
Kesedihan ku berlalu dengan waktu yang ku lalui, hampir tiga minggu semenjak Aku sadar dari tidur panjang.
Tante Erna dengan perlahan terus menceritakan apa saja yang terjadi selama Aku koma dan harus berpindah rumah sakit dari kota asal ku ke semarang untuk operasi dan mendapat perawatan yang lebih baik,
Termasuk memberi tahu teman, sahabat dan pihak sekolah ku tentang ke adaan ku yang harus berhenti mengikuti kegiatan sekolah.
"Waktu itu sahabat-sahabat kamu datang berlari ke arah tante dengan sesegukan dan bertanya banyak hal"
"Oh yaa... Pasti mereka sangat khawatir" ucap ku dengan penuh rindu terhadap mereka.
"sangat terlihat jelas" ucap tante Erna.
"Tante gak bisa ngomong apa-apa waktu itu, karena masih benar-benar syok dan mengkhawatirkan kamu"
"Tante hanya bisa bilang, terus berdoa dan berharap semuanya baik-baik aja". tambahnya.
"Tante, Riri mau ketemu Ibu sama Ayah" ucap ku dengan mata yang menatap langit mendung dari jendela kamar ku.
"Tante usahain kita dapat ijin pulang sementara buat kamu" sahut tante Erna dengan membelai lembut rambut ku.
" Apa gak bisa kita gak usah balik ke sini lagi?" tanya ku.
"Kamu kan tau, kalo kamu masih belum pulih se utuhnya, kamu masih harus menjalani beberapa terapi lagi untuk benar-benar pulih".
"Setidaknya itu yang di katakan dokter Arya sama tente" ucap tante Erna.
Aku hanya terdiam dengan mata yang kembali menatap langit biru dengan sendu.
Tanpa suara, rasa rindu kepada Ayah dan Ibu, sahabat-sahabat ku membuat hati ku semakin ingin cepat menemui mereka termasuk Raidil yang entah bagaimana kabarnya saat ini,
Satu tahun bukan waktu yang sebentar untuk Aku dan dia, apalagi hubungan kami yang baru seumur jagung.
"Tante??"
"Hmmm??".
"Waktu tante ke sekolah Riri apa ada yang menanya kan Riri selain 3 sahabat Riri?" tanya ku penasaran.
"Em.. kaya nya gak ada deh seingat tante" sahut tante Erna dengan tangannya yang menopang dagu.
"Emm gitu yaa" ucap ku lesu menatap rintik hujan yang mulai turun menabrak dinding kaca jendela.
"Raidil" ucapku sendu dari dalam hati.
__ADS_1
"Ayo rii, udah waktunya pemeriksaan, pasti sebentar lagi dokter Arya datang" ucap tante Erna yang kemudian menarik kursi roda ku dan mendorong kembali ke arah tempat tidur ku.
Dan tak lama setelah Aku mulai berbaring dokter Arya datang bersama asisten perawat nya.
"Kamu saya ijinkan pulang hanya sebentar yaa, sebelum jadwal terapi kamu harus sudah kembali ke sini" ucap dokter Arya sambil memeriksa ku setelah tante Erna bertanya tentang rencana kepulangan kami ke kota asal.
"Gimana Rii? masih mau pulang?" tanya tante Erna yang duduk di sofa tidak jauh dari tempat ku berbaring.
" Iya " Sahut ku singkat.
" Tapi itu artinya cuma 2 hari kita pulang" ucap tante Erna menjelaskan.
" Gak apa-apa kok walau cuma sebentar" sahut ku sendu.
Karena rasa rindu ku mengalahkan semuanya, walau cuma di beri waktu 2 hari Aku harus tetap pulang bagaimana pun keadaan ku.
Setidaknya Aku harus tau keadaan Raidil dan teman-teman ku saat ini.
"Jangan terlalu lelah, kamu tau sendiri kan kaki mu masih belum terbiasa di bawa berjalan dengan normal, untuk sementara kamu harus tetap memakai kursi roda" ucap dokter Arya.
