
"jadi kalian kenapa?" tanya pak Rudi dengan menepuk-nepukkan penggaris kayu di atas mejanya.
Kami hanya diam tanpa sepatah kata pun menjawab.
"kalau kalian masih gak mau jawab, bapak akan panggil orang tua kalian!" ucap pak Rudi tegas mengancam.
"jangan!!" sahut kami serempak.
"jadi coba jelaskan keributan apa yang membuat kalian mengganggu ketertiban class meeting" tanya pak Rudi dengan matanya yang teliti menyusuri kami bertiga.
"Raidil?".
" saya gak tau pak, saya cuma berusaha melerai" ucapnya jujur.
" kamu ?" tunjuk pak rudi dengan penggaris yang mendorong bahuku perlahan.
"secara fisik saya yang duluan, tapi itu terjadi karena dia yang mulai duluan dengan mulutnya" sahut ku berusaha jujur apa adanya.
" emang kamu ngatain dia apa?" tanya pak Rudi pada Caca yang tertunduk kesal
"saya..." Kata itu tak berlanjut, Caca kembali menunduk tanpa melanjutkan kata-kata nya.
"Apa..!!" Teriak pak Rudi dengan memukulkan penggaris kayu ke atas mejanya yang membuat kami sama-sama terpental kecil karena terkejut.
"catat nama lengkap kalian di sini, sertakan Wali kelas kalian" ucap pak Rudi sambil menyodorkan buku dan sebuah pena.
"ini peringatan pertama, sampe ada yang ke dua kalinya, kalian tau sendiri kan konsekuensinya?" tambahnya.
" iya Pak" serempak kami menjawab secara bersamaan.
"dan sebagai hukuman kali ini, saat jam pulang nanti kalian jangan pulang dulu, kumpulkan semua sampah yang ada di bagian sekolah" tegas pak Rudi menambahkan.
Dan kami hanya mengangguk.
"oh yaa, nanti sebelum mulai kalian kesini dulu" tambah pak Rudi.
Selesai dengan urusan bersama pak Rudi, kami berjalan keluar dari kantor BK.
"kantin yok" ucap caca sambil menggandeng tangan Raidil seolah Caca memang sengaja melakukannya di depan ku tanpa merasa bersalah.
"lepas" ucap Raidil dengan menepis tangan Caca dan pergi meninggalkan kami.
Caca kembali menatap ku degan tatapan benci,
Sementara aku berusaha sebisa mungkin menjauh dari Caca.
"Rii sini" teriak Lila yang berdiri di depan kantin bersama Ema dan Della.
"gimana?" tanya Della penasaran.
" Apanya ?" sahut ku bingung.
"itu tadi di kantor Bk?"jelas Della.
__ADS_1
"oh... gak apa-apa kok, cuma di kasih hukuman aja" ucap ku jujur.
"apa?" lila kembali bertanya penasaran.
"bersihin sampah nanti pulang sekolah" sahut ku.
"mereka juga?" tanya Lila dengan mata menunjuk ke arah Raidil yang berada di ujung lapangan dan Caca the geng di depan kantin.
"iya" sahut ku singkat.
" seenggaknya gak di panggil orang tua ke sekolah" ucap Ema.
" untungnya gitu" timpal ku.
Tringggggg...
Bell pulang berbunyi, sedikit demi sedikit sekolah mulai kosong yang tersisa hanya beberapa murid yang masih terlihat mondar mandir.
"Rii, mau di bantuin?" tanya Della.
" Gak, lagian yang di hukum kan Aku, kalian balik aja sana" ucap ku.
" Oh yaa nanti kalo kalian ke depan ketemu Ayah, bilang Aku masih di sini lagi beres-beres" tambah ku.
"beneran gak apa-apa nih ri" ucap Lila.
" apa kami nunggu di sini aja biar nemenin kamu sekalian" tambah Ema.
" gak.. kalian balik aja, paling juga cuma sebentar, udah sana pulang!" ucap ku sambil mendorong pelan pundak mereka.
"kita balik yaa" tambah Della dan Ema yang melambaikan tangan.
sementara Aku kembali berjalan menuju ruang Bk untuk mendatangi pak Rudi.
" Nih, kamu beresin yang di dekat lapangan dan di depan kelas XII" ucap pak Rudi sambil menyerahkan kantong sampah pada ku.
Aku berjalan menuju lapangan dengan mata ku yang berusaha menyapu aera sekolah mencari keberadan Raidil yang tidak ku temukan.
"Mungkin dia di bagian yang lain" sahut ku dalam hati sambil menghembuskan nafas ku dengan kasar.
