First Love "Di Bulan April"

First Love "Di Bulan April"
My...


__ADS_3

Aku berdiri tidak jauh dari Raidil yang sedang menunggu ku sambil bersender di dinding pos satpam depan gerbang sekolah.


Langkah ku terhenti tetapi tidak dengan jantung ku, tangan ku tak henti-hentinya mengeluarkan keringat dingin karena gugup. "Bagaimana bisa Aku menemuinya dengan perasaan yang seperti ini" ucap ku dalam hati.


Ku tepuk-tepuk dadaku dengan satu tangan yang mengepal erat berusaha memelankan setidaknya sedikit saja debaran ini.


Perlahan tapi pasti langkah ku akhirnya sampai tepat di depan Raidil.


" eh Ri.." sapanya yang sama gugupnya dengan ku.


"udah selesai?" kembali Raidil bertanya tanpa bisa ku menjawab.


Hanya untuk mengatakan "iya" bibir ku kembali terkunci rapat, Aku benar-benar merasakan gugup yang luar biasa.


Pada akhirnya Aku hanya mampu menarik nafas dengan dalam.


"yuk Aku antar pulang" ucap nya yang berusaha sebisa mungkin terlihat santai.


"eh gak,, a-ku di jemput Ayah kok" sahut ku yang sangat jelas terdengar gugup.


" tadi Ayah kamu jemput sampe ke sini, Aku bilang kamu belum selesai dan.." Raidil tidak melanjutkan ucapannya


"dan?" timpal ku.


" dan Aku nawarin diri buat ngantar kamu, dari pada Ayah kamu nunggu lama" ucapnya.


" OMG" ucap ku dalam hati yang kebingungan tentang bagaimana bisa Aku menghadapi Raidil yang tadi baru saja memberiku kecupan manis.


tanpa Aku sadari pipiku mulai kembali memerah sebab merasakn malu di dalam hati.


"Rii ayok" ucapnya.


"ahh iya" sahut ku yang masih terdengar gugup.


Sepanjang perjalanan hanya tercipta keheneningan di antara kami, sesekali Raidil mengeluarkan isyarat-isyarat kecil seperti batuk dan siulan agar tak ada kesunyian di antar kami.


"Rii"


"Dil"


Ucapan atas nama yang kami sebutkan secara bersamaan semakin membuat Aku merasakan gugup kembali.


"kamu duluan deh" ucapnya sambil menegakkan punggung memegang setir dengan satu tangan.


"gak, kamu aja" sahut ku singkat dengan kembali menepuk-nepuk dada ku yang masih terasa gugup karena masih terlintas di benak senyuman dan bibir hangat Raidil yang seolah menjadi cap tebal di pipi ku saat ini.


"sadar rii sadar " ucap ku dalam hati sambil menggelengkan kepalaku.


"em.. maaf soal tadi?" ucapnya.


"maaf?" Jelas ku bertanya.


"kok maaf sih? apa dia menyesal?" tanya ku dalam hati yang membuat ku sedikit merasa kecewa.


" gak minta persetujuan kamu dulu" ucapnya.


"oo-" hanya kata itu yang keluar dari mulut ku.


"kamu menyesal?" ku beranikan untuk bertanya.


Motor Raidil tiba-tiba menepi dan berhenti di pinggiran trotoar.


"gak bukan gitu" ucapnya seolah berusaha menjelaskan kata maaf yang dia maksud sambil berusaha menghadap ke arah ku.


"bukan gitu maksud Aku, bukan maaf menyesal" tambahnya yang terlihat mulai panik.


"jadi?" ucap ku yang mulai terkekeh melihat tingkah Raidil yang kelimpungan.


"maaf gak minta ijin kamu dulu, main sosor aja" ucapnya pelan.


"Panas nih" sahut ku tanpa menjawab maaf dari Raidil sambil sedikit tersenyum kecil.


Motor Raidil kembali berjalan menembus panas siang itu.

__ADS_1


"Rii" panggi Raidil.


"Hem?".


"tadi kamu mau ngomong apa?" tanyanya padaku dengan mata yang masih fokus ke jalan.


"nanti aja kalo udah nyampe rumah" sahut ku.


Tak lama setelah itu, kami tepat berdiri di depan pagar Rumah ku.


Sambil melepas helm yang terpasang di kepala ku Raidil tersenyum tanpa ku tau apa penyebabnya.


"kenapa?" tanya ku penasaran.


"Ahh enggak" ucapnya masih dengan tersenyum.


"nanti malam jalan yuk" ucap ku dengan pelan sambil menunduk malu.


" hah apa??" Sahutnya seolah-olah tak mendengar ucapan yang ku ucap kan dengan wajah mengejek.


"gak jadi" sahut ku sedikit menghela nafas panjang.


"masa gak dengar sih?" ucap ku dalam hati.


" haahaha.. jangan manyun-manyun gitu nanti makim cantik" ucap Raidil sambil menarik lembut hidung ku.


"apa sih" sahut ku singkat menyentuh hidung yang tadi di tarik oleh tangan Raidil.


"oke, nanti Aku jemput ke sini" ucapnya tersenyum lebar yang mampu membuat Aku ikut tersenyum.


"Aku balik ya" ucapnya dengan tatapan hangat.


"hati-hati" sambil melambaikan tangan Aku memandang punggung Raidil yang mulai menjauh dan menghilang dari pandangan ku.


