FAY, CINTA YANG KEMBALI

FAY, CINTA YANG KEMBALI
kamu kenapa dim ...?


__ADS_3

Satu bulan sejak bertemu dimas di banyuwangi aku mengalami mual- mual terutama ketika pagi,


aku mulai merasa ada yang harus aku check, haid ku pun tak juga datang.


Pulang kerja aku mampir apotek untuk membeli testpack,


keesokan paginya aku test urine ku, dan benar dugaanku, hasilnya garis dua .


penasaran aku tes kembali sampai tiga kali mengulang dan hasilnya masih sama.


apakah aku hamil…bagaiman harus aku katakan ke arka.


sorenya sepulang kerja aku memeriksakan diri ke dokter kandungan untuk memastikan


apakah bena aku hamil, dan hasilnya memang benar aku hamil dan usia janinku memasuki usia dua minggu.


Aku mengajak arka untuk makan malam diluar hari ini, aku ingin


membicarakan mengenai kehamilanku. Arka menjemputku dan kami memutuskan untuk


makan malam di daerah ancol, aku butuh tempat yang tidak begitu ramai.


Sehabis makan malam, aku mengajak arka jalan ke pantai, “ ar, aku mau menyampaikan sesuatu",


aku membuka pembicaraan, “ hhmm, apa?  “ arka menjawab sambil menghentikan langkah,


aku pun menghentikan langkah, aku menatap arka,


“ aku....hamil ar, hamil anak dimas…”, arka kaget,


Arka tertegun, mata yang tersakiti muncul kembali, mata itu meredup,


aku tahu arka tersakiti karena perselingkuhanku, kami pernah saling menyakiti.


Arka lama tertunduk sebelum akhirnya mendongak dan memandangku,


“ ini sudah pernah kita perkirakan juga kan, aku akan menerima kehadirannya,


aku mau kita tetap melanjutkan semua ini kak,


kelak jika harus kita terbuka kepada anak ini,


aku harus bisa menerima karena dia juga harus tahu siapa ayah yang  sebenarnya.”


Arka memandangku, aku terdiam , “atau  kamu ingin meminta pertanggungjawaban dimas ?


atau memang anak ini dihadirkan untuk menyatukan kalian ?” ,


pertanyaan arka mengagetkan ku,  “ ar, aku belum ada kepikiran sampai sana,


setelah di banyuwangi aku bahkan tidak pernah berhubungan dengan dimas lagi ar,


aku hanya ingin memberitahumu ini, hal lainnya aku belum bisa mikir karena aku pun shock kalau aku hamil,


tapi aku menginginkannya ar...”  ujarku lirih.

__ADS_1


Arka menghampirku dan meraihnya kedalam pelukannya,


sekarang di peluk arka rasanya damai,


“ kita jaga bareng- bareng anak ini ya…kamu mau ? menjaganya denganku,


aku akan membicarakan ini dengan mama dan papa ,


kita akan bilang bahwa ini adalah bayi tabung, antara kamu dan ****** pendonor ".


Begitulah aku dan arka mereka cerita untuk kedua orangtua kami,


kami sepakat untuk tidak menyakiti mereka, dan aku menjalani masa kehamilan ku dengan bahagia,


aku menginginkan anak ini meskipun aku mendapatkannya dari dimas,


aku dan arka menjalani hidup bersama, meskipun sikap arka sudah berubah aku tidak


mempermasalahkannya, dia agak cuek dengan ku, kami jarang berhubungan badan,


dalam satu atap kami seperti teman, tapi mungkin lebih baik seperti itu.


Aku dengar dimas telah menikah dan tinggal di Kalimantan,


kenapa sejauh itu dimas pergi, terkadang ada telp dan chat masuk dari dia,


tapi aku tidak pernah menanggapi dan menyimpan nomernya,


aku tidak mau terjebak lagi dan membuat kesalahan kedua kalinya.


Usia kandungan ku sudah memasuki bulan ke 7,


tua arka, aku hanya menurut saja, team hore mendampingi ku selama proses acara,


mereka selalu hadir dalam kondisi suka dan dukaku, mereka menyimpan sebagian


cerita hidupku.


