
Pemandangan langit malam yang cerah penuh bintang dengan bulan sabit yang sedikit memberi cahaya menemani ku di sudut jendela kaca ruangan ku.
sesekali tatapan ku mengarah pada tante Erna yang tertidur lelap karena kelelahan menemani dan mengurusku seharian.
"Semuanya sudah lebih baik, jika semuanya terus seperti ini bisa-bisa minggu depan menjadi terapi mu yang terakhir" ucap dokter Arya tadi siang terus teringat di benak ku
Cekkllek..
Suara pintu yang terbuka di waktu yang sudah menunjukkan dini hari membuat ku terkejut.
"Ehh.. belum tidur Rii, gagal deh bikin surprise nya " sapa bang Farel yang datang dari balik pintu.
" Lhoh bang?" ucap ku heran dengan kedatangan bang Farel yang tiba-tiba.
" kaget yaa? Habis pulang jalan-jalan nih " ucapanya santai.
" jalan?" sahut ku bingung.
"Iya.. liburan sama teman-teman, sekalian ngantar barang ini buat kamu" ucap nya sambil menaruh sebuah kotak kecil di atas meja dekat kasur ku.
"Kenapa gak di kirim aja" tanya ku.
" Kan mau jalan-jalan, makanya baru sekarang Abang ngasihnya biar sekalian sama keberangkatan Abang dan teman-teman" jelas bang Farel.
"Hmm" sahut ku paham.
"Lumayan ngirit ongkos kirim" tambahnya.
" Abang balik ya".
"Lhoh kemana?" tanya ku.
"Ke hotel lah, dari landing sampe jalan-jalan tadi belum sempat istirahat" ucapnya.
" Bang".
"Hem.. kenapa?" sahut bang farel berbalik badan menatap ke arah ku.
" Tolong kotaknya" ucap ku menunjuk pada kotak yang selama ini ku nanti.
Berjalan perlahan bang Farel mendekat ke arah ku yang duduk tepat di pinggir kaca jendela rumah sakit.
"Nih" ucap nya sambil berdiri di samping ku.
" Ngapain bang?" Tanya ku menatap bang farel yang tak kunjung pergi dari sisiku.
" Abang mau tau juga" sahut nya singkat.
" Huusss.. pergi, gak boleh liat tauk.. PRI-VA-SI! " usir ku dengan tangan kanan yang mendorong perlahan tubuh bang Farel untuk menjauh.
" Iya iya... Yaudah Abang balik yaa, besok Abang ke sini lagi, bilang sama Mama" ucapnya berlalu dan menghilang di balik pintu.
---
"2007 Di Bulan April,
Ku tatap seorang gadis di halte persimpangan lampu merah dari dalam mobil, dengan seragam putih berdasi serta rok biru Dongker yang sudah basah karena derai air hujan,
Memeluk setumpuk buku dengan satu tangan kiri, sementara tangan kanannya terus memainkan Air hujan dengan senyum yang merekah.
Ku pandangin ia dengan penuh tanya, apa yang membuatnya tersenyum hanya dengan menyentuh air hujan?
Besoknya, Aku kembali melihat gadis yang sama.
Dengan kaki yang mengayun, Dia duduk manis sambil kembali tersenyum menatap ke arah langit yang cukup terik siang itu.
pertanyaan yang sama kembali muncul di pikiran ku,
apa yang membuat dia tersenyum di tengah teriknya panas siang itu.
__ADS_1
Aku terus bertemu dengannya di tempat yang sama setiap jam pulang sekolah, membuat Aku mulai terbiasa dengan nya yang ku tatap dari dalam mobil.
Aku tersenyum saat dia tersenyum
Dan terus menatapnya sampai tak terlihat lagi di persimpangan jalan, kemudian Aku menyadari bahwa Aku yang bocah saat itu menyukainya".
"2007 Di Bulan April
Hari ini dengan nakal Aku memberanikan diri pulang lebih awal sebelum supir menjemputku, berdiri tepat di tempat yang sama dengan gadis itu, di halte persimpangan lampu merah.
Sengaja datang lebih awal, Aku menunggunya di kursi bagian ujung halte.
Dengan tangan yang melipat ke dada, jantung ku berdebar seolah memberi isyarat bahwa gadis itu semakin mendekat dan... ternyata isyarat itu benar.
Dia berlari kecil dengan tangan yang memeluk buku bersama tiga temannya,
Tawa dan senyum tulus yang bukan untuk ku saat itu membuat jantung ku berdebar dan berkali-kali membuat Aku menghela nafas panjang karena gugup.
Aku gugup saat hanya memandangnya diam-diam.
Aku gugup saat berdua dengannya di halte bus yang tinggal menyisakan kami berdua.
Aku gugup walau tanpa saling menyapa.
Dan Aku gugup saat sesekali dia melirik ke arah ku yang tidak jauh darinya saat itu.
Aku yang masih bocah waktu itu semakin menyukainya".
"2007 di akhir Bulan April
Ini yang namanya Rindu, Aku merasakan kegelisahan yang teramat dalam, tersiksa di awal libur sekolah menunggu kelulusan, tak pernah lagi terlihat oleh mata ku gadis itu.
Gadis dengan senyum tulus yang membuat Aku jatuh cinta untuk pertama kalinya dan merasakan beratnya rindu".
