
Aku berjalan tepat di belakang Caca mengikuti setiap langkah kakinya yang membawa ku entah kemana.
"kita mau ke mana Ca?" tanya ku dengan sedikit khawatir.
" udah.. ikut aja" sahut nya dengan suara yang datar.
Aku kembali terdiam dengan langkah kaki yang mulai ragu sampai pada akhirnya kami tiba di sebuah gudang olahraga di samping toilet Wanita dan disana sudah ada dua teman Caca yang berbeda kelas dengan ku.
"ngapain kita Ca?" tanya ku dengan hati yang khawatir,
tanpa Aku tau salah ku dimana, Caca mendorong bahu sampai tersender ke dinding gudang.
"kamu punya hubungan apa sama Raidil Rii?" tanya nya dengan nada gusar.
" apa??" ucap ku kaget.
" udahlah jangan pura-pura gak tau Rii!" sahutnya dengan semakin meninggikan suaranya yang membuat jantung ku semakin berdetak kencang karena terkejut.
" aku gak punya hubungan apa-apa kok Ca" sahut ku.
" kamu pikir Aku bodoh Rii? mataku gak buta Rii saat ngeliat kalian berdua ada di Alun-alun waktu itu" ucap Caca dengan nada yang semakin gusar.
" kamu siapanya Raidil Ca?" tanya ku dengan mulai sedikit berani.
" kamu tau sendiri kan Aku suka Raidil"ucapnya.
"tapi Raidil enggak kan?" sahut ku semakin berani.
Aku merasa seperti orang bodoh yang meladeni Caca hanya masalah laki-laki.
" Aku gak peduli! mulai hari ini jauhi Raidil atau gak..."
" atau gak apa? kamu ngancem Aku Ca? sahut ku.
"iya!! kamu bakal tau akibatnya Rii" sahut nya yang semakin kuat mendorong bahuku.
" Aku gak suka cara kamu yang kaya gini Ca" Aku berbalik mendorong bahunya untuk menjauh dari ku dan di saat bersamaan ke dua teman Caca mulai berdiri sejajar di samping ku seolah-olah mereka akan menahan ku untuk maju.
" kalo kamu suka Raidil, harusnya kamu berusaha nunjukin perasaan kamu dengan tulus, gak kaya gini Ca" ucap ku dengan berjalan semakin maju ke arah Caca yang berhasil membuat dia sedikit-demi sedikit berjalan mundur.
Aku berusaha memberanikan diri untuk melawan perlakuan Caca yang tidak ku duga ini.
" jangan takut Ri.." ucap ku dalam hati untuk menguatkan tindakan ku.
Tanpa kata Aku berjalan menjauhkan diriku dari Caca dan teman-teman nya.
" dia sadar gak sih, kalo yang kaya gini tu bullying" ucap ku heran.
"apa kamu tau Rii.. Aku dan Raidil sudah di jodohkan, jadi Aku gak bakal biarin kamu merebut Raidil!" teriak Caca.
Langkah ku tehenti saat mendengar apa yang di ucapkan Caca, tubuhku mulai sedikit bergetar saat menerima pernyataannya tentang penjodohan mereka.
" jangan dengerin Rii.. pergi aja dulu dari sini" ucap ku dalam hati.
__ADS_1
Setelah menjauh dari Caca, Aku terduduk di tempat biasa Aku dan teman-teman ku berkumpul.
Dengan tangan yang menopang kepala yang saat ini bukannya memikirkan pelajaran malah di penuhin dengan Raidil.
"apa Aku tanya Raidil aja, tapi..." ucap hati ku ragu.
" udah lah Rii.. itu cuma gertakan aja" sambil Ku pejamkan mata ku berusaha sedikit tenang.
"hey... kok ngelamun sih? di cariin juga" ucap Ema yang menepuk bahu ku.
" sorry " sahut ku pelan.
"kenapa?" tanyanya sambil melihat ke arah ku.
" gak kok, gimana ujiannya?"balik ku bertanya untuk mengalihkan pertanyaan Ema.
" plis.. jangan tanya dulu, masih ada 6 hari lagi Rii" sahut Ema sambil memejam kan mata dengan erat,
dan Aku tersenyum tipis melihat Ema yang sedang mengeluh.
***
Masih lekat di pikiran ku tentang sikap Caca, walau pun Aku berusaha untuk tidak takut, tetapi di hati ku yang paling dalam tetap ada kekhawatiran yang menyisa karena Aku tidak pernah mengalami hal seperti ini.
