakaian, hmm tapi mungkin ini
maksud dimas membawaku pulang, karena aku belum berganti pakaian.
Dimas nembak aku, dan secara tidak langsung aku telah menolaknya, itulah yang
terjadi, apakah aku menyesal ? entahlah, aku butuh curhat dengan team hore.
Sorenya aku dan team hore berkumpul di rumah Indah, ku ceritakan kejadian kemari di
bogor, “ fay, lu gak bisa nyalahin perasaan dimas ke elo hanya karena kalian
beda usia, lu gak bisa ngelarang dimas buat suka ke elo, ini perasaan fay, gak
bisa lu atur- atur “ rosi mencoba memberi pengertian kepadaku. “ bener tuh kata rosi, lagian ya apa ada undang-
undang yang melarang pasangan beda usia belasan tahun gak boleh menikah ? , kan gak
ada undang- undangnya “ ita menimpali, “ fay lu juga nggak bisa terus- terusan
melawan perasaan lu buat nggak suka sama dimas, kenyataannya lu juga suka sama
dia, kalian saling menyukai, yuk dibikin simple aja, masalah proses nanti
kedepannya ya kalian harus hadapi, cinta juga butuh perjuangan coy…’ Indah bijak sekali kali ini,
dari mereka aku paham, bahwa aku gak bisa melarang dimas buat suka sama aku, aku juga nggak
bisa melarang perasaanku buat suka sama dimas, aku hanya minder, aku gak mau
prosesnya nanti kami terhadang hanya karena perbedaan usia , perbedaan derajat
, karena aku bukan hanya berhubungan dengan dimas, tetapi juga dengan
keluarganya, begitu juga dengan dimas terhadap keluargaku, banyak hal yang aku
khawatirkan, atau mungkin bisa dibilang aku tidak mau sakit pada saat proses
__ADS_1
nanti.