
Tangis ku pecah dengan suara yang masih tertahan, surat Raidil ku peluk erat dengan tangan kanan yang meremas rambut.
Rasa rindu di hati ku memberi rasa sakit yang teramat dalam, surat yang ku baca semakin membuat rindu ku menggumpal begitu hebat sampai akhirnya suara tangis yang tertahan berubah menjadi suara lirih penuh dengan sedu sedan.
Aaarrrgghhhh
Hanya rintihan yang mampu ku keluarkan dari isak tangis ku.
Dengan tangan yang masih memeluk lembaran surat yang mulai terlihat kumal karena ku remas di dada.
"Rii... kenapa?" tanya tante Erna yang terbangun karena tangis ku.
Tanpa menjawab Aku hanya terus menangis di hadapan sinar matahari pagi yang mulai meninggi.
"Rii... Ada apa? sekali lagi tante Erna bertanya pada ku dengan posisi terjongkok tepat di hadapan ku.
"Tante, a-pa boleh Riri pinjam ponsel?" ucapku ku dengan air mata yang masih membasahi pipi.
Tante Erna berlari kecil sambil mengenggam ponsel di tangannya.
" Ini sayang" ucap nya sambil sedikit mengusap air mata ku dengan lembut.
Ku tekan semua nomor ponsel yang ada pada lembar belakang surat Raidil.
Tangan ku bergetar saat meletakkan ponsel tepat di telinga ku, jantung ku berdebar dengan suara yang tertahan.
Aku menunggu berharap panggilan telepon ku masuk.
Tut.. tut.. tut
Rasa kecewa menghampiri ku saat mendengar nada itu.
Aku kembali menhubungi nomor yang sama dengan hasil yang tetap sama.
Air mata kembali mengalir tanpa suara Aku masih tetap berusaha menghubungin nomor ponsel itu.
Sampai pada akhirnya Aku menyerah.
Huhuhuhu
Tangis ku kembali pecah, dengan tangan yang masih menggenggam ponsel,
" Rii... Mungkin ponselnya mati, nanti kita coba lagi yaa" hibur tante Erna.
"Bagaimana jika nomonya akan tetap seperti ini" sahut ku dengan menatap tante erna yang nampak kebingungan.
"Coba terus, kamu punya banyak waktu sayang" tambah tante Erna yang berusaha ku cerna.
Ku usap kasar air mata ku dan berusaha menarik nafas dengan Dalam dengan tangan yang menopang kening.
"Udah Rii, jangan nangis lagi" ucap ku dalam hati.
"Bentar, tante ambilin air dulu" ucap tante Erna yang kemudian berjalan menuju keluar.
"Tante?" Panggil ku membuat langkah tante Erna terhenti dan berbalik ke arah ku.
" Semarang jogja jauh yaa?" tanya ku serius.
" Sayang jangan aneh-aneh deh, jogja itu luas" ucap tante erna yang membuat Aku terdiam dan berpikir.
"Tante tinggal dulu yaa " ucap tante Erna yang meninggalkan ku.
Terik matahari pagi yang meninggi dan menusuk kulit tak membuat ku beranjak dari sisi jendela kaca.
Mataku menatap langit yang mulai di penuhi awan putih dan berusaha kembali berpikir jernih.
Pandangan ku kembali beralih pada kotak Raidil, terlihat bungkusan kecil berwarna merah jambu di balik catatan-catatan kecil Raidil yang sudah ku baca.
Saat ku sentuh teryata itu sebagian dari kalung cople yang dulu pernah dia beli bersama ku di sebuah mall.
" Dasar, bisa-bisanya bilang buat hadiah orang tua" ucap ku kecil dengan linangan air mata yang seolah tak pernah habis mengingat kenangan tentang kalung yang ada di genggaman ku saat ini.
***
7 bulan kemudian.
"Halo, rii jadi gak?" teriak Lila dari balik ponsel ku.
" Iya jadi" sahut ku sambil sedikit menjauhkan ponsel ku dari telingan.
