
Raidil tersenyum tepat di depan wajah ku, sementara Aku kebingungan harus berbuat apa?.
Pikiran ku entah kemana, rasanya sangat tidak normal untuk ku berpikir jernih.
Aku merasakan udara yang ku hirup semakin menipis sampai-sampai rasa nya begitu sesak.
Raidil kemudian menjauh dan membenarkan posisi duduknya yang tadi sangat dekat dengan ku. Sedangkan Aku berusa menghirup sebanyak mungkin udara setelah Raidil menjauh dari wajahku.
"cobaan" ucapnya samar-samar di telinga ku.
" hah" kata itu keluar spontan dari mulut ku.
" bagaimana pun Aku laki-laki normal Ri, posisi kaya gini saat orang tua kamu gak ada, kita hanya berdua, sunyi, sepi" ucap Raidil menjelaskan.
"Jadi sarang setan " tambah nya.
Aku tersenyum mendengar ucapan Raidil, Aku juga sangat memahami maksud dari ucapannya dan sangat bersyukur sejauh ini dia mampu menahannya dengan baik, walau itu sangat sulit baginya.
"jadi apa yang di kata kan Caca sama kamu Ri?" kembali Raidil bertanya pada ku.
" plis jangan di tutupi" tambahnya.
" dia cuma bilang soal perjodohan kalian" sahut ku singkat.
Ku lirikkan mata pada Raidil yang menarik nafas panjang dan bersender di sofa ruang tamu dengan tangan yang melingkar di lehernya.
"kamu marah?" tanya nya lembut.
"emang bener?" balik ku bertanya.
"emm... kalau benar gimana?" tanyanya
" yaudah" sahut ku singkat dengan perasaan yang mulai bercampur aduk di dalam hati sehingga sangat sulit bagiku untuk mengekspresikan raut wajahku.
" benar Aku di jodohkan dengan Caca" ucap Raidil yang mulai sedikit memperkeruh hati ku.
" bahkan dari kecil, tapi Aku gak mau" jelasnya.
"kenapa?" tanya ku penasaran.
" yaa karena Aku sukanya kamu" jelas nya dengan tatapan yang serius.
"perjodohan ku dengan Caca terjadi karena masalah perusahaan dan kerjasama orang tua kami, tanpa di dasari cinta, hanya sebatas kerjasama antar perusahaan keluarga" tegasnya.
Aku diam mendengarkan semua penjelasan dari Raidil, kecewa pasti ada tetapi bukan pada Raidil melainkan pada orang tuanya yang menjadikan Caca dan Raidil sebagai korbanya, walaupun korban di sini sebenarnya hanya Raidil, karena Caca mungkin juga sangat menyukai ini semua.
"Ri kamu ngelamun lagi?"
"gak kok" sahut ku.
"Aku harus gimana biar kamu ngerti?" tanyanya.
__ADS_1
"Aku ngerti kok " ucap ku dengan sedikit menorehkan senyum di bibir.
" ngerti apa?" tanya nya memastikan ku.
" udahlah, gak usah kita bahas ya" ucap ku.
"kenapa?"
" yaa karena Aku ngerasa itu bukan porsi kita buat mikir ke situ, jalanin aja dulu " sahutku.
" kamu gak cemburu?" tanyanya.
"bohong kalo Aku jawab gak, pasti lah ada tapi kan Aku tau kamu sukanya sama Aku" jawab ku menjelaskan pada Raidil.
Ku lirik Raidil yang tersenyum kearah ku.
"kenapa?" tanya ku pada Raidil yang masih menatap lekat ke arah ku.
" jalan yuk sebentar" ucapnya.
" kemana?"
" ya jalan-jalan sekitar sini aja" tambahnya.
" Aku ganti baju dulu" sahut ku sambil berdiri.
" gak usah, gini juga kamu cantik" ucap Raidil masih di temani senyum manis yang terukir di bibirnya.
Kami berjalan berdua ke arah lapangan bola yang tidak jauh dari rumah ku, duduk berdua di sebuah kedai di dekat lapangan, sama-sama menatap ke arah lapangan yang di penuhi anak-anak dan orang dewasa yang sedang bermain sepak bola.
"Aku masih kepikiran" ucap Raidil dengan masih menatap ke arah lapangan.
" tentang apa?" tanya ku.
