First Love "Di Bulan April"

First Love "Di Bulan April"
PENAWAR


__ADS_3

Aku berjalan sambil menunduk menyembunyikan wajah ku dari tatapan segelintir murid lain yang mengenal ku, walau samar-samar masih terdengar jelas apa yang mereka bicarankan tentang ku.


Sesampainya di depan gerbang sekolah Aku berusaha menarik nafas dalam sedikit menenangkan hati ku yang cukup gelisah.


"Rii... sini" terik Lila dari depan Kelas ku,berdiri juga Della dan Ema di sana.


"gila Raidil tipenya gak banget".


"ho oh, padahal ada yang bagusan tapi milih yg begitu".


Ucap beberapa murid yang mengenal Raidil melintas tepat di depan ku dengan tatapan yang memperlihatkan ketidak sukaan mereka.


Sedikit berkaca-kaca mata ku seolah siap akan menjatuhkan air mata setelah mendengar ucapan mereka yang bahkan tidak ku kenal.


" lama amat nyampenya Rii" ucap Della yang langsung merangkul pundak ku.


" heii.. kok muram gitu sih" tanya Ema yang memperhatikan wajah ku seolah-olah siap untuk menjatuhkan butiran air mata.


"gak kok " sahut ku singkat berusaha mengubah raut wajah muram ku dengan senyuman.


Seolah Mengerti mereka bertiga tidak melanjutkan bertanya tentang keadaanku.


" yaudah ayok ke lapangan belakang, semua ngumpul disana" ucap Ema.


Kami berjalan bersama menuju acara class meeting yang di adakan di lapangangan belakang sekolah.


Saat memasuki Area lapangan, Aku merasakan beberapa tatapan dingin menuju ke arah ku seolah-olah mencerca ku.


" kenapa sama mata kalian? gak pernah liat orang cantik" ucap Della sinis ke pada beberapa murid lain yang bahkan tidak kami tau namanya.


" Ihh pede banget sih" sahut sinis salah satu di antara mereka.


Kami duduk tepat di bawah pohon di depan kelas XII.


" rame banget" ucap Lila bersemangat sambil memperhatikan pinggir lapangan yang memang di padati semua siswa dan siswi yang ada di sekolah ku.


"Ri, gak usah peduliin kata-kata orang" ucap Ema yang menepuk pundak ku.


" iya Ri.. toh mereka gak tau yang sebenarnya" tambah Della.


" makasih ya gaess" ucap ku tulus pada mereka.


Aku benar-benar bersyukur memiliki orang-orang yang mengerti dan sangat peduli padaku.


Mereka cukup terkejut saat mendengar semua yang ku jelaskan beberapa hari yang lalu, Aku sempat sidikit takut mereka akan kecewa dengan ketidakterbukaan ku soal perasaan ku pada Raidil, namun alih-alih kecewa pada ku mereka lebih memilih memahami semuanya, dan Aku kembali merasa menjadi Sahabat yang buruk bagi mereka di saat mereka benar-benar berusaha mengerti Aku.


***


Suara peluit terdengar sangat jelas menandakan class meeting di mulai, berbagai macam perlombaan dan penampilan antar kelas di mulai, dari lomba sepak bola, basket, dance dan lain-lain.


Suara gemuruh dan tepuk tangan menjadikan class meeting di hari pertama semakin ramai.


"kita pindah yuk" ucap Ema sambil berdiri.


"loh kok pindah? kenapa?" tanya Lila.


Ema melirikkan matanya ke arah kami bertiga seolah memberi isyarat tentang alasan mengapa dia mengajak kami untuk berpindah tempat.


Dengan serempak kami mengikuti arah mata Ema, dan teryata Caca The Geng tepat duduk bersebelahan tidak jauh dari kami.


Dengan tatapan tajam menatap ke arah ku, mulai membuat Aku merasa tidak nyaman.


Sesekali mulutnya melemparkan kata-kata tajam menyudutkan ku dan sekali lagi menjadikan ku Pusat perhatian beberapa siswa lain yang mulai mengenal ku.


Aku kembali diam dan berdiri berusaha meninggalkan tempat ku.


Tetapi sebelum itu terjadi Raidil datang menghampiri ku dengan memaikai kaos putih lengan pendek dan memegang baju olahraganya di tangan.

__ADS_1


" titip ya " ucap nya mengedipkan mata dengan senyum khasnya sambil menyerahkan baju olahraganya ke tangan ku.


Cieeeeee...


Ucap beberapa siswa lain memperhatikan kami.


Dan tak bisa ku pungkiri Aku sedikit tersenyum tipis karena tersipu malu.


"Rii.. duduk" ucap Ema yang menarik tangan ku.


Sementara Caca menatap geram ke arah ku.


"ganjen banget sih" ucap nya.


" apa? ganjen? siapa? Riri?" ucap Della yang mendengar apa yang di katakan Caca.


" mata kamu buta ya Ca?" tambah Della.


Sementara Caca memasang senyum sini dengan mata yang mengejek ke arah ku.


"Dell stop" ucap ku berusaha membuat Della kembali duduk dan diam.


"ye elah Rii.. kamu dengerkan dia bilang apa tadi?" ucap Della gemas.


" udah biarin aja Dell" sahut ku.


" Rii.. kalo keseringan di diemin kaya gitu bakal makin ngelunjak tau" ucap Lila.


" tapi nanti makin ruyem Dell, udah lah gak usah di ladenin" tambah ku.


Kami pun akhirnya diam dan menatap ke arah lapangan bola yang sudah mulai di penuhi dengan murid-murid yang siap bertanding.


