
Hari ini aku dan dimas stay di mess, dimas memaksa untuk menungguiku seharian ini,
dia melayani ku mulai dari makan sampai minum obat,
soal kerjaan dimas berseloroh “ gak usah mikir kerjaan dulu, sudahberes. “,
“ bagaimana bisa beres, aku dan kamu yang biasa mengkoordinir team
dilapangan saja absen. “ jawabku.
Bangun dari tidur sore ini karena efek obat, aku mendapati dimas pun tertidur dibawah
ranjang ku beralaskan kasur lipat, ku lihat pulas sekali tidurnya,
aku memiringkan posisi tidur ku dan menatapnya, kenapa sekarang ada desir halus
ketika aku ada di dekatnya, ada apa ini, apakah aku menyukai dimas ? oh no, ini
tidak boleh terjadi, usia ku dan dimas terpaut belasan tahun, aku tidak boleh
bermimpi, dimas bisa mendapatkan yang lebih baik dari ku, tanpa ku sadari
dimas membuka matanya dan menatap ku, aku tersadar dan buru- buru memejamkan
mataku, tapi terlambat dimas sudah menangkap basah ketika aku berlama- lama
menatapnya, “ udah ketahuan gak usah pura-pura merem. “ dimas menahan tawa
sambil belum melepaskan pandangannya, aku jengah dan membetulkan posisi
menghadap ke atas “ kamu kenapa tidur disini, aku uda sembuh koq, jadi kamu
bisa pindah ke kamarmu, btw thank you ya uda bantu aku. “
Dimas tidak beranjak dari kasurnya, dia sepertinya menikmati ada dikamarku,
ku lempar bantal ke arahnya “ dimas , kamu pindah ke kamar mu sana, koq malah bengong gitu sih. “ ,
“ biarkan aku sebentar saja disini, nyaman rasanya ada di deket kamu. “ dimas bergumam,
aku terdiam mencoba menelaah omongan dimas, tidak mau kupikir,
kubiarkan saja lah dia tiduran sebentar dikamar ku,
aku tak mau menaruh harapan kepada dimas.
Kulirik dimas tertidur kembali, aku diam- diam bangun dari tidurku
setelah minum obat kondisi badan ku lebih baik,
aku keluar kamar untuk sekedar melihat situasi diluar,
__ADS_1
ketika kembali ke kamar dimas sudah tidak ada, kasur sudah terlipat kembali,
ku longok kamarnya yang sedikit terbuka, sepertinya dia sedang mandi.
Keesokannya aku memaksa untuk masuk kerja,
meskipun dimas memaksa ku untuk beristirahat dulu di kamar,
dalam perdebatan dimas jelas kalah, kan dia junior, hahahaha.
Perjalanan ke tempat proyek dimas lebih banyak diam, sepertinya masih marah kepadaku karena
memaksa masuk kerja hari ini, aku merasa tubuh ku sudah lebih baik, dan bosan
juga di mess.
Sampai office aku bener- bener dicuekin dimas, dia mencatat isi meeting kemudian langsung
ke lapangan mengaplikasikannya dan tidak bertanya seperti biasanya,
aku agak kurang nyaman dan kehilangan dia seharian ini, kepala ku masih sedikit pusing,
jadi aku bertahan hanya duduk dikursi ku saja, sambil mengecek via intercom
dengan team yang dilapangan, aku pantau suara HT pun tidak ada suara dimas
masuk disana, bukannya berpikir soal kerjaan aku malah mikirin dimas seharian
ku dalam hati.
Dimas masuk ruangan menjelang sore dengan peluh di dahinya, aku tahu dia pasti kerja
keras hari ini, ku lirik dia sekilas, ingin rasanya menyodorkan tissue tapi aku
takut ditolak mengingat seharian ini dia melakukan aksi bisu dengan ku,
ku beranikan diri menyodorkan botol air mineral sambil bertanya progress
dilapangan, bukankan memang sudah tugas ku menanyakannya,
“ dim, gimana progress pemasangannya , butuh berapa hari lagi untuk selesai ? “ ,
tanpa melihat ku dimas menjawab pertanyaan ku,
“ kemungkinan besok sudah selesai dan lusa kita bisa balik ke Jakarta. “.
Aku agak heran dengan dimas , awal dulu dia masih sering memanggilku
dengan embel- embel “ bu ” sekarang dia berkamu- kamu,
mungkin dia merasa sudah lebih dekat sebagai teman kerja.
__ADS_1
Ku jawab dimas dengan melirik kepadanya,
“ woo baguslah, setidaknya kita maju 10 hari dari target yang pak agus berikan, good job dim. “.
Dimas tidak bergeming dengan pujian ku, dia tetap konsen melihat
email- email yang masuk di laptop nya, aku melenggang melewatinya dan keluar dari
ruangan, aku merasa sesak di dalam sana dengan diamnya dimas, aku salah apa ya,
apakah dia marah karena aku memaksa berangkat hari ini, aku yang lebih tahu
kondisiku, kenapa dia marah apa haknya, huh menyebalkan.
Aku sudah berkemas untuk pulang kalau- kalau dimas mengajak ku pulang,
ku lihat dia tak bergeming dari meja kerjanya,
padahal sudah hampir jam menjelang magrib dan jalanan disini akan sangat gelap kami harus menerobos perkebunan yang minim lampu penerangan jalan.
Aku nggak bisa mengikuti permainan dimas, aku harus pulang, entah dengan dimas atau
tidak, “ aku pulang duluan kalau kamu masih ingin disini. “
aku melewati dimas sembari memberitahu kepadanya,
aku keluar ruangan dan kulihat beberapa karyawan yang lain sedang berjalan menuju parkiran
untuk mengambil kendaraannya dan pulang, sebagian dari mereka menginap di mess
karyawan yang disediakan disini, aku memberanikan diri meminta tumpangan kepada
mereka , dan lihat, aku berhasil mendapatkan tumpangan yang kebetulan searah ke
mess ku, pak albert adalah penduduk asli malinau sini, dia sudah lama ikut pak
agus bekerja, kebetulan rumahnya melewati mess ku.
Belum jauh meninggalkan kantor, aku melihat mobil dimas melintas dan melewati ku
kemudian berhenti didepan kami, motor yang kutumpangi ikut berhenti disamping mobilnya,
“ loh pak dimas, kenapa pak ? “ tanya pak albert ke dimas
“ oh maaf pak albert penumpangnya biar saya saja yang bawa pak. “ Jawab dimas
“ oh ya baik pak. “ pak albert melirik ku dan mau tidak mau aku
turun dari motor dan pindah ke mobil dimas tak lupa ku ucapkan terimakasih ke pak albert,
tapi ….sebentar…kenapa pak albert memanggil dimas dengan sebutan pak dan dia seperti hormat sekali dengan dimas ya…siapa sebenarnya dimas …aku penasaran.
__ADS_1