
Besok kami masih harus datang kembali ke tempat project karena ada acara syukuran
karena pekerjaan kami telah selesai dan bisa selesai bahkan sebelum tanggal
yang ditargetkan, hari ini kami pulang lebih awal, karena pekerjaan finishing
telah selesai, semua check list telah kami periksa dengan teliti, kami tidak
mau ketika mesin akan digunakan ada masalah, kami harus benar- benar memastikan
semua berfungsi dengan baik.
Aku benar- benar menjaga jarak dan berbicara seperlunya saja dengan dimas, keesokan
paginya kami berangkat agak siang karena memang hanya acara syukuran dan
perpisahan dengan team. Aku memakai baju agak kasual hari ini, supaya lebih
santai, aku segera saja bergabung dengan staff dan pekerja lapangan lainnya,
aku memang mudah akrab dengan orang baru sekalipun, ku lihat dimas lebih sering
mencuri- curi pandang untuk melihat ku, beberapa kali pandangan kami bertemu,
mungkin dimas sedang berpikir juga kenapa aku jaga jarak dengannya, aku
berharap dia tidak berpikir bahwa aku sedang membalas dendam kepadanya.
Pada kesempatan itu pak albert sebagai ketua team local kuberi kesempatan pertama
untuk memberikan sambutan, “ terimakasih kepada seluruh team yang bertugas
sampai pada akhirnya kita telah menyelesaikan pekerjaan lebih awal dari target
yang diberikan, terimakasih untuk bu fay selaku kepala coordinator project ini,
advise dari beliau yang membuat pekerjaan kita lebih mudah tepuk tangan untuk
ibu fay dan tidak lengkap rasanya jika kita juga tidak mendengar sepatah dua
patah kata dari pak dimas selaku perwakilan dari pimpinan kita pak agus brata
yang berhalangan hadir, kami berharap kelak pak dimas bisa meneruskan tongkat estafet kepemimpinan perusahaan ini,silahkan pak dimas “
ini moment yang aku tunggu- tunggu aku memang menyuruh pakalbert
untuk menyuruh dimas memberikan sepatah dua patah kata, tapi aku tidak
pernah menyuruh beliau untuk memperkenalkan dimas sebagai pemegang estafet
pemimpin perusahaan, kulihat dimas terkaget- kaget dengan panggilan dan
informasi yang diberikan pak albert, sambil senyum bimbang karena tak mengira
akan seperti ini, dia memandang ku, ku balas dengan tatapan tajam, sepertinya mengerti
__ADS_1
arti tatapan ku.
Dimas hanya berbicara sebentar kemudian turun dari podium yang disediakan,
selanjutnya pembawa acara memanggil ku untuk memberikan sambutan , tepuk tangan
bergemuruh dari seantero aula yang sedang kami tempati ini.
“ yang terhormat pak dimas, pak albert dan segenap teman- teman team yang saya hormati,
terimakasih banyak atas sambutannya yang luar biasa, terimakasih banyak atas
kerjasama team yang hebat ini dari jajaran atas sampai kebawah, semua sangat
menjaga kekompakan, meskipun dalam proses terkadang ada benturan tetapi kita
semua mempunya tujuan akhir yang sama sehingga benturan tersebut tidak
menghalangi perjalanan kita untuk sampai ke akhir ini, semoga ketika digunakan
mesin ini dapat berfungsi dan bermaafaat dengan baik, saya selaku coordinator
lapangan minta maaf jika selama proses kerjasama ada salah arahan , salah
feedback, mohon dibukakan pintu maaf yang sebesar- besarnya. Semoga dilain
kesempatan kita bertemu lagi dalam satu team yang hebat ini, terimakasih “
aku mengakhiri pidato singkatku dengan agak membungkukkan badan ku sebagai tanda
Acara selanjutnya lebih diisi dengan hiburan ,
makanan sangat berlimpah hari ini, aku memang memberi intruksi kepada staff
yang mengurus acara hari ini supaya tidak sampai kekurangan makanan.
Aku berbaur dengan mereka, kunikmati moment ini untuk melupakan praharaku dengan
dimas, kulihat dimas pun mencoba berbaur dengan mereka, menjelang sore acara
telah selesai, kami saling mengucapakan salam perpisahan, karena besok kami
juga harus kembali ke Jakarta.
Dimas tidak langsung melajukan mobilnya ke arah pulang , dia melajukan mobilnya ke
arah setulang, hhhmm mau apa dia kesini ? aku diam saja tak berselera untuk
menanyakan kenapa dia mengajak ku ke sini lagi. Tiba ditempat, dimas mengajak
ku turun “ sorry aku mau bicara sama kamu, bisa kita turun sebentar ?” , dengan
malas aku keluar dari mobil dan mengikuti langkahnya, tempat ini menjelang sore
sudah sepi pengunjung, boleh dikatakan hanya ada aku dan dimas disini sebagai
__ADS_1
pengunjung selain petugas.
Dimas menghentikan langkahnya tepat di kursi taman, dia membalikkan badannya
“ kamu tahu sejak kapan kalau aku putra pak agus brata ?” tanyanya ,
“ apa penting aku jawab ? , buat aku siapa kamu sudah jelas dan aku harus tahu posisi ku, itu saja, simple kan pak dimas “. Jawabku.
sambil menatapnya nanar. Dimas menatap ku “ tolong jangan beritahu staff yang
lain dulu, aku masih harus belajar banyak di perusahaan, dan aku ingin belajar
dari bawah supaya aku bisa fair ketika mengambil keputusan kelak, dan apakah karena ini kamu jadi cuek
sama aku sejak kemarin ?” tanya dimas agak ngegas,
“ loh bukannya kamu yang nyuekin aku beberapa hari ini pak dimas ,
tolong jangan memutar balikkan fakta pak “, jawabku nggak kalah ngegas,
“ bisa nggak panggil aku dengan sebutan dimas saja ? kalau kamu panggil aku pak, bisa
jadi pertanyaan banyak orang nanti. Ya memang aku nyuekin kamu karena aku
jengkel dengan keras kepala mu itu, aku sangat khawatir dengan kondisi mu, dan
kamu gak bisa ngertiin itu “. Gumam dimas, aku agak terhenyak dengan kata- kata
terakhirnya, aku terkadang tidak paham dengan ungkapan- ungkapan dimas yang
membuat aku terkadang melambung, aku tidak mau terjebak dengan perasaan ini,
aku tidak boleh terhanyut. “ kamu bisa lihat kan aku baik- baik saja, aku bisa
mengukur kemampuan tubuh ku pak, jadi berhenti untuk mengkhawatirkan ku mulai
sekarang dan berlakukah sebagai atasan ku, kamu gak perlu jadi berlagak sebagai
bawahan hanya untuk bisa belajar semua hal di perusahaan mu bapak dimasbrata,
realistis lah dimas….”.
masih dalam posisi berdiri, dimas mendekati ku, wajahnya sangat dekat ke
wajahku, tanpa kuduga dia memajukan wajahnya dan mencium bibir ku, aku
terkesiap sesaat, dan ketika sadar ku dorong tubuhnya dan menampar pipinya
PLAK! Aku berlari menuju mobil, dimas agak terkesiap dan segera menyusul ku,
aku membalikkan badan dan bicara keras dengan dimas “ please don’t talk
anything with me for this time, no excuse!!!”.
Aku segera naik ke mobil diikuti oleh dimas. Selama perjalanan aku hanya
__ADS_1
diam seribu bahasa sampai kami pulang ke Jakarta.