First Love "Di Bulan April"

First Love "Di Bulan April"
RAPORT


__ADS_3

"Rii.." sambil berlari kak Faiz mengejar ku dari depan gang sekolah.


"hay kak" sapa ku.


" hay juga, siapa yang ngambil raport kamu Rii" tanya kak Faiz.


" Ayah, kenapa kak?" tanya ku.


" ohh gak apa-apa kok, liburan kamu punya rencana gak Rii?" ucap kak faiz.


" em.. cuma jalan-jalan kelurga aja kayanya, kenapa kak?" kembali ku bertanya.


" em gak apa-apa kok" jawaban yang sama.


" gak apa-apa mulu" sahut ku heran.


"iyann..." teriak kak Faiz lantang memanggil seseorang yang berjalan tepat di depan kami.


" Astaghfirullah" ucap ku karena terkejut.


" Ehh sorry Rii, Aku duluan yaa semoga naik kelas" ucap kak Faiz melambaikan tangan dan berlari kecil meninggalkan ku.


" apa sih, gaje" ucap ku pelan.


Sesampainya di depan gerbang Aku di sambut della dan Ema yang sudah datang lebih dulu.


" huhh, Aku deg-degan takut nilai ku jelek" ucap Della yang terlihat khawatir.


" jangan terlalu khawatir" sahut Ema tersenyum tipis.


* kita ke situ yuk, cape bediri terus" tambah Ema dengan tangan yang menujuk ke arah tempat biasa kami kumpul.


" ya udah ayokk" sahut ku.


"kamu gak bareng Ayah kamu Ri?" tanya Ema.


" kata Ayah nanti nyusul, lagi ada perlu" sahutku.


"owhh gitu" ucap Della.


"kalian?" Balik ku bertanya.


" Bareng kok, noh sama ibunya Ema juga" tunjuk Della dengan bibirnya mengarah pada orang tu merek yang ada di depan kelas kami.


"haii.. haii" terik Lila yang datang dari arah gerbang sekolah.


" Kalian nungguin Aku yaa?" tambah nya dengan nada manja.


" geli tau Laa" ucap Ema sambil menyipitkan matanya.


"biarin" sahut Lila mengejek.


Kami duduk ber-empat di tempat biasa sambil menunggu lonceng berbunyi, sedikit-demi sedikit para orang tua wali mulai berdatangan


" itu Raidil sama Caca?" ucap Della sambil menatap ke arah gerbang.


" ehh iya, itu emaknya siapa? Caca apa Raidil" tanya Lila mewakili hati ku.


" emak sama-sama kali" celetuk Della.


"huss.. jangan asal ngomong" ucap Ema.


Aku hanya menatap nanar ke arah Raidil dan Caca yang di ikuti seorang wanita paruh baya keluar dari dalam mobil.


Mereka berjalan bersama menuju ruang kelas, Caca terlihat sangat akrab dengan wanita itu begitu pula dengan Raidil.


" cantik banget" ucap hati ku dengan mata yang memperhatikan wanita tersebut.

__ADS_1


"Rii.." sapa Ayah yang tiba-tiba sudah di hadapan ku.


"ehhAyah." Sahut ku kaget.


" kebanyakan ngelamun sih, Ayah sendiri datang sampe gak sadar" ucap Lila sambil tertawa kecil.


" pagi om" sapa mereka serempak yang di sambut senyum hangat dari Ayah.


" kelas kamu di mana nak?" tanya Ayah.


" Riri anterin ya yah" sahut ku.


"Aku ikut " ucap della.


Aku berjalan tepat di samping Ayah menuju ke depan kelas ku, di sana juga berdiri Raidil dan Caca.


"Om" sapa Raidil sambil tersenyum manis.


"Ehh kamu" ucap Ayah sambil menepuk pundak Raidil dan masuk ke dalam kelas.


" kok kamu bisa kenal Ayah Riri sih?" tanya caca sinis menatap ke arah ku.


" bukan urusan kamu ca" ucap Raidil dengan nada datar.


" kamu udah makan?" tanya Raidi padaku dan ku jawab hanya dengan mengangguk.


" yaudah ayok" ucap Raidil.


" Ihh kok ayok sih, kan dia tadi ngangguk dil" sahut Caca kesal.


" Kok kamu yang sewot sih ca, yang pacaran siapa yang marah siapa?" celetuk Della yang ada di sampingku.


" hah" ucap Caca seolah terkejut mendengar apa yang di katakan Della.


