First Love "Di Bulan April"

First Love "Di Bulan April"
SADAR


__ADS_3

Bip... Bip... Bip..


Suara yang asing terdengar di telingaku.


Dengan perlahan Aku berusaha membuka mata yang terasanya sangat berat kulakukan.


Rasa sakit yang entah dari mana asalnya seketika merayap di sekujur tubuhku membuat Aku sedikit meringis.


Di saat Aku berhasil membuka mata hal yang pertama ku lihat adalah plafon sebuah ruangan yang sangat lekat dengan bau obat-obatan.


"Di mana?" tanya ku yang hanya mampu Aku lakukan dalam hati.


" Aww" ringisku dalam hati merasakan sakit di bagian kaki saat Aku berusaha menggerakkannya.


"Aku kenapa? ini di mana?" Begitu banyak pertanyaan yang menggumpal jadi satu di kepala ku.


"Ayah Ibu?" Aku berusaha memanggil mereka, namun yang terjadi Aku hanya bersuara di dalam hati, bibir ku begitu kaku sama dengan tubuh ku.


Ceklik...


Terdengar sebuah pintu yang tak jauh dari ku seolah terbuka.


"Ya Allah.. Alhamdulillah Riri".


"Dok! Dok!"


Raut wajah bahagia sekaligus khawatir terlihat jelas pada tanter erna, orang pertama yang ku lihat saat ini.


Linangan air matanya terlihat seakan ingin jatuh namun tertahan.


Tangan lembutnya membelai dengan lembut pucuk kepalaku.


"Akhirnya kamu bangun juga sayang" ucapnya lirih.


Sementara aku hanya bisa menatap tante Erna dengan penuh tanya.


Tak lama setelah itu, Aku melihat seorang dokter yang berpakaian rapi dengan seorang suster tepat di belakangnya.


"Permisi sebentar yaa..." ucapnya pelan dan mendekat ke arah ku.


Setelah selesai dia pergi meninggalkan ku bersama tante Erna yang ikut bersamanya.


"Istirahat dulu yaa" ucap suster yang merapikan selimut ku, dan Aku hanya menatap nanar ke arahnya yang juga meninggalkan ku ke luar.


Ku pandang area sekitar yang sangat asing bagi ku, sampai pada akhirnya tante Erna datang dengan linangan air mata.


"Syukurlah, Ryeii" ucap nya penuh haru.


Ingin ku berucap untuk sekedar menenangkannya, tetapi lidah ku kelu untuk mengatakan sebuah kalimat,

__ADS_1


Tante Erna membelai lembut pucuk kepala ku sampai pada akhirnya aku merasakan kantuk dan perlahan terlelap tidur.


"Apakah nanti aku bisa terbangun lagi?" ucap ku dalam hati dengan mata yang mulai sedikit demi sedikit merapat.


Belaian lembut tangan tante Erna membuat ku hanyut dalam Rasa nyaman, terselip kerinduan yang amat dalam pada seseorang yang hari ini tak terlihat di mata ku.


Sedikit Rasa khawatir berkecamuk dalam batin ku, semoga mimpi yang selama ini Aku laluli hanya sekedar bunga tidur, dan bukan suatu isyarat.


"Ibu, Ayah" ucap ku dalam hati dan hanyut masuk ke dalam tidur ku.


***


Ku tarik nafas lega, saat Aku bisa sadar dari tidur ku, sedikit terlintas di ingatan ku tentang apa yang terakhir kali terjadi.


Linangan air mata mengalir begitu, menangis tak bersuara itu yang Aku lakukan saat ini.


"Ibu" ucap ku lirih terdengar oleh tante Erna yang berbaring tidak jauh dari ku.


"Riri.. kenapa?" tanya tante Erna dengan membelai lembut bahu ku berusaha menenangkan ku.


"Ibu" ucap ku pelan.


" Kamu harus pulih dulu, biar tante bisa antar kamu jenguk ibu dan Ayah" tambahnya.


Aku hanya mengangguk dengan masih berderai Air mata, rasa rindu pada mereka sangat menumpuk di dadaku termasuk pada Raidil kekasih yang Aku cintai.


Beberapa hari berlalu begitu saja, sementara Aku masih berbaring di kasur ku dengan selang infus yang masih menempel di tanganku.


