First Love "Di Bulan April"

First Love "Di Bulan April"
TAKUT


__ADS_3

Sinar matahari menyapa ku dari balik tirai putih yang menutupi jendela kaca di kamar ku.


Merasa sidikit silau tangan ku dengan spontan menutupi mata.


Pikiran ku langsung tersadar pada Raidil yang tidak Aku ketahui bagaimana kabar dia semalam.


"yahh.. belum di balas" ucap ku kecewa dengan tangan yang menggenggam ponsel.


"padahal cuma masalah sepela membuat dia marah tanpa mendengarkan penjelasanku" ucap ku heran sedikit tersenyum tipis.


"manis banget sih" tambah ku masih tersenyum tipis dan menggelengkan kepala membayang kan bagaimana ekspresi Raidil jika Aku Ada di dekatnya dengan melihat wajahnya yang cemburu.


Tok.. tok...


"Rii... udah bangun belum?" ucap Ibu dari balik pintu kamar ku.


" udah kok bu.." sahut ku sambil merapikan selimut.


" yaudah siap-siap gih.. bentar lagi kita berangkat" ucap Ibu yang kemudian berlalu meninggalkan ku.


Selesai dengan selimut, Aku berdiri tepat di depan jendela kaca, ku pandangi tepi pantai yang cukup terlihat jauh dari mata ku tapi tak merubah sedikit pun ke indahannya.


"sampai ketemu lagi kapan-kapan" sahut ku tersenyum tipis.


" arrrrhgghh.. liburan yang berkualitas" ucap ku sambil merenggangkan kedua tangan ku.


Ku raih ponsel ku yang masih terletak di atas kasur tidur, dan mengetik pesan singkat untuk Raidil.


"Aku pulang hari ini".


" jangan lupa makan yaa"


"love you"


" manti kalo udah nyampe Aku kasih kabar".


Setalah itu Aku berjalan menuju kamar mandi, sebelum melangkah, ku sempatkan menatap layar ponsel ku berharap Raidil langsung membalas pesan ku sampai akhirnya Aku menarik nafas berusaha memahami Raidil yang mungkin sibuk dan belum sempat melihat pesan ku.


Aku melakukan hal yang sama saat keluar dari kamar mandi.


Kembali ku lemparkan ponsel ku ke atas kasur dan bersiap.


Tok.. tok..


" Rii kalo udah selesai langsung turun" ucap ibu di balik pintu yang belum sempat Aku sahut sudah kembali pergi.


Setelah selesai dengan urusan ku, Aku bergegas turun menghampirin semua orang yang berada di halaman depan.


" nih, pegang Zira dulu yaa" ucap ibu yang langsung memberikan zira pada ku.


" Rii gimana?" ucap bang Farel.


" apanya?" sahut ku bingung.


" pacar mu" ucapnya yang langsung membuat ku mengerti arah pembicaraannya.


" gara-gara abang sih, pesan ku gak di balas dari malam tadi" sahut ku ketus.


"ehh beneran marah dia?" ucap bang farel.


" tau ahh" sahut ku.


" yee.. kamu jangan ikutan marah dong rii, kan abang becanda".

__ADS_1


" maaf yaa" tambahnya sambil tersenyum ke arah ku.


" gak" sahut ku singkat.


" ehh gak boleh gitu, sebagai manusia kita har-"


"ihh iya iya, udah gak usah ceramah bang, gak cocok" sahut ku memutus ucapan bang Farel.


"bang pegangin Zira dulu, Riri mau ngambil ponsel di atas" ucap ku sambil menyerahkan Zira.


" jangan lama-lama" ucap nya.


Aku berjalan meninggalkan bang Farel berlari kecil menuju ke kamar.


" hampir lupa" ucap ku sambil memegang ponsel.


" Emm belum di balas juga" ucap ku menatap layar ponsel.


Aku Kembali menapaki anak tangga berjalan turun dengan membawa satu tas kecil pakaian ku.


" Zira sayang, om minta yaa helmnya" rayu bang Farel pada zira yang terus memegangi helm sepedaku.


" kenapa bang?" Tanya ku.


" ini zira gak mau ngelepasin helmnya"


" mana megangnya kuat banget lagi".


" udah biarin aja" sahut ibu yang masih menyusun barang ke dalam bagasi.


***


Tante Erna memeluk ku dengan erat begitu juga dengan bang Farel.


" nanti kalo udah nyampe kasih kabar yaa" ucap bang Farel dengan tangan yang mengelus Pucuk kepala ku.


" jangan marah lagi, kan udah minta maaf" ucap bang Farel mencubit gemas pipi ku.


" aww sakit" ringis ku.


"kalian hati-hati yaa" ucap tante Erna menatap sendu ke arah kami.