__ADS_1
" Oke, otw yaa" sahutnya yang kemudian terputus begitu saja.
" Bang bilang tante, riri jalan sama temen-temen yaa" ucap ku pada bang farel yang duduk santai di ruang tamu.
" Obat.. obat" ucapnya.
" Ehh iya lupa " sahut ku sambil berlari kecil kembali ke kamar.
" Abang titip martabak dong" ucap bang Farel.
" Asin apa manis? Tanya ku.
" Di mana-mana martabak ya asin rii, kalo manis yaa terang bulan dong" ucap bang farel mengingatkan ku pada ibu.
" Iya iya" sahut ku sambil sedikit tersenyum.
" Tante masih lama ya pulangnya?".
" Kayanya" sahut bang farel singkat.
Tak lama menunggu sebuah mobil hitam parkir tepat di depan rumah ku
Thitt.. thittt... suara Klakson mobil Ema.
"Berangkat ya bang" ucap ku sambil meraih pucuk tangan bang farel.
" He em" sahutnya dengan mata yang berfokus pada laptopnya.
Aku berlari kecil menuju mobil Ema yamg pintunya sudah terbuka.
" Uuuu.. cantik banget sih" ucap Della.
" Ngejek yaa" sahut ku.
" Dih.. di puji malah di kira ngejek" ucapnya.
" Let's go" ucap lila semangat, membuat kami sedikit terkekeh geli.
Dddrrrttt... Drrrtt..
"Ponsel siapa tu?" ucap Lila sambil mencari sumbee suara getar ponsel yang kami dengar.
"Ehemm.. pasti bebeb Faiz" ledek Della pada Ema yang memang sudah berpacaran dengan kak Faiz sejak setengah Tahun lalu,
Aku cukup terkejud saat pertama kali tau tentang hubungan mereka, tapi di sisi lain Aku juga sangat mendukung hubungan mereka, mengingat sikap kak Faiz yang juga mememang sangat baik.
"Haha dasar jomblo" celetuk Ema membalas ledekan Della dan Lila.
" Kampret.. songong amat" sahut Della gemas.
" Kenapa kalian gak nyari aja sih?" tanyaku.
" Siapa yang mau sama mereka yang kaya gitu?" ucap Ema melirik malas.
"Emang kami kenapa?" tanya Lila polos.
"Yang satu galak, yang satu petakilan" tambah Ema tertawa puas.
"Ihhh Ema" rengek lila membuat kami tertawa puas di dalam mobil.
Hari ini kami memutuskan untuk sedikit berjalan-jalan menyegarkan pikiran sebelum bergelut dengan ujian akhir sekolah yang sediki membuat ke tiga teman ku tertekan karena jam tambahan,
Tentu saja Aku pun sama, walau sekarang homeschooling aku tetap merasakan apa yang mereka rasakan.
"Kaki ku pegel" keluh lila.
"Ye elah.. baru juga beberapa meter la" ucap Della.
" Meter apaan, tapi seriusan pegel ini" Lila kembali mengeluh.
" Yaudah kita makan aja dulu yuk, sekalian istirahat." ucap Ema .
"Setuju" sahut lila.
"Kan.. alasan doang pegel, bilang aja lapar" tambah Della.
" Hehe, tapi pegel juga kok" ucap lila
Aku tersenyum tipis melihat perdebatan kecil di antara mereka.
__ADS_1
"Olahraga apaan kaya gini" ucap Della.
" Bukan olah raga, tapi JJS" tegas Lila.
"Mana pak iman nya?" tanya Lila dengan mata yang mencari keberadaan pak iman supir Ema.
"Kita jalan aja yaa, kan deket" ucap Ema.
" Hahah syukur" ledek Della lantang.
" Aaaaa Ema, kan pegel" ucap nya.
" Sehat-sehat!" Ema tersenyum lebar melihat perangai Lila, begitu pun dengan ku.
Kami berjalan di pinggiran trotoar menuju tempat makan yang tak jauh dari taman kota.