Berdiri tegak Raidil di lapangan dengan tangan yang berada di pinggang.


Mata ku terus tertuju ke arahnya dengan sambil memegang baju kaosnya.


Prittttt...


Suara peluit kembali berbunyi, menandakan pertandingan di mulai.


"woy Rii" ucap seseorang yang ku kenal akrab,


"hem apa kak?"sahut ku pada kak Faiz.


" fokus amat ngeliatinya" ucap nya sambil memperhatikan ku.


" ada bebebnya kak" sahut Lila.


" adenya si Clara?" tanya kak faiz.


" Clara siapa kak?" Balik Della bertanya.


Sementara Aku tak menghiraukan apa yang mereka bicarakan.


"Itu kakanya si orang yang ni anak suka" ucap kak Faiz sambil menjitak kepala ku.


" awww" ringis ku.


"Raidil maksud kakak?" tanya Ema.


" nah itu namanya" sahut kak Faiz.


"jangan jitak-jitak dong kak" ucap ku.


"Haha sorry- sorry" sahutnya kak Faiz samb mengusap-usap kepala ku yang tadi jadi tempat mendaratnya jitakan kak Faiz.


"cihhh liat kan ganjennya gimana gaes? udah kaya lo**e aja deket cowo sana sini" kembali ucap Caca dengan kasar dan tatapan sinis.

__ADS_1


Aku tertunduk diam mendengar apa yang di lontarkan Caca, hati ku mulai terasa panas dengan jantung ku yang mulai berdetak tak beraturan karena menahan kesal dan marah.


" wah perlu di jahit kayanya mulut kamu Ca" ucap Della Emosi dengan meninggika suara.


Sementara kak Faiz masih duduk kebingungan dengan apa yang sebenernya terjadi antara kami dengan Caca.


" kenyataan gitu kan? Apa jangan-jangan jualan juga?" tambah Caca masih dengan wajah mengejek.


Tak lama setelah ucapan itu menghujam hati ku, tanpa ku sadari Aku berjalan menuju ke arah Caca dan melayangkan tamparan kuat tepat di pipi kirinya.


"cara kamu ngomong gak sepintar otak mu Ca" ucap ku kesal.


Merasa tak terima dengan ucapan ku Caca membalas dengan menarik jilbab yang kupakai dengan tangannya dan terjadi lah apa yang seharusnya tidak terjadi, kami menjadi pusat perhatian siswa-siswi lain yang mulai berkumpul mendekat karena penasaran.


" Aku udah bilang gak akan biarin kamu Ri" ucap caca menjambak jilbab ku.


Dan jujur rasanya cukup sakit karena dia juga mencengkram erat rambut ku.


" kenapa harus sampe kaya gini sih Caa, lepasin!!" sahut ku yang sedari tadi menahan tangan Caca berusaha melepaskan cengkramannya.


"Rii.. sadar Rii" suara Ema yang bergetar terdengar di telingaku.


"wahh parah nih si Caca otaknya" tambah Della.


" mending kalian gak usah ikut campur" sahut salah satu teman Caca.


" Aku bakal lepasin kalo, kamu juga janji gak bakal deketin Rai..." Belum sempat selesai dengan ucapannya, tangan Caca terlepas begitu saja.


Saat Aku mengangkat wajah ku


Dengan tatapan penuh menahan amarah Raidil mengenggam erat tangan caca,


"Apa-apaan kalian?" tanya nya dengan hanya menatap ke arah Caca.


" dia yang mulai duluan Dil" ucap Caca yang membuat Aku melongok.


" apa?? Aku? tapi iya juga, tapi.. kan dia juga yg mulai" ucap ku dalam hati.


"awass!!" ucap berat terdengar dari balik murid-murid lain yang berkerumun di sekitar kami.


" kalian.. ikut bapak ke kantor" ucap pak Rudi salah satu guru BK.


" sorry ya Rii, terpaksa Aku panggil pak Rudi" ucap kak Faiz.


" gak apa-apa kak" sahut ku denga senyum tipis.


Aku kembali menundukkan kepala karena malu dengan apa yang Aku lakukan, bahkan jadi omongan teman-teman seangkatan sampai kakak kelas.


"kamu gak apa-apa Ri?" tanya Ema sambil merangkul bahu ku.


" sakit yaa? tambah Lila dengan tangannya yang membenarkan jilbab ku yang cukup brantakan sementara Della menatap ku dengan kasihan.


" I'am ok " ucap ku sambil tersenyum.


" Aku ke kantor BK dulu ya" tambah ku.


" Kami nunggu di sini, ok" sahut Ema.


Perasaan tak nyaman menyelimuti hati ku, setiap mata yang memperhatikan langkah kaki ku yang berjalan menuju ruang BK seolah-oleh menghakimi ku terlebih dulu.


Aku sedikit merasa menyesal dengan sikap ku yang seharusnya lebih sabar dan tak termakan emosi.


" Heii.. jangan nunduk terus, nanti kesandung" ucap Raidil yang berjalan tepat di sampingku sambil mengangkat bagian dagu ku melihat ke arahnya.


Dan lagi-lagi Raidil menjadi penawar bagiku, di balik dia juga yang menjadi alasan penyebab dari kekacauan ini.


Aku hanya mampu tersenyum mengingat bahwa Aku bertengkar seperti anak kecil dengan Caca hanya karena Raidil.

__ADS_1


"Kok ketawa" tanya Raidil yang rupanya memperhatikan Aku sejak tadi.


__ADS_2