First Love "Di Bulan April"

First Love "Di Bulan April"
BISIKAN


__ADS_3

"sayang".


"sayang".


suara lembut yang selalu Aku rindukan semakin jelas terdengar di ruang sunyi tempat ku berada saat ini.


"Raidil" ucap ku bangkit berdiri mencari dari mana asal suaranya.


"Iya sayang, ini Aku" ucapnya menyahut ucapanku.


"Raidil".


Aku melangkah sambil meraba-raba, mata ku terbuka lebar tanpa melihat cahaya.


"Raidil" Aku terus memanggil namanya dengan tubuh sedikit bergetar, air mata mulai menggenang di pelupuk mata ku seolah siap akan jatuh.


" jangan menangis, terus lah melangkah sayang" ucapnya penuh dengan kelembutan dan kehangatan yang benar-benar Aku rindukan.


"Raidil".


Hanya kata itu yang terus terucap dari bibirku, sambil berjalan meraba, telinga ku terus mendengarkan semua ucapan Raidil tanpa bisa melihat dia berada dimana.


Sesekali Aku tersandung jatuh karena kaki ku sendiri yang berusaha mempercepat langkah untuk menemukan sumber suara Raidil.


"pelan-pelan" ucap nya mengkhawatirkan ku.


"kamu di mana?" Ucap ku dengan linangan air mata yang mulai membasahi pipi ku.


"Aku di sini, di samping mu" ucapnya.


" bohong" sahut ku.


" tidak sayang, Aku di sini bersamamu".


"buktinya saat ini Aku berbicara dengan mu" ucapnya.


Aku terisak menangis mendengar ucapan Raidil, rasa rindu, takut dan kesepian saat ini membuat Aku ingin cepat-cepat menemukan Raidil yang sesungguhnya dan memeluknya.


" hey jangan menangis, terus lah melangkah"


"Aku rindu kamu".


"Aku sangat merindukan mu sayang" ucap Raidil.


Mendengar bisikan itu, Aku semakin merasakan sakit di hati ku, rasa sesak di dada menahan Rindu yang sama Pada Raidil menjadi beban tersendiri yang ku rasa saat ini.


"Aku..." tak mampu mengungkapkan ucapan ku terputus karena isak tangis ku.


"terus lah melangkah, temukan jalan keluarnya dan kembali pada ku" ucapnya.


"tapi disini gelap sekali" sahut ku sesegukan.


"Aku disini bersama mu" tambahnya.


Langkah kaki ku mulai terasa tegap, di temani dengan suara Raidil Aku melangkah di ruang gelap nan hampa yang penuh kesedihanku.


Air mata terus-menerus jatuh walau perlahan, hati Yang semula hanya terisi kesedihan kini mulai sedikit berharap.


"setidaknya Aku tak sendiri" ucap ku dalam hati.


"kamu masih di sini kan?" tanya ku pada Raidil yang mulai tak terdengar suaranya.


" tentu, Aku masih di samping mu" sahutnya lembut.


Aku terus melangkah walau rasanya sangat lelah, Aku berjalan tanpa menemukan apapun.

__ADS_1


"Aku lelah" ucap ku putus asa.


"Aku tau, tapi terus lah melangkah sedikit lagi" ucapnya berusaha menyemangati ku.


Aku kembali tersungkur jatuh merasakan lelah di kaki ku.


"sayang, ku mohon!"


"Aku lelah dil" sahut ku dengan linangan air mata.


"Terus lah melangkag sedikit lagi"


"Aku benar-benar merindukan mu"


"Kembali lah"


"Temukan jalannya"


"Kem-balila-h"


Setelah kata terakhir itu aku tak mendengar lagi suara Raidil.


"Raidil?"


Aku memanggil namanya berharap dia masih ada di sini menemaniku.


"Raidil"


Sambil menangis aku terus memanggil namanya sampai pada akhirnya aku sadar Raidil benar-benar pergi meninggalkan ku.


"Kamu bilang akan bersama ku" ucap ku sambil tertunduk dengan air mata yang masih setia menemani.


***


"Ayah"


"Ibu"


"Raidil"


Aku kembali bangkit berjalan dan memanggil nama mereka dengan hasil yang sama tanpa ada sahutan ataupun tanda kehidupan yang lain.


"Della".