" soal perjodohan ku dengan Caca, Aku masih takut kamu salah paham" ucapnya.
"kan aku sudah bilang tadi, Aku ngerasa kita masih belum pantas buat mikir ke situ apa lagi kamu yang ada di posisi itu, Aku gak mau berharap lebih dari hubungan kita, Aku gak mau memikirkan sesuatu yang tidak pasti, Aku sudah sangat bersyukur Aku dan Kamu sampai saat ini saling mengetahui perasaan masing-masing, walau tanpa status. mungkin hari ini kamu masih dan hanya menyukaiku, tapi bagaimana dengan besok, lusa, 2 tahun lagi atau 10 tahun lagi? apa kamu bisa memastikan perasaan kamu akan tetap sama?" ucap ku.
"Hati bisa berubah, semuanya bisa berubah,Aku atau kamu bisa berubah, gak ada yang tau kedepannya bagaimana?
Kita masih sekolah, bahkan mungkin orang tua kita menganggap kita masih bocah, rasanya masih sangat panjang untuk sampai ke pemikiran soal perjodohan kamu dan Caca, kita jalanin aja dulu.. oke" tambah ku.
Raidil kembali menatap ku.
"cerewet banget sih" ucapnya sambil mencubit pipi ku dengan gemas.
"aww " ringis ku.
Setelah itu tidak ada lagi obrolan tentang perjodohan dan lain-lain yang ada hanya kami duduk berdua menikmati sore yang sendu.
Aku berharap waktu berjalan dengan lambat, Aku tidak ingin cepat-cepat dewasa, Aku tidak ingin merasakan kenyataan yang mungkin saja pahit, Aku hanya ingin menikmati setiap waktu ku bersama Raidil, menikmati setiap debaran jantungku yang selalu berdetak kencang hanya pada Raidil.
__ADS_1
Memandang langit jingga yang tercipta dari matahari yang perlahan menghilang ke arah barat, Aku menatap Raidil dengan lekat. jantung ku kembali berpacu seperti biasa, bibir ku mulai bergelut dengan hati, ingin Aku mengatakan " Raidil Aku sangat-sangat menyukaimu ".
tetapi itu hanya terwujud di dalam hati, Aku masih sangat kesulitan mengungkapkan kalimat itu.
Tak lama setelah itu Raidil mulai menyadari tatapan ku padanya.
"puas-puasin Ri" ucapnya padaku sambil tersenyum genit.
"ih ge er" sahut ku mengelak dengan memalingkan pandanganku.
"balik yuk" ucapnya
Aku kemudian berdiri dan berjalan tepat di sampingnya.
" orang tua kamu belum pulang Ri" ucap Raidil sambil mengawasi halaman depan rumah ku
" he em.. kayanya iya" sahutku.
"makasih ya Ri" Raidil memasuki ruang tamu sambil merapikan tasnya yang tadi ada di atas sofa.
"untuk apa?" tanya ku.
" semuanya" sahut Raidil dengan tatapan sendu.
"oh yaa.. dan maaf soal yang tadi!" tambahnya.
"tadi? yang mana?" tanyaku.
"soal handuk" sahutnya memalingkan wajah dengan daun telinga yang mulai memerah.
" Aku benar-benar tidak sengaja melihat se...".
"stop" sahut ku memutus ucapan Raidil.
"jangan di bahas, lagian bukan salah kamu kok, Akunya aja yang ceroboh" ucap ku menjelaskan.
Kami kembali terdiam sejenak dengan berusaha menjernihkan pikiran kami masing-masing.
" Aku pulang ya Ri" ucapnya.
"Ah oke" jawab ku canggung.
Raidil kemudian berjalan keluar menuju motor nya yang terparkir tepat di halaman rumah ku.
" Ri, apapun yang terjadi nanti, Aku berharap kamu tetep bisa percaya sama Aku" ucap Raidil yang berdiri tepat di depan motornya menatap ke arahku.
Mendengar ucapan itu Aku hanya mengangguk mengiyakan ucapan Raidil.
"sampe ketemu di sekolah besok, dan semangat juga ujiannya" tambahnya.
"kamu juga" sambil tersenyum Aku melambaikan tanganku menatap punggung Raidil yang mulai menjauh dan menghilang dari pandanganku.
__ADS_1