FAY, CINTA YANG KEMBALI

FAY, CINTA YANG KEMBALI
dimas anak presdir


__ADS_3

Besok kami masih harus datang kembali ke tempat project karena ada acara syukuran


karena pekerjaan kami telah selesai dan bisa selesai bahkan sebelum tanggal


yang ditargetkan, hari ini kami pulang lebih awal, karena pekerjaan finishing


telah selesai, semua check list telah kami periksa dengan teliti, kami tidak


mau ketika mesin akan digunakan ada masalah, kami harus benar- benar memastikan


semua berfungsi dengan baik.


Aku benar- benar menjaga jarak dan berbicara seperlunya saja dengan dimas, keesokan


paginya kami berangkat agak siang karena memang hanya acara syukuran dan


perpisahan dengan team. Aku memakai baju agak kasual hari ini, supaya lebih


santai, aku segera saja bergabung dengan staff dan pekerja lapangan lainnya,


aku memang mudah akrab dengan orang baru sekalipun, ku lihat dimas lebih sering


mencuri- curi pandang untuk melihat ku, beberapa kali pandangan kami bertemu,


mungkin dimas sedang berpikir juga kenapa aku jaga jarak dengannya, aku


berharap dia tidak berpikir bahwa aku sedang membalas dendam kepadanya.


Pada kesempatan itu pak albert sebagai ketua team local kuberi kesempatan pertama


untuk memberikan sambutan, “ terimakasih kepada seluruh team yang bertugas


sampai pada akhirnya kita telah menyelesaikan pekerjaan lebih awal dari target


yang diberikan, terimakasih untuk bu fay selaku kepala coordinator project ini,


advise dari beliau yang membuat pekerjaan kita lebih mudah tepuk tangan untuk


ibu fay dan tidak lengkap rasanya jika kita juga tidak mendengar sepatah dua


patah kata dari pak dimas selaku perwakilan dari pimpinan kita pak agus brata


yang berhalangan  hadir, kami berharap kelak pak dimas bisa meneruskan tongkat estafet kepemimpinan perusahaan ini,silahkan pak dimas “


ini moment yang aku tunggu- tunggu aku memang menyuruh pakalbert


untuk menyuruh dimas memberikan sepatah dua patah kata, tapi aku tidak


pernah menyuruh beliau untuk memperkenalkan dimas sebagai pemegang estafet


pemimpin perusahaan, kulihat dimas terkaget- kaget dengan panggilan dan


informasi yang diberikan pak albert, sambil senyum bimbang karena tak mengira


akan seperti ini, dia memandang ku, ku balas dengan tatapan tajam, sepertinya mengerti

__ADS_1


arti tatapan ku.


Dimas hanya berbicara sebentar kemudian turun dari podium yang disediakan,


selanjutnya pembawa acara memanggil ku untuk memberikan sambutan , tepuk tangan


bergemuruh dari seantero aula yang sedang kami tempati ini.


“ yang terhormat pak dimas, pak albert dan segenap teman- teman team yang saya hormati,


terimakasih banyak atas sambutannya yang luar biasa, terimakasih banyak atas


kerjasama team yang hebat ini dari jajaran atas sampai kebawah, semua sangat


menjaga kekompakan, meskipun dalam proses terkadang ada benturan tetapi kita


semua mempunya tujuan akhir yang sama sehingga benturan tersebut tidak


menghalangi perjalanan kita untuk sampai ke akhir ini, semoga ketika digunakan


mesin ini dapat berfungsi dan bermaafaat dengan baik, saya selaku coordinator


lapangan minta maaf jika selama proses kerjasama ada salah arahan , salah


feedback, mohon dibukakan pintu maaf yang sebesar- besarnya. Semoga dilain


kesempatan kita bertemu lagi dalam satu team yang hebat ini, terimakasih “


aku mengakhiri pidato singkatku dengan agak membungkukkan badan ku sebagai tanda


Acara selanjutnya lebih diisi dengan hiburan ,


makanan sangat berlimpah hari ini, aku memang memberi intruksi kepada staff


yang mengurus acara hari ini supaya tidak sampai kekurangan makanan.