"Lila"


"Ema"


"Aku rindu kalian" ucap ku setelah ingatan kecil tentang mereka melintas di pikiranku.


ucap lirih dengan langka kaki yang melambat.


Entah sampai kapan Aku akan terus berjalan tanpa arah dan meraba tempat gelap yang hanya ada Aku seorang.


Mimpi? Mungkin kah akan terasa lama dan nyata seperti ini.


dan jika ini semua nyata, tempat seperti apa yang saat ini Aku pijak?


Aaaaarrrrrggghhhh


Aku kembali berteriak sekencang-kencangnya mengeluarkan semua rasa sesak di dadaku.


Air mata kembali deras mengalir mebasahi pipiku.


Tubuh ku terasa memanas dengan rasa sakit di dalam hati.

__ADS_1


Sampai pada akhirnya Aku merasakan lelah dengan semua yang ku lakukan.


"Oke.. ayo Rii kita jalan lagi" ucap ku lesu sambil berusaha berdiri tegap.


"Tuhan, bangunkan Aku dari mimpi panjang ini" ucap ku memohon di dalam hati.


Ruang hitam yang menjebak ku selama ini mulai kembali menerang dengan perlahan,


Ku tarik nafas ku dengan dalam dan menghembuskannya dengan kasar, ada rasa lega walau masih bingung dengan apa yang terjadi.


Langkah ku melaju tak kala melihat cahaya terang di ujung pandangan ku, dari langkah kecil menjadi langkah yang cukup besar Aku mulai berlari menuju cahaya yang terhilat seperti pintu kecil.


"apa itu jalan keluar?" tanya ku bingung dalam hati.


"Akhirnya" tambah ku masih dengan berlari,


Rasa lelah yang selama ini Aku rasa menghilang begitu saja berganti dengan keinginan ku yang sangat besar keluar dari ruang waktu yang tidak ku mengerti ini.


Langkah ku melambat saat Aku semakin dekat dengan cahaya yang tadi Aku kejar, dan akhirnya Aku tepat berdiri di depan pintu dan berusaha melangkahkan kaki ku untuk masuk ke sana namun, langkah ini masih di liputi rasa ragu dalam hati.


"apa ini benar-benar jalan keluar?" tanya ku ragu dalam hati.


"kalau bukan bagaimana?" Tambah ku dengan linangan air mata.


"masuk lah nak!" ucap seseorang yang datang dari arah belakang.


"Ayah"


"Ibu"


Aku seketika menangis dengan sesegukan melihat mereka tepat berada di depan ku.


" kamu sudah terlalu lama di sini sayang, pulang lah" ucap Ibu yang berjalan mendekat ke arah ku.


" gak, Riri mau ikut kalian saja" sahut ku penuh rasa rindu dan putus asa.


" tidak sayang, ini bukan tempat mu" tambah Ayah yang memeluk ku erat.


Aaarrgghh... Huuhhuuu..


Aku terus menangis dan merengek seperti anak kecil yang akan di tinggal pergi.


" tolong bawa Riri bu, jangan tinggalkan Riri lagi" ucap ku memohon tepat di kaki mereka.


" sayang, mana dirimu yang ceria?"


"Kembali lah, masih banyak orang yang menunggu mu pulang" ucap Ayah yang memeluk ku dan membelai Rambut ku.


"maafkan Ibu dan Ayah yang tidak bisa menemani mu" ucap Ibu yang kemudian mengecup hangat pucuk kepalaku.


"Aarrgghhh... Ibu"


Aku semakin sesegukang saat melihat tubuh mereka yang mulai menjauh dan menghilang.


huuuhhuuhuu


"Ayah" ucap ku dengan tangan yang berusaha menggapai mereka berdua.


"jangan... jangan pergi lagi" dengan deraian air mata Aku menatap tubuh mereka yang menghilang dari pandanganku.


"Tidak.." tatap ku pasrah saat kembali mereka tinggalkan.


Ku balikkan tubuh ku mematap pintu yang tepat di belakang ku.


Aku berdiri dan melangkah masuk ke balik pintu dengan cahaya yang terang sehingga membuat Aku tak bisa melihat tempat seperti apa yang di pijak kaki ku saat ini.

__ADS_1


"Tuhan Aku ingin kembali, ijinkan Aku bertemu dengan mereka orang tuaku"


"Bangunkan aku dari mimpi buruk ini" tambahku sambil menutup kedua mata ku yang masih berlinang air mata.


__ADS_2