
Paginya, kami menikmati sarapan dalam diam, aku masih jengah dengan kejadian semalam,
sepertinya dimas pun mengalami hal yang sama.
Tetapi sebagai senior aku harus professional,
tak lama aku mulai megajak ngobrol dan menanyakan progress alat
pendukung yang akan datang hari ini. “ sparepart hari ini jadi datang kan dim
?”, “ iya semoga gak delay, jadi besok kita bisa mulai persiapan untuk proses pemasangan. “ dimas menjawabku dengan tegas, “ baguslah , semoga bisa cepat selesai, gak perlu sebulan disini. “,
ujar ku sambil mengambil piring sisa makan dimas dan membawanya ke pantry.
Setiap perjalanan pulang pergi ke tempat proyek dimas doyan sekali ngobrol dan
bercerita lucu tentang pengalaman- pengalamannya, aku sering tergelak
karenanya, karena tidak menyangka dimas ternyata bisa juga bercerita.
Setibanya di office kami langsung berjibaku dengan pekerjaan,
aku memimpin meeting untuk mengkoordinasikan beberapa pekerjaan hari ini,
selesai meeting ku lihat dimas langsung beranjak ke luar untuk visit ke lapangan,
dan aku harus mengecek beberapa dokumen,
aku sangat berharap proyek ini bisa selesai dengan cepat dan hasil bagus.
Tidak terasa sudah 10 hari kami di malinau, progress pemasangan alat cukup mengesankan,
team yang tersedia sudah sangat mumpuni dan aku sangat terbantu dengan adanya dimas,
dia cepat belajar dan entah kenapa dia seperti punya aura pemimpin,
hhmmm aku lumayan terpesona,
ahaaaiii, cepat- cepat kubuang lamunanku tentang dimas karena orangnya sudah
ada didepanku. “ pulang yuk. “ ajaknya.
Aku menyiapkan tas dan perangkat laptop untuk kubawa serta
karena nanti malam aku harus laporan ke pak agus untuk progress project kami.
“ Ke Grand dulu ya, aku ada beberapa keperluan yang mau ku beli. “ dimas memecah
kebisuan kami. “ ya boleh, aku juga akan beli beberapa keperluan ku. “ jawabku.
Grand merupakan supermarket yang lumayan lengkap di daerah sini, sampai di
__ADS_1
Grand kami berpencar untuk membeli kebutuhan masing- masing, tanpa janjian kami
mendarat di meja kasir bersamaan, dimas menyambar keranjang belanja ku, “ biar
aku aja yang bayar sekalian. “ , “ gak usah dim, kamu gaya banget sih, biar aku
saja yang bayar, atau kalau nggak kita bayar sendiri- sendiri no debat. “,
aku mencoba meraih keranjang belanjaku, “ dimas kekeuh tidak memberikannya dan diam
stay cool. “ aku yang mulai tidak enak dengan orang- orang di sekitar yang mulai
menikmati debat kami , kulihat seorang ibu berseloroh “ kalau masih pacaran mau
bayar aja rebutan, kalau sudah menikah nanti pura- pura nggak mau tahu siapa
yang mau bayar , hehehhe. “, agak jengah kutinggalkan dimas sendiri di meja kasir,
aku menunggunya diluar toko.
“ Nih belanjaan mu. “ dia menyodorkan kantong belanjaan ku, ku raih sambil
mengecek isinya, aku mencari nota belanja “ notanya mana? aku ganti punya ku. “
tanya ku ke dimas. “ udahlah , next kamu yang bayarin aku. ” jawab dimas sambil
ngeloyor pergi menuju parkiran.
keluar kamar, seperti tidak ada daya untuk melangkah.
Aku chat dimas “ kamu berangkat duluan ya, aku masih agak pusing,
sebentar nanti aku susul pakai ojek. “ , kulihat tanda dimas membaca chat ku,
tiba- tiba pintu kamar ku diketuk,belum sempat aku menjawab kepala dimas sudah nongol,
dia ngeloyor masuk “ kenapa pusing , perlu ku antar ke dokter ? “ tanyanya sambil tanpa permisi
memegang kening ku “ loh panas sekali, kamu demam ya ? , sebentar aku ambil kompres
nanti kita langsung ke dokter. “ , tidak lama dimas kembali membawa wadah air
dan handuk kecil, tanpa ku suruh dia sudah duduk di samping ranjangku dan
terpaksa aku menggeser badan ku, dimas mengompres ku , ada rasa nyaman merasuk
relung ku, entah berapa lama aku tidak pernah merasakan perasaan seperti ini
lagi, cepat- cepat ku tolak perasaan ini. “ sudah kamu berangkat aja, aku bisa
sendiri, kalau nanti aku perlu ke dokter aku bisa pakai ojek. “ seloroh ku.
__ADS_1
Dimas menatap ku dengan tajam “ nggak bisa, aku yang antar,
kondisimu sangat tidak memungkinkan buat jalan sendiri,
begitu panas mu agak reda aku yang akan bawa kamu ke dokter. “
seperti tidak bisa dibantah dimas masih mengompres dan sesekali memegang
kening ku, “ ini sudah lumayan reda, ayo kamu aku anter ke dokter, mau ganti
baju dulu atau seperti ini aja ? “ tanyanya , “ kamu keluar dulu, aku mau ganti
baju. “, usirku . begitu dimas keluar aku masih belum bisa beranjak dari
ranjangku, ku paksakan tubuh ini untuk bangun, aku terduduk lama, sebelum
akhirnya bisa mencapai kamar mandi, ku raih dress seadanya di almari ku,
mungkin karena terlalu lama, dan pintu kamar tidak ku kunci, dimas masuk ketika
aku kesulitan mengancingkan bagian belakang dressku, aku lupa jika dress ini
ada dibagian belakang resletingnya, dimas tanpa ragu membantu ku, kubiarkan saja
dia dibelakangku dengan perlahan mengancingkan dressku, kusibak rambut ku untuk
memudahkannya, “ kenapa dia lama sekali mengancingkannya, uuhhh aku yang tidak
kuat dia terlalu lama berdiri di belakangku, jengah sekali rasanya.
Aku memaksa untuk memutar badanku ini, replek aku sempoyongan karena kepala ku tiba- tiba
pusing lagi, dimas meraih tubuh ku dan memeluknya, aku tidak bisa berontak,
kepala ku memang serasa muter-muter , kubiarkan kepala ku di dadanya, setelah
reda pusing ini, aku menjauhkan kepala ku, dimas memapah ku sampai ke mobil
sampai memasangkan sabuk pengaman, kemudia dia berputar untuk meraih
kemudinya.jarak mess kami ke rumah sakit hanya 10 menit, jadi tidak memakan
waktu lama untuk sampai kesana. Untungnya tidak begitu ramai jadi antrian hanya
menunggu satu orang, dimas ikut masuk ketika namaku di panggil,
dokter memeriksa
ku di ruang periksa, kemudian meresepkan obat, analisa dokter aku kena gigitan
nyamuk, jadi kemungkinan efeknya bisa sampai 3 hari.
__ADS_1