Aku berbaur dengan mereka, kunikmati moment ini untuk melupakan praharaku dengan


dimas, kulihat dimas pun mencoba berbaur dengan mereka, menjelang sore acara


telah selesai, kami saling mengucapakan salam perpisahan, karena besok kami


juga harus kembali ke Jakarta.


Dimas tidak langsung melajukan mobilnya ke arah pulang , dia melajukan mobilnya ke


arah setulang, hhhmm mau apa dia kesini ? aku diam saja tak berselera untuk


menanyakan kenapa dia mengajak ku ke sini lagi. Tiba ditempat, dimas mengajak


ku turun “ sorry aku mau bicara sama kamu, bisa kita turun sebentar ?” , dengan


malas aku keluar dari mobil dan mengikuti langkahnya, tempat ini menjelang sore


sudah sepi pengunjung, boleh dikatakan hanya ada aku dan dimas disini sebagai

__ADS_1


pengunjung selain petugas.


Dimas menghentikan langkahnya tepat di kursi taman, dia membalikkan badannya


“ kamu tahu sejak kapan kalau  aku putra pak agus brata ?” tanyanya ,


“ apa penting aku jawab ? , buat aku siapa kamu sudah jelas dan aku harus tahu posisi ku, itu saja, simple kan pak dimas “. Jawabku.


sambil menatapnya nanar. Dimas menatap ku “ tolong jangan beritahu staff yang


lain dulu, aku masih harus belajar banyak di perusahaan, dan aku ingin belajar


dari bawah supaya aku bisa fair ketika mengambil keputusan  kelak, dan apakah karena ini kamu jadi cuek


sama aku sejak kemarin ?” tanya dimas agak ngegas,


“ loh bukannya kamu yang  nyuekin aku beberapa hari ini pak dimas ,


tolong jangan memutar balikkan fakta pak “, jawabku nggak kalah ngegas,


“ bisa nggak panggil aku dengan sebutan dimas saja ? kalau kamu panggil aku pak, bisa


jadi pertanyaan banyak orang nanti. Ya memang aku nyuekin kamu karena aku


jengkel dengan keras kepala mu itu, aku sangat khawatir dengan kondisi mu, dan


kamu gak bisa ngertiin itu “. Gumam dimas, aku agak terhenyak dengan kata- kata


terakhirnya, aku terkadang tidak paham dengan ungkapan- ungkapan dimas yang


membuat aku terkadang melambung, aku tidak mau terjebak dengan perasaan ini,


aku tidak boleh terhanyut. “ kamu bisa lihat kan aku baik- baik saja, aku bisa


mengukur kemampuan tubuh ku pak, jadi berhenti untuk mengkhawatirkan ku mulai


sekarang dan berlakukah sebagai atasan ku, kamu gak perlu jadi berlagak sebagai


bawahan hanya untuk bisa belajar semua hal di perusahaan mu  bapak dimasbrata,


realistis lah dimas….”.


masih dalam posisi berdiri, dimas mendekati ku, wajahnya sangat dekat ke


wajahku, tanpa kuduga dia memajukan wajahnya dan mencium bibir ku, aku


terkesiap sesaat, dan ketika sadar ku dorong tubuhnya dan menampar pipinya


PLAK! Aku berlari menuju mobil, dimas agak terkesiap dan segera menyusul ku,


aku membalikkan badan dan bicara keras dengan dimas “ please don’t talk


anything with me for this time, no excuse!!!”.


Aku segera naik ke mobil diikuti oleh dimas. Selama perjalanan aku hanya

__ADS_1


diam seribu bahasa sampai kami pulang ke Jakarta.


__ADS_2