
"drrrrtttt" getar ponsel ku menandakan pesan baru masuk.
"oke, Aku jemput dimana Ri?" Balas Raidil menjawab pesan ku.
" di Rumah" lagi-lagi balas ku yang seolah-olah cuek.
Aarggg.. reriak ku dengan wajah yang di tutupi bantal.
Waktu terasa begitu cepat, saat ku lirik jam di ponsel ku sudah menunjukkan pukul 2 siang, Aku bergegas menuju kamar mandi.
Selesai dengan semua kesibukan persiapan ku terduduk diam Aku di depan meja rias ku, mataku menatap ke arah kaca cermin dan sesekali Aku melirik ke arah jam, suara jantung ku berpacu semakin jelas terdengar di telingaku.
Aku gugup dan malu, bahkan Aku memikirkan apa yg harus Aku lakukan kalau Raidil sudah datang nanti.
"plisss tenang Rii" ucap ku dengan menarik nafas ku.
Ku rebahkan tubuh ku di atas tempat tidur ku, entah karena terlalu lelah memikirkan tentang Raidil mata ku sedikit mengantuk, perlahan tapi pasti mataku mulai tertutup dan Aku pun lelap dalam tidur siang ku.
"Rii... rii.. bangun nak " suara Ibu membangunkan ku sambil menggerakkan bahu ku.
" ahh iya buu.." sahut ku dengan mata yang masih berkunang-kunang.
" ada tamu kamu tuh di depan" ucap Ibu.
"ahh siapa bu?" tanya ku dengan masih setengah sadar.
Aku berdiri dan langsung berjalan menuju ruang tamu untuk melihat siapa yang datang,
dan.. Aku melihat Raidil yang duduk di sofa ruang tamu, Aku membeku dan terdiam. Begitu pun dengan Raidil yang sama terdiam nya dengan ku, wajahnya mengekspresikan bahwa di terkejut melihatku.
"Aa.. rambut ku" ucap hati ku, karena terurai begitu saja.
"sebentar Dil" ucap ku sambil berbalik menuju kamar ku.
"ah ok" jawab nya dengan suara kaku dan pandangannya yang di palingkannya menyamping.
"ih bodoh banget sih Rii" ucap ku sambil memejamkan erat mataku.
Aku sedikit merasa malu saat Raidil melihat ku tanpa menggunakan hijab. Dia menjadi laki-laki kedua yang melihat Rambut ku yang terurai setelah Ayah.
Karena dari Sekolah Menengah Pertama, Ayah mulai memasukkan ku di sekolah yang menggunakan hijab, tetapi biarpun begitu mereka tidak pernah berusaha memaksakan Aku harus atau wajib mengenakannya karena Ayah dan Ibu mengatakan ingin Aku mengenakannya dengan kesiapan hati ku, bukan karena terpasak atau di suruh, walau pun Aku tahu itu kewajiban.
Aku kembali berjalan menuju ruang tamu.
"lama yaa" ucap ku lembut.
"ahh gak kok" sahutnya sambil tersenyum manis pada ku.
"yaudah, ayok" ajak ku.
"bu Riri pamit yaa" ucap ku pada Ibu.
" jangan pulang malam-malam ya" sahut Ibu sambil menatap ke arah Raidil.
__ADS_1
" iya tante" sahut Raidil sopan.
Saat kulangkah kan kaki ku naik motor Raidil, Aku merasa memiliki gangguan pada jantung ku karena jantung ku kembali berpacu dengan kencang, tubuh ku terasa panas dingin karena gugup.
"Rii kok diam?" tanya nya dengan mata yang masih tertuju ke arah depan.
" mm.. Aku bingung mau ngomong apa" jawab ku jujur.
" hahaha apa sih yang di bingungkan" sahut nya sambil tertawa kecil.
"kita ketaman mau gak?" tambahnya.
"ah.. boleh" sahut ku singkat sambil tersenyum...
***
Sesampainya kami di taman, kami berjalan pelan mengelilingi area taman sambil mengobrol kecil.
" udah pernah kesini Ri?" tanya Raidil yang membuka pembicaraan di antara kami.
" ini yang pertama" sahut ku dengan mata yang memyapu penjuru taman.
"kamu juga yang pertama" tambahku sambil tersenyum tipis.
"pertama apa?" tanya nya sambil menatap ke arah ku.
"semuanya" sahut ku pelan.
"kamu sukanya main tekateki ya Rii" ucap nya sambil tersenyum lebar.
