
lama ku menunggu di depan kelas bersama Della dan Raidil.
Ayah akhirnya keluar dengan memegang hasil Raport ku.
" naik?" tanya ku penasaran sambil berdiri dan berjalan pelan kearah Ayah.
" kalo kamu gak naik gak akan ada liburan" celetuk ayah sambil memberikan Raport ke tangan ku.
" Alhamdulillah" ucap ku setelah melihat hasil dari usaha ku selama ini.
" gimana Rii?" ucap Della tepat berdiri di samping ku yang kemudian disusul Raidil.
" naik" sahut ku sambil tersenyum.
"duh punya ku gimana yaa" ucap Della penuh cemas.
" pasti naik juga, gak mungkin kalian gak naik" ucap Ayah penuh keyakinan.
" ayok pulang Ri" ucap Ayah dan Aku mengangguk.
" om" ucap Raidil menghentikan langkah Ayah.
" ehh iya?".
"apa boleh Raidil nanti sore ajak Riri jalan lagi?" ucap Raidil sopan.
" em iya" sahut Ayah sedikit Ragu dan kemudian melanjutkan langkahnya
"emang mau kemana?" tanya ku sedikit berbisik.
"ada deh" sahutnya cengengesan.
" Dell duluan yaa..bilang sama yang lain juga, nanti kasih kabar yaa gimana raport kalian " ucap ku pada Della yang masih menunggu hasil yang di bawa orang tuanya dan tatapan ku beralih pada Raidil yang juga melakukan hal yang sama dengan Della.
" nanti Aku jemput yaa" ucap Raidil melambaikan tangan.
"he em" sahut ku singkat berlalu meninggalkan Raidil menyusul Ayah.
Aku berjalan tepat di belakang Ayah menuju depan gerbang di mana motor Ayah terparkir.
"Kita mampir ke suatu tempat dulu yaa" ucap Ayah.
" He em" sahut ku mengangguk.
Setelah pergi meninggalkan sekolah, Aku dan Ayah sampai di sebuah rental mobil yang cukup ternama di kota ku.
" ngapain ke sini yah?" tanya ku heran.
" katanya mau ke pantai, masa iya naik motor bonceng be 4" sahut Ayah tersenyum tipis.
Aku ikut tersenyum mengukuti Ayah dari belakang.
" kamu mau naik yang mana?" tanya Ayah dengan mata yang memperhatikan beberapa deretan mobil yang terjejer Rapi.
" Yang mana aja yah, yang penting murah" ucap ku.
"Yaudah" sahut Ayah.
Aku berjalan keluar rental dan duduk di sebuah kursi yang memang di sediakan di depan bangunan itu.
Tiba-tiba seseorang yang cukup ku ingat datang menghampiri ku seolah sadar akan keberadaanku.
" hey, ini yang kesekian kalinya kita ketemu" ucap nya.
" takdir bukan?" tambah Aldi dengan tersenyum.
Yap itu lagi-lagi Aldi, Aku bahkan merasa heran kenapa harus terus bertemu dia.
" Kamu?" ucap ku kaget sambil refleks berdiri dari posisi duduk.
__ADS_1
" iya kenapa?" Ucap nya lembut sambil melangka maju ke arah ku.
"Kamu udah pulang al" ucap seorang pria yang berjalan tepat di sebelah Ayah.
" ah iya pah, baru aja" sahutnya sopan.
"Yaudah sana ganti baju" suruh seseorang yang tadi di panggil papah oleh Aldi.
Aldi meninggaljan ku masuk dan kemudian berdiri di sebelah salah satu mobil yang di parkir sambil tersenyum ke arah ku.
Dia tidak benar-benar masuk.
"terimakasih yad" ucap Ayah memajukan tanga untuk bersalaman pada si pemilik Rental
" sama-sama han" sahutnya sambil menyambut tangan Ayah dengan ramah,
" Aku ambil besok" tambah Ayah.
"oke oke" sahut nya santai.
" Ayo Rii" ucap Ayah sambik berjalan menuju motornya yang di parkit tidak jauh.
Aku mengikuti Ayah tepat di belakang nya, dengan duduk menyamping menaiki motor Ayah dan tanpa sengaja menatap ke arah Aldi yang masih belum beranjak dari tempatnya.
" Dia sering banget kelilipan" ucap ku mengejek dalam hati sambil memggelengkan kepala ku pelan saat melihat Aldi yang berusaha menggoda ku dengan kedipan matanya dan senyum yang berusaha di maniskan.
Motor Ayah melaju meninggalkan rental mobil dan mengarah ke jalan pulang.
" Ayah kenal sama yang punya rental" tanya ku penasaran dengan ke akraban Ayah bersama papahnya ADrldi.
