
Setelah lama Aku terdiam memikirkan apa yang harus Aku katakan, ku mencoba memberanikan diri menjawab dan menatap Raidil secara langsung.
" kamu tau perasaan Aku, dan begitu pun sebaliknya, tapi untuk Aku kalau harus langsung menjalin ikatan yang namanya pacaran Aku belum siap" ucap ku serius menatap mata Raidil.
Raidil terdiam dan masih berusaha mendengarkan apa yang ingin Aku katakan.
"Aku belum siap kalau harus menjadi pembatas kamu dalam segala hal, aku belum siap merasakan cemburu yang berlebih, dan aku takut itu semua karena itu di luar kendali ku" lanjut ku.
"Aku takut Aku hanya akan menyakiti kamu" tambah ku sambil melihat ke arah Raidil.
Aku merasa gugup yang luar bisa mengatakan semua itu, Aku takut kejujuran ku ini membuat Raidil merasakan sakit lebih awal.
Aku diam membisu memalingkan wajah ku menatap ke arah jalan raya, bersiap mendengar apa yang akan Raidil katakan.
Semetara itu Raidil ikut menyandarkan punggungnya ke kursi dan menghembuskan nafas dengan lega.
" mungkin ini yang membuat Aku semakin suka sama kamu Rii" ucap nya sambil menatap ke arah langit malam.
" yaudah.. kita jalanin aja dulu, kita saling mengenal walau tanpa keterikatan" ucap nya dengan nada suara yang seolah-olah merasa lega.
Aku pun merasakan kelegaan yang sama dengan nya, aku sempat merasa takut Raidil akan tersakiti atas apa yang Aku katakan.
"tapi..." ucapnya dengan menatap ke arah ku.
"apa?" tanya ku bingung.
" walau pun kita tidak terikat status pacaran" sahut Raidil menggantung ucapanya.
"hmmm" tatap ku bingung.
" Aku gak akan biarin kamu di rebut atau di miliki orang lain" ucap nya dengan mendekatkan wajahnya ke wajahku sehingga Aku bisa merasakan hembusan nafasnya,
tangan ku spontan menggenggam dada di mana jantungku berdegup tidak stabil.
Mata ku tanpa berkedip melihat tatapan Raidil yang lembut dan perasaan ku semakin campur aduk ketika jarak antara bibir kami pun juga sangat dekat, mungkin hanya dengan sekali gerakan dia akan bisa mencuri ciuman pertamaku,tetapi Aku berharap Raidil tidak melakukan itu pada ku.
Ku jauhkan kepalaku untuk menghindari pikiran ku yang mulai traveling kemana-mana, Raidil hanya kembali tersenyum seolah dia tau apa yang aku pikirkan.
" Aku gak akan aneh-aneh kok Rii" ucapnya sambil membenarkan posisi duduk nya yang tadi lebih condong mendekat padaku.
"selain Aku, kamu dekat sama siapa aja Ri?" tanya nya santai.
" emm gak ada " sahut ku singkat sambil membenarkan posisi duduk ku.
" Faiz yang waktu itu?" tanya nya sedikit menunduk.
" apa ?" sahut ku dengan bingung.
" Yang waktu itu nawarin kamu ikut dia pulang" jelasnya.
" Aku gak sedekat itu sama kak faiz" jelas ku.
" tapi kenapa nanya gitu? cemburu ya?" tambah ku sambil tersenyum meledek Raidil.
__ADS_1
" apa sih.. ya gak dong" jawab nya membela diri.
" alah.. ngaku aja, waktu itu kamu pernah nanya gini juga terus uring-uringan" semakin ku meledeknya.
" gak Rii.. Aku cuma nanya aja"ucapnya dengan daun telingan yang sedikit memerah karena tersipu malu.
Aku tertawa lepas melihat tingkah Raidil berusaha menutupi rasa cemburunya pada kak Faiz.
" cantik banget sih" ucap Raidil yang tiba-tiba membuat Aku menghentikan tawa ku.
"pulang yuk" sahut ku sambil memegang pipiku yang mulai terasa memanas.
" ya udah ayok... Udah kelamaan juga Aku bawa anak orang" sahutnya dengan selalu di sertai senyum manisnya.
***
Kencan hari ini pun berakhir dengan di antarnya Aku pulang sampai ke rumah,
"masuk dulu " ucap ku menyuruh Raidil masuk yang kemudian dia pun berjalan tepat di belakang ku.