Aku hanya mengangguk mengisyaratkan bahwa Aku baik-baik saja.


"Tan-te" ucap ku pelan dan terbata.


"Hmm" tante Erna menoleh ke arah ku.


" Kamu pasti mau nanya apa yang sebenarnya terjadi?" Tambahnya yang mengerti dengan isi hati ku.


Aku mengangguk perlahan.


" Tante bakal jelasin semuanya, tapi kamu harus sembuh dan pulih dulu" ucapnya sambil tersenyum menandakan seolah semuanya baik-baik saja.


Semenjak saat itu Aku tidak pernah berusaha untuk mempertanyakan nya lagi, yang ku lakukan hanya berusaha tetap fokus dengan kesembuhanku.


Bahkan untuk mempertanyakan berapa lama waktu yang kulalui di sini di rumah sakit ini tidak pernah ku lakukan,


Sampai pada akhirnya, saat tante Erna membawa ku dengan kursi rodaku ke sebuah taman kecil di rumah sakit, tante Erna akhirnya menceritakan semua nya dengan detail.


Air mata ku jatuh tak beraturan, teryata mimpi panjang yang buruk juga terjadi di kehidupan nyata ku, dunia yang ku lihat saat ini secara sadar menghitam terasa gelap ku pandang,


" Maafin tante sayang" ucap tante Erna dengan Erat memeluk tubuh ku yang bergetar karena syok.

__ADS_1


"Aarrrrgghhhh"


Tangis ku pecah dengan suara yang lirih,


"Ayah"


"Ibu"


"Aarrhhh.. zira sayang"


Ucap ku dengan tangis yang meluap saat Aku mengetahui bahwa Aku kehilangan mereka untuk selamanya dalam sebuah kecelakaan tunggal yang membuat Aku mengalami koma hampir satu tahun Lamanya setelah operasi.


"Hhuuuuhhuuuu tan-te" ucap ku lirih sambil menepuk dadaku yang teramat sesak.


" Jangan menangis sayang, pikirkan kesehatan kamu" ucap tante Erna yang berusaha menghapus jejak air mata yang membasahi pipiku.


" Bagaimana bisa Riri hidup tanpa mereka tan?" Ucap ku sesegukan.


" Semuanya akan baik-baik aja sayang, masih ada tante sama Farel" tante Erna kembali memeluk ku Erat dan membelai Rambut ku.


Aarrrhgghh huuhhuuhhuu


"Ayah"


"Ibu"


Pada akhirnya aku menyadari ucapan tante Erna yang berkata akan mengantarku bertemu Ayah dan Ibu hanya sebuah hiburan untuk ku agar bersemangat untuk pulih.


" Ini semua salah Riri, harus-nya waktu i-tu Riri gak minta liburan ke pantai" ucap ku lirih.


" Gak sayang, ini bukan salah Riri " ucap tante Erna yang masih membelai rambut ku.


" Riri harus tetap semangat buat pulih buat bisa jalanin hidup Riri sendiri, itu juga pesan terakhir dari Ibu Riri" tambah tante Erna yang semakin Membuat nafas dan dadaku terasa sesak.


"Riri gak sanggup tan".


" Tolong, tante mohon Riri jangan ngomong gitu" ucap Tante Erna dengan menatap ku lirih.


Pelukan yang menenangkan kembali ku dapat dari tante Erna satu-satunya nya adik kesayangan dari Ibu ku.


"Bu, sebaiknya Riri di bawa masuk aja lagi" ucap seseorang yang datang mendekat ke arah kami.


" Eh dokter Arya" ucap tante Erna sambil mengusap Air matanya.


"Ini juga sebentar lagi mau masuk kok dok" tambah tante.


" Hey kamu.. pikirkan dulu kesehatan mu" ucap nya pelan sambil memegang dan memutar kursi roda ku berjalan meninggalkan taman di ikuti tante Erna yang berjalan tepat di samping ku.


"menangis tidak akan membuat semuannya kembali seperti semuala" tambahnnya.

__ADS_1


Sementara Aku hanya terdiam dengan Sisa tangis ku yang tanpa suara.


Hati ku terus terasa perih saat Aku berusaha membuat diriku baik-baik saja setelah apa yang Aku dengar dari tante Erna.


__ADS_2