" oke Rii, kita harus bikin semuanya pasti malam ini" ucap ku meyakinkan diri ku untuk memberikan kepastian pada Raidil malam ini, Aku benar-benar tidak ingin menjadi egois yang hanya memikirkan perasaan ku sendiri,


Aku tidak ingin merasakan penyesalan karena ulah ku sendiri.


Kami berjalan di taman yang dulu pernah kami datangi, pelan tapi pasti langkah kami berjalan beriringan dengan mata kami yang sama-sama memandang lampu-lampu taman yang lebih terang dari langit malam.


"cape gak?" tanya Raidil sambil menatap ke arah ku.


" kamu cape?" balik ku bertanya.


"gimana sih, kok malah nanya balik" sahutnya sambil tersenyum.


"yaudah yuk" Aku menggenggam tangan Raidil dengan mata yang mencari tempat duduk terdekat.


" kemana?" tanyanya heran.


"ya duduk lah" sahut ku tersenyum.


"oke di sini aja" tambah ku.


"kamu kenapa sih? Dari tadi kayanya semangat banget" tanya Raidil heran dengan wajah seolah menunjukkan rasa yang sama bahagianya dengan ku.


"emang gak boleh?" tanya ku masih dengan tersenyum.


" bukan gitu, Aku cuma penasaran aja" sahutnya.


"jangan banyak-banyak penasarannya" sahut ku yang rupanya di salah artikan oleh Raidil.


"emang kenapa kalo banyak-banyak"Raidil menatap ke arah ku dengan tatapan yang sangat sulit Aku artikan.


"heyy... kamu mikir apa?" tanya ku yang membuat tawa kami percah bersamaan.


"Aku kira-" Raidil tertawa dengan daun telinga yang sedikit memerah.


"bagus ya Rii" ucap Raidil dengan matanya yang menatap ke arah langit yang di hiasi sedikit bintang namun sangat cerah.


"He em iya" dengan mata ku yang menatap lekat kearahnya.


"Raidil?".

__ADS_1


"hem apa?" Sahutnya yang kemudian mengalihkan pandangannya pada ku.


"cita-cita kamu apa?"pertanyaan itu keluar begitu saja dari mulut ku.


"cita-cita? Emm apa yaa?" Kembali Raidil menatap ke arah langit dengan tatap serius.


"bahaya!" ucapnya mendadak.


"Apa?" Aku terkejut mendengar ucapan Raidil.


" kayanya Aku gak punya cita-cita" sahutnya seolah-olah merasa frustasi.


Hahaha..


aku tertawa melihat tingkah Raidil yang berusaha bertindak lucu.


"Rii, sini" Raidil berpindah posisi merebahkan tubuhnya dengan tangan yang melipat kebelangang kepalanya sebagai tumpuan di atas rerumputan taman yang memang terawat.


Aku perlahan berjalan mendekat dan duduk tepat di sampingnya dengan tangan yang memeluk kedua lutut.


Jantung ku mulai berpacu seiring Aku semakin dekat dengan Raidil.


"gak rebahan Rii?" tanya nya.


"gak" sahut ku singkat.


"kenapa?".


"Aku lagi gugup" sahut ku jujur untuk pertama kalinya tentang apa yang kurasakan saat ini.


Seolah mengerti Raidil tak menanya kan lagi.


merasakan hening beberapa saat, Aku berbalik melirik ke arah Raidil yang memang sedang berbaring di belakang ku untuk memastikan dia tidak tertidur.


"kenapa?" pertanyaan yang sama kembali di ulangnya.


"Em gak apa-apa kok " sahut ku sambil tersenyum tipis yang kemudian Aku palingkan dari tatapan nya.


"Rii" Raidil bangun dengan tiba-tiba dan memegang erat lengan tangan ku.


"hmm" Sahut ku tanpa sadar menoleh ke arah Raidil yang rupanya sangat dekat dengan wajah ku sehingga tak terelakan lagi rona wajah ku yang mulai memerah dihadapan raidil.


tatapan matanya lekat kearah ku, senyum yang biasa tampak manis berubah dengan senyuman lembut yang penuh arti, hembusan nafasnya juga terdengar sangat gugup saat ini.


"Aku sayang kamu" bisikan lembut yang sangat jelas terdengar oleh ku, lalu...


Cup..


Kecupan hangat mendarat di di bibir ku, mataku terbelalak tidak percaya dan jantungku berpacu sangat hebat merasakan sensasi yang belum pernah Aku rasakan,


Yap.. ini my first kiss.


Mataku tertutup begitu saja menikmati kehangatan yang terasa tepat di bibir ku, kedua tangan Raidil menangkup kedua pipi ku yang membuat kecupannya semakin terasa mendalam.


Dinginnya angin malam berlalu begitu saja berganti dengan kehangatan yang di berikan Raidil padaku.


*


*


*


*


*


Uhuyyy... Hayoo ketahuan lagi senyum-senyum ni yeeee, INGAT!! ini kecupan bukan sebuah ciuman. Okeeeh😆 gimana kabar kalian para Reader? semoga sehat semua amin.


Terimakasih sudah menunggu dengan sabar atas updatean autor yang penuh kekurangan ini 🙏 dan salam kenal Autor ucapkan buat semua Reader baru yang berkunjung di novel Autor termasuk yang sudah mampir di komenan dan di likenya, maaf Autor tidak membalas komen kalian satu- satu bukan karena Autor tidak mau dll , Autor masih sangat pemalu untuk sekedar say "haii"sama kalian, dan sebagai gantinya Autor hanya berani untuk sematkan like di komen kalian.


nantikan episode selanjutnya yaa.


Terimakasih semuanya ❤️

__ADS_1


__ADS_2