FAY, CINTA YANG KEMBALI

FAY, CINTA YANG KEMBALI
gigitan nyamuk malinau


__ADS_3

Paginya, kami menikmati sarapan dalam diam, aku masih jengah dengan kejadian semalam,


sepertinya dimas pun mengalami hal yang sama.


Tetapi sebagai senior aku harus professional,


tak lama aku mulai megajak ngobrol dan menanyakan progress alat


pendukung yang akan datang hari ini. “ sparepart hari ini jadi datang kan dim


?”, “ iya  semoga gak delay, jadi besok kita bisa mulai persiapan untuk proses pemasangan.  “ dimas menjawabku dengan tegas, “ baguslah , semoga bisa cepat selesai, gak perlu sebulan disini. “,


ujar ku sambil mengambil piring sisa makan dimas dan membawanya ke pantry.


Setiap perjalanan pulang pergi ke tempat proyek dimas doyan sekali ngobrol dan


bercerita lucu tentang pengalaman- pengalamannya, aku sering tergelak


karenanya, karena tidak menyangka dimas ternyata bisa juga bercerita.


Setibanya di office kami langsung berjibaku dengan pekerjaan,


aku memimpin meeting untuk mengkoordinasikan beberapa pekerjaan hari ini,


selesai meeting ku lihat dimas langsung beranjak ke luar untuk visit ke lapangan,


dan aku harus mengecek beberapa dokumen,


aku sangat berharap proyek ini bisa selesai dengan cepat dan hasil bagus.


Tidak terasa sudah 10 hari kami di malinau, progress pemasangan alat cukup mengesankan,


team yang tersedia sudah sangat mumpuni dan aku sangat terbantu dengan adanya dimas,


dia cepat belajar dan entah kenapa dia seperti punya aura pemimpin,


hhmmm aku lumayan terpesona,


ahaaaiii, cepat- cepat kubuang lamunanku tentang dimas karena orangnya sudah


ada didepanku. “ pulang yuk. “ ajaknya.


Aku menyiapkan tas dan perangkat laptop untuk kubawa serta


karena nanti malam aku harus laporan ke pak agus untuk progress project kami.


“ Ke Grand dulu ya, aku ada beberapa keperluan yang mau ku beli. “ dimas memecah


kebisuan kami. “ ya boleh, aku juga akan beli beberapa keperluan ku. “ jawabku.


Grand merupakan supermarket yang lumayan lengkap di daerah sini, sampai di

__ADS_1


Grand kami berpencar untuk membeli kebutuhan masing- masing, tanpa janjian kami


mendarat di meja kasir bersamaan, dimas menyambar keranjang belanja ku, “ biar


aku aja yang bayar sekalian. “ , “ gak usah dim, kamu gaya banget sih, biar aku


saja yang bayar, atau kalau nggak kita bayar sendiri- sendiri no debat. “,


aku mencoba meraih keranjang belanjaku, “ dimas kekeuh tidak memberikannya dan diam


stay cool.  “ aku yang mulai tidak enak dengan orang- orang di sekitar yang mulai


menikmati debat kami , kulihat seorang ibu berseloroh “ kalau masih pacaran mau


bayar aja rebutan, kalau sudah menikah nanti pura- pura nggak mau tahu siapa


yang mau bayar , hehehhe. “, agak jengah kutinggalkan dimas sendiri di meja kasir,


aku menunggunya diluar toko.


“ Nih belanjaan mu. “ dia menyodorkan kantong belanjaan ku, ku raih sambil


mengecek isinya, aku mencari nota belanja “ notanya mana? aku ganti punya ku. “


tanya ku ke dimas. “ udahlah , next kamu yang bayarin aku. ” jawab dimas sambil


ngeloyor pergi menuju parkiran.


keluar kamar, seperti tidak ada daya untuk melangkah.


Aku chat dimas “ kamu berangkat duluan ya, aku masih agak pusing,


sebentar nanti aku susul pakai ojek. “ , kulihat tanda dimas membaca chat ku,


tiba- tiba pintu kamar ku diketuk,belum sempat aku menjawab kepala dimas sudah nongol,


dia ngeloyor masuk “ kenapa pusing , perlu ku antar ke dokter ? “ tanyanya sambil tanpa permisi


memegang kening ku “ loh panas sekali, kamu demam ya ? , sebentar aku ambil kompres


nanti kita langsung ke dokter.  “ , tidak lama dimas kembali membawa wadah air


dan handuk kecil, tanpa ku suruh dia sudah duduk di samping ranjangku dan


terpaksa aku menggeser badan ku, dimas mengompres ku , ada rasa nyaman merasuk


relung ku, entah berapa lama aku tidak pernah merasakan perasaan seperti ini


lagi, cepat- cepat ku tolak perasaan ini. “ sudah kamu berangkat aja, aku bisa


sendiri, kalau nanti aku perlu ke dokter aku bisa pakai ojek. “ seloroh ku.

__ADS_1


Dimas menatap ku dengan tajam “ nggak bisa, aku yang antar,


kondisimu sangat tidak memungkinkan buat jalan sendiri,


begitu panas mu agak reda aku yang akan bawa kamu ke dokter. “


seperti tidak bisa dibantah dimas masih mengompres dan sesekali memegang


kening ku, “ ini sudah lumayan reda, ayo kamu aku anter ke dokter, mau ganti


baju dulu atau seperti ini aja ? “ tanyanya , “ kamu keluar dulu, aku mau ganti


baju. “, usirku . begitu dimas keluar aku masih belum bisa beranjak dari


ranjangku, ku paksakan tubuh ini untuk bangun, aku terduduk lama, sebelum


akhirnya bisa mencapai kamar mandi, ku raih dress seadanya di almari ku,


mungkin karena terlalu lama, dan pintu kamar tidak ku kunci, dimas masuk ketika


aku kesulitan mengancingkan bagian belakang dressku, aku lupa jika dress ini


ada dibagian belakang resletingnya, dimas tanpa ragu membantu ku, kubiarkan saja


dia dibelakangku dengan perlahan mengancingkan dressku, kusibak rambut ku untuk


memudahkannya, “ kenapa dia lama sekali mengancingkannya, uuhhh aku yang tidak


kuat dia terlalu lama berdiri di belakangku, jengah sekali rasanya.


Aku memaksa untuk memutar badanku ini, replek aku sempoyongan karena kepala ku tiba- tiba


pusing lagi, dimas meraih tubuh ku dan memeluknya, aku tidak bisa berontak,


kepala ku memang serasa muter-muter , kubiarkan kepala ku di dadanya, setelah


reda pusing ini, aku menjauhkan kepala ku, dimas memapah ku sampai ke mobil


sampai memasangkan sabuk pengaman, kemudia dia berputar untuk meraih


kemudinya.jarak mess kami ke rumah sakit hanya 10 menit, jadi tidak memakan


waktu lama untuk sampai kesana. Untungnya tidak begitu ramai jadi antrian hanya


menunggu satu orang, dimas ikut masuk ketika namaku di panggil,


dokter memeriksa


ku di ruang periksa, kemudian meresepkan obat, analisa dokter aku kena gigitan


nyamuk, jadi kemungkinan efeknya bisa sampai 3 hari.

__ADS_1


__ADS_2