
Satu minggu berlalu dan ujian sekolah juga akhirnya selesai.
"wuhuuu... akhirnya otak ku terasa ringan" ucap Lila dengan semangat.
"ih berisik La" sahut Della.
" yee apaan sih Del, sewot aja" ucap Lila.
"pada mau kekantin gak?" tanya Ema.
"Ayo deh" sahut Lila dan Della bersamaan.
"Aku di sini aja deh, masih kenyang" ucap ku.
"yakin?" tanya Della meyakinkan ku.
"iya, kalian aja" tambah ku.
"yaudah, kami pergi dulu" ucap Ema.
" titip tas ya bu" ucap Lila meledek,
dan Aku tersenyum mendengar ledekan Lila.
Mereka berlalu meninggalkan ku dengan tumpukan tas mereka yang ada di samping ku.
Aku duduk sambil menatap ke arah lapangan basket, "tumben gak ada yang main basket" ucap ku dalam hati.
"hai ri.. lagi liatin apa?" bisik seseorang di telinga ku dari arah belakang.
saat ku berpaling, sambil terjongkok Raidil menyapa ku dengan wajahnya yang cukup dekat pada wajahku.
"ah.. gak kok" sahut ku dengan tergagap.
Kemudian Raidil duduk di samping ku dengan menopangkan wajahnya pada satu tangan kirinya sambil menatap ke arah ku.
"kenapa ?" tanya ku kikuk.
"kangen" sahutnya singkat yang membuat Aku kembali salah tingkah.
" kenap dia se enteng itu bicara" tanya ku dalam hati.
" bolehkan?" tanyanya sambil tersenyum.
Aku kembali kebingungan harus menjawab apa, sementara mataku terus berusaha lari dari tatapan Raidil.
"Raidil ngapain kamu di sini?" ucap caca yang datang dan berdiri tepat di depan ku dan Raidil yang sedang duduk.
"ya lagi duduk" ucap Raidil singkat.
"iya Aku tau, tapi kenapa sama Riri?" tanya Caca dengan mulai meninggikan suaranya tanda ketidaksukaannya padaku.
"ya terserah Aku" kembali sahut Raidil dengan memalingkan wajahnya.
"Dil,kamu kenapa sih kaya gini sama Aku hargain dong perasaan Aku" ucap Caca dengan nada yang sedikit bergetar.
"Kamu selama ini bohong terus sama Aku, kamu selama ini bilang punya pacar cuma buat bikin Aku menjauh dari kamu, harus dengan cara apa dil Aku bisa ngebuktiin perasaan aku"
"Sudah berapa kali Aku menyatakan perasaan ku, bahkan untuk yang terakhir kalinya waktu itu Aku harus merelakan harga diri ku di permalukan di depan teman-teman sekelas kita, tetapi jawaban kamu selalu sama dari dulu" jelas Caca pada Raidil yang diam mematung menatap Caca dengan dingin.
" kenapa gak berhenti?" ucap Raidil.
__ADS_1
"hah? Raidil, kamu egois baget sih apa kamu gak mikirin orang tua kita" tambah Caca.
" gara-gara dia kamu makin jauhin Aku Dil" ucap Caca dengan berjalan mendekat ke arah ku.
" gara-gara dia kamu berubah" dengan nada tinggi Caca melayang kan tangannya menampar tepat di pipi ku,
"Rii.." teriak Della yang berlari ke arah ku di susul oleh Lila dan Ema.
Aku melihat mereka yang terkejud dengan apa yang di lakukan Caca.
Sementara Raidil langsung berdiri menatap tajam ke arah Caca,
"kamu kenapa sih Ca?" tanya Della yang sambil memegang pundak ku.
"lepasin" ucap Caca membanting tangan Raidil yang menggenggam erat.
" mau tau kenapa? temen kamu ini udah ngerebut Raidil dari Aku" dengan nada yang semakin meninggi Caca menatap ku dengan tajam.
Aku merasa sangat tertekan dengan semua tuduhan yang Caca layangkan padaku, berulang kali Aku memikirkan apa kesalahan ku walau sampai akhirnya Caca menampar ku, Aku tetap kebingungan memikirkan bagian mana yang salah dengan sikap ku.
" Aku gak ngerebut Raidil, Aku cukup diam dari waktu itu tapi Aku benar-benar gak terima dengan semua tuduhan kamu Ca" jelas ku sambil melangkah maju ke arah Caca.
Sejujurny Aku sangat merasa malu karena harus bertengkar dan sedikit demi sedikit menjadi pusat perhatian murid-murid yang lain.
" kalo gak ngerebut, ini apa namanya?" ucap Caca dengan sedikit menggertak ku.
" stop Ca, kamu bikin malu" ucap raidil.
" Bodo amat" ucap Caca.
" Oke kalo gitu jangan pernah muncul di hadapan ku lagi Ca" tegas Raidil yang kemudian menarik tangan dan menyeret ku mengikuti nya dari belakang.
