First Love "Di Bulan April"

First Love "Di Bulan April"
MEMUDAR


__ADS_3

"Rii".


"Riri sayang, bangun nak".


Suara lembut terdengar di telinga ku, ku kerjipkan mata ku berusaha melihat bayang siapa yang manggil ku,


"Ibu"


Aku menatap berusaha mengingat apa yang terjadi,


wajah lembut dengan senyum indah, menghias wajah Ibu yang terus membelai Rambut ku.


"Riri tadi mimpi buruk" ucap ku yang bangun dan langsung memeluk tubuhnya.


"mimpi buruk apa nak?" tanya Ayah yang tiba-tiba masuk dan duduk di samping ku.


" Riri mimpi-" ucap ku termenung memikirkan apa Aku harus menceritakan mimpi itu.


" gak jadi deh" ucap ku dengan masih memeluk tubuh Ibu yang terasa sedikit dingin.


"yuk kita makan dulu " ajak Ayah.


Ibu menggenggam tangan dan menarik ku dengan lembut mengikuti langkah nya.


"makan yang banyak sayang" ucap Ayah yang duduk tepat di sebelah ku begitu pula dengan Ibu.


"kalian gak makan?" tanya ku heran karena hanya ada satu piring yang ada di atas meja makan.


"Zira mana bu?" mata ku memperhatikan sekitar mencari keberadaan si cantik adik ku Zira.


"Zira sudah tidur lebih dulu" ucap Ayah menatap ku dengan sendu.


" Nak" ibu menyodorkan satu suapan kecil pada mulut ku yang ku sambut dengan tatapan heran.


"Ayah, Ibu kenapa?" ucap ku sambil menggenggam tangan keduanya yang sama terasa dingin.


"gak apa-apa nak, makan lagi yaa" ucap ibu yang terus memberiku suapa dengan senyum hangat.


Sementara Ayah terus menggenggam tangan ku dan membelai Rambut ku.


"terimakasih sudah jadi anak yang baik selama ini" ucap Ayah dengan tangan yang masih membelai rambutku.


" Apa yang terjadi yah?, kok Ayah ngomong gitu?" tanya ku penasaran dengan sikap Ayah dan Ibu yang cukup aneh dari tadi.


mereka hanya menatap sendu ke arah ku tanpa menjawab apa-apa, pelukan erat melingkar di tubuhku, ibu mengecup keningku seolah-olah akan ada perpisahan di antara kami,


"Tetep jadi anak yang baik dan bertanggung jawab ya sayang" ucap ibu.


"Jaga diri kamu, jalani semuanya dengan kuat, jangan hilangkan senyum manis mu ya nak" tambah Ayah membuat linangan air mata ku memenuhi pelupuk mata.


Tanpa menjawab, Aku berusaha mencerna apa yang mereka maksud .


Pelukan itu bertambah erat ketika Ayah juga mencium pucuk kepala ku.


"maafin Ayah sama Ibu yang harus ninggalin kamu sendiri".


Deg


Ucapan ayah membuat aku membelalakan mata karena terkejut, jantug ku berpacu cepat dan sedikit merasa sakit.


" Ayah sama Ibu mau pergi kemana?" tanya ku dengan derai air mata yang tak tertahan lagi.


Aku menangis dalam pelukan mereka yang mulai melonggar.

__ADS_1


"jawab bu, kalian mau kemana?" Aku memeluk erat tubuh mereka yang semakin melonggarkan pelukannya seolah akan pergi meninggalkan ku.


" gak, kalian gak akan kemana-mana" ucap ku dengan derai air mata yang semakin banyak membasahi pipi ku.


Tanpa bersuara Ayah dan Ibu menatap ku dengan tatapan sendu penuh air mata.


" Sayang, jangan nakal, jalani hidup kamu dengan baik ya nak, kami akan selalu ada bersama mu" ucap Ibu membuat ku semakin merasa takut.


" kalian mau kemana?"


"ajak riri, jangan tinggalkan riri"


"Riri takut bu".


suara yang bergetar dengan sesegukan Aku berusaha memohon dengan mengenggam tangan mereka yang masih terasa dingin.


Tatapan lirih yang Ayah berikan padaku menambah rasa sakit yang ku rasa karena tidak memahami situasi apa yang Aku hadapi.


Andai ini mimpi Aku benar-benar ingin terbangun. Karena sungguh ini semua mimpi yang paling buruk yang pernah Aku alami.


Perlahan-lahan peluka itu semakin melonggar


Sampai pada akhirnya terlepas.


Aku terdiam menatap mata mereka yang terlihat ingin menangis namun tertahan.


" maafin Ayah sama Ibu" ucap Ayah yang kemudian berdiri dengan menggenggam tangan Ibu.


"gak, kalian gak boleh pergi".


"tolong bawa Riri juga"


"bawa Riri yah" ucap ku dengan suara yang mulai terdengar serak.


