First Love "Di Bulan April"

First Love "Di Bulan April"
ALUN-ALUN


__ADS_3

"Habis ini kita makan yuk" ucap Raidil sambil meminum minumannya.


"mmm..boleh" sahut ku.


"yaudah ayok" ucap nya sambil berdiri dari posisi duduknya tadi.


" Hah sekarang" tanya ku sambil melihat ke arahnya dan langsung menghabiskan minuman ku.


"heem lagian Aku mulai ngerasa risih sama mereka" ucapnya dengan melirik ke arah belakang.


" ngeliatin kamu terus" tambahnya dengan suara pelan.


Aku tersenyum tipis mendengar ucapan Raidil yang samar-samar ku dengar di telingaku.


Aku berdiri, dan kami pun berlalu meninggalkan bangku taman sambil membawa bekas gelas minuman menuju tempat sampah dan berjalan ke arah motor Raidil di parkir.


"bay Rii" teriak Aldi, itu nama yang di sebutnya tadi sambil melambaikan tangannya.


mendengar teriakan itu, Raidil menoleh kearahnya dengan tatapan sedikit gusar.


" udahlah gak usah di hiraukan" ucap ku pelan dan dengan spontan tanganku memegang pergelangan tangan Raidil.


"yaudah ayo " sahut Raidil yang kemudian balik memegang tanganku dan berjalan lebih cepat meninggalkan tempat itu,Aku hanya diam mengikuti gerak Raidil.


Pandangan ku terus tertuju ke tangan ku yang di genggam erat oleh Raidil, kaki ku melangkah beriringan dengan langkah Raidil di depan ku, kami berjalan menuju ke arah motor Raidil di parkir.


"ayo Rii " ucap nya lembut sambil memasangkan helm di kepala ku.


Aku hanya mengangguk menjawab pertanyaan nya dan menerima perlakuaanya yang lembut walau hanya sebatas dia memasangkan helm di kepalaku,


dan setelah itu kami pergi meninggalkan taman.


Sepanjang perjalanan kepala ku tak berhenti memikirkan sikap-sikap kecil yang di tunjukkan Raidi pada ku, hanya dengan itu semua dia mampu membuat jantung ku berdetak setiap saat,


sesekali Aku tersenyum dengan mengingat itu.


" kenapa senyum-senyum sendiri Ri?" tanya Raidil pada ku yang sedari tadi memperhatikan ku lewat kaca spion motornya.


Aku menunduk malu mengetahi kalau dia melihat tingkah ku.


Setelah itu aku terus-menerus bersembunyi di balik helm yang dia pakai supaya dia tidak bisa melihat ku.


***


Setelah lama di perjalanan, motor Raidil berbelok ke sebuah cafe dan berhenti di sana.


"Lhoh ini?" Sesaat ku tertegun melihat kemana Raidil mengajak ku makan.

__ADS_1


" Cafe waktu malam itu kita ketemu, masih ingat kan" ucap nya sambil tersenyum.


" Heem masih dong" sahut ku membalas senyum Raidil.


Kami masuk dan makan di sana, duduk berdua di tempat dulu waktu kami bertemu di malam Expo.


Sambil menunggu pesanan datang, sesekali Raidil menatap ke arahku dengan tatapan hangat.


" kenapa?" Ucap ku lembut.


Tanpa menjawab, Raidil mendekatkan tangannya kearah kening ku dan merapikan sedikit rambut ku yang terurai berantakan,


Aku kembali terdiam kaku menerima perlakuan sederhana dari Raidil.


"jangan begini" ucap ku dalam hati tak mampu mengelak dari sikap nya padaku.


"kadang Aku lupa, bahwa mungkin di dunia banyak wanita yang lebih cantik dari kamu Rii, tapi untuk saat ini mata ku hanya tertuju ke satu arah dan itu kamu Rii" ucap Raidil dengan matanya yang menatap ke arah ku.


" berarti kapan-kapan bisa berubah dong" sahut ku sambil tersenyum meledeknya.


Raidil hanya tertawa mendengar apa yang Aku ucapkan.


Setelah makanan datang, kami segera menyantap nya sambil di selengi dengan obrolan-obrolan ringan.


" maaf ya cuma bisa makan di sini" ucap Raidil.