***
Catatan kecil di beberapa kertas menjadi pembuka rasa penasaran ku pada sebuah kotak kecil yang datang bersama bang Farel malam tadi.
Di temani Arunika yang menyapa di sela embun pagi, ku buka lembaran selanjutnya yang terbungkus amplop biru, sebuah surat dengan tulisan tangan bertinta hitam.
"Dear : my fris love Riria alena
Aku merindukan mu, menjadi kalimat pertama yang ingin ku sampaikan padamu melalui surat ini.
Aku mencintaimu, kalimat kedua yang Aku ingin engkau tau.
Dan berjumpa dengan mu menjadi harapan ku saat ini.
Maafkan Aku sampai saat surat ini tepat di tangan mu, Aku pergi tanpa berpamitan dan kabar.
Aku merindukan mu.
Aku menyesal tentang sikap acuh ku waktu itu, ribuan kali ku berpikir apakah itu alasan Kau pergi tanpa kabar dan pesan!
Atau mungkin ada alasan lain?
Berminggu-minggu Aku terus mencoba mencari dan menunggu kabar mu, Namun hasilnya tetap sama sampai Aku benar-benar harus pergi kembali ke jogja, mengikuti kedua orang tua ku yang di pindah tugaskan.
Aku berpikir bahwa kau mungkin saat ini marah padaku yang waktu itu sengaja berpura-pura acuh dengan semua pesan mu, Aku tidak benar-benar marah.
Bagaimana bisa Aku marah dengan seseorang yang begitu spesial bagi ku hanya karena masalah sepele.
Aku tersenyum saat membaca semua pesan yang berisi kekhawatiran mu tentang perasaan ku, membuat Aku ingin terus melakukannya sampai pada akhirnya Aku harus di hadapkan dengan penyesalan karena kehilangan mu yang sampai saat ini tidak ku tau kabar dan ke adaanmu.
Aku harus berbuat apa? Harus bagaimana?
Kini kita berbeda pulau, Aku tak berdaya dengan semua keadaan yang semakin rumit di hidup ku, tanpa kekuatan apapun Aku hanya remaja lemah yang tidak mampu memperjuangkan mu dan menemukan mu.
Bagaimana dengan hubungan kita?
__ADS_1
Bagaimana dengan cinta dan rasa Rindu ku?
Apa yang harus ku perbuat?
Bagaimana cara Aku bisa menemukan du saat jarak kita terpisah jauh.
Apa Aku harus pasrah dengan keadaan?
Bagaimana jika Aku semakin merindukan mu?
Bahkan saat menulis surat ini Aku terus merasakan sesak di dada menahannya.
Maafkan Aku yang tak bisa menemani mu saat ini,
Maafkan Aku membawa semua rasa cinta untuk mu pergi menjauh.
Maafkan aku atas semua yang terjadi.
Aku benar-benar mencintaimu sama Seperti saat awal Aku menemukanmu dua tahun lalu di halte persimpangan lampu merah.
Merasakan sakit menahan rindu pada seseorang yang bahkan Aku tidak tau namanya.
Dan apa kau tau bagaimana perasaan ku saat Aku kembali berjumpa dengan mu di sekolah yang sama, aku tersenyum seperti orang gila dan melompat dengan girang tepat di lapangan basket saat hari pertama masuk sekolah, dan untuk pertama kalinya Aku melihat takdir yang muncul di saat aku tengah putus asa mencarimu beberapa bulan sebelumnya.
Kini terjadi lagi, Aku kembali kehilangan mu persis seperti 2 tahun lalu.
Apa harus kembali ku pasrahkan pada takdir?
Tapi bagaimana?
Bagaimana jika waktu dan keadaan tak merestui kita? Bagaimana takdir akan datang mempertemukan kita?
Dan bagimana dengan cinta yang kita rasakan?
Apa akan tetap selalu sama?
Mampu kah kita bertahan dengan ke adaan ini?
Rii.. saat ini Aku menjadi laki-laki yang begitu pengecut,
Aku ketakutan Dengan semua pikiran ku tentang bagaimana dirimu.
Aku takut semua ini berakhir begitu saja dan menoreh luka yang dalam.
Aku takut kehilangan mu.
Aku sungguh tidak siap dengan perpisahan,
Tapi keadaan tentang hubungan yang kita lalui saat ini semakin memperjelas bahwa perpisahan terjadi di antara kita.
Jika kau jadi Aku, Apa yang akan kau lakukan?
Bertahan?
Atau harus merelakan?
Bagaimana dengan takdir? Apa Aku bisa percaya dengannya untuk ke dua kalinya di tengah segala keraguanku tentang keadaan yang kita hadapi.
Tak pernah sedikitpun Aku Ragu dengan rasa yang kita miliki saat ini, Aku hanya ragu pada waktu dan ke adaan yang bisa mengkhianati kita.
Aku mencintaimu sampai saat ini, Aku sangat berharap kau kembali dalam keadaan sehat dan baik-baik saja,
Sekali lagi maafkan Aku yang harus pergi meninggalkan mu.
Jika waktu berpihak pada kita, aku akan terus berusaha menemukan mu kembali walau terbentang jarak.
Dan Aku juga berharap waktu terus berpihak dengan perasaan kita yang saat ini sama.
Hubungi Aku, jika surat ini tepat di tangan mu.
__ADS_1
I'am always love you Riri.
... Raidil...