
Tepat dua hari Raidil masih belum masuk sekolah, seharian tubuh ku lunglai karena asupan tenaga ku tidak ada.
" kenapa dia belum masuk juga" tanya ku dalam hati dengan nafas berat.
" apa orang lain kaya gini juga yaa" kembali pikir ku bertanya.
Trinnnnggggg... suara Bell pulang berbunyi, ku masukan semua buku ku kedalam tas dan Aku berjalan tepat di belakang Della,
sebelum keluar kelas kutatap bangku Raidil.
"Besok masuk dong, Aku udah mau mati rasanya" rintih ku dalam hati.
Setelah itu seperti biasa Ema dan Lila akan selalu menunggu Aku dan Della di depan pintu gerbang dan tak Lupa Kak Faiz yang selalu tiba-tiba datang dan ikut bergabung, entah kapan motornya akan keluar dari bengkel.
Setelah sampai di tempat mba Ita, ku senderkan bahu ku di kursi dan menghela nafas.
" ehh kalian udah siap buat ulangan senin depan?" ucap Lila.
" ahh... beneran gak kerasa udah mau ulangan" tambah Della.
" banyak-banyak belajar dari sekarang" sahut Ema.
" Aku cuma berharap kita bisa 1 kelas" sahut Della.
" biasa nya sih gak ada yang begitu" ucap kak Faiz yang tepat duduk di sebelah ku.
"Mlmaksud kaka gimana?" tanya Lila penasaran.
"emb.. pokok nya gitu deh" sahut kak Faiz yang tidak menjelaskan apa-apa membuat kami penasaran.
" ihh apaan sih kak" rengek Lila dengan wajah cemberut.
Sambil menunggu kami pun asik dengan obrolan kami sampai satu persatu dari kami pun mulai di jemput dan seperti biasa Aku selalu menjadi yang terakhir di jemput,
" Aku duluan ya Rii" ucap Della yang kemudian pergi sambil melambaikan tangan pada ku.
" oke.." sahut ku.
Setelah Della pergi, Aku seperti biasa selalu duduk sendiri dengan menyenderkan kepala ku ke kursi.
Sesekali ku mainkan ujung sedotan dari minuman ku,
" Kapan di jemputnya" ucap ku pelan.
Asik dengan sedotan yang ku main kan, tiba-tiba sebuah motor berhenti tepat di samping ku.
" hay Rii" ucap Raidil yang datang menghampiri ku tanpa menggunakan seragam.
__ADS_1
" lhoh... Dil kamu kok di sini" tanya ku heran sekaligus hati ku senang melihatnya.
Rasa rindu di hati terasa sangat menumpuk karena hampir 2 hari Raidil tidak masuk sekolah.
" em.. Aku rindu kamu" ucap nya dengan suara pelan yang membuat Aku terdiam kikuk,
" Aku serius" tambahnya.
" Aku harus jawab apa? Masa ku bilang Sama, ahh gampangan banget kamu Rii" rintih ku dalam hati,
tetapi tidak bisa ku pungkiri bahwa Aku mungkin lebih merindukan Raidil.
" Ri...jangan ngelamun" ucap nya sambil menatap ke arah ku.
" ahh.. maaf" sahut ku sambil menebarkan pandangan ku ke arah lain.
" kamu kenapa gak sekolah?" tanya ku penasaran.
" lagi ada acara keluarga" sahut nya masih dengan menatap ke arah ku.
" jangan liatin Aku gitu" ucap ku sambil sedikit menunduk.
" risih yaa" sahutnya singkat sambil tersenyum tipis.
" gak gitu.. cuma malu aja" ucap ku singkat.
" Aku sengaja datang kesini buat ngelurusin yang kemaren" ucap nya mulai dengan nada serius.
" ho.. oh, Aku cuma mau bilang Aku serius ngomong gitu, tapi Aku gak maksa kamu buat jawab sekarang, Aku cuma mau kamu tau perasaan ku aja" ucapnya menjelaskan semuanya.
