
Ayah Ibu mendukung saja ketika aku menyampaikan tugas dari kantor ini dengan wejangan- wejangan yang selalu sama ketika aku ditugaskan di luar kota, tapi memang baru kali
ini aku ditugaskan di luar pulau.
Waktu seminggu begitu cepat berlalu, aku
harus mempersiapkan keberangkatan ku ke tarakan.
Aku dan dimas sudah berada di bandara soetta,
duduk berdampingan dengan damai, dimas sibuk dengan gawainya,
aku beranjak untuk sekedar melepas pegal karena terlalu lama duduk, pesawat kami masih 40 menit lagi, aku kembali menghampiri dimas dengan dua cup coffe, ku sodorkan padanyayang disambut dengan antusias,
“ terimakasih bu. “ , dia mulai menyesap kopinya begitupun aku,
gawainya dimasukkan ke tas dan dimas mulai fokus memandangku,
agak jengah ku pandang balik, “ kenapa ngeliatin terus ?” ujar ku “ hhmm nggak papa, boleh dong ngeliatin kan kita cuma berdua, saling kenal juga, dari pada aku ngeliatin orang yg nggak aku
kenal bikin salah paham, iya kan , by the way hidung mu bagus. ”
dimas menimpali dan bikin aku salah tingkah,
tapi aku harus keep calm and stay cool, kan uda biasa juga pujian seperti itu aku dapatkan,
aku tetap tak bergeming dengan pujiannya, ku tatapkan mata ini lurus kedepan sambil menikmati kopi ku,
__ADS_1
dimas menyerah dia mulai ikut menatap lurus ke depan,
kami saling diam sibuk dengan pikiran masing- masing.
Petugas bandara sudah mengumumkan bahwa kami sudah harus menaiki pesawat,
menuju bandara juwata international tarakan , tujuan kami adalah malinau jadi nanti
kami masih harus naik pesawat kecil selama 15 menit untuk sampai ke malinau
kemudian lanjut perjalanan darat 3-4 jam, aku melirik ke arah dimas sembari
berjalan ke arah pesawat yang akan membawa kami ke tarakan kalimantan utara
selama kurang lebih 2,5 jam. Aku memilih duduk disamping jendela dan dimas
sangat pagi dan malamnya tidur larut untuk packing.
satu jam aku terbawa mimpi diatas pesawat dan terbangun karena
ada warning jika sabuk pengaman harus tetap dipakai, aku membuka mataku
perlahan, kenapa posisi ku tidur sangat nyaman sekali
dan aku tidak menyadari jika kepala ini telah bersandar dipundak dimas,
“ oh sorry. “ ujar ku sambil menegak kan sandaran kursiku, kulirik dimas masih
__ADS_1
tidak bergeming dari posisi duduknya dengan kaca mata hitam yang bertengger di
hidung bangirnya, aku tidak tahu apakah dia juga tertidur atau tidak.
Pesawat kami telah landing di tarakan, dimas bangun dari duduknya sambil memutar- mutar
pundaknya dia langsung mengambil bagasi dan mangambilkan tas kami,
“ Terimakasih dim. “ gumam ku disertai rasa bersalah karena kupastikan pundak
dimas pasti pegal , sambil meraih tas ku, dimas memberi jalan padaku agar aku
berjalan didepannya.entah kenapa ketika jalan keluar dari pesawat aku merasa
seolah- olah dimas hampir menyentuh pundak ku seperti ingin melindungiku dari
penumpang lain yang masih sibuk dengan bagasinya, ah mungkin perasaan ku saja,
kebawa perasaan karena tadi tidur dipundaknya dimas.
Setelah connecting pesawat kecil ke malinau, sampai juga kami di tempat
tujuan ketika waktu hampir beranjak senja. Malinau merupakan salah satu
kabupaten di Kalimantan utara, begitulah sejarah yang kupelajari sekilas di
internet. Kami dijemput oleh utusan dari kantor perwakilan untuk diantarkan ke
__ADS_1
penginapan kami selama menangani project ini.