" Assalamualaikum om" Raidil menyapa Ayah yang sedang duduk di bangku depan rumah sambil membaca bukunya.
"Waalaikumsalam" sahut Ayah yang berpindah lirikannya dari buku ke arah kami yang baru datang.
" maaf om Raidil ngajak jalan Riri kelamaan" ucap Raidil dengan sopan.
" terimakasih sudah di pulangkan dengan utuh" ucap Ayah sambil tersenyum melirik ke arah ku.
" Ayah... " ucap ku dengan nada sedikit gemas.
" kalian sudah makan?" tanya Ayah pada Raidil.
" sudah kok om" sahut Raidil.
" Alhamdulillah kalo sudah, kebetulan di dalam tidak ada apa-apa" ucap Ayah dengan ledekan sambil tertawa,
Aku hanya terdiam mendengar lelucon tua Ayah, sementara Raidil tersenyum mendengar apa yang di katakan Ayah,
" saya mau ijin pulang om" ucap Raidil.
" ah iya.. hati-hati yaa" sahut Ayah.
Aku kembali mengantarkan Raidil ke depan pintu gerbang di mana motor Raidil terparkir.
" makasih ya Dil" ucap ku.
" Aku yang harusnya bilang gitu" sahutnya.
" dan maaf soal Ayah " tambah ku.
"why? Ayah kamu asik kok, kayanya Aku bakal lebih suka ke Ayah kamu dari pada kamu Rii" ucapnya dengan tersenyum ke arah ku,
" nanti Aku hubungin kamu ya Rii, Aku pulang dulu, sampe ketemu besok di sekolah" tambah nya sambil mengedipkan mata kirinya pada ku.
__ADS_1
Raidil berlalu meninggalkan rumah ku, dan mata ku seperti biasa akan tertuju kearah nya sampai dia benar-benar tidak terlihat lagi.
" udah liatinya, emang kurang seharian ini" ucap Ayah kembali meledek ku.
" apa sih yah.. ngeledek Riri mulu" sahut ku,
dan Ayah hanya tersenyum mendengar sahutan ku.
" kemana aja seharian ini Ri" tanya Ayah padaku.
" cuma duduk di taman, makan habis itu duduk di Alun-alun" sahut ku dengan jujur.
" ih masa cuma ke situ aja" Ayah semakin meledek ku.
" Emang Riri harus kemana sih yah" sahut ku gemas pada Ayah.
Ayah hanya tertawa lepas karena puas meledek ku.
" udah ah ..Riri masuk ya Yah" ucap ku sambil berlalu meninggalkan Ayah yang masih asik membaca buku di kursi luar.
Sesampai nya di depan pintu kamar Aku melihat Ibu sedang sibuk membereskan meja makan,
Ku lempar tas ku ke atas kasur dari depan pintu kamar ku, dan Aku berjalan menuju meja makan di mana Ibu berdiri.
"Zira mana bu?" tanya ku sambil membantu ibu membereskan sisa-sisa piring dan gelas selepas makan.
" baru aja dia tidur, kamu udah makan belum Ri" tanya ibu.
" udah kok bu" jelasku.
"udah biar Ibu aja yang beresin, kamu mandi gih" ucap ibu sambil menyuruh ku pergi.
" Sini Riri aja yang nyuci bu, ibu aja yang istirahat" ucap ku sambil meraih beberapa piring di tangan Ibu.
" kamu tu yaa Ri" tersenyum tipis Ibu melirim ke arahku.
" Ayah kamu masih di luar?" tanya Ibu.
" iya bu, asik baca buku" sahut ku.
" yaudah, Ibu ke depan yaa mau nyamperin Ayah".
" Iya bu".
Ibu pergi meninggalkan ku, dan Aku secepat mungkin menyelesaikan Pekerjaan yang Aku kerjakan.
Aku kembali memikirkan tentang Raidil, dan dengan sendirinya Aku merasa kebingungan dengan apa yang Aku katakan pada Raidil.
" dasar kamu Rii, di ajak pacaran malah jawab gitu" ucap setan dalam hati ku.
Seolah-olah mengingin kan penyesalan atas semua keputusan ku.
"apa sih yang kamu mau Ri?" tambahku.
__ADS_1
Aku hanya berusaha untuk tidak serakah, mungkin dengan keputusan ini membuat Aku bisa mengenal Raidil apa adanya, dan bisa lebih memahi dia walau tanpa ikatan.