FAY, CINTA YANG KEMBALI

FAY, CINTA YANG KEMBALI
cinta yang tertahan


__ADS_3

Kami makan dalam diam, dan  cepat- cepat


menyelesaikannya, ku biarkan dimas yang ke kasir, kan dia bosnya, kami


melanjutkan perjalanan dan ketika sampai team disana masih rehat, jadi kami


menunggu dahulu. Aku dan dimas duduk di satu ruangan yang disediakan, untungnya


aku membawa laptop jadi bisa kusambi bekerja daripada salah aku berusaha untuk


bersikap senormal mungkin di depan dimas. Dimas asyik dengan gawainya, dan


kurang ajarnya dia berpindah duduk dari samping ku ke depan ku, dia sengaja


menggeser kursinya ke sebrang meja ku, aku yang berlagak cuek akhirnya


mengangkat wajahku untuk melihatnya, dimas agak gelagapan ketika aku menangkap


basah dia sedang menatapku, “ kenapa pak ngeliatin saya, kalau bapak nggak


sibuk mungkin bapak bisa keluar ruangan saja daripada mengganggu kinerja staff


bapak yang sedang bekerja “ ujar ku, dimas cengengesan masih tetap memandang ku


“ sorry ya aku agak capek nyupir 3 jam lebih tadi dan anehnya kalau aku lihat


kamu seperti ini capek ku seperti berkurang “  , dimas bener- bener kurang aja


“ dim, apa sih maksud kamu, bisa nggak sih kamu nggak usah bertingkah aneh- aneh kaya gitu, aku nggak suka, dan gak usah ngegombal dengan ku, aku bukan gadis seusiamu yang mungkin masih bisa kamu


kasih gombalan- gombalan mu, usia ku jauh diatas mu, kamu bahkan lebih layak


jadi anak ku “ cerocosku dengan marah. Dimas melongo atas ucapan ku, aku hanya


ingin dimas realistis bahwa usia kita memang selisih jauh. “ hai, apa ada yang


salah dengan usia dan perasaan ? apa salah kalau ada manula yang menikahi


seorang gadis yang usianya beda puluhan tahun bahkan ? salah yang seperti itu ?


kamu nggak bisa bicara seperti itu , ..” ucapan dimas terhenti karena pintu


diketuk dari luar dan masuk beberapa team yang akan meeting dengan kami. Dengan


sikap professional seolah- olah tidak terjadi apa- apa dengan kami aku dan


dimas langsung memimpin meeting dan berdiskusi, setelahnya kami menuju lapangan


untuk memantau progress pekerjaan mereka, tidak terasa malam berlalu dan jam 10


malam kami baru selesai dengan team di lapangan, ku lihat dimas sudah sangat


lelah, ketika masuk ke ruang meeting kembali dia merebahkan tubuhnya di kursi


panjang yang ada disitu “ aku kayanya nggak sanggup buat nyetir sampai ke


Jakarta dan aku juga gak akan bolehin kamu nyetir, kita menginap aja dulu di


sini, besok kita masih bisa short meeting untuk final project dan siangnya


kembali ke Jakarta, how ?” dia meminta persetujuan ku. “ oke “ kujawab singkat.


Kulihat dia menelpon seseorang untuk mengaturkan hotel untuk kami berdua. Setelahnya


