
Tanpa sepengetahuan dimas aku mengirimkan CV ku ke perusahaan lain,
aku tidak mau terjebak dengan perasaanku, tidak menunggu lama aku sudah mendapat panggilan
interview dan mereka accept dengan CV ku, bulan depan mereka sudah ingin aku segera bergabung,
aku belum deal dengan negosiasi yang mereka berikan,aku meminta waktu sampai akhir bulan ini ,
aku juga menunggu keputusan dimas, jika dia serius aku tidak akan take kerjaan tempat lain,
tapi jika dia tidak bisa memenuhi keputusanku aku akan take dan pergi dari kehidupan dimas,
dan bulan ini akan berakhir 15 hari lagi, selama dalam penantian itu aku menyibukkan diriku dengan pekerjaan,
aku tidak bisa menyalahkan dimas sepenuhnya jika nanti keputusannya diluar ekspetasiku,
dan aku harus mulai menata hatiku, aku yakin aku bisa,
aku sudah mengalami berbagai macam rintangan dan tantangan dalam menjalin hubungan,
dan aku bisa melewati masa- masa itu sampai sekarang.
Dan 15 hari itu jatuh di hari ini, selama 15 hari itu pula aku dan dimas tidak
saling menyapa dan bertemu, dimas tidak ada berita dan konfirmasi apapun,
jadi aku melanjutkan resignation letterku ke HRD, pak bayu sang manajer HRD sangat
kaget menerima surat tersebut, dia sampai memanggilku secara pribadi,
dan aku sudah siap dengan jawaban atas pertanyaan- pertanyaan klisenya “ bu fay
masalahnya pak agus dan pak dimas sedang overseas trip, tolong tunggu sampai
mereka datang, karena bu fay kan di posisi strategis dalam perusahaan ini, jadi
dikhawatirkan akan mempengaruhi proses dan kinerja perusahaan kita “ ungkap pak
bayu, “ pak bayu sebelum mengajukan ini saya sudah menyelesaikan semua proyek
yang saya tangani dan saya sudah mengatur untuk proyek baru ditangani team lain
sejak awal, supaya tidak ada kendala pak, jadi saya pikir tidak ada masalah
pak.” Jawabku mantap. Karena tidak ada alasan pak bayu untuk menahanku maka aku
__ADS_1
pun bisa langsung menerima pekerjaan baru ku, ketidak beradaan dimas dan pak
agus mempermudah proses ini, tidak adanya kabar dari dimas pun sudah menjawab
semuanya, bahkan dimas overseas trip pun aku tidak tahu. Keesokannya aku
mengadakan farewell party secara sederhana dengan divisiku saja, berat rasanya
meninggalkan mereka, kami sudah 7 tahun bekerja bareng dengan suka dan duka
yang ada, tapi life must go on, kita harus melanjutkan pilihan hidup masing-
masing. Aku melangkah keluar kantor dengan membawa box barang- barang
pribadiku, aku pergi dengan membawa kenangan ku akan dimas juga.
Awal bulan ditempat kerja yang baru, PT KY . Team hore sibuk menanyakan update ku
dengan suasana kerja baru, ku jawab jika sama saja hanya suasana nya baru,
bertemu teman- teman baru, lingkungan baru dan pekerjaan yang berbeda,
sabtu nanti kita akan ngumpul di rumah rosi, anaknya ada yang ultah jadi sekalian
kumpul- kumpul sudah lama juga aku nggak ketemu sama mereka.
mengubur bayangan dimas dari pikiran ku, aku menjadi manager purchasing di tempat baru ini,
hal baru yang harus aku jalani karena sebelumnya aku menangani project pemasangan alat berat,
membawahi 10 orang yang kebanyakan pria, ada 4 wanita di ruangan ini, aku , lia , maria
dan elsi , lumayan tantangan buat aku untuk bernegosiasi dengan para supplier- supplier,
perusahaan ini berskala internasional, jadi terkadang aku harus melakukan overseas trip untuk proses dan pengecekan pembelian, tantangan baru buat aku tentunya.