" Aku kepikiran, kamu menganggap apa yang Aku ucapkan malam itu tidak serius" tambahnya.
" Aku gak berharap kamu balas perasaan Aku, dan Aku benar-benar minta maaf kalo ini jadi bikin kamu gak nyaman" tambahnya.
" sejak kapan?" tanya ku yang mulai penasaran.
Hati ku seolah-olah sedang berpesta dengan semua ucapan Raidil saat ini.
Aku sangat berusaha seelegan mungkin dan menutupi binar mata ku yang mengambarkan kebahagiaan ku.
" sejak gantungan tas" ucap nya yang membuat Aku menatap ke arahnya terkejut.
Teryata selama ini perasaan ku terbalas sangat baik
hanya tidak ada keberanian di antara kami karena takut akan sebuah penolakkan.
" hah?.. " ucap ku kaget sambil menatap wajah nya.
__ADS_1
Di sapunya mata ku dengan kedua tangannya untuk menyadarkan ku dari keterkejutan.
" kamu masih lama ya Rii di jemputnya?" tanya Raidil yang memecah keheningan antara kami berdua.
" emm.. gak tau nihh " sahut ku singkat.
Pikiran ku mulai melayang, ingin Aku mengatakan semua isi hati ku pada Raidil, tapi mulut ku terkunci Rapat.
" Padahal ini waktu yang tepat, tapi kenapa sih gak bisa" ucap ku dalam hati sambil mengigit bibir ku gemas.
"mau Aku antar" tawaran Raidil.
" yaa mau lahh" teriak ku tapi dalam hati.
" ahh gak usah, Aku nunggu Ayah aja" sahut bibir ku pada Raidil yang sangat bertolak belakang dengan hati ku.
" yaa udah.. Aku nemenin kamu sampe di jemput yaa" ucap nya.
Aku tidak tau kenapa? Entah memang Aku yang terlalu bucin atau mungkin ini merupakan hal yang biasa terjadi pada orang lain yang jatuh cinta, tetapi ucapan Raidil yang barusan terasa sangat manis di telinga ku.
" Ayok lah..Rii, jangan terlalu bucin" rengek ku dalam hati.
***
Hati ku mulai berharap semoga agak lama an ayah datang, Aku ingin lebih lama bersama Raidil di sini di gang depan sekolah ini, duduk berdua bersebelahan dengan cup-cup minuman yang kosong di depan ku dan Raidil.
Sesekali Aku curi-curi pandang dengan Raidil sambil tersenyum tipis dan akan berdebar keras jantung ku ketika tak sengaja tatapan kami bertemu.
Apa kalian pernah merasakan perasaan ini? yah Aku percaya mungkin banyak dari kalian lebih berpengalaman soal ini.
Lama kami duduk bersama tiba-tiba Raidil berdiri menuju ke depan kasir mba Ita.
" Mba minuman nya dua yaa, yg coklat sama satu nya lagi yg biasa di pesan Riri" ucap nya yang kemudian kembali berjalan duduk tepat di samping ku.
Mata ku tak henti menyusuri tubuh Raidil yang mendekat dengan setelan kaos berjaket levis dan bercelana jeans panjang,
" kok bisa badanya Atletis gitu" tanya ku dalam hati.
Tak lama setelah itu mba Ita datang dengan membawa Es coklat dan juga minuman kesukaan ku.
" ini minuman nya" ucap mba Ita yang kemudian meninggalkan ku dan Raidil.
Ku minum minuman ku sambil secara spontan mata ku melirik ke arah Raidil.
" ayolah.. ini sensasi apa sih? Dari tenggorokan sampai ke mata ku terasa segar" ucap ku dalam hati.
" gak kuat" kata itu terlempar keluar dari mulut ku secara tidak sengaja yang membuat Raidil menatap ku dengan wajah bertanya.
__ADS_1
" hahah " aku hanya tersenyum cengengesan melihat reaksi Raidil yang kebingungan.
" bodoh banget sih Rii" ringis ku dengan memejamkan mata ku dengan rapat.