" Ho oh, temen ayah waktu kuliah " ucap ayah santai.
" Ohh pantes keliatan akrab" sahut ku paham.
***
"Yank, Aku jemput ya?" Pesan singkat Raidil.
Parfum lembut harum permen karet menjadi parfum ke sukaan ku.
Aku berdiri tepat di depan cermin sambi melirik wajah ku dengan senyuman yang sengaja ku torehkan sebagai pemanis.
Hari ini Aku kembali akan berkencan dengan Raidil walau Aku tidak tau mau di ajak kemana?.
Aku keluar kamar dengan niatan menunggu Raidil di ruang tamu.
"ehem" suara Ayah tiba-tiba membuat ku terkejut.
" ehh Ayah" ucap ku malu-malu.
" Jadi mau keluar? Mau kemana?" tanya Ayah.
" iya yah, paling ke taman" sahut ku ragu karena Raidil tidak memberi tahu ku kemana dia akan membawa ku.
" huuu... taman apa asiknya" sahut ibu tiba-tiba datang dari arah belakang ku.
" apa sih bu" ucapnku manja.
" Jaga diri, jangan aneh-aneh ya Rii" ucap Ayah sambil membuka beberapa lembar halaman buku.
" iya rii, jangan bikin kepercayaan orang tua hilang" tambah ibu.
" Iya bu, riri cuma jalan-jalan aja kok" sahut ku berusaha membuang ke khawatiran orang tua ku.
" Raidil bukan orang yg gitu kok" tambah ku.
Asik dengan beberapa candaan bersama Ayah dan ibu, tiba-tiba suara motor yang biasa di telingaku tepat berhenti di depan halaman ruman.
"Assalamualaikum" Raidil datang dan berdiri di depan pintu dan masuk mendekat ke arah ayah dan Ibu.
__ADS_1
Iya mengulurkan tangan nya yang kemudian di sambut ayah.
"Waalaikumsallam" sahut Ayah Ibu bersamaan.
" Raidil, mau jemput Riri jalan om" ucap Raidil sopan.
" iya, jangan pulang malam-malam, kalo bisa jangan pulang malam" ucap Ayah ramah.
" iya om" sahut Raidil dengan sedikit mengangguk.
" Riri berangkat ya yah" ucap ku pada a
Ayah.
" Iya hati-hati " sahut ayah santai.
Aku dan Raidil meninggalkan halaman rumah dan menyusuri jalan, terik panas siang itu menemani kami sepanjang perjalanan ke tempat yang di tuju Raidil.
" kita mau kemana?" tanya ku penasaran karena Raidil tidak mengambil jalan yang seperti biasanyabke arah taman.
" ada deh" sahutnya tersenyum manis yang terlihat dari kaca spion motornya.
Sedikit lama di perjalan akhirnya jami sampai di sebuah tempat yang sedikit menanjak,
Raidil menghentikan motornya tepat di kaki bukit.
"ini dimana? " tanya ku heran karena di kelilingi semak-semak rendah di sekitar area parkir tersebut
" kamu belum pernah ke sini ya?" ucap Raidil mengenggam tanganku.
" Aku bahkan gak tau ada tempat kaya gini" sahut ku sambil memperhatikan area sekitar.
" sepi" ucap ku sedikit khawatir.
" kamu mikirin apa Rii" tanya Raidil memperhatikan ku.
" Aku gak bakan aneh-aneh, lagian masih kecil" sahutnya santau menarik tangan ku mengikuti langkahnya.
" apanya yang masih kecil?" tanya ku memastikan.
"kitanya rii masih kecil" ucap nya santai.
" Emang kamu mikir apanya yg kecil" balik Raidil bertanya.
" Ah gak kok" sahut ku memalingkan wajah.
Raidil tersenyum lebar seolah merasa menang dengan jebakan pertanyaanya pada ku.
Kami berjalan naik menyusuri setiap anak tangga menuju puncak paling tinggi.
Mataku memperhatikan setiap sisi tempat itu " kemana aja Aku selama ini, sampe gak tau tempat seperti ini" ucap ku dalam hati.
" Rii, kok ngelamun?" ucapnya
" Aku gak ngelamun kok, cuma lagi merhatiin tempat ini aja" sahut ku.
" Kamu masih mikir aneh-aneh yaa" tanyanya memastikan.
"Gak kok, kan masih kecil" ucap ku sambil tersenyum melepas genggamannya dan berjalan lebih cepat menaiki anak tangga untuk sampai lebih dulu.
"Ri ri" Raidil menapak lebih cepat untuk menyusul ku sambil tersenyum manis.
*
*
*
*
__ADS_1
bagaimana kabar kaluan lara reader? sehat terus yaa❤️