First Love "Di Bulan April"

First Love "Di Bulan April"
ZIRA


__ADS_3

"Rii... Bangun kamu gak sekolah nak?" tanya ibu samar-samar di telinga ku.


" Riri boleh libur ya bu? lagian di sekolah gak belajar kok" ucap ku.


"kenapa mau libur?".


" Riri gak enak badan bu" ucap ku.


" Yaudah".


"Hehe makasih ya bu" sahut ku pada Ibu dari dalam selimut.


Hari ini Aku memutuskan untuk tetap di rumah, karena rasanya akan sangat memalukan bagi ku jika harus datang dan menjadi pusat perhatian setiap mata yang memandang ku penasaran atas kejadian semalam yang terjadi antara Aku dan Caca.


Ku pandangi embun pagi yang menempel di kaca jendela kamar yang kemudiam perlahan menghilang ketika matahari mulai muncul.


Pikiran ku masih berputar-putar dengan semua perkataan Caca yang terngiang di telinga ku.


" siapa sih yang ngerebut?" ucap ku kecil bertanya pada diri ku sendiri.


"lagian yaa emangnya salah kalo suka sama suka.. Gak kan!" Tambah ku dengan beranjak duduk dari posisi tidur ku yang masih menggunakan Hoodie toska.


" pake acara nampar segala, coba aja kalo gak banyak yang liat bakalan Aku balas" sambil mengepalkan tangan Aku menggigit gemas bibir ku.


"Rii.. kata Ibu kamu gak enak badan?" tanya Ayah yang tiba-tiba membuka pintu kamar.


" ahh iya nih yah... Badan Riri agak meriang" ucap ku perlahan sambil kembali merebahkan tubuh ku menghadap ke arah jendela kamar.


" masa sih?" ucap Ayah sambil meletakkan tangannya di keningku.


" tapi ini gak panas kok" tambah Ayah.


"ih beneran kok yah" ucap ku berusaha meyakin kan.


" iya iya.. Nanti makan yaa, Ayah kerja dulu" sahut Ayah yang kemudian pergi meninggalkan ku.


Kembali ku pandangi jendela kamar ku menikmati setiap cahaya matahari yang masuk dan merasakan sedikit ketenangan,


"bagaimana dengan senin nanti?" Pikiran ku tiba-tiba teringat tentang masalah kemarin.


"aaaahhh" ringis ku sambil menggulingkan tubuh ku dengan Risau di atas tempat tidur ku.


Cahaya matahari meredup berganti dengan langit mendung yang datang tiba-tiba, rintik kecil berdatangan membasahi semua permukaan bumi. Udara sejuk menembus ke dalam selimut yang membalut tubuh ku, dengan masih menatap ke arah luar, Aku terhayut dengan bayangan Raidil yang melintas di pikiran ku.


" ihh.. gak aslinya, gak bayangannya, sama-sama suka datang tiba-tiba " ucap ku dalam hati dengan menorehkan senyum.


"udah rindu aja, padahal baru hari ini gak ketemu" tambahku sambil bersandar duduk dengan tangan yang memeluk kedua lutut kakiku.


Tok.. tok..


"Ri kamu gak makan?" tanya Ibu membuka pintu kamar ku.


" sebentar lagi ya bu" ucap ku.


" Ibu titip Zira bisa? Ibu mau ke tempat tante Imah" ucap Ibu dengan Zira yang berdiri tepat di belakang kaki Ibu.


"Iya bu, hati-hati" sahut ku sambil bangun berjalan ke arah Zira dan menggendongnya.


"Ibu tinggal yaa" ucap ibu dan berlalu meninggalkan Aku dan Zira.


"let's go dek, kita makan dulu" sambil menggendong Zira Aku menuju ke meja makan.

__ADS_1


"Zila mau.. zila mau" ucap gemas Zira menjuk ke sosis yang tertancap di garpu makan ku.


" Oke.. ini buat zira".


Dengan lahap Zira memakan semua makanan yang ada di genggamannya.


Selesai makan Aku dan Zira kembali berbaring di kamar, setelah asik bermain dengan semua mainannya Zira pun terlelap tidur.


" cantik banget sih dek" ucap ku gemas sambil memindahkan Zira dari lantai ke atas tempat tidur ku.


Drrrttt.. dddrrrttt..


Getar ponsel ku di atas meja mengagetkan ku, Aku berjalan mendekat dan mengenggamnya di tangan.


"Raidil" ucap ku membaca nama siapa yang menelpon ku.


" Ri" ucap nya sedikit berbisik


" em.. ada apa Dil?" tanya ku.


" kenapa gak sekolah?" ucap nya masih dengan sedikit berbisik.


" gak enak badan aja" sahut ku.


" kamu kenapa bisik-bisik gitu?" tanya ku penasaran.