Sementara Della,Lila dan Ema menyusul di belakang.
"Raidil.. Aku gak bakalan biarin kamu se enaknya gini sama perasaan Aku aarrgghh.." teriak Caca.
***
Bell jam pulang berbunyi, karena tidak ada kegiatan yang di lalukan selepas ujian, kami masuk hanya untuk absen, sementara pembagian Raport akan di adakan senin depan sebelum akhirnya libur panjang.
Raidil berhenti tepat di tengah lapangan dengan masih menggenggam tangan ku, dia berbalik berjalan ke arah Della yang membawakan tas ku.
" kamu Aku yang antar" ucapnya dengan aura yang masih khawatir.
" tunggu di sini, Aku ambil motor diparkiran" ucap nya meninggalkan ku dan tidak membiarkan ku untuk bicara.
"Rii? sebenarnya apa yang terjadi" tanya Ema, dengan Lila dan Della yang ikut penasaran.
" nanti sampe rumah Aku jelasin yaa" ucap ku.
"Aku juga minta maaf selama ini kurang terbuka sama kalian" tambah ku.
"Aaa Rii... pasti sakit banget ya" ucap Lila khawatir sambil meraba lembut pipi ku.
" gak terlalu kok" sahut ku berbohong, karena jujur saja Caca cukup penuh dengan amarah yang membuat tamparannya cukup menyakitkan.
"udah mulai kelihatan melebam itu" tambah Ema.
"Aku benar-benar gak bisa ngebela apa-apa karena gak tau masalahnya" ucap Della.
" gak apa-apa kok Dell, salah Aku juga gak cerita lebih awal" tambah ku.
__ADS_1
Thittt...
Suara klakson motor Raidil yang menunggu di depan gerbang sekolah.
" Aku duluan ya gaess, nanti Aku jelasin " ucap ku sambil berjalan ke arah Raidil.
Sementara mereka hanya menatap ku penuh dengan kekhawatiran.
Sepanjang perjalan Raidil diam tanpa kata, sampai pada akhirnya kami berhenti di sebuah ruko kecil yang menjual baju dan perlengkapan pria.
"Kita ngapain di sini?" tanya ku penasaran.
Tanpa menjawab Raidil meninggalkan ku masuk ke dalam,
Tak lama setelah itu dia kembali keluar sambil memegang baskom dan handuk kecil.
"sini Ri" panggilnya dari depan pintu masuk.
Aku berjalan pelan ke arah raidil.
"duduk di sini" ucap nya sambil menunjuk kursi yang ada di belakang ku dengan bibirnya.
"ngapain?" Lagi-lagi Aku bertanya tanpa di jawab.
Raidil membasahi handuk kecil itu dan memerasnya airnya.
" maafin Aku Ri" ucapnya sambil mengompres bagian pipi ku yang tadi di tampar oleh Caca.
" ngapain minta maaf bukan salah kamu" ucap ku.
"Sini biar Aku aja" tambah ku berusaha mengambil handuk kompres dari tangan Raidil.
"udah, Aku aja" dengan menjauhkan tangannya dari jangkauan ku.
" andai Aku lebih cepat, kamu ga akan di giniin sama caca" ucap Raidil dengan tatapan yang di penuhi Rasa bersalah,
" Aku ngerasa gak berguna, sampe kamu ngalamin kaya gini" sambil membelai pipi ku Raidil menatap sendu dengan mata yang berkaca-kaca seolah akan menjatuhkan air mata.
" Dasar cengeng" ledek ku tertawa.
"Hey... Aku gak cengeng" sahut Raidil dengan mencubit gemas pipi ku yang memang sudah sakit.
"Aww.." ringisku.
"Aaaa sorry.. sorry Aku lupa" sahutnya sambil kembali membelai pipi ku.
"Apa semuanya benar akan baik-baik saja dil" tanya ku dalam hati dengan menatap kearah raidil.
"Yaudah yuk, kamu tunggu di depan yaa, Aku mau nyimpan ini dulu kebelakang." ucapnya sambil berdiri.
Aku berjalan keluar, menatap ruko yang tadi Aku masuki dengan penuh tanya.
Tidak lama setelah itu Raidil datang menghampiri ku dengan berlari kecil.
" lama ya?" tanya pada ku sambil memasangkan helm di kepalaku.
"gak kok, ini ruko siapa dil?" tanya ku penasaran.
" Ahh ini punya temen ku ri,lebih tepatnya punya orang tuanya tapi dia yang ngurusin, yaa kaya karyawan paruh waktu di tempat sendiri, liatkan orangnya yang tadi berdiri di depan kasir?" jelas raidil.
"iya .. Emang gak sekolah?" Tanya ku lagi.
__ADS_1
" dia home schooling " ucap Raidil
"yaudah yukk" tambahnya sambil menunggu aku naik ke atas motornya dan pergi meninggalkan depan ruko.