ku dengar dengkuran halus dari dimas , dia tertidur, aku tahu hari ini sangat


menguras tenaga dan pikiran, dimas workaholic jadi dia maunya selesai sekaligus


tidak ada yang tertunda. Ku pandangi ketika dia tertidur, aku punya kesempatan


menatapnya lebih lama, mencoba memahami pertengkaran kita siang tadi yang belum


terselesaikan “ kenapa ngeliatin saya bu , kalau ibu nggak sibuk bisa keluar


ruangan jangan ganggu tidur saya “ tiba- tiba dimas berbicara masih dengan mata


terpejam , sialan!! Bathinku. Reflex ku lempar dia dengan pulpen yang sedang


kupegang. Dimas bangun dan tersenyum menatap hangat kepadaku , jangan Tanya


wajahku sudah seperti kepiting rebus , jika ada lubang untuk sembunyi aku akan

__ADS_1


berlari ke bagian terdalam lubang itu “ hayuk kita ke hotel , aku terlalu lelah


untuk membahasnya malam ini “ ajaknya , sampai di hotel dimas ke resepsionist,


aku masih mengekor dibelakangnya seperti anak yang mengikuti langkah ayahnya,


aku terlalu malu untuk berhadapan dengan dimas. “ bad news, kita cuma dapat 1


kamar double bed, linda pikir Cuma aku yang stay dan kamu pulang, dia cuma


pesen 1 kamar saja, dan full booked saat ini “ , “ aku akan cari hotel lain


saja via aplikasi “ jawab ku sambil membuka aplikasi pemesanan hotel, dimas


menyela ku “ kamu tahu ini  sudah jam berapa, waktu kamu untuk search, ke hotel tujuan itu pun klo dapat , akan habis sampai dinihari, padahal kita cuma ada waktu 5 jam saja untuk rehat, hayolah  make it easy, aku juga gak bakalan ngapa2in kamu , atau kamu ikat saja aku di bed kalau kamu takut “ dia memaksa ku dengan


menarik tangan ku ke arah lift, kami sudah sama- sama lelah untuk berdebat, aku


seperti sudah tak bertenaga, di dalam lift kami seperti 2 orang manuasia yang


kekurangan darah, lusuh kuyu dan tak bertenaga.


Masuk ke dalam kamar, dimas sudah menghempaskan tubuhnya ke ranjang dan tidak lama


kemudian terdengar dengkuran halus dari mulutnya, dia sudah tertidur. Aku masuk


ke kamar mandi untuk sekedar membersihkan tubuhku yang seharian ini berkutat


dilapangan yang penuh debu. Masih dengan pakaian kerja yang kupakai aku


merebahkan tubuh ku, risih sebenarnya tidak bisa berganti pakaian, tapi mau


bagaimana, kami tidak tahu jika harus menginap dan tidak ada waktu buat membeli


pakaian ganti, mungkin karena terlalu lelah aku pun tertidur.


Aku membuka  mata perlahan, masih belum dengan kesadaran penuh,


sepertinya sudah terang sekali,masih berat mata ini untuk ku ajak melek, samar  di bed sebelah


aku menangkap sosok dimas yang menghadap ke arah ku  sepertinya dia masih


tertidur, ku buka mataku dan apa ??? dimas sudah terbangun dan kami sama- sama


membelakanginya, aku tak sanggup berlama- lama untuk menatap dimas, dan badan


ini masih belum mau ku ajak bangun. Tiba- tiba dari belakang ada yang memeluk


ku “ sssttt, aku gak mau ngapa- ngapain, please begini saja beberapa menit, I need it “


bisik dimas di telingaku, aneh nya aku tidak menolak, aku diam dan menikmati pelukannya,


apakah aku juga membutuhkannya ? aarrgghhh , biarlah aku melawan ego ku saat ini,


aku bisa merasakan hembusan nafas dimas di tengkuk ku, aku menahan diriku mati- matian


untuk tidak bergerak, mencoba rileks dari ketegangan ini, 10 menit dalam


dekapan dimas, dimas melepas pelukannya sambil berbisik “thanks “, dia berlalu


ke kamar mandi, tidak lama kemudia dia sudah keluar hanya dengan berbalut


handuk dan membiarkan dada telanjangnya, aku menelan saliva melihatnya dan


buru- buru berlalu ke kamar mandi. Di dalam kamar mandi aku terbengong- bengong


dengan situasi yang aku alami saat ini, ingin rasanya tidak beranjak dari kamar


ini, ku tepuk pelan pipi ku , sadar fay sadar, kamu gak boleh terlena, kamu harus


focus, dimas hanya membutuhkan pelukan untuk melepas penatnya, tidak lebih.


