
Entah berapa lama sudah waktu yang ku habiskan bersama Raidil di tempat mba Ita, dan sepertinya keadaan memang berpihak kepada ku karena Ayah tak kunjung datang, Aku bingung dan kehabisan kata-kata untuk melanjutkan obrolan ku dengan Raidil, sementara Raidil hanya duduk dengan menebar senyum nya yang manis ke arah ku, seakan-akan dia tau apa yg ku pikirkan.
" sore nanti sibuk gak Rii" tanya nya pada ku.
" gak kaya nya, kenapa?" sahut ku.
" kencan yuk" ucap nya dengan suara pelan seolah malu-malu.
"hah" hanya kata itu yang keluar dari mulut ku yang keget dengan ajakannya.
Aku berusaha mencerna apa yang di ucapkan Raidil pada ku.
" bisa ??" tanya nya sekali lagi.
" aa.. nanti Aku kasih kabar kamu bisa atau gak nya" sahut ku dengan suara yang ragu, walau sebenarnya hati ku jingkrak-jingkrak kegirangan.
Setelah menjawab ajakan Raidil, tiba-tiba suara motor mendekat ke arah ku, saat ku tolehkan kepala, ku lihat Ayah datang menjemput ku,
" lama yaa Rii, Ayah lagi ngantar Ibu dulu tadi" ucap Ayah memberi tahu ku alasan keterlambatan dia menjemput ku.
" huuu... Pantes lama" sahut ku meledek.
" Aku pulang dulu yaa" ucap ku pada Raidil yang masih duduk di kursi Mba Ita.
"em iya.. Aku juga mau pulang" sahutnya sambil berdiri dan berjalan menuju motornya yang tidak jauh dari motor Ayah.
" hati-hati ya Ri... Om". ucap nya dengan menundukan kepalanya sopan kepada Ayah,
dan Ayah hanya tersenyum melihat Raidil.
Aku dan Ayah berlalu meninggalkan warung mba Ita di susul Raidil beriringan di belakang kami.
Sesekali Aku melirik ke arah Raidil yang mengemudikan motornya tepat di belakang ku, Aku merasa kisah ku seperti di dalam FTV dan drama.
Ku lirikkan sekali lagi mata ku ke arah Raidil, dan Aku terkejut saat dia sudah membuka kaca helm miliknya , dia tersenyum dengan mata nya yang sedikit menggoda ke arah ku yang membuat pipi ku sedikit memerah karena tersipu,
Terkadang dia mengucapkan kata-kata yang tidak Aku mengerti, dan Aku hanya menjawab " hah apa?" dengan tanpa suara dan itu membuat dia kembali tertawa dan tersenyum.
Saat sampai di persimpangan Aku dan Raidil berpisah karena beda jalur pulang.
"Yah..." ucap ku pelan yang rupanya di dengar oleh Ayah.
__ADS_1
" kenapa Rii?" tanya Ayah yang sedikit berteriak karena kami sedang di jalan.
" gak kok yah" sahut ku sambil tersenyum tipis.
***
Sesampai nya Aku di rumah senyum ku tidak berhenti ku tebar, rasa bahagia dan senang di hati ku tak mampu ku gambarkan lagi. Kalian pasti mengerti apa yang Aku rasakan.
"Rii.. habis ganti baju langsung makan yaa" ucap Ibu yang membuat langkah kaki ku terhenti di depan pintu kamar.
" iya Bu" sahut ku dengan senyum lebar yang membuat Ibu menatap ku heran.
Sesampainya di kamar, ku lemparkan tasku ke meja belajar. Ku hempaskan badan ku ke tempat tidur dengan wajah ku yang terbenam ke dalam bantal dan Aku tersenyum kegirangan mengingat apa yang ku alami hari ini.
Rasanya semua penantian ku selama ini terbayar sudah, walau lama menunggu tapi usaha tidak akan menghianati hasilnya. Aku akhirnya tau isi hati Raidil pada ku.