Tidak terasa sudah 2 bulan aku bekerja ditempat ini, dimas sama sekali tidak ada
kabar beritanya, aku pun tidak berusaha mencari tahu meskipun masih terselip rindu dan penasaran akan kabarnya, terakhir sewaktu aku akan resign dia keluar negri dengan ayahnya,
gawai ku berbunyi, ada chat dari dwy “ pak agus meninggal siang tadi di Singapore “, deg, aku
terdiam…kubalas chatnya “ sakit dwy ? , koq nggak ada kabar sakitnya ya ?” ku klik send,
dwy langsung membacanya dan membalas “ katanya sakit sudah 2 bulan ini bu,
__ADS_1
jenazah akan di terbangkan ke Jakarta besok, office besok off, kita akan ke rumah duka.
Dua bulan….dan itu persis aku resign dari perusahaan yang lama, jadi sewaktu dimas dan pak agus overseas apakah dimas sedang mengantarkan ayahnya berobat? Pikiran ku kacau, aku merasa bersalah, cemas dengan keadaan dimas, dan aku malah meninggalkan dia dan perusahaan yang direkturnya sedang sakit,
tapi mana aku tahu hal semacam itu terjadi, dimas tidak pernah memberitahukan kepadaku, dia tidak pernah klarifikasi apapun kepadaku, sudahlah semua sudah terjadi, besok sebagai penghormatan terakhirku kepada alm pak agus aku akan melayat kesana, selama aku bekerja pak agus sudah baik dan banyak mengajariku tentang banyak hal, aku mengingat ketika awal- awal aku bekerja di perusahaannya,
pak agus banyak membimbing dan mengajariku cara bernegosiasi dengan buyer dan presentasi yang baik.
Suasana rumah duka penuh dengan karangan bunga ucapan duka cita,
jenazah pak agus baru saja tiba, aku melihat dimas berdiri di samping jenazah ayahnya menggunakan
kemeja hitam dan kacamata hitam aku melihat dia agak kurusan,
rombongan keluarga telah memasuki rumah duka, banyak sekali para pelayat berkumpul,
aku bertemu dengan beberapa teman kerja di perusahaan yang dulu.
Aku maju untuk melihat dan memberi penghormatan terakhir ke jenazah pak agus,
aku berdoa didepannya. Setelah itu aku menghampiri dimas untuk mengucapkan belasungkawa
“ ikut berduka ya dim, kamu yang kuat ya…” dimas menatap ku, tatapan yang tidak bisa
aku artikan, aku menggengam erat tangannya dan berlalu pergi untuk memberi
kesempatan kepada yang lainnya.
Seminggu sejak meninggalnya pak agus, aku ingin sekali menghubungi dimas,
aku mencemaskannya, bagaimana kondisinya.
Aku mencoba menelpon nomer lamanya yang masih ku simpan, degdegan juga ,
sudah lama tidak pernah menekan nomer yang dulu sangat akrab dengan ku, ada dering tersambung
dan diangkat “ halo ?” dimas menjawab telp ku, “ hai dim, gimana kabar mu ? sehat ? ,
maaf kalau mengganggu, aku hanya ingin tahu kabar mu saja .” , ada helaan nafas di sebrang sana yang bisa ku dengar “ I’m fine fay, thank you for asking “ jawabnya, aku agak bingung mau bicara apa lagi,
dimas juga terdiam, “ syukurlah kalau kamu baik- baik saja, jaga kesehatan ya, bye dim “ ku akhiri
pembicaraan dan menutup gawaiku, aku terdiam…serasa ingin berlari ke arah dimas dan memeluknya,
kalau sedang suntuk biasanya dimas akan mencuri- curi waktu untuk bertemu dengan ku di ruangannya untuk sekedar memeluk ku sebentar, katanya kalau memelukku pikirannya jadi tenang, ah dimas, aku ingin sekali
__ADS_1
memberikan pelukan kepada mu saat ini…