" lagi di dalam kelas" sahutnya.


" bawa ponsel?" tanya ku kaget.


"Ssttt, ngumpet-ngumpet" ucap nya sedikit tertawa.


"kangen Ri" ucap nya singkat yang terdengar telinga ku.


" Sama" sahut ku pelan dengan tersipu.


" pulang nanti boleh main ke rumah?" tanya nya pada ku.


" em iya".


" yaudah Aku tutup yaa telponnya" ucap Raidil.


" Oh oke" sahut ku singkat dan tak lama setelah itu telepon kami terputus.


Ku pejam kan erat mata ku sambil tersenyum untuk menggambarkan kebahagiaan ku pagi menjelang siang itu, kemudian ku tatap Zira yang masih tertidur lelap dan perlahan meninggalkannya pergi menuju kamar mandi.


"fyuhh.. dingin banget" sambil mengusap tangan Aku mencari kehangatan.


Kembali ku tatap zira, " masih belum bangun juga kamu dek? " ucap ku sambil menaruh selimut pada tubuh Zira yang mungil.


***


Tepat berdiri di depan cermin, ku pandangi bayangan diri ku dengan tatapan datar.


sepintas bayangan Raidil dan Caca mulai mendatangi ku dan membuat Aku membandingkan antara Diri ku dengan Caca.


Jika di pandang dari kecantikan Aku akan sangat kalah jauh dengan Caca yang memang sangat cantik bahkan sekaligus pintar, tidak dengan diriku.


Aku juga mulai mempertanyakan apa yang membuat Raidil menyukaiku?


"Jangan bilang nanti Aku akan di intimidasi oleh keluarga Raidil yang tidak menyukaiku, atau Aku akan di bayar untuk menjauhi Raidil atau mungkin juga Raidil akan di larikan ke luar negri supaya dia tidak bisa bertemu dengan ku" bayangan-bayangan liar ku tercipta begitu saja.

__ADS_1


"gila kamu Ri, kebanyakan baca novel-novel drama sih" ucap ku dalam hati sambil menggelengkan kepala ku.


"Assalamualaikum" salam seseorang yang tidak asing terdengar.


"waalaikumsalam" Aku berjalan keluar untuk melihat siapa yang datang.


"oh.. masuk Dil" sambut ku.


"ah iya." Raidil masuk dan duduk serta menaruh beberapa minuman dan cemilan kecik di atas meja.


" sebentar" ucap ku meninggalkan Raidil masuk ke kamar.


Ku tatap diri ku di cermin dan merapikan sedikit polesan di bibir ku dan menarik napas dalam.


Sebelum ke luar menemui Raidil ku tatap kembali Zira yang masih tertidur dengan sedikit tersenyum tipis.


" kok sepi Ri? Ibu Ayah kemana?" tanya Raidil.


" ah Ayah kerja, Ibu lagi keluar" sahut ku.


" kamu sendiri?" tambahnya.


" gak, ada Zira di kamar lagi tidur " sahut ku.


Tak lama setelah itu, Zira merengek karena terbangun dari tidurnya.


" bertar ya Dil" Aku berlalu meninggalkan Raidil ke kamar.


" udah bangun ya Dek" ucap ku sambil menggendong Zira yang sedang mengucek matanya dan kemudian kembali berjalan ke luar membawa Zira.


Raidil memberikan tatapan yang hangat saat melihat ku kembali dengan membawa Zira.


"kenapa ngeliatin gitu" tanya ku tanpa berani membalas tatapan nya,


sementara Zira masih berada di gendongan ku.


" adek sama kakak sama-sama cantik" ucap nya.


"apa sih.." sahut ku meledek.


"hahaha serius " Raidil tertawa.


" iya percaya deh" sahut ku.


Kembali Raidil menatap ke arah ku.


" jangan ngeliatin Aku terus" ucap ku dengan pipi yang mulai merah jambu.


" yee ge er, orang Aku liatin Zira kok" ucap nya tertawa.


sementar Aku tertunduk malu menatap ke arah Zira.


"kira-kira Zira mau gak kalo Aku yang gendong?" ucap Raidil.


"mau coba?" sahut ku.


tanpa aba-aba Raidil bediri mendekat ke arah ku, tangannya berusaha meraih Zira dan tanpa sengaja tangan kami saling bersentuhan yang membuat pandangan pandangan mata kami saling beradu.


Siang itu walau tanpa sinar matahari, menjadi semakin hangat terasa karena Raidil, Aku kembali melupakan persoalan yang baru kemarin terjadi pada ku dan Raidil.


Kami seolah-olah menikmati setiap moment yang terjadi, hari ini mungkin tak akan sama dengan kemarin atau pun hari esok, jadi sebisa mungkin Aku akan membuat semuanya penuh arti.

__ADS_1


__ADS_2