Aku menjalani hari- hari cuti kerjaku menjelang kelahiran anakku,


arka jarang ada waktu menemaniku untuk berbelanja kebutuhan bayi,


jadi aku sering berpergian sendiri untuk membelinya, seperti hari ini aku ke mall


untuk melihat- lihat perlengkapan bayi, sedang asyik- asyiknya memilih, sampai


aku tidak sadar jika di ikuti seseorang, dan sakarang dia berdiri di depan ku,


dimas…aku kaget dan takut, aku pergi menghindar, dimas tetap mengikutiku,


sampai aku menyerah karena jika aku lari resikonya adalah janinku.


Aku berhenti, dimas memegangku “ kenapa kamu lari, lihat kamu sedang hamil besar


bagaiman kalau jatuh? Ngawur kamu, kenapa menghindariku ?” ,

__ADS_1


“ aku hanya tidak mau berurusan lagi dengan mu dim, kita sudah punya kehidupan masing- masing,


sudah jalani itu saja.”, “ tapi aku kan nggak bisa terus ketemu kamu pura- pura


nggak kenal kan, terus aku berlalu begitu saja, aku telpon dan chat tidak pernah


kamu balas, kamu tahu tersiksanya perasaanku ? kamu tahu aku pergi ke


kalimantan dimana aku tinggal ? aku menempati rumah yang dulu kita tempati,


istriku ? kamu tahu istriku dimana ? dia di Jakarta sini, sibuk dengan dunia


modeling dan shopingnya  “, dimas meracau sendiri untuk menumpahkan uneg- unegnya,


kudiamkan saja sampai dia selesai, pandangan matanya kosong, tidak seperti dimas yang aku kenal,


“ sudah ? kamu sudah bicaranya ? kalau sudah selesai ijinkan aku pergi dim,


jangan sampai arka tahu pertemuan ini. “ , dimas meremas rambutnya gemas,


aku sebenarnya tidak tega dengan ayah biologis anakku ini,


dimas seperti tidak mengurus penampilannya, rambutnya panjang,


badannya tambah kurus, dia seperti tak bergairah menjalani hidup.


Aku berlalu meninggalkan dimas, dia mengejarku sampai aku masuk ke mobil ku dan dia sudah duduk di samping ku,  “ dimas, tolong jangan persulit hidupku, keluar dim…aku sedang hamil dim…please…don’t bother me dim…” aku memohon supaya dimas keluar dari mobilku,


sementara itu ada sepasang mata yang sedang melihat ke arah kami,


arka membuntutiku sejak dari rumah, dan dimas susah sekali untuk pergi,


arka menghampiri mobil ku, mengetuk kaca, aku membuka kaca mobilku ,


“ ar…aku sudah menyuruh dimas untuk keluar tapi dia tidak mau, tolong aku ” .


Aku memelas menatap arka, sedangkan dimas hanya diam, pandangannya kosong kedepan,


arka melihatnya dan menggoyang- goyangkan tangannya di depan dimas,


tapi tidak ada reaksi,  “ pak dimas, pak tolong keluar jangan ganggu istri saya ” , arka membuka


pintu mobil dan menarik tangan dimas untuk keluar, dimas menurut saja,


tapi pandangannya kosong, dimas kenapa ? aku mulai mengkhawatirkannya ,


" ar, sebentar ...dimas kenapa ? kamu nggak lihat dia seperti badan yang kehilangan raga ?” ,


arka keluar dari mobilku dan menghampiri dimas, ku lihat dia seperti mengajak bicara dimas,


sebentar kemudian arka kembali kepadaku,


“ aku antar pak dimas pulang dulu, kamu duluan aja ya , hati- hati”, aku mengangguk,


aku mengekori pergerakan  keduanya  melalui spionku,

__ADS_1


kulihat arka merangkul dimas dan berjalan ke arah mobil arka,


sampai mereka hilang dari pandanganku kemudian aku melajukan mobilku untuk pulang.


__ADS_2