***
Saat tangan ku sibuk memunguti sampah satu persatu, pikiran ku mulai memikirkan tentang hubungan ku yang menurutku sedikit rumit, bagaimana tidak? Aku menyukai Raidil bahkan sangat menyukainya, begitu pun sebaliknya tetapi di antara Aku dan dia bahkan tidak ada ikatan yang pasti seperti kata (pacaran) yang membuat Aku merasa seperti seseorang yang sangat Egois, menginginkan Raidil tanpa ingin adanya status bahkan hati ku begitu tidak Rela jika Raidil harus bersama dengan yang lain sementara dia bersama ku tanpa adanya status yang jelas.
"dasar bodoh" cerca ku pada diri ku sendiri.
Berdiri tegak Aku berusaha menghirup nafas sebanyak-banyaknya, berusaha meluruskan pikiran ku yang begitu Egois terhadap Raidil.
" mikirin Aku yaa?" ucap Raidil yang berdiri tepat di depan ku dengan sedikit menjewel hidung ku.
" Pe de banget sih" ucap ku sedikit tersipu.
" Aa..teryata benar begitu" sahutnya dengan yakin.
__ADS_1
" Apa sih" sahut ku memalingkan wajah sambil tersenyum tipis
" Aku kangen tau" jelasnya dengan sambil berdiri tepat di samping ku mengikuti langkah kecil kaki ku dengan tangan yang masih sibuk memunguti sampah.
Aku berusaha menyembunyikan wajah ku yang mulai memerah karena malu.
"kamu udah selesai?" tanya ku.
" udah, kantin udah cling tanpa sampah" sahutnya dengan semangat.
" maaf yaa, gara-gara Aku kamu jadi ikutan di hukum" ucap ku merasa bersalah.
" Heii.. jangan nyalahin diri sendiri gitu, bukan salah kamu kok Rii" ucap Raidil yang berusaha menghibur ku.
" tapi tetep aja sedikit banyak tetep sal-"
" udah gak usah di bahas, bukan salah kamu kok" sahut Raidil yang memotong ucapan ku.
" lagian ni yah, Aku tadi sempet kaget liat kamu kaya gitu sama Caca" tambahnya sambik menyematkan senyum ketidakpercayaan nya.
" kaget? kenapa?" tanya ku penasaran.
" yaa Aku kira kamu kalem gitu-gitu deh, tapi teryata bisa nabok juga" ucap Raidil dengan suara sedikit mengejek.
" Aku juga kaget, harusnya Aku bisa lebih nahan emosi ku" ucap ku dengan mulai sedikir bergetar merasakn penyesalan yang membuat Raidil sampai ikut di hukum karena ulah ku.
" heii...stop, gak semuanya bisa kita tahan,kamu udah berusaha" ucap nya sambil menatap ke arah ku.
"Raidil?" ucap ku yang tepat berdiri tidak jauh di belakangnya.
"Hemm?".
" apa yang kamu suka dari Aku?" tanya ku yang dari dulu ingin ku lontarkan padanya.
"kalau kamu?" belum menjawab pertanyaan ku Raidil malah melempar pertanyaan itu pada ku.
Aku terdiam mematung di hadapan Raidil, bukan karena Aku kebingungan harus menjawab apa, tetapi karena jantung ku berdetak sangat kencang saat dia mendekatkan wajahnya tepat di depan wajahku yang hanya menyisakan celah untuk bernafas.
"Rii, Aku sudah berusaha untuk menahan, tapi rasa-rasanya Aku mulai merasa goyah dalam hitungan detik" ucapnya yang berusaha Aku cerna.
"Rii boleh yaa dan maaf" tambahnya.
Cup..
Bibir lembut Raidil yang merona mendarat tepat di pipi kanan ku, Aku merasakan dunia yang berbeda setelah apa yang baru saja Raidil berikan pada ku, jantung ku semakin berpacu dengan kuat, pipi ku memerah dengan suhu tubuh ku yang terasa makin memanas.
Aku terdiam dengan mata dan tubuh ku yang kaku tiba-tiba.
"Aku tunggu di depan gerbang yaa" ucapnya sambil tersenyum yang kemudian berlari meninggalkan ku.
Sementara Aku masih berdiri di tengah-tengah lapangan seperti terjebak di waktu yang terhenti.
"tadi dia-" ucap ku dengan tangan yang sambil memegang pipi kanan ku seolah merasa tidak percaya dengan yang baru saja Aku alami.
__ADS_1
Nafas ku tiba-tiba memburu seolah-olah berusaha mengimbangi detak jantung ku yang masih saja berdetak tidak karuan,dan senyum di bibirku tertoreh sangat dalam memperlihatkan hati ku yang di penuhi dengan bunga yang bermekaran.