First Love "Di Bulan April"

First Love "Di Bulan April"
CEPAT DEWASA


__ADS_3

Mata ku menyapu area sekitar sambil menunggu Raidil yang masih berdiri di depan kasir,


"kok lama?" tanya hati ku dengan mata yang masih menatap ke arah Raidil di dalam toko.


Beberapa saat kemudian, Raidil berjalan semakin dekat ke arah ku sambil membawa barang yang baru saja tadi di belinya.


"lama ya?" ucapnya dengan mengusap pucuk kepala ku.


" gak kok" sahut ku singkat.


" yaudah yuk, kita cari martabak" Raidil mengenggam tangan ku dan berjalan tepat di depan ku meningglkan toko.


" Padahal cuma gandengan, tapi jantungku berpesta ria di dalam dada ku" ucapku dalam hati sambil menatap tangan Raidil yang mengenggam erat tangan ku.


"jalannya kok sambil ngelamun? kamu mikirin apa?" Ucap Raidil menyadarkan ku.


" ahh gak kok, Aku cuma senang aja liat ini" sahut ku sambil mengangkat tangan ku yang mengenggam tangan Raidil.


"ada-ada saja" Raidil tersenyum tanpa menatap ke arah ku berusaha membuang rona kemerahan supaya tak nampak oleh mataku.


"ganteng banget sih, kalo senyum gitu" ucap ku sengaja menggoda Raidil.


" ohh astaga, kamu kok semanis ini sih" ucap nya yang melayangkan cubitan lembut di hidung ku.


" Yuk, udah mulai malam nih, nanti ibu kamu marah" tambah Raidil yang kembali menggandeng tanganku.


Meninggalkan Mall Kami menyusiri sepanjang jalan dengan mata yang berkelana mencari penjual martabak, sampai pada akhirnya bertemu dan menepi di sebuah persimpangan jalan.


" Bang martabak nya 2" ucap Raidil sambik melepas helm yang di kepala dan turun mendekat ke gerobak penjual martabak.


"kok 2? kebanyakan" ucap ku.


" Aku juga mau" sahut Raidil.


"Oh".


Lama menunggu antrian, kami duduk berdua bersender di motor Raidil,


" Ini kencan ke-tiga kita yaa?" tanyanya singkat dengan tangan yang melipat di dadanya dan mata yang menatap ke arah jalan.


" Emm iya" sahut ku singkat menatap Raidil.


" Habis ini kita ke taman bentar yuk" ucap nya.


Dan aku hanya mengangguk tanda mengiyakan ajakan Raidil, karena sungguh hari ini hati ku masih belum ingin berpisah dari Raidil.


" ini " ucap abang tukang martabak


" ah iya, terima kasih" sahut Raidil sambil menyambut martabak yang masih panas tersebut.


" Ini bang" ucap ku sambil menyerahkan beberapa lembar uang.


" pas yaa".


" iya bang" sahut ku.


" Rii, kok kamu yang bayar?" ucap Raidil dengan alis yang mengkerut.


" Itukan pesanan ibu" ucap ku.


" Tapi yang sa-"


" Aku juga mau" sahut ku memotong ucapan Raidil sambil tersenyum.


" Lagian ini kan kencan" tambahku.


" Dasar" Raidil menatap ku sambil tersenyum manis.


Setelah itu Raidil mengemudikan motornya meninggalkan persimpangan menuju taman tempat kencan pertama kami yang memeng cukup berkesan di hati ku.


Sepanjang jalan kami bercerita tentang diri kami masing-masing yang memang belum banyak kami tahu satu dengan yang lain, sesekali kami tertawa karena beberapa lelucon yang kami buat sendiri tanpa kami sadar perjalanan kami terasa begitu singkat menuju taman.

__ADS_1


Kami turun dari motor sambil Raidil melepas helm yang terpasang di kepala ku, dengan lembut dia juga merapikan rambut ku yang sedikit berantakan.


"yuk" ucap nya sambil kembali mengenggam tangan ku.


Seperti biasa kami akan berkeliling memutari setiap sisi taman sambil kembali bercerita sampai pada akhirnya kami berhenti di kursi yang tersedia di setiap sudut taman.


Langit malam terlihat cukup terang tanpa di hiasi dua sejoli bulan dan bintang,


dan awan di langit malam bergerak perlahan seiring hembusan angin yang selalu hadir seolah menjadi pelengkap.


Hhhmmm... Hoooh


Raidil menarik nafas panjang menatap langit.


" kenapa?" tanya ku heran.


"gak apa-apa kok, cuma gugup" sahutnya.


"gugup?"


" setiap kita bersama seperti ini, Aku akan selalu gugup Ri" ucap nya sambil tersenyum menatap langit malam.


" ehh lupa, nih" tambahnya sambil mengeluarkan satu kotak kecil martabak yang tadi kami beli.


"ahh iya, makasih" ucap ku dengan tangan mengambil satu martabak.


Dddrrrrtt....drrtt


Getar ponsel dari dalam tas ku, ku letak kan martabak di antara bibir ku tanpa menggigit untuk meraih ponsel yang ada di dalam tas dengan kedua tangan ku.


Hap.


mata ku membulat dengan hati ku yang bercampur aduk, Raidil tepat di depan wajahku dengan bibirnya yang menggigit separuh dari martabah yang ada di gigitanku.


Deg


Lagi- lagi jantung ku berpacu dengan tiba-tiba, rona merah dipipi ku tersamarkan gelapnya malam di taman kota.


