First Love "Di Bulan April"

First Love "Di Bulan April"
PINDAH


__ADS_3

Suasana di sekitar ku mulai terasa sepi, yang tersisa hanya ketiga sahabat ku yang masih menatap dengan tatapan pilu dan tidak percaya.


"Udah dong nangisnya" ucap ku pada Lila yang sedari tadi trus terisak menangis.


"Maunya gitu, tapi gak bisa" sahutnya.


"Rii.. kamu kok pake kursi roda? Ap-" ucap Ema terputus dengan mata yang menatap ke arah ku.


" Gak kok, Aku cuma belum terbiasa menggunakan kaki ku" sahutku yang mengerti arah pertanyaan Ema.


"Ahh.. syukur lah" ucap Della lega.


"Kalian apa kabar?" tanya ku singkat.


" Tolong jangan tanya kabar kami, sementara kamu tau jawabannya" sahut Della.


" Bagaimana bisa kami baik-baik saja dalam keadaan yang setiap harinya mengkhawatir kan kamu Rii, gak tau kabar dan perkembangan kamu" tambah Ema.


"Aku baik-baik aja kok" sahut ku berusaha membuat mereka sedikit tenang.


"Aku bersyukur bisa liat kalian walau cuma sebentar" tambah ku.


"Sebentar?" Lila menatap ku penuh tanya.


"Besok Riri bakal balik ke semarang, ngelanjutin pengobatan dan terapi di sana" sahut bang Farel menjelaskan.


" Aaaaaaarrrhhhhh" Lila semakin histeris saat mendengar penjelasan bang Farel.


" Udah dong" ucap ku berusaha menenangkan Lila dengan tangan yang menyapu air matanya.


" Tapi kamu bakal balik lagi ke sini kan Rii" tanya Ema.


"Insya Allah, doain aja Aku cepat pulih sepenuhnya" sahut ku.


Kami mengobrol dengan akrab seperti satu tahun lalu saat Aku masih satu sekolah dengan mereka, banyak yang mereka ceritakan tentang apa saja yang terjadi selama Aku pergi, begitu pun Aku yang juga menceritakan semua cerita tentang diri ku dan musibah yang menimpa keluarga ku.


"Rii" Ema menatap ku lekat sambil mengenggam erat tangan ku.


"Hmm?" sahut ku menatap balik Ema.


"Raidil!".


"Ahh iya.. baru Aku mau bertanya, bagaimana ke adaannya? Aku bahkan belum memberi kabar padanya, karena ponsel ku hancur begitu saja, sempat sih coba pake ponsel tante Erna, tapi gak masuk" ucap ku dengan mata yang berbinar penuh harap menunggu jawaban mereka.


Hening beberapa saat mereka mentap ku seolah dalam kebingungan.


"Kenapa?" tanya ku mulai penasaran dengan sikap yang mereka tunjukkan.


" Raidil pindah sekolah Ri" sahut Della penuh ragu.


"Pindah??" Aku terkejut saat mendengar ucapan Della.


" Iya pindah, bahkan dia mungkin tidak tau dengan keadaan kamu yang sekarang Rii" ucap Della.

__ADS_1


"Dia pergi sebelum dapat kabar dari tante kamu yang datang ke sini memberi kabar pada pihak sekolah" tambah nya.


"Pindah.. Dia pindah ke mana?" tanya ku penasaran dengan cairan bening yang menumpuk di pelupuk mata ku.


" Jogja, waktu itu dia sempat mencari kamu ke rumah dan menanyakan keberadaan kamu pada kami" ucap Della menjelaskan.


" Dan kami benar-benar tidak tau tentang keadaan dan kabar kamu Rii karena tante kamu datang sekitar 3 minggu setelah ajaran baru" tambah Della yang akhirnya membuat cairan bening di pelupuk mata ku terjatuh begitu saja.


"Dia terlihat seperti sangat frustasi" sela Ema yang membuat Aku merasakan sesak di dada.


"Rii?" ucap bang Farel memastikan ke adaan ku.


" Riri gak apa-apa kok bang" sahut bibir ku yang berbohong dengan hati yang menangis lebih dulu dari pada mataku.


"Apa kita pulang aja?" tanya bang Farel.


"Aa jangan pulang dulu lah, kan baru sebentar" Rengek lila.


"Kan bisa ke rumah" tambah bang Farel.