Keluar dari kamar mandi dimas sudah rapi hanya dengan menggunakan kaosnya, dia


terlihat lebih santai dan kasual, aku yang masih mengeringakan rambut ku,


mencoba untuk meraih hair dryer disampingnya, “ biar aku bantu mengeringkan rambut


mu “ tawar dimas “ gak perlu, aku bisa sendiri dim “ tolak ku , sembari merebut


hair dryer dari tangannya, tapi karena aku terlalu bernafsu aku gagal menjaga

__ADS_1


keseimbangan tubuhku, aku terjerembab di depan dimas dan dia reflex menangkap


tubuh ku, setelah berhasil berdiri aku mencoba untuk melepaskan diri dari


dimas, tapi lengan kokoh dimas terlalu kuat untuk tidak melepaskan pelukannya,”


dimas, lepasin, maksud kamu apa ? “  dimas semakin erat memeluk ku “ aku…..aku….cinta sama kamu fay…” lirih


dimas berbisik ditelingaku, aku mencoba menahan air mataku dan bertindak tegas


dengan dimas, aku dorong tubuhnya sekuat tenaga, dimas sempoyongan kebelakang


karena dorongan kuat ku, “ dim, aku anggap aku tidak mendengar apa yang kamu


katakan barusan, dan tolong jangan ganggu aku lagi, hubungan kita sebatas


dalam urusan pekerjaan, dimas kamu masih muda, kamu bisa mencari yang sepadan


dengan kamu, fokus saja pada perusahaan yang akan kamu pegang nanti dim! “ teriak


ku ke dimas. Aku bergegas merapikan rambut ku yang masih basah meraih tas ku


dan bergegas keluar dari kamar yang membuatku sesak napas.


Aku menuju ke restaurant untuk sarapan, aku butuh asupan untuk meredam emosiku.


Tidak lama dimas kulihat berdiri di lobi mencariku, aku diamkan dia mencariku,


aku masih malas dengan dia. Selesai sarapan ku susul dimas di lobi, dia melihat


ku kemudian berdiri dan melangkah ke parkiran, dia melewatkan sarapannya, kami


tidak jadi kembali ke proyek lagi , dimas memacu mobilnya menuju Jakarta


melalui tol dengan kecepatan yang tinggi, aku agak ngeri tapi ku tahan untuk


diam saja meskipun aku tidak mau mati konyol. Dimas menurunkan ku di depan


rumah, dia tidak menurunkan ku di kantor , padahal jam masih menunjukkan jam


14.00, jam kerja ku masih belum selesai, tapi sudahlah toh dia bosnya, dia


lebih berhak mengatur jam kerjaku.


Aku masuk ke kamarku , bergegas mandi dan berganti pakaian, hmm tapi mungkin ini


maksud dimas membawaku pulang, karena aku belum berganti pakaian.


Dimas nembak aku, dan secara tidak langsung aku telah menolaknya, itulah yang


terjadi, apakah aku menyesal ? entahlah, aku butuh curhat dengan team hore.


Sorenya aku dan team hore berkumpul di rumah Indah, ku ceritakan kejadian kemari di


bogor, “ fay, lu gak bisa nyalahin perasaan dimas ke elo hanya karena kalian


beda usia, lu gak bisa ngelarang dimas buat suka ke elo, ini perasaan fay, gak


bisa lu atur- atur “  rosi mencoba memberi pengertian kepadaku. “ bener tuh kata rosi, lagian ya apa ada undang-


undang yang melarang pasangan beda usia belasan tahun gak boleh menikah ? , kan gak


ada undang- undangnya “ ita menimpali, “ fay lu juga nggak bisa terus- terusan


melawan perasaan lu buat nggak suka sama dimas, kenyataannya lu juga suka sama


dia, kalian saling menyukai, yuk dibikin simple aja, masalah proses nanti


kedepannya ya kalian harus hadapi, cinta juga butuh perjuangan coy…’ Indah bijak sekali kali ini,


dari mereka aku paham, bahwa aku gak bisa melarang dimas buat suka sama aku, aku juga nggak


bisa melarang perasaanku buat suka sama dimas, aku hanya minder, aku gak mau


prosesnya nanti kami terhadang hanya karena perbedaan usia , perbedaan derajat


, karena aku bukan hanya berhubungan dengan dimas, tetapi juga dengan


keluarganya, begitu juga dengan dimas terhadap keluargaku, banyak hal yang aku


khawatirkan, atau mungkin bisa dibilang aku tidak mau sakit pada saat proses

__ADS_1


nanti.


__ADS_2