Tak mampu berkata Aku hanya diam terpaku dengan apa yang di lakukan Raidil, tak bisa dipungkiri hati kecil ku berjingkrak kegirangan dengan dosa ini, dosa yang tidak pernah ku lakukan sebelumnya.


Cup


Bibir hangat Raidil tepat mendarat di bibir ku, yang kemudian di lepasnya secepat mungkin dan buru-buru memalingkan wajahnya.


Daun telinganya yang memerah terlihat jelas di mataku bahwa Raidil berusaha menutupi gugup dan malunya.


Sementara aku tersenyum kecil melihat tingkah Raidil walau hati ku cukup berdebar keras dan sama gugupnya.


***


Ehhmmm..


Raidil berusaha memecah kesunyian sesaat di antara kami.


" pesan dari siapa?" tanya Raidil dengan mulutnya yang mengunyah makanan.


"operator" sahut ku gugup karena masih terbayang apa yang baru saja terjadi.


"operator?" ucapnya seolah tak percaya.


" he em, nih.." Aku menyerahkan ponsel yang ada di tangan ku pada Raidil yang kemudian di sambutnya.


" dua hari lagi pembagian raport" ucapnya sambil melirik ke arah ponsel ku yang ada di genggamannya.


" em iya, kenapa emangnya?" tanya ku singkat.


" artinya kita cuma punya waktu-3 hari untuk ketemu kaya gini" sahut raidil sambil tersenyum lirih.


"setelah itu, Aku bakalan lama dijogja" tambahnya sambil mengusap kepala ku dengan tangan lembutnya.


" kan cuma sampe libur selesai" sahut ku.

__ADS_1


" tapi itu cukup lama".


" terus mau gimana dong?" Tambahku.


" Gak tau" ucap nya.


"Coba sekarang kita udah dewasa" tambahnya kembali menatap langit.


Dan Aku tersenyum menatap Raidil yang sama kasmarannya dengan ku.


"Rii..".


"Hmmm" sahut ku.


" Boleh peluk" ucapnya membuat aku membelalakkan mata karena terkejut.


"Hah" kata itu mewakili keterkejutan ku.


Raidil bergeser mendekatkan tubuhnya, dengan tangan yang memeluk tubuhku, hangat tubuh Raidil sangat terasa di tubuhku, aroma parfum yang maskulin dari tubuhnya memanjakan indra penciuman ku.


" Aku sayang kamu rii" kata itu terucap berbisik di telingaku. Entah mengapa terasa lirih di dalam hati, antara bahagia ada terselip sedikit kesedihan didalam kalimat itu.


" Aku bersyukur, bisa mengenal dan memiliki cinta pertama sepertimu Ri" tambahnya dengan semakin mengeratkan pelukannya dan memendamkan wajahnya di pundak ku.


"Aku juga" sahut ku singkat dengan linangan air mata yang seakan siap untuk jatuh, aku merasakan kebahagian saat Aku tau, bahwa Aku cinta pertama bagi Raidil.


Tapi apa ini? Airmata yang menggenang di pelupuk mata ku seolah bukan airmata kebahagian.


"Rii" Raidil melonggarkan pelukannya dan menatap lekat pada ku, tangan kanannya berjalan lembut di pipi ku,


"Hmm".


"Aku udah punya cita-cita" ucapnya yang masih menatap lembut mataku.


"Apa?".


"Aku ingin cepat dewasa dan tetap mencintaimu seindah cintaku hari ini" sahutnya membuat air mata yang sudah bertahan cukup lama untuk tidak jatuh akhirnya terjatuh juga.


"Aku ingin ini bukan hanya sekedar cinta monyet yang seperti orang lain lihat" tambahnya.


Ucapan Raidil membuat Aku membeku tak mampu bersuara, hanya tatapan mata bahagia yang bisa membuktikan apa yang Aku rasa.


" boleh Aku bercita-cita sekonyol itu" tanya nya.


" tidak ada undang-undang soal cita-cita" tambahku tersenyum hangat menatap mata Raidil.


Cup


Bibir hangat itu kembali mendarat di bibir ku dan kembali terlepas beberapa saat.


"Aku benar-benar menyayangimu". Ucap Raidil dengan mata yang terlihat berkaca-kaca.


Cup


Bibir ranum itu memberikan kehangatan tidak hanya di tubuhku, bahkan hati ku ikut menghangat, mata ku terpejam saat Raidil memperdalam kecupannya dengan tangan yang meraij kepala bagian belakang ku.


Kecupa itu terasa manis dan penuh kesungguhan yang tak dapat di lihat namun bisa di rasakan.


" Aku juga menyayangi mu raidil" ucap ku berbisik di sela kecupan Raidil dengan tangannya yang masih menopang kepala ku.


Raidil menatap mataku dengan senyumnya yang menawan.


Dekapan erat melingkar di tubuh ku, Raidil kembali memberi kehangatan yang tidak pernah ku rasa sebelumnya.


"mau pulang?" tanya dengan masih memeluk tubuhku.


" terserah" sahut ku lembut dengan memejamkan mata ku merasakan hangat nya tubuh Raidil.


" kalau gitu, sebetar lagi" sahutnya yang membuat Aku tersenyum dengan masih memejamkan mata dalam pelukannya.


waktu tolong berputar lah sedikit lebih lama hari ini, Sungguh Aku ingin merasakan semua ini sedikit lebih lama bersama Raidil.

__ADS_1


__ADS_2