First Love "Di Bulan April"

First Love "Di Bulan April"
DOWN


__ADS_3

Aku tepat berdiri di depan 3 pusaran dimana Ayah ,Ibu dan Zira di makamkan, rasa tidak percaya dengan semua ini Aku tersimpuh jatuh dari kursi roda tepat di hadapan makam mereka.


"Riri" ucap khawatir dari bang Farel yang menemani ku.


Ku pandang satu persatu dengan derai Air mata yang kembali membasahi pipi ku,


"Ba-gaimana Riri bi-sa melewati se-mua ini tanpa ka-lian??" ucap ku pelan dengan terbata di iringi isak tangisku.


Aku terus menangis dan memeluk nisan Ayah dengan mata ku yang tertuju pada pusaran Ibu dan Zira, kembali terasa sesak di dada saat terlintas di benak ku senyum mereka yang Terakhir kali ku lihat dengan segala kenangan indah yang pernah ku lalui bersama mereka.


Aku masih merasakan ketidak percayaan bahwa saat ini Aku benar-benar sendiri.


Entah sudah berapa lama waktu yang sudah ku habiskan di tempat ini, sampai bang Farel melangkah dan mendekat ke arah ku.


"Ri udah yuk" ucap bang Farel memegang pundak ku.


" Tapi-".


" Ingat kesehatan kamu belum benar-benar pulih" ucap bang Farel.


" Kamu mau om dan tante sedih liat kamu kaya gini terus" tambahnya.


Dengan perlahan bang Farel mengangkat bahu ku untuk segera bangun dan naik ke atas kursi roda ku kembali.


Mata ku terus menatap ke arah 3 pusaran orang-orang terkasih ku.


Linang air mata terus mengalir dengan perlahan seiring Aku yang mulai menjauh.


" Maafin Riri, maafin Riri" ucap ku dengan isak tangis.


" Riri sayang kalian".


Dengan perlahan bang Farel menarik kursi roda ku menjauh dan meninggalkan area pemakaman, ku tatap dengan nanar makam mereka yang mulai tak terlihat.


"Bang, riri masih kangen" .


" Mau sampai kapan kamu nangis terus, nanti setelah kamu sembuh, abang janji bakalan ngantar kamu ke sini lagi" sahut bang Farel.


" Abang cuma gak mau keadaan kamu yang sekarang harusnya membaik malah semakin down karena pikiran dan kesedihan kamu" tambahnya sambil mendorong kursi roda ku menuju ke tempat mobilnya terparkir.


Dengan kepala yang tersandar di kaca jendela mobil, Aku menghapus bersih jejak air mata yang masih tertinggal.


Aku berusaha kuat walau hati ku terasa tidak mampu.


"Kita kemana lagi?" tanya bang Farel dengan mata yang fokus menyetir.


"Mampir ke sekolah yuk bang, Riri kangen banget sama teman-teman" sahut ku.


"Oke..." Ucap bang Farel.


Waktu di perjalanan terasa singkat, mobil bang Farel kini tepat terparkir di gang depan sekolah ku.


"Rii, kamu yakin gak mau masuk ke sekolah?" tanya bang Farel sambil menurunkan kursi rodaku.


" Iya bang" sahut ku singkat.

__ADS_1


Ceklek


"Maaf ya bang, Riri ngerepotin terus" ucap ku pada bang Farel yang berdiri tepat di samping kursi roda ku.


"Apa sih" sahutnya sambil mengulurkan tangan sebagai topangan ku untuk berpindah dari mobil ke kursi roda.


***


Bang Farel dengan perlahan mendorong kursi roda ku menuju warung mba Ita yang sudah tampak berbeda di mata ku.


"Di sini?" tanya bang Farel saat kami tepat berada di depan warung mba Ita.


"Mau pesan apa?" tanya seseorang yang tak lain adalah mba Ita.


"Yang biasa ya mba" ucap ku sambil tersenyum hangat.


Hening beberapa saat ku tatap wajah mba Ita yang terlihat sedikit cairan bening di pelupuk matanya menatap ku seolah terkejut.


"Masya Allah Riri" ucapnya sambil berlari kecil ke arah ku.


"Ini beneran kamu? Alhamdulillah Ya Allah" mba Ita mendaratkan pelukan hangat ke arah ku.


" Gimana kabar mba?" tanya ku singkat.


" Sehat-sehat, temen-temen kamu pasti bakalan senang liat kamu" ucap nya dengan tangan menghapus Air mata yang sempat jatuh sesaat.


"Riri ke sini karena pengen liat mereka" sahutku.


"Sebentar, mba bikinin dulu minuman kesukaan kamu" ucap nya sambil berlari kecil menuju kedalam.


"Hmmm" sahut ku dengan mata yang memandang jalan gang yang dulu sering Aku lalui bersama teman-teman ku sepulang sekolah.