"itu barusan" tambahnya tertawa.
"kamunya aja gak peka" jawab ku sambil tertawa.
Waktu berlalu begitu saja, entah sudah berapa lama kami habiskan untuk mengobrol berdua sambil berjalan.
"cape gak Rii? Kita cari kursi yok" ucap Raidil.
"duduk di situ aja" ucap ku sambil menunjuk ke arah bangku taman yang tidak jauh dari tempat kami berdiri.
"yaudah ayok" ucapnya dengan menarik pergelangan tangan ku.
Aku terkejut dengan apa yang di lakukan Raidil, mata ku tertuju ke arah tangan Raidil yang mengenggam tangan ku.
"kamu duduk aja dulu disini," ucap nya.
" kamu mau kemana?" sahut ku bertanya.
" sebentar yaa.." tanpa menjawab pertanyaan ku Raidil meninggal kan ku di bangku taman sendirian.
Mata ku mengikuti kemana arah Raidil pergi sampai akhirnya dia menghilang dari pandangan ku.
Aku duduk terdiam memandangi taman kotaku ini, banyak remaja dan pasangan yang seusia ku berlalu lalang di depan ku, tidak jauh dari tempat duduk ku, ada beberapa pemuda yang kurasa seusia ku duduk bergerombol dan sesekali menatap ke arah ku.
__ADS_1
"Raidil kemana sih?" ucap ku sambil mencari keberadaan nya.
Aku mulai merasa tidak nyaman dengan keberadaan mereka yang semakin sering menatap ke arahku.
"kok sendirian aja, sini lah gabung" ucap salah satu dari mereka.
Aku hanya tersenyum tipis berusaha sedikit sopan walau tanpa menjawab, hati ku sedikit khawatir karena mereka semakin sering menggodaku.
Aku memutuskan untuk pergi dari tempat duduk ku,dan di saat Aku ingin berdiri meninggalkan tempat duduk ku, salah satu dari mereka berjalan ke arahku dan menggenggam pelan tangan ku.
"Hei boleh kenalan? namaku Aldi" ucapnya sambil tersenyum lebar.
Ku tarik tangan ku tanpa menjawab apa pun.
Aku mulai sedikit ketakutan, dan tanpa Aku sadari jantung ku pun mulai berdetak gugup karena takut.
" Ahh sorry Aku gak bakal aneh-aneh kok, cuma mau kenalan aja" ucap nya lagi masih dengan tersenyum ramah.
Aku masih hanya diam, melihat dia yang berdiri di depan ku dengan tubuh nya yang cukup tinggi bahkan dia menyapa ku dengan sangat ramah.
"Riii..." ucap Raidil yang tiba-tiba datang dari arah belakang ku yang membuat Aku kaget.
"kamu.. siapa?" tanya Raidil mengenggam tangan tanganku erat.
"nukan siapa-siapa kok, bay Ri" ucap nya berbalik meninggalkan kami.
"kapan-kapan ketemu lagi" tambah nya sambil tersenyum dan kembali berjalan ke arah teman-teman nya.
Aku dan Raidil pun kembali duduk di tempat kami semula.
"kamu kenal dia Rii?" tanya Raidil dengan tatapan khawatir.
" gak.." ucap ku singkat.
" sorry Aku ninggalin kamu kelamaan" ucap nya sambil menyodorkan minuman.
" lama banget ngantri nya" tambahnya menjelaskan.
Sesekali Raidil menatap ke arah gerombolan orang yang menyapaku tadi.
" kamu gak di apa-apain kan Rii?"
" Ggk kok, cuma Aku kaget aja di gituin" ucap ku.
" maaf ya Rii, harusnya Aku tadi gak ninggalin kamu di sini sendirian" ucap Raidil dengan mata nya yang penuh dengan penyesalan dan kekhawatiran.
" udahlah, gak apa-apa" sahut ku singkat.
" pasti kamu takut" ucap nya sambil mengusap kepalaku dengan lembut.
Seketika itu Aku menatap ke arah Raidil, dan mata kami bertemu satu dengan yang lain.
Aku masih melihat ada sedikit kekhawatiran dan penyesalan di matanya,
__ADS_1
bibir ku tersenyum tipis seolah-olah berusaha menjawab kekhawatirannya.
" bagaimana Aku tidak semakin menyukaimu Dil" ucap ku dalam hati dengan menatap lembut mata Raidil.