
Aku berada di gendongan seseorang yang bernama Aldi, yang dulu pernah membuat Aku sedikit ketakutan sewaktu di tinggal Raidil sendirian di taman kota.
Dan hari ini Aku bertemu lagi dengannya yang masih sangat jelas mengingat ku.
"mana yang sakit?" tanyanya pada ku setelah menurunkan ku dengan perlahan di atas kursi.
" Aku bisa sendiri" ucap ku merasa tidak nyaman.
" Biar Aku aja" sahut Ema yang mulai mengerti ketidak nyamanan ku.
"oke" sahutnya dengan melepaskan pergelangan kaki ku.
Sementara Della dan Lila terlihat tidak percaya dengan apa yang mereka lihat saat ini.
Aku sangat tau apa yang mereka pikirkan tentang Aldi saat ini
" kita kaya masih seumuran, kalian dari sekolah mana?" tanyanya pada kami.
"Laskar Arum" sahut Lila yang masih menatapnya dengan lekat.
Memang tidak bisa di pungkiri tubuh dan wajah Aldi sangat terawat termasuk otot-otot tubuhnya yang sama atletisnya seperti Raidil.
Tidak habis pikir di benak ku bagaimana bisa anak SMA seperti Raidil atau Aldi bisa memiliki tubuh yang cukup bugar seperti om om Ceo di novel yang sering ku baca.
"ohh Laskar Arum" sahutnya masih dengan memperhatikan ku.
"kamu sendiri?" Lila balik bertanya.
" Anggrek 02" sahutnya dengan masih menatap ke arah ku.
"suka sama Riri yaa?" celetuk Della tanpa basa basi.
"Apa sih Dell!" ucap ku sinis pada Della.
Sementara Aldi hanya tersenyum mendengar celetukkan Della tanpa menjawab.
" ahh kenalin Aku Aldi" ucapnya tersenyum Ramah sambil mengulurkan tangan pada Della, lila dan Ema.
" Lila".
"Della"
Sahut mereka bergantian menyambut tangan Aldi.
Sementara Ema masih berfokus pada kaki ku yang masih di pijatnya.
Uluran tangan Aldi sampai tepat di depan Ema.
"Ema" sahut Ema tanpa menyambut dan menoleh ke arah Aldi.
Aku melihat sedikit ketidaksukaan Ema terhadap Aldi yang tepat berdiri di depan kami.
"ah oke" sahut Aldi dengan terpaksa mengenggam tangannya sendiri yang tadi tak di sambut oleh Ema.
"sekali lagi sorry ya udah bikin kaki kamu kaya gini" ucapnya yang terlihat tulus.
"gak apa-apa kok" sahut ku berusaha seramah mungkin walaw merasa kurang nyaman.
"sampe ketemu lagi kapan-kapan" tambahnya dengan tersenyum melambaikan tangan dan berlalu meninggalkan kami.
Lambaian tangan itu di sambut manis oleh Lila dan Della yang memang sajak awal sudah terpesona.
"aa rii, kamu kenal dia di mana?" tanya Lila dengan langsung duduk mendekat ke arah ku.
" gak tau" sahut ku tak menanggapi serius pertnayaan Lila.
"Ihh kok gak tau sih" dengan pelahan Lila mendaratkan pukulannya yang tidak terlalu sakit di pundak ku.
"tau nii si Riri, bagi-bagi kek satu" timpal Della.
" di kira permen bagi-bagi " ucap ku gemas.
"Emang" tambah Lila.
"ambil sana" sahut ku gemas.
"oke, Della kak Faiz, Aku si Aldi" ucap Lila seenaknya.
" ehh enak aja, kak faiz buat kamu aja" sahut della.
Dan terjadilah perdebatan yang biasa terjadi di antara mereka yang membuat Aku dan Ema sedikit merasa terhibur.
__ADS_1
" masih sakit Ri?" tanya Ema yang masih memijit pelan kaki ku.
" udah kok Ma, makasih yaa" peluk ku mendarat pada Ema yang memang paling perhatian dari yang lain.
"kamu gak usah deket-deket dia lagi lah Rii" ucap Ema tiba-tiba.
"kenapa?" tanya ku pada Ema.
" gak tau, gak suka aja" sahutnya sederhana.
"Aku kan punya Raidil, kamu lupa?" ucapku membanggakan Raidil yang memang menang jauh di hatiku.
" syukur deh" sahut Ema lega.
Sementara itu dari kejahuan nampak Aldi masih sesekali melirik ke arah Aku dan Ema yang membuat Aku bertanya-tanya ada apa dengannya?.
"kita udahan aja yuk, kita lanjut ke mall kek atau kemana aja gitu" ucap Ema.
"ajakin noh yang bedua" sahut ku menujuk ke arah Della dan lila yang kembali berada di dalam kolam.
***
Selesai membersihkan diri dan berdandan seadannya, kami pergi menuju halaman di mana pak iman supir Ema sudah menunggu.
"eh udah mau pulang?" lagi-lagi Aldi datang dari arah belakang kami.
" mau ke mall" celetuk Lila dengan senyum cengengesan.
" ohh" hanya kata itu yang keluar dari mulutnya.
"bey" tambahnya sambil melambaikan tangan dan berjalan menjauh menuju area parkir.
"hehe bey" sahut Lila dan Della dengan menyambut lambaian Aldi.
Sementara Aku dan Ema hanya diam memperhatikan tingkah kedua orang yang mulai meresahkan ini.