" ah.. senangnya " kembali ku benam kan wajah ku ke bantal.
" ohh iya, Raidil ngaja jalan kan" ucap ku yang mebuat Aku terduduk tegap di atas tepat tidur.
"ijin Ibu dulu deh" ucap ku di dalam hati.
" kira-kira bakal di ijinin gak yaa?" tanya ku dalam hati dengan Ragu. Karena ini untuk pertama kalinya Aku ijin keluar dengan lawan jenis, hati ku cukup bedebar dan gugup, rasa takut di marahi juga sedikit membuat ku khawatir.
***
Tapi demi basa-basi minta ijin Aku tetap mengambil makanan ku walau sedikit.
"kok dikit makannya" ucap Ayah sambil menuang minuman di gelasnya.
"banyak kok ini.." sahut ku pada Ayah.
" Apa bilang Ayah aja" ucap ku dalam hati.
"Yah..." Panggil ku.
" Hemm.. apa?".
" Riri boleh jalan keluar sore nanti?" tanya ku pelan dan aku merasa lutut ku sedikit gemetar memikirkan tanggapa Ayah tentang keinginan ku.
" jalan aja" sahut Ayah santai.
__ADS_1
" tapi..." ucap ku penuh gugup dan terbata.
" apa?" tanya Ayah dengan mulai memasang wajah serius.
" sama cowok" sahut ku cepat dan langsung meminum air di gelas yang ada di samping ku.
" siapa? pacar kamu? yang mana?" tanya Ayah dengan sedikit kaget.
" bukan pacar, itu sama Raidil temen Riri yang waktu itu ngantar Riri pulang" sahut ku dengan pelan menjelaskan.
" ohh yang itu, boleh tapi suruh jemput di rumah" ucap Ayah yang membuat ku sedikit lega.
" oke.. makasih Yah" ucap ku sambil tersenyum lebar pada ayah.
Ayah pergi meninggalkan ku sendiri di meja makan, kutarik nafas legaku karena rasa gugup yang tadi sempat ku rasa.
Ku selesaikan makan ku dan kembali berjalan menuju kamar ku.
"ponsel mana ponsel" ucap ku dengan penuh semangat.
"em gimana bilangnya?" lagi-lagi Aku kebingungan sendiri untuk mengatakan apa yang ingin ku sampaikan,
terkadang Aku sangat terganggu dengan sikap ku sendiri yang sangat sulit mengutarakan isi hatiku, bahkan untuh hal yang sepele.
Lama ku genggam ponsel ku, sambil berjala bolak-balik dari ujung ke ujung tempat tidurku.
Sesekali tangan ku spontan menggaruk kepala ku
"duh.. gimnaa sih?" tanya ku singkat dalam hati.
"aaaa .." seolah-olah menemukan kalimat yang pas untuk Aku kirim pada Raidil.
" jam 3" pesan singkat yang ku kirim padanya.
Aku mulai resah dengan pesan yang ku kirim pada Raidil " em... Kaya nya terlalu singkat" ucap ku kecil.
"duh" ku pejamkan mata ku dan ku baringkan badan ku di atas kasur merasa tidak enak hati dengan pesan singkat yang ku kirim pada Raidil, seolah-olah pesan itu memperlihatkan ke cuekan ku.
Mengapa sangat sulit bagiku mengekspresikan kebahagiaan ku dan perasaan ku pada Raidil walau cuma lewat pesan singkat di ponselku.
Aku merasa sedikit takut dengan apa yang di pikirkan oleh Raidil, Aku sangat berusaha untuk menyampaikan semua yang Aku rasakan, tapi mengapa semuanya tidak semudah orang lain katakan.
__ADS_1
" ku harap dia tidak menganggap ku cuek, atau acuh " ucap ku dalam hati.
Kembali ku pandangi layar ponsel ku dan ku baca lagi pesan terakhir yang ku kirim pada Raidil.