"sok kaget segala" tambah della dengan memutar mata malas.


"bilang aja" sahut Raidil memutus ucapan Caca dengan tersenyum sedikit sinis.


"Riri ku bawa ya Dell" tambah Raidil sambil menarik tanganku untuk mengikuti langkahnya.


" Bawa aja, tapi nanti balikin kalo Ayahnya udah keluar" tambah Della.


Sementara caca semakin menekuk wajah kesalnya ke arah ku.


***


Aku berjalan di belakang Raidil sambil memperhatikan punggung lebar Raidil yang entah kemana membawa ku pergi.


" wanita cantik tadi ibu kamu?" tanya ku penasaran pada Raidil.


" kya, cantik nya sama kaya kamu kan?" sahutnya tersenyum manis ke arah ku.


"Aku gak cantik" sahut ku datar.


"Kata kamu, kata ku kan cantik, yang lain juga bilang gitu" ucao Raidil.


" yang lain?" tanya ku heran.


" junaidi, teguh" sahut Raidil santai.


" kalian ngomongin Aku" ucap ku kaget.


" ehh bukan Aku, cuma mereka" jawab Raidil cengengesan.


"Ee-lehh" celetuk ku bete.


" Lagian gak cuma mereka berdua, itu para fans rahasia kamu juga bilang gitu, cantik-manis, cantik- manis" ucap Raidil sambil mengarahkan bibirnya ke beberapa orang kaka kelas yang berkumpul di depan lapangan basket.

__ADS_1


" hah" sahut ku kaget.


" kamu gak tau?" tanyanya menatap ku.


" Gak! Tapi kak Faiz dulu pernah bilang, tapi aku gak percaya" sahut ku santai.


" Ee-leeh" ucap Raidil sedikit cemberu yang membuat aku tertawa kecil.


" kamu tunggu di sini" ucap Raidil yang meninggalkan ku di depan kantin sementara Dia masuk.


"Riri" sapa kak Faiz.


" Ehh kak," sapa ku balik


" ngapain sendirian smdi sini?" tanya kak Faiz.


" nunggu Raidil di dalam" ucap ku dengan menunjuk ke arah kantin.


"ohh".


"Ri.." sapa Raidil yang keluar dari kantin dengan membawa beberapa botol minuman dan makanan ringan.


" Aku masuk dulu ya Rii.. bro" ucap kak Faiz menepuk pelan pundak Raidil.


" kalian ngomongin apa?" tanya Raidil sambil menyodorkan satu botol minuman mineral.


" gak ada" sahut ku singkat.


"emm" ucapnya seolah tidak percaya.


" serius" tambahku.


"he em" lagi-lagi Raidil mengeluarkan kalimat itu.


" gak percaya ya sudah" ucapnku berlalu meninggalkan Raidil.


"eeh.. ehh, kok jadi kamu yg ngambek" ucap nya sambil menggenggam pergelangan tangan ku.


" lagian kamu sih" sahutku cemberut.


"dih, teryata kamu gini yaa" ucap Raidil mencubit pelan bagian ujung hidungku.


" harusnya kan Aku yang ngambek" tambah nya.


Aku tersenyum sambil terus berjalan sedikit lebih cepat dari Raidil.


" Ri.."


Raidil memanggil nama ku tanpa ku hiraukan dan terus berjalan.


"Yank" ucap nya lembut membuat Aku mulai kembali tersenyum dengan masih mengabaikannya.


" Sa-yank" sebutan itu kembali terdengar dengan sedikit penekanan yang membuat Aku tidak tahan untuk tidak menoleh ke arah Raidil.


" kamu sengaja yaa" ucapnya sambil tersenyum manis ke arah ku.


" jangan tersenyum!" ucap ku.


"lhoh kenapa?" sahunya dengan alis yang mengkerut bingung.


" Pokonya jangan " tambah ku.


" Aku bisa mati kejang di sini gara-gara senyum mu" ucap ku hanya dalam hati.


"kita balik ke depan kelas yuk" ucapnya dan Aku hanya mengangguk.


Setelah sampai di depan kelas bell masuk tepat berbunyi menandakan pembagian Raport akan segera di mulai.

__ADS_1


Aku della dan Raidil duduk bersama memperhatikan wali kelas kami yang sibuk berbincang dengan orang tua para siswa-siswi sampai pada akhirnya satu persatu dari mereka keluar dengan hasil ujian yang selama ini kami jalani.


__ADS_2