" kami menyayangimu" sahut Ayah yang dengan perlahan membelai pucuk kepalaku.


"Jika kalian menyayangi ku, kenapa kalian ingin pergi meninggalkan ku" sahut ku dengan Rasa hancur yang sangat dalam.


Ayah dan Ibu berbalik membelakangi ku dan melangkah perlahan meninggalkan ku.


" Riri ikut" sahut ku berdiri dan berusaha melangkah bersama mereka.


Namun langkah ku tertinggal jauh, semakin ku berusaha lebih cepat semakin Ayah dan Ibu jauh meninggalkan ku.


" Ayah Ibu, tunggu" ucap ku lirih dengan tangis yang seseguka.


"jangan pergi, jangan tinggalkan Riri"


"Bawa riri bersama kalian" Aku duduk tersungkur di ruang kosong yang tak kusadari sejak kapan adanya.


Mata ku terus menatap mereka yang mengenakan gaun dan kemeja putih semakin menjauh.


Aaarrrrgggggg


Aku menggerang mengeluarkan semua rasa sesak di dalam dada, berusaha berpikir jernih dan mencerna semuanya dengan tatapan tak lepas dari Ayah dan Ibu yang sedikit demi sedikit menghilang dari pandangan ku.


Aku semakin menangis merasakan rasa sakit yang luar biasa yang bahkan tidak pernah Aku rasakan.


" tolong jangan pergi" kata itu semakin lirih di dengar jika ada orang lain saat ini bersama ku.


Aku menatap tidak percaya dengan apa yang baru saja terjadi.


Ku kuatkan kedua tangan ku menopang naik kakiku untuk berdiri, melangkah perlahan di ruang kosong yang semakin terasa menggelap.

__ADS_1


Tatapan ku hanya tertuju ke arah depan di mana Ayah dan Ibu menghilang begitu saja.


Namun langkah yang melemah membuat Aku kembali tersungkur jatuh.


Yang mampu Aku lakukan saat ini hanya terisak menangis sambil memanggil Ayah dan Ibu ku.


" Riri takut"


***


Entah sudah berapa lama Aku duduk tersungkur dengan tatapan yang terasa kosong dan pikiran yang tidak karuan


Tenaga ku terasa hilang, bahkan untuk berdiri pun rasa tidak mampu.


Linangan air mata kembali membasahi pipiku,


rasa tidak percaya menggerogoti hati dan pikiran ku


" Ayah".


"Ibu"


Ucap ku lirih dengan pandangan menyapu ruang kosong yang hanya ada Aku seorang.


Aaaaarrrrgghhh...


Dengan tangan yang meremas rambut dan air mata yang terus berjatuhan, Aku berteriak sekencang-kencangnya dengan rasa yang sangat putus asa.


"Ya Allah, kau bawa kemana kedua orang tua ku?".


"ijinkan Aku bersama mereka"


"Aku janji akan menjadi anak yang lebih baik lagi".


"Ya Allah, jika ini mimpi bangun kan Aku"


"Aku sungguh ketakutan"


"Tolong bangunkan Aku dari mimpi ini"


Ucap ku masih dengan linangan air mata dan sesak di dada.


Ruang kosong nan sunyi tanpa sudut semakin membuat ku putus asa, warna ruang yang semula putih semakin menghitam dan menggelap.


Mata ku terus mencari di mana jalan keluar, dengan tubuh yang bergetar Aku berusaha berdiri dan melangkah walau tertatih.


Tanpa tau arah dan tujuan Aku terus melangkah dengan rasa takut yang luar biasa.


Namun, langkah yang ku rasa sudah sangan jauh dengan waktu yang lama menjadi terasa sia-sia ketika Aku tidak menemukan jalan keluar.


Aku kembali tersungkur dan menangis merasakan ketidak berdayaan ku.


hanya kesunyian dan ke hampaan yang menemani setiap suara lirih yang keluar dari tangis ku.


"kalian di mana?" ucap ku lirih dengan tubuh yang bergetar merasakan ketakutan yang luar biasa.


Ratusan kali Aku burusaha bangkit berdiri dan melangkah, namun langkah itu berakhir dengan keterjatuhanku kembali karena putus asa tidak menemukan jalan.


Gelap dan sunyi, langkah yang meraba-raba dengan mata yang terus melihat ruang kosong dan berharap ada sedikit cahaya yang menemani langka ku mencari jalan.


Lamanya waktu yang ku lalui semakin memperjelas keputus asaan ku akan ada nya jalan keluar, tubuh ku terasa menjadi cangkang kosong tanpa ada jiwa di dalamnya.


Air mata yang mengambarkan kesedihan ku selama ini mengering dan terkuras habis tanpa menyisakan setetes pun.

__ADS_1


Bahkan harapan ku menemukan jalan kembali mulai sedikit memudar karena mimpi ini.


Mimpi yang terasa lama dan tak kunjung berakhir.


__ADS_2