" Eh.. Aku gak ikut makan yaa" ucap ku.
" Lhoh kenapa?" tanya Ema menatap ke arah ku.
" Aku kenyang, kalian makan aja"
"Nanti susul Aku di taman seberang" tambah ku.
"Yaudah iya" sahut Ema paham.
" Jangan kemana-mana, tungguin ya" tambah Lila.
" Iya.. iya" sahut ku berlalu meningkalkan mereka menuju taman, taman yang penuh dengan kenangan ku bersama Raidil.
Aku melangkah memutari penjuru taman sama seperti saat Aku bersama Raidil, sesekali Aku tersenyum mengingat manisnya saat itu, bergandeng tangan dan berlari kecil.
Kini kaki ku tepat berdiri di depan sebuah kursi yang sering menjadi tempat Aku dan Raidil melepas lelah setelah mengitari taman.
Senyum tipis tersemat di bibir ku tak kala beberapa flashback tentang Raidil memenuhi ruang pikir ku.
Duduk bersender dengan sebuah ponsel di tangan, hampir setiap hari Aku tak pernah absen untuk memberi satu pesan singkat atau sebuah panggilan pada nomor yang pernah Raidil tinggalkan di belakang lembar suratnya dulu.
Tuttt.. tuttt..
Suara itu sudah seperti sahabat di telinga ku, hampir setiap hari akan selalu seperti itu,.
Heeemmm
Ku baringkan tubuh ku pada rerumputan taman, dan lagi-lagi ingatan hangat tentang Raidil kembali muncul.
Aku tersenyum lebar dengan lengan tangan kiri menutup bagian mataku saat membayangkan bagaimana dulu Raidil memberikan kecupan hangat di bibir ku.
"Rindunya" ucap ku dalam hati hampir setiap hari.
Tak pernah sedetik pun Aku melupakan awal Aku menyukainya.
Dan setiap kenangan-kenangan kecil yang pernah ku lalui bersamanya menjadi kekuatan bagi ku untuk terus bertahan dengan perasaan yang sama sampai saat ini.
Ku tatap langit sore yang penuh dengan awan putih yang mulai menjingga dengan masih berbaring di atas rumput taman.
"Raidil, apakah saat ini kau masih sama?" tanya ku dalam hati dengan tatapn sendu penuh harapan.
Sampai detik ini, Aku masih memilih mencintaimu dan menutup rapat hatiku hanya untuk mu.
Terimakasih sudah menjadi orang pertama yang hadir memberi dan mengajarkan apa arti cinta dan Rasa rindu.
Aku percaya takdir akan mempertemukan kita kembali dengan cara apapun, maka sampai saat itu tiba, Aku akan terus belajar tentang bagaimana harus bersabar.
Jika benar waktu berkhianat, Aku takkan marah ataupun menyalahkan mu, karena waktu tak hanya tinggal di satu hari.
Dia akan terus berjalan ke depan tanpa berbalik, begitu pun dengan mu dan cinta mu yang bisa berubah kapanpun.
Jika itu terjadi, Aku akan tetap pada pilihan ku mencintaimu dalam diam sampai pada akhirnya Aku lelah dan ingin berhenti.
Aku iklas jika cinta mu saat ini sudah tak lagi sama.
Tapi biarkan Aku bertahan sedikit lebih lama sampai waktu dan takdir mempertemukan kita, sampai aku benar-benar melihat bahwa Aku sudah tak ada lagi di bayangan matamu.
Aku selalu berharap semoga setiap harimu di sana selalu bahagia, hiduplah dengan baik dan jangan sesali apa yang sudah terjadi,
Jika waktu mengijinkan ku kembali, ingin ku menyapa mu lebih dulu Di Bulan April waktu itu untuk sekedar mengatakan "hai.. Aku Riria alena, kamu?".
Terimakasih untuk cinta pertama ku yang indah seindah Arunika pagi, Raidil.
__ADS_1
THE END