FAY, CINTA YANG KEMBALI

FAY, CINTA YANG KEMBALI
mulai baper


__ADS_3

Ayah Ibu  mendukung  saja ketika aku  menyampaikan tugas dari kantor ini  dengan wejangan- wejangan  yang selalu  sama  ketika  aku ditugaskan di luar kota, tapi memang baru kali


ini aku ditugaskan di luar pulau.


Waktu seminggu begitu cepat berlalu, aku


harus mempersiapkan keberangkatan ku ke tarakan.


Aku  dan  dimas  sudah  berada di bandara soetta,


duduk berdampingan dengan damai, dimas sibuk dengan gawainya,


aku beranjak  untuk sekedar melepas pegal  karena terlalu lama duduk, pesawat kami masih 40 menit lagi, aku kembali menghampiri dimas dengan dua cup coffe, ku sodorkan  padanyayang disambut dengan antusias,


“ terimakasih bu. “ , dia mulai menyesap kopinya begitupun aku,


gawainya dimasukkan  ke tas  dan  dimas mulai fokus memandangku,


agak jengah  ku  pandang  balik, “ kenapa  ngeliatin  terus ?” ujar ku “ hhmm nggak papa, boleh dong ngeliatin  kan  kita cuma  berdua, saling  kenal  juga, dari pada aku ngeliatin orang yg nggak aku


kenal bikin salah paham, iya kan , by the way  hidung mu bagus. ”


dimas menimpali dan bikin aku salah tingkah,


tapi aku harus keep calm and stay cool, kan uda biasa juga pujian seperti itu aku dapatkan,


aku tetap tak bergeming dengan pujiannya, ku tatapkan mata ini lurus kedepan sambil menikmati kopi ku,

__ADS_1


dimas menyerah dia mulai ikut menatap lurus ke depan,


kami saling diam sibuk dengan pikiran masing- masing.


Petugas bandara sudah mengumumkan bahwa kami sudah harus menaiki pesawat,


menuju bandara juwata international tarakan , tujuan kami adalah malinau jadi nanti


kami masih harus naik pesawat kecil selama 15 menit untuk sampai ke malinau


kemudian lanjut perjalanan darat 3-4 jam, aku melirik ke arah dimas sembari


berjalan ke arah pesawat yang akan membawa kami ke tarakan kalimantan utara


selama kurang lebih 2,5 jam. Aku memilih duduk disamping jendela dan dimas


sangat pagi dan  malamnya tidur larut untuk packing.


satu jam aku terbawa mimpi diatas pesawat dan terbangun karena


ada warning jika sabuk pengaman harus tetap dipakai, aku membuka mataku


perlahan,  kenapa posisi ku tidur sangat nyaman sekali


dan aku tidak menyadari jika kepala ini telah bersandar dipundak dimas,


“ oh sorry. “ ujar ku sambil menegak kan sandaran kursiku, kulirik dimas masih

__ADS_1


tidak bergeming dari posisi duduknya dengan kaca mata hitam yang bertengger di


hidung bangirnya, aku tidak tahu apakah dia juga tertidur atau tidak.


Pesawat kami telah landing di tarakan, dimas bangun dari duduknya sambil memutar- mutar


pundaknya dia langsung mengambil bagasi dan mangambilkan tas kami,


“ Terimakasih dim. “ gumam ku disertai rasa bersalah karena kupastikan pundak


dimas pasti pegal , sambil meraih tas ku, dimas memberi jalan padaku agar aku


berjalan didepannya.entah kenapa ketika jalan keluar dari pesawat aku merasa


seolah- olah dimas hampir menyentuh pundak ku seperti ingin melindungiku dari


penumpang lain yang masih sibuk dengan bagasinya, ah mungkin perasaan ku saja,


kebawa perasaan karena tadi tidur dipundaknya dimas.


Setelah connecting  pesawat kecil ke malinau, sampai juga kami di tempat


tujuan ketika waktu hampir beranjak senja. Malinau merupakan salah satu


kabupaten di Kalimantan utara, begitulah sejarah yang kupelajari sekilas di


internet. Kami dijemput oleh utusan dari kantor perwakilan untuk diantarkan ke

__ADS_1


penginapan kami selama menangani project ini.


__ADS_2