" Iya dok, terima kasih" sahut ku singkat.
***
Penerbangan ku dari semarang menuju kota kecil ku di sudut borneo hanya memakan waktu satu jam lebih, sehingga Aku bisa lebih banyak beristirahat saat tiba di rumah nanti.
" Riri baik-baik aja kok tan" ucap ku pelan dengan hati yang ku persiapkan untuk tegar.
Aku bahkan tidak tau apakah Aku benar akan baik-baik saja setelah sampai di rumah yang memang penuh kenangan indah bersama kedua orang tua dan adik kecil ku Zira.
Mata ku beralih pada langit malam yang penuh dengan bintang, ku tatap nanar dari balik jendela taksi bandara yang mengantar ku dan tante Erna pulang.
Terlintas di benak ku tentang Raidil yang sangat menyukai langit malam setiap kali kami berkencan, rindu yang tak tertahan kan di hati ku membuat Aku semakin tidak sabaran ingin melihatnya besok.
"Apa benar ini alamatnya bu?" tanya supir taksi.
"Ahh iya, agak maju lagi sedikit" ucap tante Erna mengarahkan.
"Oke kita sampai Rii" tambahnya.
Ku tatap nanar rumah ku dengan linangan air mata yang tertahan.
Turun dengan perlahan dari mobil ke kursi roda, tante Erna mendorong ku masuk kedalam rumah.
__ADS_1
" Kamu yakin sayang?" tanya tante Erna yang terlihat sangat mengkhawatirkanku.
Aku hanya mengangguk berusaha terlihat baik-baik saja.
Ceklekk
Pintu terbuka, berdiri tegap bang Farel dengan tatapan haru dan bahagia mengarah padaku.
" Selamat datang Ri, abang seneng kamu akhirnya baik-baik aja" pelukan hangat bang Farel mendarat di tubuh ku.
"Yuk kita masuk" ucap tante Erna.
" Kamar Riri udah kamu beresin belum Rel?" tambahnya.
" Udah kok, liat aja" sahut bang Farel.
"Rapikan?" tambahnya saat Aku benar-benar sampai di kamar ku.
Kembali terlintas ingatan-ingatan hangat tentang Ibu dan Ayah yang membuat air mata ku akhirnya jatuh, rasa rinduku yang teramat dalam membuat dadaku terasa sesak sampai pada akhirnya Aku tak kuat menahannya, tangisan yang semula tanpa suara kini berubah menjadi rintihan dengan sesegukan.
Aarrrgghh... Ayah.. Ibu..
Ringisku dengan tangan yang terus menepukk dada berusaha mengeluarkan semua sesak yang ada.
"Menangislah sepuasnya" ucap bang Farel yang memeluk ku erat.
" Sehingga besok yang tersisa hanya kesabaran dengan lapang dada saat kamu ketemu mereka" tambahnya dengan tangan yang membelai pucuk kepalaku.
Kenyataan yang bang Farel ucapkan semakin membuat ku hancur berkeping-keping.
"Sudah sayang, sebaik nya kamu istirahat".
"Ingat! Besok kita akan ketemu mereka" ucap tante Erna.
Dengan sigap bang Farel menopang kedua bahu ku untuk bangun dari kursi roda dan berpindah ke atas kasur ku.
" Kamu istirahat yaa" ucap bang Farel dengan tangannya yang menyapu bekas air mata ku,
dan Aku mengangguk dengan sisa-sisa kesedihanku.
" Udah ya " tambah bang Farel sambil berlalu meninggalkan ku.
Ku balik kan tubuh ku berbaring menghadap ke arah jendela, ku pandangi langit malam yang indah di hiasi bintang-bintang,
__ADS_1
Air mata kembali menetes perlaha mengingat kenyataan yang ku hadapi saat ini,
Perlahan ku pejam kan mataku, dengan hati yang masih berharap saat Aku terbangun nanti ini semua hanya sebuah mimpi di dalam mimpi.