
"ahh... kenapa harus secepat ini sih" keluh Lila pagi ini.
" udah ngeluhnya nanti aja, kita harus cari ruang ujian kita di mana" ucap Ku.
" kita ke mading dulu aja gaes.." sahut Ema.
" kalian aja Aku tunggu di sini, belum sempat belajar nih" ucap Della.
" Rii liatin punya ku juga yaa" tambahnya.
" iya ... iya.." sahut ku.
Kami berjalan menuju mading untuk mencari di mana ruang kelas kami untuk ujian.
Setiap ulangan semester, jam pagi di hari pertama kita akan sibuk mencari tempat masing-masing sebelum ujian, begitu ucap kak Faiz yang ku ingat beberapa waktu yang lalu.
"eh Ri.. mau kemana?" Sapa kak Faiz dengan melambaikan tangannya.
"baru di omongin dalam hati orang nya sudah muncul" ucap hati ku.
" mau ke mading Kak" sahut Ku.
"sama.. bareng yaa" ucap nya.
Sesampainya di mading depan kantor Guru, terlihat banyak murid-murid lain yang juga sibuk mencari kelasnya.
"sudah di kantin desak-desakan, Di mading masa desak-desakan juga" ucap Lila.
"sudah jadi tradisi" sahut kak Faiz sambil tertawa menatap ke arah papan mading.
Aku kebingungan sendiri, melihat mereka yang berkumpul di depan mading.
" kalo nunggu sampe sepi keburu Bell masuk, udahlah terobos aja" ucap ku dalam hati,
kemudian Aku memberanikan diri menerobos masuk di sela-sela murid lain berusaha berada di posisi paling depan untuk melihat nama ku ada di Ruangan yang mana.
Tidak ku hiraukan lagi Lila dan Ema yang memanggil nama ku di belakang.
Walaupun Aku sampai di posisi depan, Aku cukup kesulitan melihat kertas daftar yang ada di mading karena Aku terus terdorong maju dan mundur oleh murid-murid yang lain.
" gimana liatnya, kalo kaya gini terus" ucap ku dalam hati.
" permisi tolong jangan dorong-dorong dong!" ucap ku pada murid lain yang tidak di dengar oleh mereka.
" ah percuma" tambah ku.
" Aku bantu ya" bisik seseorang di telinga ku.
Saat ku balikan badan ku, Raidil berdiri di belakang ku dengan tangannya yang bertopang pada dinding mading, dadanya yang bidang sangat dekat tepat di depan wajah ku.
" jangan lama-lama Rii.. Aku gak kuat" bisiknya lembut di telinga ku,
mendengar ucapan itu, tiba-tiba pikiran ku berjalan-jalan entah kemana.
Ku balikkan tubuh ku membelakangi Raidil, sedikit malu-malu Aku mulai mencari nama ku dan teman-teman ku yang lain.
__ADS_1
Setelah selesai Aku kembali berbalik menghadap Raidil.
" ayo Dil" ucap Ku.
" udah selesai?" tanyanya.
" udah kok" sahut ku dengan berusaha mengendalikan pandangan ku dari tubuh Raidil yang ada di hadapanku.
Akhirnya secara perlahan Kami keluar dari kerumunan dengan Raidil yang tepat di belakang ku sambil memegang kedua pundak ku seolah-olah memberi penjagaan seperti bodyguard.
" gimana Ri? udah liat?" tanya Ema.
" udah kok, Ema di kelas 8B, Lila sama Della di kelas 9A, Raidil 8C" ucap ku menjelaskan.
" terus kamu dimana Ri?" tanya kak Faiz.
" di kelas 8D" sahut ku.
" berarti cuma Aku dan Della di kelas paling jauh" ucap Lila.
" nama nya juga random" sahut kak Faiz.
"yaudah.. Aku nyusulin Della dulu, sampe ketemu jam istirahat" ucap Lila yang kemudian pergi meninggalkan Kami.
" kita juga yuk Ma" ajak ku pada Ema.
" semoga lancar ujian nya!" ucap kak Faiz.
" Kak Faiz di kelas mana?" tanya Ema.
" belum tau.. ini mau liat juga" ucapnya.
" ah maaf kak, Aku kira Kakak udah ketemu kelasnya" sahut ku sedikit merasa bersalah.
" gak apa-apa kok Rii" ucap lembut kak Faiz.
" ayo Rii " ajak Raidil yang sedari tadi berada di samping ku dengan nada yang ketus.