" yaa maksud ku gak kaya orang-orang yg ngajak cewenya kencan makan nya di tempat-tempat istimewa" sahut Raidil.


" kalo sama kamu makan di pinggir jalan juga spesial" celetuk ku tanpa rem,


Raidil menapat ku dengan senyum yang merekah lebar di bibirnya, sedang kan Aku hanya bisa tertunduk malu dengan apa yang ku ucapkan barusan.


" Ri.. rii.. bisa-bisa nya kamu nyeletuk gitu, hancur harga diri mu" ucap ku dalam hati sambil menggigit gemas bibirku dengan mata yg terpejam rapat.


" so sweet banget sih Rii" ledek Raidil pada ku.


" apa sih" sahut ku dengan nada sedikit sebal.


Raidil hanya tertawa melihat tingkah ku yang tidak bisa melakukan pembelaan.


"habis ini kita kemana?" tanya Raidil pada ku.


" terserah Aku ngikut aja" sahut ku.


" ke alun-alun?" tawarnya.


" Boleh" ucap ku.

__ADS_1


Selesai dengan makanan kami pun pergi meninggalkan Cafe, sepanjang jalan menuju Alun-alun kota pikiran ku melayang dan hanyut terbawa suasana di atas motor bersama Raidil.


Mata ku tertuju pada Bahu belakangnya yang lebar dan bau parfum yang sama ku rasakan waktu terakhir kali Raidil mengantar ku pulang.


Tidak mampu ku jelaskan lagi seberapa bahagianya Aku bisa melalui waktu bersamanya hari ini.


Langit mulai gelap, lampu-lampu jalan mulai menyala mempercantik suasana di sekitar Alun-alun, Aku dan Raidil duduk berdua di sebuah kursi di pinggir Alun-alun dengan menghadap ke arah jalan raya.


Lalu-lalang kendaraan di depan kami menjadi pemandangan yang sederhana sebagai pemanis malam kami, Langit malam yang cerah menambah syahdu malam yang kami lalui.


"Rii.. makasih ya udah mau Aku ajak jalan" ucap Raidil sambil menatap ke arah depan melihat kendaraan yang berlalu-lalang.


"ku kira kamu gak mau" tambahnya.


"dan Aku bersyukur kamu jadi orang pertama yang jalan sama aku" ucapnya.


Aku kembali menatap ke arahnya," sama-sama yang pertama teryata" ucap ku singkat.


" Hmmm" sahut Raidil dengan tatapan bertanya melihat ke arahku


" iya.. kamu juga yang pertama ngajak jalan, pertama yang ngedandeng tangan ku, pertama yang ngantar Aku pulang, dan yang pertama membuat jantungku berdebar dengan perlakuan-perlakuan kamu yang sederhana" sahut ku sambil tersenyum.


" kamu bilang gitu kaya ngejawab semua pernyataan ku kemaren " ucap nya dengan sorot mata yang berharap.


" Memang" sahut ku sedikit tersipu malu.


Aku merasakan gugup yang luar biasa atas apa yang ku katakan pada Raidil.


"jadi selama ini.." tanyanya yang kemudian Aku sekat.


" he em.. apa yang kamu rasain, Aku juga rasa" ucap ku dengan nada suara yang berat menahan gugup.


"Saat kemarin kamu menyatakan semuanya, Aku pun juga ingin demikian, tapi cukup sulit bagi ku mengekpresikan semuanya" tambah ku.


Ku beranikan diri menatap ke arah Raidil, dan Aku melihat Raidil tersenyum merekah.


" ahh lama-lama kalo liat Raidil senyum terus bisa diabet" ucap ku dalam hati.


Ku palingkan wajah ku menatap jalan raya, karena jantungku semakin tidak bisa di kontrol ketika melihat Raidil.


"jadi gimana?" tanya nya pada ku.


" gimana apanya?" Sahutku dengan sedikit kaget.


" status kita? Pacaran atau gimana?" tanya nya dengan lembut dan tatapan serius, dan itu membuat Aku semakin gugup.


Ku tarik napas ku dalam, bahu ku tersender di bangku.

__ADS_1


Aku terdiam sejenak mendengar pertanyaan Raidil memikirkan jawaban apa yang tepat.


__ADS_2