
Malamnya dimas mengajak ku dinner di restaurant yang tidak jauh dari hotel kami.
Aku sengaja tampil feminim dengan dress selutut untuk dinner ini,
aku ingin tampil cantik di depan dimas, dimas sudah menunggu ku di lobi hotel.
Keluar dari pintu lift aku celingukan melihat dimas, tanpa kusadari dimas sudah sedari
tadi menangkap kedatanganku sejak keluar pintu lift, aku bersitatap dengan dimas
yang telah berdiri dari duduknya, dia tampil menawan dengan kemeja dan jeansnya
, paduan busana dimas tidak pernah mengecewakan, sepertinya dimas memang
fashionable, dia menggandeng tangan ku sambil tersenyum bahagia.
“kamu cantik malam ini “ dimas memecah kebisuan kami, aku memandang dimas
“ kamu juga ganteng setiap saat dim, gak cuma malam ini kaya aku “ dimas tertawa mendengar perkataan ku, aku ikutan tertawa,
kami ngobrol ngalor ngidul sampai makanan yang kami pesan datang, selesai makan
dimas mengajak ku untuk jalan kaki menyusuri trotoar untuk menuju ke hotel,
“ aku nggak tau pikiran kamu tentang hubungan kita ini, hanya aku melihatnya kamu
seperti terpaksa untuk menyeimbangkan aku “ tiba- tiba dimas membuka
pembicaraan tentang hubungan kami, “ bener nggak sih pikiran ku ? “ Tanya dimas
__ADS_1
sambil menghentikan langkahnya, aku ikut berhenti, kebetulan ada kursi yang
menjadi pemanis trotoar , aku duduk sambil memandang kosong ke arah jalan raya.
“ aku bukan terpaksa menerima dim, aku menikmati kebersamaan kita, aku bahagia banget
bisa traveling sama kamu, bisa quality time sama kamu, tapi aku juga mau realistis dim,
aku gak tahu setelah kita comeback ke Jakarta hubungan ini akan tetap sama,
ini karena disini kita hanya berdua dim, tapi kalau nanti balik ke kehidupan normal kita kamu yakin dim kita mau lanjutin hubungan kita, usiaku sudah bukan untuk pacaran lama dim, kalau kamu mungkin iya, kamu masih muda
dimas, beda masanya, aku hanya sedang mempersiapkan hati aku untuk siap dengan
kemungkinan- kemungkinan itu dim, apa bukannya pesimis dan tidak mau
memperjuangkan hubungan ini sampai akhir, tapi aku kasihan sama kamu, aku gak
belum tentu setuju, karena buat usia seperti aku hubungan adalah melangkah ke pernikahan, as soon as possible, itu resiko mu kalau mau tahu kalo berhubungan dengan cewek yang usianya jauh diatas kamu “ aku panjang lebar berbicara dengan dimas, aku mau dimas realistis dan melihat dari sisi aku, bukan hanya dari
sisinya. “ aku bukan pacaran sama nenek- nenek kan ? kenapa kamu memposisikan sepertinya usiamu jauuuhhh banget sama aku sih ? kenapa kita gak bisa nikmatin aja dulu hubungan yang baru beberapa hari ini ?” ujar dimas kepadaku, suaranya seperti putus asa ". “ itulah dim, bedanya aku sama kamu, so bagaimana kalau kita nikmatin
hubungan ini dengan cara masing- masing, aku ya seperti ini , aku akan ngerecokin kamu pastinya jika suatu saat aku tanya kemana arah hubungan kita ya kamu harus siap, gimana ? take or no ? “ tantangku ke dimas , “ deal “ jawab dimas, kami tertawa bersama, mungkin lebih tepatnya kami mentertawakan hubungan kami.
Aku memeluk dimas, kami melangkah kembali ke hotel, dimas mengantar kan ku sampai pintu kamar, “ boleh masuk nggak ? “ Tanya dimas, aku ragu untuk memperbolehkan dimas masuk, karena takut kalau kami nggak bisa control, tapitoh ketakutan ku kalah dengan tatapan memohon dari mata dimas “ masuklah dim, asal sopan “ ujarku sambil membuka pintu dimas menyusul ku masuk, untung aku termasuk orang yang rapih, jadi pasti kamarku sudah rapih dan tidak ada barang pribadi yang tergeletak, dimas merebahkan tubuhnya di ranjangku,
aku mengambil pakaian untuk tidur, aku mau segera mengganti dressku dengan pakaian tidur yang
lebih santai, aku melangkah ke kamar mandi kubiarkan dimas tergeletak di ranjangku. Keluar dari kamar mandi aku mendengar dengkuran halus dan itu dimas, posisi tidurnya seperti baby pulas sekali, aku nggak tega buat bangunin dia, tapi dia juga nggak bisa tidur disini, gimana ini, aku coba membangunkan dimas
__ADS_1
dengan mengusap- usap rambutnya bukannya terbangun dengkuran dimas semakin
keras, ku goyang- goyangkan tangannya , dimas hanya melenguh sebentar dan tidak
terbangun, aku sudah lelah membangunkan dia lagi, kubiarkan saja dimas,
aku pelan-pelan menuju ke sisi ranjang lainnya untuk merebahkan tubuhku, capek
sekali hari ini, aku juga sudah tak kuat menahan kantukku, ku tutupi tubuh dimas dengan selimut yang sama,
kami akhirnya tertidur bersama, keesokan paginya aku membuka mata, aku lihat dimas masih ada dengan posisi yang berbeda, dia membelakangiku, aku menangkap tubuhnya dari belakang dengan mataku,
aku beranjak mendekatinya kupeluk dimas dari belakang , dimas reflek menarik tangan
ku dan menciumnya “ loh kamu uda bangun dim? “ “ udah lah , barusan, kamu juga membangunkan adik kecilku “ dimas menjawab ku , aku berusaha menarik tangan ku, tapi dimas lebih kuat untuk menahannya
“ biarkan seperti ini dulu, aku nggakakan ngapa-ngapain k amu “ lama kami
saling berpelukan, sampai dimas membetulkan posisi badan untuk menghadapku,
kami saling berhadapan, dimas memajukan wajahnya ke wajahku, bibirnya *******
bibirku lembut, aku tidak bisa menolaknya dan pelan mulai membalasnya, kami
saling berpagut dan melepas secara bersamaan, kelihatan sekali jika kami sama- sama ingin kontrol diri,
aku bangun dari tempat tidur dan melangkah ke kamar mandi sambil bicara dengan dimas “ dim, kamu balik ke kamar mu cepat, kita harus prepared , nanti telat ke Bandara “, ku lihat dimas beranjak dengan enggan,
kami akan kembali ke Jakarta hari ini.
__ADS_1
Sampai di bandara cengkareng aku dan dimas berpisah mengikuti mobil jemputan masing-
masing untuk kembali ke rumah.