First Love "Di Bulan April"

First Love "Di Bulan April"
HANDUK


__ADS_3

Masih di tempat yang sama, Raidil masih menatap dalam ke arah ku.


"Dil, tadi udah Bell" ucap ku menyapu kesunyian di antara kami, ku alihkan pandanganku ke arah lain karena Aku sudah mulai tidak kuat menahan debaran jantung ku yang semakin berpacu dengan kencang.


" memangnya kenapa dengan Bell?" tanya dengan suara yang berbisik.


Aku semakin merasa serba salah di buatnya, " yaa kan kita lagi ujian" sahut ku dengan suara yang sedikit tergagap.


" Satu menit lagi" dengan masih menatap ke arah ku.


" nanti ada yang liat dan mikir yang enggak-enggak" Aku masih berusaha keluar dari tatapan Raidil.


" biarin" sahutnya sambil tersenyum.


"Raidil..." ucap ku dengan sedikit putus asa.


"hahaha yaudah iya iya, nih.." sahutnya dengan memegang tanganku dan menggenggamkan nya pada sebuah botol minuman mineral.


" semangat yaa" tambahnya dan pergi meninggalkan ku yang masih berdiri di sela-sela TU dan toilet.


" apa sih? suka datang tiba-tiba dan pergi seenaknya" sahut ku dalam hati.


Tak lama setelah Raidil pergi, Aku pun menyusulnya dan keluar dari ruang yang sempit itu.


Sambil mengenggam minuman yang di berikan Raidil Aku kembali ke ruang ujian.


"fyuh, syukur-syukur belum pada masuk ruangan" ucap ku dalam hati.


Ku lirik kan mataku ke arah kanan untuk melihat Raidil yang sibuk mengobrak-abrik tas untuk mempersiapkan alat tulisnya karena tidak lama lagi ujian jam ke dua di mulai.


ku lihat tak jauh di belakang Raidil,Ema juga sibuk dengan tasnya.


" apa masih belum ketemu kartunya?" tanya ku dalam hati karena melihat wajah Ema yang masih saja khawatir.


"puas belum lihat-lihat nya?" ucap Caca yang datang dan berdiri tepat di hadapan ku.


" Aku sudah ngingetin kamu ya Rii, Aku gak main-main, Aku bakal bikin hidup kamu gak tenang" tambahnya yang membuat bulu kuduk ku sedikit berdiri.


Aku diam tanpa suara berusaha mencerna semua ucapan caca yang sangat mengerikan menurut ku.


"denger gak sih!" teriak Caca padaku yang membuat Aku terkejut.


Hati ku sedikit gusar dengan perlakuan caca, tetapi Aku berusaha untuk menahan dan tidak menanggapinya, semoga pilihan ku ini tidak salah.


Aku berlalu meninggalkan Caca yang masih berdiri di tempat yang sama, Aku berjalan menuju pintu kelas ruang ujian.


Sebelum melangkah masuk, ku putus kan untuk melirik ke arah Raidil karena jujur hatiku sedikit khawatir dia mendengar teriakan Caca tadi,

__ADS_1


" kaya nya dia gak dengar" ucap ku sambil menatap ke arah Raidil yang sudah masuk ke ruang ujian.


Dan Aku berbalik menatap ke arah Caca yang ternyata masih melirik ke arah ku dengan tatapan yang sangat tidak ku sukai,


ku lanjutkan langkah ku memasuki ruang ujian dan berusaha melupakan semua perkataan caca yang masuk ke kepalaku


" fokus Ri.. " ucap ku dalam hati.


Ujian selesai, Aku berjalan keluar dari sekolah menuju tempat mba Ita, kali ini Aku kembali berjalan sendiri, karena Ema Della dan Lila masih di rungan mereka.


Aku memutuskan meninggalkan mereka karena rasanya suasana hati ku sangat buruk.


"loh Ri tumben sendiri?" tanya mba Ita pada ku yang duduk di kursinya.


"yang lain masih ujian" sahut ku.


"owh, berarti Riri selesai paling duluan ni ceritanya" tambah mba Ita.


" lebih tepatnya Riri jawabnya ngasal biar cepat selesai." ucap ku dengan wajah cemberut.


" kok ngasal, kan ini ujian kenaikan Rii?" tanya mba Ita.


" Riri lagi gak mood mba" sahut ku dengan sisa tenaga.