" ehh udah di sini aja kalian" sapa Lila yang datang bersama Della.
"Rii.. kok ngelamun?" tanya Della yang membuat Ema dan Lila juga menatap ke arah ku.
" ahh gak kok" sahut ku.
"yakin gak apa-apa? tapi kayak khawatir gitu" tanya Della sekali lagi.
" gak Dell, beneran!" sahut ku berusaha meyakinkan Della.
Ku buka lembaran-lembaran buku ku, berusaha lebih fokus pada ujian ku di jam ke dua.
" oke Rii.. semangat, jangan mikirin soal Caca dulu." ucap ku dalam hati.
" ehh gaes, Aku balik dulu ke kelas" ucap Ema sambil mengobrak-abrik tasnya.
" loh kenapa? Kan belum Bell Ma?" tanya Lila mewakili kami.
" kartu peserta ku kayanya ketinggalan di dalam kelas" ucapnya.
" takut hilang" sahutnya yang kemudian berlari kecil meninggalkan kami.
Belum sempat kami menyahut, Ema sudah menghilang dari pandangan kami.
" cepet banget ilang nya" ucap ku.
Kembali ku pandangi buku-buku yang tepat ada di depan ku sambil berdiskusi dengan Lila dan Ema sampai bell ujian kedua berbunyi.
"Ema beneran gak balik lagi?" tanya Lila.
__ADS_1
" udah biarin aja, mungkin dia masih mencari kartunya" sahut Della.
"Aku balik ya gaes!" ucap ku sambil membereskan buku-buku yang ada di depanku.
"kamu gak apa-apa balik sendirian?" tanya Della.
"emang Aku anak kecil, di tanya kaya gitu?" Sahutku dengan senyum lebar.
" duluan, sampe ketemu nanti di depan gang" tambah ku.
"Ok" sahut mereka bersamaan.
Aku berjalan menuju ruang ujian dengan perasaan kurang nyaman.
Maklum biasanya Aku tidak pernah sendirian, kalian pasti mengerti bagaimana rasanya saat kalian berjalan melewati Kakak kelas laki-laki ataupun yang perempuan, otomatis kalian akan jadi pusat perhatian apalagi kalau sendirian, itu yang Aku rasakan saat ini.
"Kok jalan sendiri dek, mau di atarin gak?" ucap salah satu kakak senior yang sedang duduk bergerombol di depan salah satu kelas yang Aku lalui, sambil tertawa mereka mengodaku.
"aaa... malu banget, jangan menoleh Ri" ucap ku dalam hati.
Ku tundukkan kepalaku sambil sesekali memperhatikan langkahku dengan benar.
" Jatuh atau kesandung, harga diri hancur" gerutu ku dengan pelan.
Di saat Aku fokus pada langkah kaki ku, seseorang dengan tiba-tiba meraih tanganku dan menarik ku ke arah celah bagian samping di antara Ruang TU dan toilet laki-laki
"shuutt.."dengan telunjuk yang terletak di bibirnya, Raidil tepat di hadapanku.
" kenapa dia suka datang tiba-tiba?" tanyaku dalam hati sambil tersenyum.
" manis banget sih" ucap nya yang membuat Aku berhenti tersenyum karena salah tingkah.
"kita ngapain di sini?" tanyaku.
"Aku perlu asupan tenaga" ucapnya sambil menatap ku dengan tersenyum.
"hah?" hanya kata itu yang keluar dari mulut ku.
" Semangat ujiannya, Aku cuma mau bilang itu aja" ucapnya dengan masih menatap ke arahku.
Jantungku kembali berdetak dengan kuat, bagaimana tidak? Aku dan Raidil berdiri di sela-sela antara Ruang TU dan toilet yang cukup sempit, tubuh ku dan Raidil bahkan sangat dekat,dan dia terus menatap ke arah ku sambil tersenyum.
"bagaimana ini?".
"Rii...?" ucapnya dengan suara yang lembut,
mendengar dia memanggil namaku dengan spontan Aku menatap ke arahnya.
"hah?" lagi-lagi hanya kata itu yang terucap.
" gitu dong, jangan melihat ke arah lain" ucap nya dengan mata yang terus menatap ke arah ku.
Aku merasa waktu berjalan begitu lambat saat Aku bersama dengan Raidil.
__ADS_1
Aku sangat menikmati semua perlakuan sederhana darinya, sampai pada akhirnya Aku kembali mengingat apa yang di ucapkan Caca di gedung olahraga.
"bagaimana ini?".