" makasih ya er" ucap ibu sambil mejabat tangan tante Erna.


" Iya sama-sama" mereka saling berpelukan hangat.


" Nanti kapan-kapan ke sini lagi" ucap tante Erna yang melambaikan tangan pada kami.


Ayah mengemudikan mobil keluar dari halaman dan membunyikan suara klakson perpisahan pada tante Erna di sertai lambaian tangan Ibu yang menatap tante Erna dengan senyuman hangat.


" gimana rii? Puas main di pantai?" tanya Ayah pada ku dengan tatapan yang fokus pada jalan.


" Alhamdulillah, makasih ya Yah" ucap ku sambil tersenyum dengan zira yang terus mengajak ku bermain.


"Zira kakak pinjam dong" rayu ku pada Zira yang masih terus memainkan helm sepeda sejak masih di rumah tante Erna.


" biarin aja rii, nanti nangis" ucap ibu menatap ke arah ku.


" Tapi dia nggrecokin kepala Riri terus bu" sahut ku lembut dengan Zira yang terus memegang helm dan berusaha mengarahkannya padaku.


" coba kamu biarin dia" ucap ibu.


Aku mengikuti saran Ibu dengan membiarkan Zira terus menganggu ku, sesekali Aku tersenyum. Melihat tingkah kecil adik ku yang sangat menggemaskan,

__ADS_1


Cekklikk


Suara tali pengikat(rentention system) yang mengunci helm di kepala ku.


" puas sekarang?" ucap ku sambil mencubit gemas pipi zira yang membuatnya tertawa.


Zira kembali dengan mainannya, sementara Aku menyenderkan kepala pada kaca mobil dengan helm sepeda yang masih terpasang.


Ku raih ponsel yang berada di dalam tas kecil ku, menatap layarnya berharap ada satu saja pesan dari Raidil


Namun nihil, Aku menarik nafas ku berusaha berpikir positif bahwa Raidil sedang sibuk dan tak sempat melihat ponselnya.


Rintik hujan terlihat mulai turun menemani perjalanan kami pulang.


Tak terasa sudah hampir 3 jam perjalanan lamanya yang kami lewatkan, lelah di tubuh ku sedikit terasa, mata ku terus memandang semua yang terlihat di luar jendela mobil , Pandangan ku beralih pada Zira yang mulai mengantuk di samping ku.


" ngantuk ya cantik" ucap ku meraih kepala zira untuk ku rebahkan pada pangkal paha ku.


." kok hujannya gak berhenti-henti, perasaan tadi cerah-cerah aja" ucap Ayah.


"namanya juga cuaca yah, mana pernah menentu kaya perasaan" ucap ibu sambil tertawa tipis.


" Ibu ini bisa aja" sahut Ayah yang masih fokua pada jalan.


Aku menatap ke arah luar jendela dengan pikiran yang di penuhi tentang kerinduan ku pada Raidil.


Sesekali Aku tersenyum mengingat tingkah Raidil yang terlintas di benak ku.


" Yah apa gak sebaiknya kita menepi aja dulu, hujanya makin deres" ucap ibu yang terdengar sedikit khawatir.


" Ayah masih bisa ngelihat jelas kok bu" sahut Ayah berusaha menenangkan kekhawatiran ibu.


Mobil terus melaju sampai melalui perbatasaan daerah,


Tangan ku terus membelai lembut Rambut Zira yang baru saja tertidur lelap.


pohon-pohon di pinggir jalan yang di basahi hujan mampu memanjakan mata ku yang memang sangat menyukai pemandangan.


Sampai pada akhirnya suara lantang Ibu dan Ayah menyadarkan pandangan ku dan menghilangkan raut senyum di bibir ku.


"Ayaaahhhh".


"Allah"


Bbruuuuugkkkkk... Bruuuuggkkkk... Bruuugkk


Kata itu merupakan kata terakhir yang terdengar di telinga ku dari Ibu dan Ayah.


Guncangan hebat terasa menyakitkan.


Entah apa yang terjadi, yang ku tahu saat ini Aku hanya menggenggam erat tangan Zira tanpa meliha dan merasakan apapun selain rasa sakit luar biasa yang tidak ku tahu di bagian mana tubuh ku.


Gelap dan suara gemercik air hujan hanya itu yang terdengar dan kurasakan.


Semuanya menghitam tanpa ku tau apa yang terjadi.


"Ayah Ibu, Riri takut".


" kalian di mana?".


" Riri takut, kenapa di sini gelap sekali".


" Ayah, Ibu di sini juga sunyi".

__ADS_1


" Riri Takut"


Isak tangis ku dalam kegelapan yang membuat perasaan ku semakin bergetar ketakutan.


__ADS_2