" mood itu bisa hilang kapan aja, kalo jawab ujian karena mood kurang baik bisa jadi penyesalan, gak naik kelas gimana?" ucap mba Ita menasehatiku.


" Ri.. mba dulu pengen sekolah tinggi, tapi karena keadaan mba gak bisa " tambah mba Ita dengan nada sedikit bergetar memperlihatkan kesedihan mba ita.


"jadi jangan sia-siakan apa yang bisa kamu dapat saat ini, karna gak semua orang bisa di posisimu saat ini" ucap mba Ita sambil tersenyum, Aku terdiam dan membalas senyum nya.


"eh tumben sendiri" ucap kak Faiz menyapa ku.


Aku hanya tersenyum tipis tanpa menjawab apapun.


" mba Ita, yang biasa yaa.." tambah kak faiz.


"Rii.. kok diam aja" tanyanya pada ku.


" udah gak usah di ajak ngomong, lagi kurang mood katanya" sahut mba Ita dari jauh mewakili apa yang ingin ku katakan.


"kenapa?" tanya kak faiz heran.


" oh iya Rii, kamu tadi di cariin temen-temen mu " tambahnya.


" Biarin aja lah" sahut ku singkat.


Thittt.. suara klakson motor Ayah yang datang menghampiri ku.

__ADS_1


" duluan ya kak, oh yaa.. bilang juga sama mereka kalo Riri udah pulang" ucap ku pada kak faiz.


" Ok gampang.." sahutnya sambil menatap ke arah ku dengan penuh tanya.


***


Sesampainya di rumah, ku hempaskan tubuh ke atas tempat tidur dengan lengan kanan yang menutupi mata ku, Aku berpikir sambil terpejam.


Bagaimana Aku bisa melalui besok dengan semua pikiran ku tentang apa yang di katakan Caca, apa Aku bisa terus menyukai Raidil sementara Aku sudah mengetahui soal perjodohan mereka.


" kenapa masih ada jodoh-jodohan sih" ucap ku kesal.


Kepala ku berputar memikirkan bagaimana Aku bisa menyikapi semua ini, ku pejam kan mata ku dan hanyut dalam tidur siangku.


Setidaknya Aku bisa sebentar saja tidak memikirkan Raidil, karena rasanya benar-benar sangat melelahka.


Ku tatap langit-langit kamar ku, mengumpulkan semua nyawa yang tadinya bertebaran keluar dari tubuh karena tidur siangku.


" udah jam segini aja" ucap ku sembari melirik ke arah jam dinding yang menunjungkan pukul 15.45.


Ku seret tubuh ku bangun dan berjalan menuju kamar mandi yang berada di dekat dapur dengan membawa handuk di tangan, rumah ku tidak se moderen rumah orang-orang yang memiliki ruang mandi di dalam kamar.


" hahh segarnya" ucap ku menikmati setiap air yang jatuh membasahi kepala dan tubuh ku.


Hampir setengah jam Aku berlama-lama di kamar mandi "tokkk... Tokkk" suara ketukan yang berasal dari luar pintu kamar mandi.


" Rii.. Ibu dan Ayah mau pergi dulu yaa, ada urusan" ucap Ibu di balik pintu.


" iya bu" teriak ku pelan.


" oh iya di ruang tamu ada temen kamu tuh" tambah Ibu.


" siapa bu?" tanya ku.


Lama Aku menunggu jawaban dari Ibu tapi tak kunjung ku dengar,


"apa udah pergi?" tanya ku sendiri dalam hati.


Ku selesaikan mandi ku dan berjalan menuju kamar ku yang memang sangat dekat dengan ruang tamu,


Langkah ku terhenti tepat di depan pintu menuju ruang tamu dengan tangan ku menggenggam erat handuk yang membalut tubuh ku, mata ku terbelalak melihat Raidil yang menatap ku membeku.


Pandangan kami saling beradu sampai pada akhirnya Raidil memalingkan wajah dengan telinganya yang memerah.


Aku tersadar dari tatapan ku dan berlari masuk menuju kekamar ku, pipi ku memerah menahan malu, bgaimana tidak? Raidil menatap ku yang hanya menggunakan handuk setinggi lututku dengan rambut yang terurai basah.


"ceroboh banget sih Rii" ringis ku sambil membenturkan kepala ku pada pintu kamar.

__ADS_1


__ADS_2