"Ehh iya, nanti sore kami main yaa?" Ucap Ema semangat.


Dan ku jawab dengan mengangguk tanda mengiyakan keinginan Ema.


" Nanti Aku jemput kalian" tambahnya sambil menatap ke arah Della dan Lila yang mengangguk paham.


"Ayok rii" ajak bang Farel.


" Hati-hati yaa, dan tunggu kami nanti" sahut Ema.


Dengan perlahan bang Farel mendorong kursi roda ku kembali menuju ke arah mobil yang terparkir tidak jauh dari warung mba Ita.


"Rii?" ucap Della.


"Hmm?"


Della berlari kecil ke arah ku di susul Lila dan Ema, pelukan erat seakan tidak mengijinkan ku pergi di berikan oleh mereka.


"Kalian?" ucap ku terputus.


"Cepat sembuhnya Rii" sahut Ema yang mengeratkan pelukannya


"Pasti ma" sahut ku singkat dan perlahan melonggarkan pelukan mereka sampai terlepas


"Bey" tangan ku melambai pada mereka seiring Aku yang sudah berada di dalam mobil.


" Siap?" ucap bang Farel yang mulai menghidupkan mesin mobil dan berlalu meninggalkan gang depan sekolah.


" Rii... Kamu yakin gak apa-apa" tanya bang Farel yang sesekali menatap ke arah ku.


" Bagaimana bisa Riri gak apa-apa bang?" sahut ku dengan butiran air mata yang terus mengalir.


***

__ADS_1


Hati ku terasa tercabik dan perih saat Aku mengetahui Raidil orang yang ku sayangi, cinta pertama ku pergi begitu saja tanpa tau kabar ku bagaimana dan seperti apa.


Aaaarrrrgghhh


"Kenapa di sini terasa sakit bang" ucap ku dengan derai air mata dan suara yang terisak menangis memenuhi ruang mobil yang di kemudikan bang Farel.


"Aaaahhhh... Apa lagi ini" tambah ku dengan tangan yang menepuk dada yang terasa sangat sesak.


" Sakit.."


"Sakit banget bang!" aku terus merintih merasakan perih dan keputus asaan ku saat aku menerima kenyataan bahwa Aku tidak hanya kehilangan keluarga ku tapi juga seseorang yang menjadi penyemangat ku untuk bertahan sejauh ini.


"Aaarrhhh.. Raidil" ucap ku lirih membuat bang Farel menepikan mobil untuk berhenti.


"Menangis lah sepuasnya " ucap bang Farel berusaha membuat ku tenang dengan dekapannya.


" Huhuhu untuk apa Riri sembuh bang kalau semuanya sudah hilang dan pergi meninggalkan Riri"


" Ayah, Ibu, Zira bahkan sekarang Raidil"


"Sakit bang... riri gak kuat" ucap ku lirih.


"Iya... Abang tau kok, pasti sakit" ucap bang Farel yang kemudian mengeratkan pelukannya pada ku.


" Menangis lah sampe Kamu puas, keluarkan semua rasa sakit itu sekarang" tambahnya.


Aku terus mengeluarkan air mata dan sesegukan sampai merasakan lelah.


"Udah nangisnya?" ucap bang Farel menatap ku yang begitu lelah.


" Riri pusing bang" sahut ku menatap tepi jalan dari dalam jendela kaca mobil.


" Yaudah.. kita pulang yaa" sahut singkat bang Farel.


Sepanjang perjalanan Aku terus membenci keadaan yang saat ini ku alami, air mata terus mengalir tanpa ku bisa menghapusnnya, kesedihan ku semakin terasa jelas karena rasa sakit kehilangan di saat yang bersamaan.


Terlalu banyak waktu dan keadaan yang ku lewatkan.


Dan terlalu sedikit kenangan yang ku ingat


bagaimana? Apa yang harus Aku lakukan?


Dan banyak pertanyaan yang berkecamuk dalam pikiranku.


Bahkan hanya dengan memikirkannya saja sudah membuat Aku cukup merasakan sakit yang semakin sakit.


"Hhaah"


Ku lepas nafas beratku yang membuat sesak di dada.


"Raidil? Aku rindu"


"Apa yang harus Aku lakukan?" ucap ku sambil memejamkan mata dengan Erat.

__ADS_1


__ADS_2