" ngapain di kasih tau sih La!" ucap Ema yang terlihat sedikit kesal.
" yee emang kenapa?" lila masih tersenyum memandang ke arah Aldi.
" tau ahh" terlihat Ema merasa sedikit kesal
Setelah masuk ke dalam mobil, Aku merogoh ponsel di dalam tas dan membuka beberpa pesan dari Raidil.
" Happy fun ya"
" Aku kangen"
Beberapa pesan sederhana itu mampu membuat Aku tersenyum malu.
"idih ni anak senyum-senyum kenapa?" tanya della yang memperhatikan ku.
" Raidi yaa?" ucap Ema sambil tersenyum
"Iya".
"Ciehh ayang embebnya nyariin yaa" ledek Lila.
Aku hanya terdiam menerima ledekan mereka yang mendarat bertubi-tubi ke arah ku dan membuat Aku tersipu malu sepanjang jalan.
"udah deh" sahut ku.
Drrttt..drrrtt..
Beberapa saat setelah sampai di parkiran mall ponsel ku bergetar.
"bentar gaess" ucap ku sambil merogoh ponsel yang berada di dalam tas.
" hallo?".
"dimana yank?" Ucapan itu terdengar di telingaku membuar rona di wajah tu terpancar bahagia.
" Di mall *****" sahut ku.
"Kenapa?".
"Ah gak pa-apa kok cuma mau denger suara kamu aja bentar" ucapnya.
" Yaudah lanjut gih, selamat senang-senang" tambah Raidil.
Walaw cuma sebentar sapaan itu membuat hati ku semakin berbunga.
__ADS_1
" cihh yang pacaran " ucap Lila seolah merasa cemburu.
"maaf gaes" ucap ku
" ye elah pake minta maaf segala" sahut Della.
" cuss kita jalan" semangat Lila.
Kami berjalan menyusuri setiap sisi mall, sesekali singgah hanya untuk sekedar melihat-lihat tanpa membeli.
Sampai pada akhirnya suara perut yang lapar di antara kami menghentikan langkah.
" hahah suara perut siapa tuh" tanya Della tertawa.
" Aku, lapar" sahut Lila yang menunjuk dirinya sendiri.
" yaudah kita cari makan yuk, Aku juga lapar" sahut ku.
Tidak lama kami akhirnya duduk saling berhadapan di sebuah meja makan di salah satu tempat makan di mall.
Mata kami sibuk membaca menu yang tertera di buku menu sampai mata kami berpaling pada seseorang yang menyapa tepat di sebelah kami.
" heyy, kalian lagi?" ucapnya tidak lain tidak bukan adalah Aldi yang duduk bersama beberapa temannya.
Aku hanya diam tak memperdulikan, sementara Lila dan Della sibuk saling bersahutan dengannya.
"kayanya emang sengaja ngikutin" celetuk Ema yang memang terlihat tidak menyukai Aldi
Ddrrttt.. drrtt..
Sebuah getar dari dalam tas ku menandakan ada pesan yang masuk.
"Di mana yank?" Pesan sigkat daru Raidil.
" lagi makan di ****" balas ku.
"dari tadi nanya lagi dimana terus" ucap hati ku bingung.
"Ok" sahutnya singkat
"lhoh kok ok?" tanya ku dalam hati.
Beberapa saat menunggu pesanan yang kami pesan satu persatu datang.
" kok cuma itu, pesan lagi lah yang lain Aku yang traktir" ucap Aldi yang memang duduk tidak jauh dari kami.
" beneran? boleh nih" sahut Lila yang memang sangat menyukai kata keramat itu (traktiran).
sementara Aku Ema dan Della hanya melongo melihat sahabat kami yang satu itu seperti kehilangan urat malunya.
tatap ku beralih memperhatikan Ema yang menunduk dalam sambil mengaduk makananya.
" kenapa ma?" tanya ku.
"jangan ngomong sama Aku Ri?" ucapnya membuat Aku terkejut.
"kenapa??".
"Aku malu rii" sahutnya membuat Aku tertawa pelan.
"sama" timpal ku.
Menikmati makanan sambil di tatap oleh seseorang yang baru di kenal dengan sangat dalam sungguh membuat perasaa kurang nyama,
Aku kebingungan menghadapi tingkah Aldi yang sejak tadi terus menatap ke arah ku sambil sedikit tersenyum menggoda.
" ngeliatin mulu dia Rii" ucap Ema berbisik.
"iya tau kok" sahut ku sambil terus menikmati makan ku walau rasanya mulai kurang enak.
" yank" ucap seseorang yang datang berjalan ke arah ku dengan style yang wow.
Rambut rapi, dengan baju kaos putih di lapisi jaket Levis dan celana jeans serta sepatu yang sangat cocok dipadupadankan dengan bajunya.
aroma parfum maskulin merebak bahkah sebelum Raidil sampai di hadapanku.
"Raidil".
Tatap ku tidak percaya melihat kekasih ku itu yang sedang di tatap beberapa wanita yang berada di sekitar tempat kami makan.
Wajah tampan dengan senyum manis nan ramah menjadi pemikat tersendiri bagi kaum hawa yang menatap Raidil.
__ADS_1
Terkadang hati ku sedikit merasa cemburu ketika wanita lain memgagumi wajah Raidil yang seperti pangeran yang keluar dari *******, tapi Aku bisa apa? selain bersyukur karena Aku memiliki salah satu dari beribu-ribu pangeran *******.