Dan warung ini, yang saat ini Aku tempati menjadi tempat favorit ku untuk memandang Raidil dari kejauhan saat pulang sekolah.


"Kenapa?" bang Farel bertanya menatap ke arah ku.


" Gak apa-apa kok bang".


"Kangen sekolah yaa?" ucap bang Farel yang sangat tepat dengan apa yang Aku rasakan saat ini.


Aku mengangguk tanpa suara dengan mata yang kembali menyapu area sekitar.


" Ini minuman kamu Rii" ucap mba Ita dengan tangan yang membawa dua minuman.


" Makasih mba" sahut ku singkat.


" Mba benar-benar senang bisa ngeliat kamu lagi, apa kamu tau Rii 3 sahabat kamu itu sudah seperti zombie?" ucap mba Ita.


"Zombie?" Sahut ku sedikit tersenyum mendengar ucapan mba ita.


"Iya zombie, jarang senyum, jarang ketawa kaya waktu ada kamu" jelas mba ita.


mendengar cerita itu sedikit membuat hati ku teriris mengkhawatirkan ke tiga sahabatku yang lama tak pernah ku tau kabarnya.


Kring.. kring..

__ADS_1


Suara bell pulang sekolah terdengar sangat kecil di telinga ku karena jarak depan gang ke sekolah cukup jauh sehingga suara bell akan terdengar sangat tipis.


"Mba balik ke dalam yaa Rii" ucap mba Ita setelah banyak bercerita tentang beberapa kisah yang ku lewatkan selama ku di rumah sakit.


Dan aku hanya mengangguk dan kembali mengalihkan pandangan ku ke arah jalan dengan mata yang siap mencari ke tiga sahabat ku.


" Jangan sampe nangis yaa" ucap bang Farel mengingat kan ku.


Sedikit demi sedikit murid-murid mulai memenuhi pingiran jalan keluar gang,


Mata ku terus menunggu objek yang ingin ku temui, hati ku saat ini benar-benar di penuhi rasa Rindu pada ke tiga sahabat ku juga Raidil.


Sampai pada akhirnya Aku menemukan mereka bertiga tengah berjalan dari kejauhan, ku tatap tiga sahabat ku dengan air mata yang siap akan jatuh, 1 tahun bukan waktu yang sedikit bagiku saat berpisah dengan mereka tanpa berpamitan bahkan kabar.


Langkah mereka yang semakin mendekat ke arah ku membuat Aku sedikit gugup dengan reaksi mereka saat melihat ku,


Sampai pada akhirnya mereka dengan serempak tertegun dan mulai menyadari keberadaan ku di warung kecil mba Ita.


Ku tatap mereka bertiga dengan tatapan hangat penuh rindu, sedikit senyum sengaja ku torehkan untuk menggambarkan hati ku yang bahagia saat menatap mereka yang juga menatap ke arah ku dengan tatapan yang sama.


"RRRRRII RRRII"


"Riii.. rii"ucap mereka sedikit berteriak dengan serempak sehingga menjadikan ku pusat perhatian murid-murid lain yang berada di gang sekolah.


"Aaarrrhhh riri"


Berlarian dengan cepat mereka sampai tepat di hadapan ku.


Pelukan erat tanpa ancang-ancang mendarat ke arah ku.


"Aarrhh.. riri.. ini beneran kamu kan" ucap lila sambil terisak.


"Huhuhu.. Aku bukan lagi meluk hantu kan" ucap Della.


" Ya kali hantu siang bolong" sela Lila dengan suara yang sesegukan.


"Aku kangen kalian" ucap ku singkat dengan air mata yang jatuh perlahan.


" Kami juga, sangat rindu, dan sangat mengkhawatirkan kamu Rii" ucap Ema yang menatap ku dengan Derai air mata.


" Aaarrhhh riri, aa-ku.." ucap lila terputus dengan suara yang mulai sedikit serak karena menangis


" Heeyy.. kalian gak malu di liatin gini" ucap bang Farel membuat kami dengan serempak mengangkat kepala perlahan.


" APAA!!!, gak pernah liat orang nangis" ucap Lila pada murid lain yang memperhatikan kami sambil menghapus air mata.


Sementara Aku hanya diam saja saat menjadi pusat perhatian beberapa murid lainnya dengan tangan yang terus berusaha menghapus jejak air mata yang tadi membasahi pipiku.


"RI..RII"


Ucap beberapa teman sekelas ku yang dulu mengenal ku.


Dengan berlari kecil, menatap dan mendekat ke arah ku seolah tidak percaya dan menanyakan berbagai macam hal termasuk keadaan ku.


Aku kembali merasakan kehangatan dan indahnya masa sekolah yang selalu ku rindukan semenjak aku sadar kembali.

__ADS_1


ingin ku ulang kembali, namun Aku merasa tak akan semudah yang ku bayangkan.


__ADS_2