" ahh iya, duluan kak " ucap ku pada kak Faiz sambil menggandeng tangan Ema.
***
Bell berbunyi tidak lama setelah kami sampai di depan ruang ujian.
"good luck gaes" ucap Ema yang meninggalkan ku menuju ruang kelasnya,
tinggal Aku dan Raidil yang masih berdiri tanpa ada obrolan apa pun.
" hai Dil..ruang mana?" tanya Caca yang datang menghampiri kami.
"8C" ucap Raidil singkat.
" Sama dong," sahut Caca sambil berdiri menyela di antara Aku dan Raidil.
" ajarin Aku sebertar yuk Dil?" ucap Caca dengan menggandeng lengan Raidil.
__ADS_1
Tanpa menjawab Aku melihat Raidil menepis tangan Caca kemudian pergi.
Sementara itu Caca berjalan mendekat ke arah ku dengan wajah yang tidak bersahabat.
" Rii nanti habis jam pertama selesai ada yang mau Aku omongin sama Kamu!" ucap Caca dengan nada yang sedikit jutek dan tatapan yang tajam.
" oke" sahut ku.
" kira-kira Caca mau ngomongin apa?" tanya ku dalam hati dengan sedikit bingung.
Ujian jam pertama di mulai, semua murid lain sudah memasuki ruangan masing-masing begitu pula dengan ku, suasana begitu hening walau terdapat banyak orang di dalam Ruangan.
Sembari menunggu pembagian kertas ujian, mata ku sesekali melirik siapa saja teman-teman sekelas ku yang berada di ruangan yang sama dengan ku.
" lebih banyak Kakak kelas" ucap ku pelan dengan mata yang melirik ke penjuru kelas.
"Baiklah, waktu kalian satu jam untuk mengerjakan, tidak ada contek-mencontek, ketahuan mencontek lembar ujian di sobek di tempat" ucap Guru pengawas kami.
"dan satu lagi, jika kalian merasa sudah yakin dengan jawaban kalian, kalian bisa keluar lebih awal, paham!" tambahnya.
"paham pak" sahut semua yang ada di dalam ruangan.
suasana kembali hening, karena semuanya berfokus pada lembaran soal masing-masing termasuk Aku.
Sudah 35 menit berlalu, beberapa kakak kelas sudah ada yang keluar lebih dulu.
"pasti soal mereka lebih mudah untuk di kerja kan" ucap ku sambil menarik nafas melirik ke arah lembar soal ku.
" coba Aku bisa sedikit lebih pintar" keluh ku.
Di saat Aku melirik ke arah luar secara bersamaan Aku juga melihat Raidil sudah berada di teras kelas menandakan dia sudah selesai.
Dia berdiri tepat lurus dari pandanganku, karena bangku ujian ku berada paling depan jadi sangat jelas tanpa halangan untuk ku melihat ke arahnya.
Entah sudah berapa lama Aku memandangi Raidil, sampai pada akhirnya Raidil mulai menyadari apa yang Aku lakukan,dia berbalik menatap ke arah sambil tersenyum,
" Aku terciduk " ucap ku dalam hati dengan tersipu malu.
Aku berusaha kembali mengerjakan soal ulangan ku dengan sesekali mata ku melirik nakal ke arah Raidil begitu pula dengannya yang menatap ku semakin dalam dari kejauhan, sampai pada akhirnya Caca datang menghampiri Raidil dan melepas senyum ku yang berbalik diam menatap mereka yang sedang duduk berdua.
"lagi ngomongin apa sih? deket banget" tanya ku penasaran dalam hati.
Ku tundukkan kepala ku dan Kembali ku kerjakan ujian ku sampai pada akhirnya selesai.
Ku rapi kan semua alat tulis ku, lalu berdiri meninggalkan meja ku menuju ke arah Guru pengawas yang menerima hasil ujian,
dan kemudian berjalan keluar dari ruangan.
" kemana dia?" lirik ku mencari keberadaan Raidil,
ku raih tas dan buku-buku ku lalu pergi meninggalkan ruang ujian menuju ruang ujian Ema.
Tetapi, sebelum itu terjadi langkah ku terhenti dengan adanya Caca yang berdiri tepat di depan ku.
" ikut Aku Rii!" ucap nya dengan wajah yang sangat penuh dengan kebencian.
__ADS_1
Dan itu membuat hati ku sedikit merasa tidak enak dan khawatir.
"kenapa sih dia ?" pertanyaan itu muncul di pikiranku.